NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Darah

Hutan itu terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya, seolah alam pun ikut menahan napas mendengar pesan mengerikan yang tertinggal di sana. Dewa masih menatap kertas kecil yang kini sudah ia genggam erat, tulisan tangan elegan milik Sera seolah membakar kulit jari-jarinya. “Sampaikan salamku untuk adikmu, Dewa. Dia sudah menunggu cukup lama untuk bertemu kakak kandungnya.” Kalimat itu berputar terus di kepalanya, mengalahkan semua kebingungan yang baru saja ia terima bahwa ia bukan anak Ardi, bahwa ibunya hidup dan menjadi musuh, bahwa ia hanyalah alat dalam rencana besar. Kini ada satu hal lagi: ia punya adik. Saudara darah yang sama sekali tidak ia ketahui keberadaannya selama dua puluh lima tahun hidupnya.

Naura memegang lengan Dewa, merasakan betapa kaku dan gemetar tubuh pria itu. Ia sendiri masih belum bisa sepenuhnya mencerna semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir. Dunia yang mereka kenal runtuh sepenuhnya, setiap kebenaran ternyata hanyalah kebohongan yang tersusun rapi. Namun, di tengah kekacauan itu, satu hal yang tetap teguh: mereka berdua masih bersama, dan itulah satu-satunya hal yang tidak bisa direnggut oleh siapa pun, bahkan oleh Sera sekalipun.

"Dewa..." bisik Naura pelan, suaranya memecah keheningan yang mencekam. "Kita harus pergi dari sini. Tempat ini sudah tidak aman. Dia tahu keberadaan kita, dia mengawasi setiap langkah. Kita tidak bisa tinggal diam."

Dewa mengangguk pelan, matanya masih menatap ke arah kamera kecil yang tersembunyi di antara dahan. "Dia benar-benar mengatur segalanya, Naura. Raga, Pak Wahyu, bahkan ibuku sendiri... mereka semua hanyalah bidak dalam permainannya. Dan kita... kita juga bagian dari rencananya. Tapi dia salah satu hal: dia lupa bahwa bidak pun bisa berubah menjadi penguasa papan catur jika mereka tahu cara bermainnya." Dewa menyimpan kertas itu ke dalam saku dalam, lalu kembali mengeluarkan gantungan kunci kayu berukir matahari itu. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan mikrofilm kecil di dalamnya, menatap benda itu dengan pandangan penuh tekad. "Di sini ada jawabannya. Alamat, nama, bukti... dan mungkin juga petunjuk tentang siapa adikku ini. Sera memerintahkan kita ke sana, dan aku rasa... kita harus pergi ke sana. Bukan karena dia menyuruh, tapi karena di situlah letak kebenaran terakhir yang kita cari."

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup semak belukar, bergerak menjauh dari reruntuhan kedai tua tempat Kakek Harun mengorbankan nyawanya demi mereka. Di sepanjang jalan, Dewa terus memikirkan kembali semua kata-kata yang terlontar siang tadi. Ibu Maya bilang ia lahir dari hubungan rahasia dengan pria berdarah murni Adhitama, bukan anak Ardi Buwana. Ardi tahu itu, tapi tetap membesarkannya dengan kasih sayang. Lalu ada pesan terakhir ayahnya: "Pewaris sejati adalah anak kandungku, anak yang disembunyikan..." Jika Dewa bukan anak Ardi, berarti anak yang dimaksud itu adalah orang lain dan kemungkinan besar, itulah adik yang disebut Sera. Anak yang lahir dari hubungan sah Ardi dan Ibu Ratih, ibu kandung Naura.

Dewa tiba-tiba berhenti melangkah, membuat Naura hampir menabrak punggungnya.

"Ada apa?" tanya Naura cemas.

"Naura... ingat foto yang dilihat Pak Wahyu kemarin? Foto berisi Ayah Ardi, ibumu, dan seorang bayi yang digendong wanita lain?" Dewa menatap tajam ke mata gadis itu, benang merah mulai menyatu di kepalanya. "Dan ingat apa yang dikatakan Pak Wahyu? Bahwa Ardi menitipkan anak itu pada orang yang bahkan dia tidak kenal wajahnya, seseorang yang setia mati-matian. Lalu... ibumu, Ibu Ratih... dia meninggal tak lama setelah melahirkanmu, kan? Semua orang bilang dia meninggal saat melahirkan, tapi... apa benar begitu?"

Wajah Naura memucat. Selama ini ia tumbuh dengan pengetahuan bahwa ibunya meninggal dunia saat melahirkannya, dan ayahnya, Pak Hadi, membesarkannya sendiri hingga kecelakaan yang merenggut nyawanya lima tahun lalu. Itulah sebabnya ia selalu merasa bersalah, merasa keberadaannya menjadi penyebab kepergian ibunya. Namun sekarang, pertanyaan itu muncul kembali dengan cara yang jauh lebih mengerikan.

"Kau... kau berpikir apa, Dewa?" suara Naura bergetar.

"Bagaimana jika ibumu tidak meninggal saat melahirkanmu? Bagaimana jika dia dipisahkan, sama seperti anak Ardi? Bagaimana jika kematiannya hanya rekayasa, sama seperti kematian ibuku?" Dewa mendekat, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Dan ingat? Keluarga Zafira dan Buwana dulu sangat dekat, sebelum perselisihan dan tuduhan bermunculan. Dulu, sebelum semua kebencian ini ada, Ardi dan ayahmu adalah sahabat dekat. Perjodohan kita... yang dipaksakan, yang awalnya kita benci... bukankah itu juga bagian dari rencana? Tapi rencana siapa? Apakah rencana musuh, atau rencana mereka yang ingin melindungi kita?"

Naura menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Selama ini ia membenci perjodohan itu, menganggapnya sebagai hukuman, sebagai cara keluarga Buwana menghukum keluarga Zafira. Tapi jika semua itu salah... jika justru perjodohan itu adalah satu-satunya cara agar mereka berdua tetap bertemu, tetap saling melindungi...

"Semua yang kita anggap kebencian, mungkin justru adalah bentuk perlindungan," gumam Naura pelan. "Dendam yang diajarkan pada kita, permusuhan yang ditanamkan... mungkin hanya untuk menjaga kita tetap aman, agar musuh tidak curiga bahwa sebenarnya kita ditakdirkan untuk bersama, untuk melindungi satu sama lain."

Dewa mengangguk, menggenggam tangan Naura lebih erat. "Dan Sera... dia tahu semua ini. Dia tahu siapa kita, siapa keluarga kita, dan siapa adikku. Dia mengirim kita ke sana bukan untuk membunuh, tapi untuk bertemu. Karena dia butuh sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh pewaris sejati itu. Sesuatu yang mungkin hanya ada dalam darahnya, atau sesuatu yang dia simpan."

Matahari mulai terbenam sepenuhnya, meninggalkan sisa-sisa cahaya merah di ufuk barat. Mereka sampai di pinggir jalan raya yang sepi, jauh dari desa dan reruntuhan tadi. Di kejauhan, terlihat lampu-lampu kendaraan yang lewat sesekali. Dewa mengeluarkan mikrofilm itu lagi, menatapnya dalam keremangan.

"Kita harus ke kota tua, Naura," ucap Dewa tegas. "Di alamat yang tertulis di sini. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang kita punya. Di sana, kita akan tahu siapa adikku, siapa pewaris sejati, dan apa sebenarnya yang diinginkan Sera dari semua ini."

Tiba-tiba, suara deru mesin kendaraan terdengar mendekat dari arah belakang. Dua mobil hitam melaju kencang, lampu sorotnya menyala terang dan mengarah tepat ke arah mereka. Dewa langsung menarik Naura ke balik semak belukar di pinggir jalan, bersembunyi tepat saat mobil-mobil itu berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Pintu terbuka, dan beberapa orang berpakaian seragam hitam turun, membawa senjata dan alat pemindai. Di antaranya, ada satu sosok yang membuat darah Dewa mendidih Raga. Wajah pria itu penuh luka dan debu, tapi senyumnya masih sama, senyum yang penuh kebencian dan ambisi. Di belakangnya, muncul sosok yang tak pernah mereka duga akan masih berdiri tegak: Pak Wahyu. Bahkan Ibu Maya juga ada di sana, wajahnya dingin dan tak berperasaan sama sekali.

"Mereka tidak mungkin jauh," suara Raga terdengar jelas meski teredam jarak. "Sera Nyonya sudah memberi tahu arah pelarian mereka. Mereka pasti membawa benda itu, dan mereka pasti menuju ke sana. Kita harus mendahului mereka. Ingat, jangan sakiti Dewa atau gadis itu sebelum kita tahu di mana letak anak itu. Mereka masih berguna."

Ibu Maya bersuara, nadanya datar tanpa emosi sedikit pun. "Dewa itu bodoh, sama seperti ayahnya. Dia akan mengikuti jejak itu, dia akan mencari kebenaran. Dan itulah kesalahannya. Dia tidak tahu bahwa kebenaran yang dia cari justru akan menjadi akhir dari segalanya."

Pak Wahyu tertawa pelan. "Biarkan dia mencari. Semakin dia tahu, semakin dia terluka. Dan semakin dia terluka, semakin mudah dia dikendalikan. Sera Nyonya memang jenius. Dia mengubah musuh menjadi alat, dan alat menjadi kunci kemenangan kita."

Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melaju pergi, meninggalkan debu yang berterbangan. Dewa dan Naura baru berani keluar dari persembunyian setelah suara mesin itu hilang sama sekali. Hati mereka terasa berat, namun juga semakin penuh tekad. Musuh tidak hanya masih hidup, tapi mereka punya rencana yang jauh lebih besar. Dan di balik semuanya, ada Sera—wanita yang tampaknya memegang kendali atas setiap benang takdir mereka.

"Mereka mendahului kita," ucap Dewa pelan, namun matanya berkilat. "Tapi mereka salah satu hal lagi. Mereka mengira kita hanya alat, mereka mengira kita lemah karena kebenaran menyakitkan. Tapi mereka lupa... rasa sakit itu justru yang membuat kita lebih kuat. Dan mereka lupa bahwa kita punya sesuatu yang tidak mereka miliki: kita saling percaya, dan kita saling mencintai."

Naura tersenyum, meski ada air mata yang menetes di pipinya. Ia mencium punggung tangan Dewa yang menggenggam tangannya erat. "Ke mana pun kau pergi, aku ikut, Dewa. Apapun yang kita temui di sana, apapun kebenaran yang akan kita dengar... kita hadapi bersama. Karena mulai hari ini, kita bukan lagi alat siapa-siapa. Kita adalah penentu takdir kita sendiri."

Mereka berjalan menuju arah berlawanan dari kepergian musuh, mencari kendaraan atau cara apa pun untuk sampai ke kota tua lebih cepat dari mereka. Di dalam saku Dewa, mikrofilm itu terasa panas, seolah memanggil mereka menuju tempat di mana segalanya akan terungkap tempat di mana adik kandung Dewa menunggu, tempat di mana pewaris sejati Buwana bersembunyi, dan tempat di mana Sera sudah menyiapkan kejutan terbesar yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Namun, di balik pepohonan yang lebih jauh, sepasang mata mengawasi mereka dari kegelapan. Sosok itu mengenakan jubah panjang berwarna merah tua, wajahnya tertutup bayangan, namun senyum tipis terukir di bibirnya. Di tangannya, ada sebuah foto lama foto bayi yang sama dengan yang ada di tangan Pak Wahyu, namun di sisi lain foto itu tertulis nama kecil yang membuat siapa pun yang membacanya akan tercengang hebat.

"Selamat datang di babak kedua, Dewa, Naura," bisik sosok itu pelan, suaranya lembut namun mengerikan. "Kalian baru saja mengetahui setengah kebenaran. Dan ketika kalian sampai di sana... kalian akan tahu bahwa yang kalian sebut 'musuh' ternyata adalah orang yang paling ingin melindungi kalian, dan yang kalian anggap 'keluarga'... justru adalah pembunuh yang sesungguhnya."

Sosok itu menghilang di balik kegelapan, meninggalkan satu pertanyaan besar yang kini menggantung di udara: Siapakah sebenarnya adik kandung Dewa itu? Dan benarkah keberadaannya yang akan menjadi kunci akhir dari seluruh dendam, atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar lagi?

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!