NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan yang Tidak Bisa Kupilih dengan Bebas

Malam sudah lewat pukul sebelas ketika Ardian akhirnya tiba di penthouse miliknya di kawasan SCBD. Padahal kota Jakarta masih hidup di luar sana, dimana lampu gedung, suara kendaraan, dan hiruk pikuk kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Namun berbeda dengan hidupnya yang terasa semakin sunyi setiap hari.

Ardian melempar kunci mobil ke atas meja lalu melonggarkan dasinya perlahan. Kepalanya terasa penuh setelah acara launching tadi malam.

Tetapi anehnya…yang terus muncul di pikirannya bukan tentang investor, proyek baru, ataupun angka keuntungan perusahaan.

Melainkan Joyce.

Cara perempuan itu tersenyum sambil menahan luka. Cara ia tetap berdiri tegak meski jelas sedang hancur. Dan tatapan matanya saat lelaki bernama Arka itu datang menghampiri.

Ardian mengembuskan napas pelan. Dia tersenyum sinis..

"Kenapa aku mikir perempuan bernama Joyce itu.. " ia berusaha menentang pikirannya. Namun...

Ia terlalu mengenal tatapan seperti itu. Tatapan seseorang yang pernah mencintai terlalu dalam.

“Tuan Ardian.”

Suara asisten rumah tangga membuat lamunannya buyar. Laki-laki itu kembali ke setelan awal yang dingin. Ia membalikkan badannya.

“Saya hanya menyampaikan pesan Tuan... Nyonya Besar menunggu di ruang tengah.”

Ardian langsung memijat pelipisnya pelan. Ia melihat jarum jam di pergelangan tangannya.

Neneknya.

Satu-satunya orang yang paling ia hormati sekaligus paling sulit ia hadapi.

Laki-laki itu tidak menjawab, namun mengangkat tangannya.

"Baik Tuan.." perlahan asisten rumah tangga itu memberikan hormat, kemudian meninggalkannya sendiri.

Dengan malas, Ardian melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Begitu memasuki ruang tengah yang besar bernuansa klasik itu, seorang wanita tua berwibawa sudah duduk dengan secangkir teh di tangannya.

Nyonya Ratih Mahendra. Pendiri keluarga Mahendra sekaligus pemegang saham terbesar Aethera Corporation.

“Kamu pulang terlambat lagi,” ucap wanita itu tanpa menoleh.

“Ada acara launching produk baru, Nek.” sahut Ardian sambil mendekati neneknya. Ia duduk di sebelah neneknya itu

“Dan tetap tidak membawa calon istri.”

Ardian tersenyum tipis lelah. Pembahasan yang sama lagi.

Nyonya Ratih akhirnya menatap cucunya tajam.

“Usiamu tiga puluh lima tahun, Ardian. Bahkan kencan buta yang sudah aku atur terakhir kali, kamu tidak menepatinya. Alasan ada rapat dadakan lah..” perempuan tua itu terlihat marah, bahkan tidak mau melihat ke arah cucunya itu.

“Ardian tahu nek. Terakhir itu, Arrdian memang sedang repot. Banyak kerjaan di perusahaan, yang harus Ardian handle”

“Selalu alasan perusahaan. Teman-teman bisnismu sudah membawa anak ke mana-mana. Sedangkan kamu?” wanita itu menghela napas panjang. “Masih hidup sendiri seperti hotel berjalan.”

Ardian berdiri dan pindah di depan neneknya, kemudian menarik kursi pelan dan duduk di hadapan neneknya.

“Saya sibuk nek. Please... beri waktu Ardian lagi”

“Jangan jadikan perusahaan alasan untuk terus menghindar.”

Suasana mulai terasa berat. Sepertinya perempuan tua itu sudah tidak bisa lagi dibujuk. Ardian sendiri sampai merasa bingung.

Neneknya melanjutkan dengan suara lebih serius.

“Kamu pewaris utama keluarga Mahendra. Nama besar keluarga ini tidak bisa berhenti di kamu. Apakah sampai aku mati, aku tidak akan melihatmu pulang membawa istrimu”

Ardian diam. Kalimat itu selalu menjadi tekanan terbesar dalam hidupnya.

Semua orang melihatnya sebagai CEO sukses. Lelaki mapan. Berkuasa. Punya segalanya. Padahal kenyataannya…, bahkan hidupnya sendiri terasa tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

“Aku sudah memilihkan beberapa kandidat yang cocok untukmu,” lanjut Nyonya Ratih.

“Nenek, sudahlah Ardian akan membawa calon istri sendiri. Tidak perlulah nenek sampai mengatur-atur seperti itu”

“Diamlah... Salah satunya cucu dari relasi bisnis kita di Singapura.”

Ardian langsung mengembuskan napas berat sambil menatap deretan toples kue kering di atas meja di depannya.

Lelah. Sangat lelah.

“Aku tidak ingin menikah karena bisnis nek. Pahamkan itu”

“Lalu karena apa?” tanya neneknya tajam. “Cinta?”

Senyum tipis penuh ironi muncul di wajah Ardian. Ia pernah percaya pada cinta. Dan itu berakhir menghancurkannya bertahun-tahun lalu.

Nyonya Ratih memperhatikan cucunya beberapa saat sebelum berkata lebih lembut.

“Kamu masih belum bisa melupakan perempuan itu?”

Hening. Lama sekali. Sampai akhirnya Ardian menjawab pelan,

“Beberapa luka tidak benar-benar hilang, Nek.”

Tatapan Nyonya Ratih sedikit melunak. Namun hanya beberapa detik.

“Kalau begitu berhenti hidup di masa lalu.”

Ardian tidak menjawab lagi. Dia menghembuskan nafas panjang, namun tanpa dia sadari. Pikirannya justru kembali pada Joyce. Perempuan yang malam ini tetap berdiri kuat di atas panggung meski hatinya jelas sedang terluka.

Entah kenapa…, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ardian merasa ada seseorang yang memahami rasa lelah yang selama ini ia sembunyikan dari dunia.

Dan itu membuatnya takut. Karena semakin seseorang terasa berarti… semakin besar kemungkinan untuk kembali kehilangan.

*****************

Beberapa saat kemudian..

Ardian masih duduk sendiri di ruang kerjanya setelah percakapan dengan neneknya berakhir. Lampu kota Jakarta terlihat jelas dari balik dinding kaca besar di hadapannya. Biasanya suasana seperti ini cukup menenangkan baginya. Namun malam ini pikirannya justru semakin penuh.

Di atas meja kerja, laptopnya masih menyala menampilkan laporan perusahaan yang belum selesai ia baca. Tetapi fokusnya hilang sejak tadi.

Tiba-tiba bayangan Joyce terus muncul tanpa izin. Cara perempuan itu menahan tangis. Cara ia tetap profesional di tengah rasa sakitnya. Dan terutama…, cara matanya terlihat begitu lelah.

Ardian menyandarkan tubuhnya ke kursi perlahan sambil memijat pelipisnya.

“Aneh,” gumamnya pelan.

"Joyce sangat menarik."

Ia bukan tipe lelaki yang mudah tertarik pada seseorang. Hidupnya terlalu sibuk untuk urusan seperti itu. Lagi pula, setelah kejadian bertahun-tahun lalu, Ardian sudah terbiasa menjaga jarak dari siapa pun.

Namun Joyce berbeda. Perempuan itu tidak berusaha menarik perhatian. Tidak mencoba terlihat lemah.

Justru karena itulah Ardian terus memikirkannya. Laki-laki itu tampak mencari ponselnya. Dak akhirnya ponsel yang tergeletak di meja akhirnya ia ambil.

Beberapa detik ia hanya menatap layar kosong sebelum akhirnya menekan satu nomor.

Tersambung cepat.

“Selamat malam, Tuan Ardian.”

Suara laki-laki di seberang terdengar formal.

“Raka, masih kerja?”

“Untuk Anda, selalu.”

Ardian tersenyum tipis. Raka adalah asisten pribadinya selama hampir tujuh tahun. Orang yang paling bisa dipercaya dalam urusan perusahaan maupun kehidupan pribadinya.

“Ada yang perlu saya siapkan untuk meeting besok?”

Ardian terdiam sejenak sebelum menjawab pelan,

“Aku butuh informasi tentang seseorang.”

Biasanya Ardian tidak pernah memakai nada seperti itu. Dan Raka langsung menyadarinya.

“Siapa, Pak?”

Ardian memandang pantulan lampu kota di kaca apartemennya.

“MC acara launching tadi malam.”

Raka sedikit terdiam.

“Yang bernama Joyce?”

Ardian mengernyit kecil.

“Kamu tahu namanya?”

“Anda menyebut namanya dua kali saat briefing tadi malam.”

Jawaban itu membuat Ardian terdiam beberapa detik. Ia bahkan tidak sadar melakukannya.

“Cari semua informasi tentang dia.”

“Detail seperti apa?”

“Semua.”

Raka langsung berubah serius.

“Background?”

“Iya.”

“Pekerjaan?”

“Iya.”

“Hubungan pribadinya juga?”

Pertanyaan itu membuat Ardian diam lebih lama. Lalu akhirnya menjawab pelan,

“Terutama itu.”

Di seberang telepon, Raka hampir tersenyum kecil. Sudah bertahun-tahun ia bekerja dengan Ardian, tetapi baru kali ini CEO muda itu terdengar tertarik pada seorang perempuan.

“Baik, Pak.”

Namun sebelum telepon ditutup, Ardian kembali berbicara.

“Dan satu lagi.”

“Ya, Tuan?”

“Lelaki yang tadi malam bersamanya.”

Nada suara Ardian berubah sedikit lebih dingin.

“Cari tahu siapa dia.”

Raka langsung memahami.

“Siap.”

Sambungan telepon berakhir.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!