NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pengakuan dan Lentera Harapan

Siang itu Alden tengah beristirahat di dalam kamar.

Semalam kepalanya mendadak pusing dan badannya demam. Mungkin ia terlalu memikirkan Anjani, rumah lamanya yang kini kosong, dan keberadaan gadis itu yang belum diketahui.

Ke mana mereka pindah?

Sejak kapan?

Alden sadar, setiap kali pikirannya terlalu penuh, tubuhnya akan langsung ikut drop.

Pagi tadi Bu Susi sudah datang melakukan pemeriksaan rutin dan memberinya obat. Kini perawat senior itu sudah pulang dan akan kembali sore nanti untuk mengecek kondisinya.

Kamar kembali sunyi.

Di atas ranjang, Alden memandangi sebuah foto lama.

Foto Anjani.

Belakangan ini, hanya foto itulah yang mampu menenangkan hatinya.

Tatapannya menelusuri wajah gadis yang selama sembilan tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Dadanya terasa sesak.

Ia belum meminta maaf.

Belum menjelaskan semuanya.

Belum mengatakan bahwa semua sikap buruknya dulu lahir dari ketakutan dan kebodohannya sendiri.

Namun ketika akhirnya ia memiliki keberanian untuk memperbaiki semuanya, Anjani justru menghilang tanpa jejak.

Kenapa sekarang?

Kenapa harus sekarang?

Bagaimana ia bisa menemukan Anjani dalam kondisi seperti ini?

Bagaimana ia bisa mencari seseorang ketika tubuhnya sendiri bahkan kesulitan diajak berdiri terlalu lama?

Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalanya hingga suara pintu yang dibuka pelan membuyarkan lamunannya.

Refleks, jantung Alden berdegup lebih cepat.

Dengan gerakan tergesa, ia membalik foto candid Anjani yang ada di tangannya lalu menyelipkannya ke bawah bantal. Setelah memastikan foto itu benar-benar tersembunyi, ia mengangkat wajah dan berusaha memasang ekspresi senormal mungkin.

Pintu kamar terbuka dengan derit halus.

Di ambang pintu, Ranti berdiri membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.

"Bu..." sapa Alden pelan dengan suara agak serak.

Ranti tidak menyadari kepanikan kecil itu.

Perhatiannya langsung tertuju pada sosok Alden yang bersandar lemah di ranjang. Ada kekhawatiran yang jelas terlihat di matanya meski berusaha ia sembunyikan di balik senyum.

Ia melangkah masuk dengan hati-hati.

Aroma gurih bubur perlahan mengusir bau obat-obatan yang memenuhi kamar.

Mata Ranti mengamati wajah Alden yang semakin pucat, tubuhnya yang menyusut drastis, serta sorot matanya yang tampak lelah.

Pemandangan itu membuat dadanya kembali sesak.

"Mas Alden..." panggil Ranti lembut.

"Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit lagi?"

Alden memaksa sudut bibirnya terangkat.

"Nggak ada, Bu. Hanya sedikit lemas saja, seperti biasa."

Ranti meletakkan nampan di meja nakas lalu duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh kening Alden dengan punggung tangannya.

"Syukurlah, tidak demam lagi," bisiknya lega.

"Ini Ibu bawakan bubur kesukaanmu. Coba dipaksa makan sedikit saja ya? Kamu butuh tenaga untuk tetap kuat."

Sebenarnya, hari itu Alden sudah mulai merasa sedikit nyaman setelah istirahat cukup. Namun begitu aroma makanan terhirup, lambungnya langsung bergolak hebat. Rasa mual mendadak menyerbu tenggorokannya.

Alden memejamkan mata, menelan ludah susah payah demi tidak membuat Ranti cemas.

"Coba satu suap saja ya? Demi Ibu dan Papa," bujuk Ranti lembut.

Demi menghargai ketulusan itu, Alden mengangguk lemah. Dengan tangan bergetar, ia mulai menyendok bubur pelan-pelan. Rasanya tawar dan susah ditelan, namun ia memaksakan diri demi Ranti.

"Bu..." panggil Alden di sela suapannya. "Alden mau tanya sesuatu, boleh? Ibu masih ingat dengan keluarga Bu Rahayu? Yang rumahnya dulu dekat taman komplek..."

Gerakan tangan Ranti yang hendak menyeka sudut bibir Alden dengan tisu seketika terhenti. Ia menatap Alden dengan ekspresi terkejut.

"Ingat, tentu Ibu masih ingat sekali. Anaknya itu... Anjani, kan?" jawab Ranti pelan. "Memangnya kenapa, Mas? Tiba-tiba menanyakan mereka?"

Alden melarikan pandangannya ke bawah, menatap mangkuk bubur di pangkuannya.

"Beberapa hari lalu, waktu jalan-jalan, nggak sengaja lewat depan rumah mereka," bohong Alden, berusaha terdengar biasa saja.

"Rumahnya kosong."

Ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan. Jemarinya mengencang di gagang sendok.

"Jadi kepikiran. Mereka sekArang pindah ke mana ya, Bu? Anjani... bagaimana kabarnya?"

Ranti menghela napas panjang, menatap ke luar jendela.

"Seingat Ibu, tidak lama setelah kamu berangkat kuliah ke Perth sembilan tahun lalu, mereka meninggalkan rumah itu dan pindah, Mas. Kabarnya ikut saudara Bu Rahayu di luar pulau. Tetapi pindah ke kota mana pastinya, Ibu kurang tahu."

Suasana kamar mendadak berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sunyi dan dingin bagi Alden. Kalimat 'pindah ke luar pulau dan tidak tahu di mana' bergaung mengerikan di telinganya.

"Dulu sempat ada desas-desus samar, tapi tidak ada tetangga yang tahu pasti," tambah Ranti.

Lalu dengan nada hati-hati ia kembali melanjutkan,

"Lagipula... bukankah dulu kamu sendiri yang menegaskan dengan keras pada Papa kalau kamu tidak mau tahu apa-apa lagi soal Anjani? Makanya, selama bertahun-tahun ini kami memilih diam."

Alden membisu. Kepalanya menunduk dalam.

Dulu, ego remajanya-lah yang memutus paksa semua benang merah tentang Anjani.

Ia melarikan diri ke Australia karena mengira jarak akan menghapus rasa bersalahnya.

Namun realita berbicara lain. Sembilan tahun berlalu, bayangan Anjani tidak pernah mati. Ia hanya bersembunyi di sudut tergelap kesadarannya dan kini melompat keluar saat tubuhnya ringkih.

"Mas Alden... sebenarnya ada apa?" tanya Ranti memecah keheningan. "Kenapa kamu mencari Anjani?"

Jemari Alden mengepal hebat di atas selimut. Napasnya mulai terasa pendek. Ada dorongan kuat untuk menumpahkan seluruh rasa bersalah yang menggerogoti batinnya melebihi ganasnya sel kanker.

"Begini, Bu..." ucap Alden akhirnya dengan suara berat.

"Dulu... Alden pernah melakukan kesalahan besar pada Anjani."

"Alden sengaja menyakiti perasaannya berkali-kali dengan ucapan yang menyakitkan."

"Dulu Alden pikir itu sepele, tapi belakangan ini... terutama setelah sakit begini... Alden jadi selalu memikirkan dia."

Napas Alden semakin tersengal.

"Alden cuma ingin bertemu dia sekali saja, Bu."

"Ingin minta maaf supaya hati Alden tenang."

"Alden tidak mau pergi dari dunia ini dengan membawa beban penyesalan sebesar ini pada Anjani."

Air mata Ranti luruh mendengar pengakuan jujur itu. Ia langsung menggenggam erat telapak tangan Alden yang terasa kurus dan sedingin es.

"Ya Allah, Mas Alden... kenapa tidak cerita dari dulu pada Ibu?" suara Ranti pecah.

"Jika itu bisa membawa ketenangan bagi kamu, Ibu berjanji akan membantumu sekuat tenaga. Papa juga pasti akan membantu. Kita akan mencari Anjani bersama-sama. Ibu janji, Mas."

Kalimat itu sempat memercikkan lentera harapan yang indah di dada Alden.

"Benar, Bu? Ibu mau membantu Alden?"

Ranti mengangguk mantap.

"Tentu saja, Mas. Apa pun demi ketenangan hatimu. Sekarang, habiskan buburnya dan istirahatlah. Biar Ibu dan Papa yang mengurus selebihnya. Percayalah pada kami."

Alden mengangguk kecil, matanya memerah menahan tangis haru.

Hari itu, ia baru saja merasakan kenyamanan yang nyata. Harapan untuk menuntaskan urusannya kini memiliki jalan.

Namun, kekuatan batin Alden tidak selaras dengan keterbatasan biologis tubuhnya.

Begitu Ranti mengambil nampan dan melangkah keluar kamar, kesunyian kembali mengisolasi ruangan.

Di dalam kesunyian itulah pikiran Alden justru menolak patuh. Logikanya mulai bekerja di luar kendali, berputar-putar pada fakta bahwa Anjani telah pindah ke luar pulau tanpa jejak.

Bagaimana jika Anjani berada di tempat yang sangat jauh? Bagaimana jika sebelum Papa dan Ibu berhasil melacaknya, kanker ini sudah lebih dulu merenggut nyawaku?

Rentetan pertanyaan itu menjelma menjadi monster yang mencekam.

Bayangan sorot mata Anjani yang menangis karena bentakannya dulu kembali berkelebat hebat, tumpang tindih dengan kepanikan bahwa ia tidak akan pernah bisa menebus kesalahan itu.

Alden mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, namun dadanya justru terasa seperti dihantam palu gada yang sangat besar.

Tekanan psikologis akibat memikirkan ketidakpastian itu langsung merobohkan sistem pertahanan tubuhnya yang sudah di ambang batas.

Kondisi fisik Alden tiba-tiba drop secara mendadak dan ekstrem.

Rasa nyaman yang baru ia rasakan menguap tanpa bekas. Sebuah gelombang rasa sakit yang berkali-kali lipat lebih jahanam tiba-tiba meledak dari perut sebelah kanannya.

Kanker hati stadium lanjut di tubuhnya merespons stres emosional hebat itu dengan serangan yang agresif. Rasa sakit itu menusuk brutal, seakan menghancurkan organ dalamnya.

"Akhh..." Alden mengerang tertahan, suaranya tercekat.

Seluruh tubuhnya seketika melengkung kaku di atas ranjang. Kedua tangannya mencengkeram sprei kasur dengan sangat erat hingga kukunya memutih.

Keringat dingin langsung membanjiri pelipis dan pakaiannya dalam hitungan detik. Napasnya mendadak berubah pendek, cepat, dan tersengal-sengal laksana orang yang tenggelam. Pandangan matanya mengabur diserang vertigo dahsyat, sementara rasa mual yang luar biasa kembali naik.

Walaupun ia baru saja berjanji untuk bertahan demi Anjani, realita medis membuktikan bahwa pikiran yang kalut dan rasa bersalah yang terlampau pekat justru bertindak sebagai racun yang mempercepat penurunan kesehatannya.

Pikirannya yang menolak berhenti memikirkan nasib Anjani telah memicu malapetaka biologis dalam tubuhnya.

Dengan sisa kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai menggelap, tangan Alden yang gemetar hebat meraba area di bawah bantal. Ia menarik keluar foto Anjani dengan gerakan yang sangat lemah.

Di tengah kepungan rasa sakit yang meremukkan raga, Alden mendekapkan foto tersebut erat-erat di atas dadanya yang naik turun tak beraturan. Air matanya luruh menetes di atas bantal.

Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu, Alden terengah-engah melawan maut yang seolah mencengkeram lehernya.

Hari yang mulanya berjalan hangat dan nyaman, kini dalam sekejap berubah menjadi panggung penyiksaan, menyisakan Alden yang terkulai sekarat di atas ranjang, bertaruh nyawa melawan penyakitnya sendiri demi sebuah nama yang entah berada di mana.

Alsen mendekapkan foto Anjani lebih dalam di dadanya.

Bukan sekadar foto lagi.

Tapi seperti ia sedang menggenggam harapan itu sendiri. Rapuh, sederhana, namun cukup untuk membuatnya ingin bertahan sedikit lebih lama lagi.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!