"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Berjas dan Segel Merah
Sore hari di kompleks perumahan elite tempat keluarga Wijaya tinggal biasanya sangat tenang. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil dinas berpelat nomor instansi hukum berhenti tepat di depan gerbang rumah nomor 12. Beberapa pria berjas rapi turun dengan membawa papan jalan dan map besar berisi dokumen dengan logo garuda.
Di dalam rumah, Ibu Ratna sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mengipasi dirinya menggunakan majalah fashion bekas. Keringat bercucuran di lehernya yang berkerut. Tanpa pendingin ruangan, rumah megah itu tak ubahnya seperti oven raksasa.
"Tyas! Kamu tidak punya uang tunai sama sekali? Ibu haus, mau beli es kelapa di depan tidak ada yang mau diutangi!" keluh Ibu Ratna dengan nada ketus.
Tyas keluar dari kamarnya dengan wajah cemberut, melempar tas desainer miliknya ke lantai. "Uang dari mana, Bu? Kartuku ditolak, Mas Rendra ditelepon tidak aktif dari tadi siang! Aku pusing! Teman-temanku di grup kampus sudah mulai menyindir karena aku batal mentraktir mereka!"
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang keras dan berwibawa memotong perdebatan mereka.
Ibu Ratna mendengus. "Pasti Rendra sudah pulang. Biar Ibu marahi dia karena membiarkan kita kepanasan seperti ini!"
Wanita tua itu membuka pintu dengan hentakan kasar, sudah bersiap untuk mengomel. Tetapi, kalimatnya tertahan di tenggorokan saat melihat tiga pria asing berwibawa berdiri di terasnya, didampingi oleh ketua RT setempat dan dua petugas keamanan kompleks.
"Selamat sore. Apakah benar ini kediaman Tuan Rendra Wijaya?" tanya pria yang berdiri paling depan, menunjukkan tanda pengenal resminya sebagai juru sita pengadilan.
"I-iya benar. Saya ibunya. Ada apa ya? Rendra sedang tidak di rumah," jawab Ibu Ratna, mendadak merasa ciut melihat seragam mereka.
Pria itu membuka map cokelatnya. "Kami dari pihak Pengadilan Negeri, membawa surat perintah eksekusi penyitaan aset mutlak atas properti ini. Berdasarkan putusan pengadilan terkait gagal bayar penjaminan aset Wijaya Corp yang sekarang telah dialihkan kepada Arania International, seluruh bangunan dan tanah di atas sertifikat ini resmi disita oleh negara untuk menutupi kerugian."
"Disita?!" Tyas yang mendengar dari dalam langsung berlari ke depan, wajahnya memucat. "Kalian tidak bisa sembarangan! Ini rumah kakakku! Harganya miliaran!"
"Betul, Nona. Dan hutang perusahaan kakak Anda jauh melebihi harga rumah ini," jawab petugas itu dengan tenang dan tegas. "Kami memberikan waktu tepat tiga puluh menit bagi Anda berdua untuk mengemas pakaian dan barang-barang pribadi. Setelah itu, rumah ini akan kami gembok dan dipasang segel resmi."
"Tiga puluh menit?! Kalian gila ya?! Kami mau tinggal di mana?!" Ibu Ratna mulai histeris, ia mencoba menarik kemeja petugas itu, tapi petugas keamanan kompleks langsung menahannya dengan sopan tapi cukup kuat.
"Mohon kerja samanya, Nona, Nyonya. Jika dalam tiga puluh menit Anda tidak mengosongkan tempat, kami terpaksa melakukan pengosongan paksa dengan bantuan pihak kepolisian," tegas sang juru sita.
Di saat yang bersamaan, di dalam ruang kerja eksekutif barunya di Arania International, Rania sedang duduk dengan tenang. Di depannya, sebuah layar monitor besar menampilkan siaran langsung dari kamera pengawas tersembunyi yang terpasang di gerbang rumah lamanya. Elang berdiri di sampingnya, menyilangkan tangan di dada, ikut menonton.
Di layar itu, terlihat Ibu Ratna dan Tyas keluar masuk rumah dengan panik, membawa kantong plastik besar dan koper-koper kain murah karena mereka tidak bisa membawa lemari pakaian mereka yang mahal. Tyas menangis meraung-raung saat petugas mulai menempelkan stiker besar berwarna merah menyala di dinding depan rumah: ASET INI DALAM SITAAN NEGARA.
Rania menyesap teh kamomilnya perlahan. Tidak ada air mata, tidak ada keraguan. Tatapannya sedingin es.
"Kamu ingat malam itu, El?" tanya Rania lirih, matanya tetap terpaku pada layar. "Malam saat Ibu Ratna mendorong bahuku ke luar pagar di tengah hujan deras. Dia bilang aku tidak berhak menginjakkan kaki di lantai marmernya yang mahal karena aku hanyalah wanita yatim piatu."
Elang menatap Rania, suaranya melembut namun tetap berwibawa. "Dan sekarang, dia bahkan tidak punya hak untuk mengambil sandal rumahnya sendiri."
"Ya," Rania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan yang elegan. "Aku tidak membalas mereka dengan kekerasan, El. Aku hanya mengembalikan mereka ke posisi semula. Tanpa otakku yang menghasilkan uang untuk Rendra, mereka memang bukan siapa-siapa."
Kembali ke depan rumah Wijaya...
Rendra akhirnya tiba di kompleks dengan menumpang angkot, penampilannya benar-benar hancur. Begitu dia turun di depan rumahnya, dia disuguhkan pemandangan ibunya yang duduk bersimpuh di pinggir jalan di atas koper kain, sementara Tyas menangis sambil menutupi wajahnya karena tetangga-tetangga kompleks mulai keluar rumah dan mengambil foto mereka.
"Rendra! Rumah kita, Rendra! Rumah kita diambil!" jerit Ibu Ratna begitu melihat anaknya datang.
Rendra menatap segel merah di pintunya. Lututnya lemas, ia jatuh berlutut di samping ibunya. Pondasi hidupnya benar-benar telah runtuh sepenuhnya. Rumah, jabatan, kehormatan, semuanya hilang dalam sekejap mata.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan mereka. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun, menampilkan wajah Rania yang mengenakan kacamata hitam.
Rendra merangkak mendekati mobil itu, mengabaikan tatapan jijik dari orang-orang sekitar. "Rania... Rania, aku mohon... kasihanilah Ibu. Biarkan kami tinggal di rumah itu seminggu saja sampai kami dapat kontrakan. Aku mohon, Nia..."
Rania melepaskan kacamata hitamnya, menatap Rendra, Ibu Ratna, dan Tyas yang kini tampak seperti pengemis di pinggir jalan kompleks.
"Kasihan?" suara Rania terdengar jernih dan tajam, memotong suara tangis mereka. "Kata itu sudah lama hilang dari kamus hidupku, Mas. Sama seperti saat kamu menolak meminjamkan kunci mobil untuk anakmu sendiri yang sedang bertaruh nyawa."
Rania melirik Ibu Ratna yang menatapnya dengan mata merah penuh dendam. "Ibu... bukankah Ibu dulu bilang kalau aku ini pembawa sial? Sekarang aku sudah pergi dari rumah itu. Jadi, silakan nikmati keberuntunganmu di bawah kolong langit."
"Rania! Kamu keterlaluan! Kamu kualat jadi istri!" teriak Ibu Ratna dengan sisa-sisa kesombongannya.
Rania tertawa kecil, suara tawa yang begitu berkelas namun sangat merendahkan. "Kualat? Ibu salah. Tuhan tidak sedang menghukumku, Tuhan sedang membalaskan setiap tetes air mata yang aku jatuhkan saat mencuci kaki kalian selama lima tahun ini. Selamat menikmati realita yang baru, Keluarga Wijaya."
Rania menaikkan kembali kaca mobilnya. "Jalan," perintahnya pada sopir.
Mobil mewah itu meluncur pergi, meninggalkan debu yang menerpa wajah Rendra dan keluarganya. Di belakang mereka, petugas kepolisian mulai berdatangan dengan membawa surat panggilan resmi untuk Rendra atas kasus penggelapan dana yang dilaporkan oleh auditor Arania International pagi tadi.
Malam itu, Rendra tidak hanya kehilangan rumahnya. Dia harus tidur di dalam sel tahanan sementara, sementara Ibu Ratna dan Tyas terpaksa menumpang di teras rumah kerabat jauh yang menyambut mereka dengan tatapan sinis dan omelan.
Penyesalan itu kini telah menjelma menjadi badai yang menguliti setiap inci kesombongan mereka, tanpa menyisakan apa pun selain rasa malu yang berdarah-darah.
pst dapat cap pelakor😄🤭