Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghujung Doa dan Keberangkatan yang Berat
Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Pesantren Sepuh Jombang akhirnya tiba. Acara Khataman Akbar dan Imtihan Akhir Sanah digelar dengan sangat megah namun tetap sarat akan kekhusyukan. Sejak selepas subuh, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan selawat nabi telah berkumandang membelah angkasa Jombang, bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid utama. Ribuan wali santri dan alumni dari berbagai daerah tampak mulai memadati area pesantren, menciptakan lautan manusia yang rapi bersarung dan berbusana putih netral.
Di tengah kesibukan yang luar biasa itu, Gus Arsalan benar-benar membuktikan ucapannya. Laki-laki itu seolah melepaskan seluruh jubah kebesarannya sebagai putra mahkota Al-Anwar Kediri. Sejak dua hari lalu, ia menolak untuk duduk manis di barisan tamu VIP *ndalem*. Arsalan memilih untuk terjun langsung ke lapangan bersama para pengurus santri senior. Ia ikut mengecek kesiapan tenda, memastikan pasokan konsumsi untuk para kiai sepuh yang hadir, bahkan ikut sibuk mengatur arus lalu lintas di gerbang utama pesantren di bawah terik matahari Jombang yang menyengat.
Keringat bercucuran membasahi kemeja koko putih dan sarung bHS hitam yang dikenakannya, namun tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari bibir tegapnya. Setiap kali rasa lelah mendera, Arsalan hanya perlu melirik ke arah aula utama tempat pondok putri berada. Di sana, dari balik tirai pembatas, ia sesekali bisa menangkap siluet Ning Humaira yang sedang sibuk mendampingi Ummi Fatimah menyambut para bu nyai sepuh. Hanya dengan melihat ujung khimar istrinya, rasa lelah Arsalan seolah menguap begitu saja, berganti dengan pasokan semangat baru untuk terus memantaskan diri.
Kiai Syamsuddin yang memperhatikan sepak terjang menantunya dari teras *ndalem* beberapa kali menyunggingkan senyum teduh. Sang kiai sepuh tahu betul, apa yang dilakukan Arsalan saat ini bukan sekadar bentuk formalitas kepatuhan, melainkan sebuah laku tirakat fisik untuk meleburkan ego dan kesombongan yang selama ini sempat meretakkan rumah tangganya.
Tepat pukul dua siang, acara inti khataman kitab dan prosesi wisuda santri akhirnya selesai dengan penuh khidmat. Isak tangis haru dari para wali santri membuncah saat doa khotmil Qur'an dilantunkan secara langsung oleh Kiai Syamsuddin. Atmosfer keberkahan begitu terasa merayap ke setiap sudut pondok.
Setelah para tamu undangan dan wali santri perlahan mulai membubarkan diri meninggalkan pelataran pesantren, ketenangan perlahan kembali menyelimuti *ndalem* Jombang. Di ruang tamu utama, Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah duduk bersama untuk melepas lelah, ditemani oleh Humaira yang sedang menyajikan teh hangat dan sisa jajanan pasar.
Gus Arsalan melangkah masuk ke dalam ruangan dengan napas yang masih sedikit memburu. Wajahnya tampak sangat kuyu akibat kurang tidur dan kelelahan fisik selama tiga hari terakhir, namun sorot matanya tampak jauh lebih jernih dan tenang. Ia langsung mengambil posisi duduk bersila di hadapan Kiai Syamsuddin, lalu menundukkan kepalanya dengan takzim.
"Alhamdulillah, Abah, Ummi... sedoyo rangkaian acara khataman sampun berjalan dengan lancar tanpa ada kendala satu pun," lapor Arsalan dengan suara baritonnya yang lembut.
"Alhamdulillah... maturnuwun sanget nggih, Le Arsalan," sahut Ummi Fatimah dengan senyuman yang jauh lebih hangat daripada hari pertama menantunya datang. Wanita tua itu tidak bisa menutup mata melihat bagaimana ringannya tangan Arsalan dalam membantu seluruh keperluan pondok sepuh tanpa pamrih. "Kalau ndak ada kamu yang bantu koordinasi bagian lapangan tadi, mungkin pengurus santri sudah keteteran ngurus ribuan tamu."
"Mboten menopo, Ummi. Niki sampun dados kewajiban Arsalan sebagai anak sekaligus menantu di mriki," jawab Arsalan tulus. Ia kemudian mengalihkan pandangannya secara perlahan ke arah Humaira yang sedang meletakkan cangkir teh terakhir di atas meja.
Pandangan mata mereka sempat bertemu sesaat. Tidak ada lagi kilat amarah di mata Humaira, namun sisa-sisa jarak dan benteng pertahanan itu masih terasa sangat nyata. Humaira segera menundukkan kepalanya, lalu mengambil posisi duduk di samping sang ummi, melipat kedua tangannya di atas pangkuan dengan anggun.
Arsalan berdeham pelan, mencoba menata hatinya karena momen yang paling berat bagi jiwanya akhirnya tiba juga. Ia merogoh saku kokonya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang sejak pagi bergetar tanpa henti menerima puluhan pesan singkat dari Kediri.
"Abah... Ummi," ucap Arsalan, suaranya mendadak terasa sedikit tercekat di tenggorokan. "Nyuwun pangapunten yang teramat sangat... sehubungan dengan selesainya acara khataman di mriki, sore meniko juga... Arsalan harus segera mohon pamit untuk kembali ke Pesantren Al-Anwar Kediri."
Mendengar ucapan suaminya, jemari tangan Humaira yang berada di atas pangkuan mendadak bergerak kecil. Ia mendongak, menatap Arsalan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa terkejut yang sempat melintas di wajah teduhnya, karena ia tidak mengira Arsalan akan pergi secepat ini, tepat setelah acara selesai tanpa beristirahat terlebih dahulu satu malam pun.
Kiai Syamsuddin menghentikan usapan tangannya pada janggut putihnya, menatap menantunya dengan pandangan menyelidik yang bijak. "Kok kesusu (terburu-buru) banget, Le? Apa ndak sebaiknya kamu menginap satu malam lagi? Wajahmu itu kelihatan capek sekali, ndak aman kalau harus menyetir sendirian ke Kediri dalam kondisi seperti itu."
Arsalan memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menggeleng pelan penuh rasa takzim. "Mboten menopo, Abah. Insya Allah Arsalan taksih kuat. Tadi siang... Abi mendadak menelepon Arsalan. Kebetulan di Al-Anwar ada beberapa urusan penting terkait pembangunan asrama baru pondok barat dan persiapan kunjungan kementerian yang mboten saget ditinggal terlalu lama. Karena Arsalan sudah izin libur tiga hari, posisi pengawasan di sana sedang kosong, Abah."
Kiai Syamsuddin mengembuskan napas panjang, memahami betul beban tanggung jawab yang dipikul oleh seorang putra mahkota pesantren besar sekelas Al-Anwar. "Oalah... ya wis kalau memang urusan umat di sana sudah menunggu, Abah ndak bisa menahanmu lebih lama lagi, Le. Tugas dan amanah pesantren memang harus selalu diutamakan."
Beliau kemudian melirik ke arah putri semata wayangnya yang sejak tadi hanya terdiam seribu bahasa. "Humaira... suamimu mau pamit pulang ke Kediri, Nduk. Antarkan dia ke kamar untuk merapikan barang-barangnya sebentar."
Humaira tertegun sejenak mendengarkan titah sang abah. Namun, demi menjaga adab dan tidak ingin menimbulkan kecurigaan baru di depan orang tuanya, ia segera bangkit berdiri. "Enggeh, Abah. Mari, Gus... kulo bantu rapikan baju Njenengan."
Langkah kaki keduanya terdengar sunyi saat menyusuri lorong tengah *ndalem* menuju kamar lama Humaira. Begitu daun pintu kayu itu ditutup rapat dari dalam, atmosfer di dalam ruangan bernuansa hijau muda itu seketika berubah menjadi begitu kaku dan sarat akan ketegangan yang sunyi.
Arsalan berjalan mendekati kasur jatinya, mengambil tas ransel hitamnya yang tergeletak di sudut ruangan. Sementara Humaira melangkah mendekati lemari pakaian tua, mengambil beberapa helai kemeja koko dan sarung milik Arsalan yang sempat dicuci dan disetrika oleh santri khidmah kemarin sore.
Humaira melipat pakaian-pakaian tersebut dengan sangat telaten dan rapi di atas kasur, sementara Arsalan hanya berdiri terpaku di sampingnya, menatap setiap gerik jemari istrinya dengan dada yang berdenyut ngilu. Pikiran bahwa setelah ini ia harus kembali ke kamar besar mereka di Kediri seorang diri—tanpa ada kehadiran Humaira, tanpa ada wangi lavender khas istrinya—membuat Arsalan merasa seolah-olah sedang melangkah menuju ruang pengasingan yang teramat dingin.
"Humaira..." panggil Arsalan lirih, memecah kesunyian kamar.
Humaira tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan lipatan sarung. "Wonten menopo, Gus?"
"Sesuai dengan kesepakatan kita di taman dua malam lalu..." Arsalan menjeda kalimatnya, mencoba menahan getaran emosi yang kembali mencuat di dadanya. "Mulai sore ini, kamu resmi saya izinkan untuk tinggal di sini dulu selama tiga bulan ke depan. Saya tidak akan memaksamu pulang ke Kediri sampai hatimu benar-benar siap dan rida untuk kembali bersama saya."
Gerakan tangan Humaira seketika terhenti di udara. Ia menatap kain sarung di depannya dengan mata yang mendadak berkaca-kaca. Kesepakatan itu akhirnya benar-benar dimulai hari ini. Jarak fisik yang nyata kini akan membentang di antara mereka berdua selama sembilan puluh hari ke depan.
"Maturnuwun sanget atas pengertian Njenengan, Gus," ucap Humaira lembut, suaranya bergetar halus namun tetap menunjukkan ketegasan keputusan batinnya. "Kulo badhe mempergunakan waktu tiga bulan niki dengan sebaik-baiknya untuk menata hati kulo kembali."
Arsalan melangkah satu tindakan lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka meskipun ia tetap menjaga batas suci agar tidak menyentuh Humaira secara paksa tanpa izin. Ia menatap wajah samping istrinya dengan tatapan yang sarat akan permohonan ampun yang teramat dalam.
"Selama tiga bulan ini, Humaira... saya berjanji demi Allah tidak akan membiarkan hubungan kita gantung tanpa kejelasan," tutur Arsalan dengan penuh komitmen, setiap katanya terdengar begitu bertenaga dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Saya akan kembali ke Al-Anwar untuk meruntuhkan seluruh masa lalu saya yang bodoh itu. Saya akan merubah diri saya menjadi laki-laki dan imam yang layak untukmu. Setiap minggu... jika kamu mengizinkan, saya akan tetap datang ke Jombang sini untuk menjengukmu dan meminta ridamu."
Humaira akhirnya membalikkan tubuhnya penuh, menatap lurus ke dalam sepasang netra elang suaminya yang kini tampak begitu sayu dan dipenuhi air mata penyesalan. Untuk pertama kalinya sejak badai pernikahan mereka pecah, Humaira tidak melihat ada sisa-sisa sosok Gus Arsalan yang angkuh dan dingin dari London. Pria di depannya saat ini benar-benar telah meluruhkan seluruh harga dirinya demi mengemis sebuah kesempatan kedua.
"Perubahan itu mboten usah Njenengan janjikan lewat kata-kata, Gus," ucap Humaira dengan air mata yang mulai melintasi pipinya yang merona. "Buktikan saja lewat perbuatan Njenengan di Al-Anwar sana. Kulo... kulo taksih menghargai ikatan suci di antara kita, makanya kulo masih memberikan waktu tiga bulan niki. Jangan sia-siakan kesempatan terakhir yang kulo berikan."
Arsalan mengangguk cepat, menghapus air mata di pipinya sendiri dengan kasar. "Saya berjanji, Humaira. Demi Allah, saya tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Terima kasih karena masih mau memberikan ruang bagi laki-laki berdosa seperti saya."
Setelah seluruh pakaian selesai dimasukkan ke dalam ransel hitam, Arsalan menutup ritsleting tasnya dengan berat hati. Waktu keberangkatan tidak bisa ditunda lagi karena awan mendung sore hari mulai menggantung di langit Jombang, menandakan hujan lebat akan segera turun menemaninya di sepanjang perjalanan pulang.
Mereka berdua kembali keluar menuju ruang tamu utama untuk prosesi pamitan terakhir. Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah sudah berdiri di dekat pintu depan *ndalem* untuk melepas keberangkatan menantu mereka.
Arsalan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, meraih tangan kanan Kiai Syamsuddin lalu menciumnya dengan penuh takzim berkali-kali. "Abah... Arsalan mohon pamit rida dan doa pangestunipun kagem kembali ke Kediri sore meniko. Maturnuwun sanget atas sedoyo bimbingan dan kebaikan Abah selama Arsalan menginap di mriki."
Kiai Syamsuddin menepuk-nepuk bahu tegap Arsalan dengan penuh kasih sayang seorang ayah. "Enggeh, Le. Abah selalu mendoakan keselamatan dan keberkahan untukmu di sepanjang jalan. Ingat pesan Abah di mobil kemarin, nggih? Jaga baik-baik lambung perahumu, bimbing istrimu dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati."
"Enggeh, Abah. Sedoyo dawuh Abah badhe Arsalan laksanakan dengan sebaik-baiknya," jawab Arsalan patuh. Ia kemudian beralih mencium tangan Ummi Fatimah dengan rasa hormat yang sama besarnya. "Ummi... Arsalan nyuwun pamit. Titip Dek Humaira di mriki nggih, Ummi. Tolong bimbing Dek Humaira selama Arsalan mboten wonten di sampingnya."
Ummi Fatimah menatap wajah menantunya yang tampak begitu tulus memohon, membuat sisa-sisa amarah di dada wanita tua itu akhirnya mencair sepenuhnya sore itu. Beliau mengangguk pelan sembari mengusap lengan Arsalan. "Enggeh, Le. Humaira aman di sini bersama Ummi dan Abah. Kamu hati-hati di jalan, kalau capek atau mengantuk jangan dipaksakan menyetir, berhentilah di rest area untuk istirahat sejenak."
"Enggeh, Ummi. Maturnuwun sanget atas perhatiannya," sahut Arsalan.
Kini, pandangan Arsalan beralih sepenuhnya pada sosok Humaira yang berdiri di anak tangga teratas teras *ndalem*. Sesuai dengan adab seorang istri di depan orang tua, Humaira melangkah mendekat, lalu perlahan mengulurkan tangan kanannya ke arah Arsalan.
Arsalan meraih jemari mungil istrinya dengan lembut. Humaira membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu menempelkan keningnya di atas punggung tangan suaminya dengan takzim sebuah ciuman tangan formalitas yang tetap terasa begitu khidmat di mata kedua orang tuanya. Namun, saat Humaira hendak menarik kembali tangannya, Arsalan menahan jemari itu sejenak di udara.
Pria itu menunduk, lalu membalas dengan mencium kening Humaira dengan teramat lama dan penuh kelembutan di hadapan Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah—sebuah kecupan perpisahan yang sarat akan janji setia, permohonan maaf, dan rasa cinta yang baru saja mekar di tengah badai penyesalan. Humaira sempat memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir suaminya menyentuh keningnya, merasakan desiran hangat yang berbaur dengan rasa perih yang masih tersisa di dalam dada.
"Saya pamit, Humaira... jaga dirimu baik-baik di sini," bisik Arsalan tepat di dekat telinga istrinya sebelum melepaskan kecupannya.
Humaira hanya mengangguk tipis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Enggeh, Gus. Hati-hati di jalan."
Gus Arsalan membalikkan tubuhnya dengan berat, menyandang tas ransel hitamnya lalu melangkah keluar menuju mobilnya yang terparkir di bawah pohon mangga pelataran *ndalem*. Hujan gerimis tipis mulai turun membasahi bumi Jombang saat mesin mobil dinyalakan.
Dari teras *ndalem*, Humaira berdiri membeku bersama kedua orang tuanya, menatap mobil hitam suaminya yang perlahan bergerak mundur, lalu melaju melewati gerbang kayu pesantren dan menghilang di balik tikungan jalan raya Jombang kota. Keberangkatan Arsalan sore itu menyisakan kekosongan yang aneh di dalam dada Humaira. Tiga bulan ke depan, ia akan berada di rumah masa kecilnya ini tanpa ada bayang-bayang Gus Arsalan yang mengusik harinya.
Ummi Fatimah merangkul pundak putrinya dengan lembut, membawa Humaira masuk kembali ke dalam kehangatan rumah saat hujan deras akhirnya tumpah ruah membasahi bumi. "Ayo masuk, Nduk. Angin sorenya mulai dingin. Biarkan suamimu menunaikan tugasnya di Al-Anwar, dan kamu fokuslah menyembuhkan hatimu di sini."
Humaira mengangguk patuh, menutup pintu depan ndalem rapat-rapat. Babak baru dari tiga bulan masa pembuktian itu kini resmi dimulai, membawa sepasang suami istri yang halal namun sempat asing ini menuju takdir yang entah akan mempersatukan mereka kembali dengan rida yang utuh, atau justru memisahkan mereka selamanya di ujung jalan penyesalan.