Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGIT AMERIKA HATI INDONESIA
sejak hari pertama kuliah,Alea belajar dengan sungguh-sungguh,Ia ingin menjadi dokter,Bukan karena prestise,Bukan karena gelar.
Tetapi karena ingin membantu banyak orang.
Seperti yang dulu selalu diceritakan Papa ke mama,Perjalanan menjadi mahasiswa kedokteran ternyata sangat tidak mudah,Tugas menumpuk,Praktikum,Ujian,Jadwal yang padat.
Banyak malam yang dihabiskan Alea di depan buku,Banyak pagi yang dimulai dengan rasa lelah.
Namun setiap kali ingin menyerah.
Ia selalu melihat foto Papa di meja belajarnya,Dan pesan dari Agra.
"Dokter Alea masa depan enggak boleh menyerah."
Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Di Amerika,Agra juga sedang berjuang,Kuliah bisnis di universitas bergengsi bukanlah hal mudah,Tekanan besar datang dari ayahnya,
Nilai harus sempurna,Prestasi harus tinggi,dia dipersiapkan menjadi penerus perusahaan,Namun di balik semua kesibukan itu,Ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Alea."Namanya selalu menjadi alasan Agra untuk bertahan.
Empat musim berlalu,salju datang dan pergi,Musim semi berganti musim panas,sedangkan di Indonesia,Alea terus tumbuh menjadi perempuan yang semakin dewasa,Semakin cerdas,Semakin mandiri.
Suatu malam,mereka melakukan panggilan video.
Agra tampak lelah,Begitu juga Alea.
"Kamu habis jaga?"
tanya Agra,Alea mengangguk.
"Capek."jawab Alea.
"Dokter hebat memang begitu."ujar Agra. 😄
Alea tertawa.
"Kamu juga kelihatan capek."😜
"Aku kangen."ucap Agra.
"Aku juga."
"Banget."😆
Alea tersenyum.
"Banget."💃
Di balik segala kesibukan,Mereka tumbuh bersama,Dan tanpa mereka sadari,Jarak yang dulu terlihat menakutkan,Justru mengajarkan arti cinta yang sebenarnya.
Meski dipisahkan oleh ribuan kilometer Karena di bawah langit yang berbeda,Alea dan Agra masih menyimpan mimpi yang sama.
Suatu hari nanti,Ketika semua perjuangan selesai,Ketika semua badai telah berlalu,Mereka akan berdiri di tempat yang sama,Dan memulai hidup yang selama ini mereka perjuangkan bersama. ❤️
_________________________________________________
Di kampus, Alea dikenal sebagai sosok yang ramah, cerdas, dan sulit diabaikan. Mungkin benar kata orang, “gen cantik ibunya menurun.” Tapi lebih dari itu, Alea punya aura yang membuat orang ingin mendekat tanpa sadar.
salah satu yang paling sering berada di dekatnya adalah Aldo,awalnya biasa saja,Aldo hanya teman satu fakultas,laki-laki yang dikenal sopan, rajin, dan selalu datang tepat waktu.
Ia menawarkan tumpangan pulang saat hujan,membantu membawa buku saat Alea kewalahan, dan kadang menunggu di depan kelas hanya untuk memastikan Alea tidak pulang sendirian.
“Biar aku antar aja ya, Lagi pula searah,” kata Aldo suatu sore.
Alea sempat menolak. Tapi penolakan yang terlalu sering akhirnya berubah jadi kebiasaan yang diterima,Dari situ semuanya mulai bergeser perlahan.
Awalnya Aldo teman. Lalu jadi kebiasaan. Lalu jadi kenyamanan,Dan kenyamanan, sering kali, adalah awal dari sesuatu yang lebih berbahaya daripada cinta itu sendiri,di sisi lain, Alea masih memiliki Arga.
Arga yang dulu berjanji tidak akan melepaskannya,Arga yang pernah menjadi tempat Alea pulang dari segala luka,tapi hubungan mereka kini tidak lagi sama,Ada jarak yang tidak pernah benar-benar mereka bicarakan, hanya dirasakan diam-diam di sela pesan singkat yang semakin jarang dibalas, dan panggilan yang mulai terasa canggung.
Arga mulai menyadari sesuatu,dan yang paling membuatnya gelisah adalah Aldo,dia bukan tipe orang yang terburu-buru. Ia tidak langsung menyatakan perasaan, tidak juga memaksa Alea memilih,Tapi ia pintar membaca situasi.
Ia tahu Alea mulai lelah dengan Arga,dan di titik itu, Aldo mulai bergerak lebih halus,Lebih sering mengantar pulang, lebih sering mengajak makan di luar, lebih sering hadir di saat Arga tidak ada.
tanpa disadari Alea,batas antara “teman” dan “lebih dari itu” mulai kabur,Suatu malam, Aldo mengirim pesan.
“Kalau kamu capek sama semuanya, kamu bisa cerita ke aku. Aku nggak akan pergi kayak orang lain.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, itu menempel di pikiran Alea lebih lama dari yang seharusnya,Sementara itu, Arga mulai terasa jauh.
Pesan yang dibalas semakin lama semakin singkat. Telepon yang tidak lagi sesering dulu. Bahkan kadang Arga tertidur karena perbedaan waktu tanpa sempat mengucapkan selamat malam.
jarak, yang awalnya hanya fisik, perlahan berubah jadi emosional,Di sisi lain, Erica mulai masuk ke lingkaran Aldo.
Erica mengenal Aldo cukup lama. Mereka bukan pasangan, bukan sahabat biasa,Ada sesuatu yang tidak pernah selesai di antara mereka,kepentingan yang saling menguntungkan.
Suatu malam di kafe, Erica duduk berhadapan dengan Aldo.
“Kamu masih sabar jadi orang kedua?” tanya Erica sambil mengaduk kopinya.
Aldo diam.
“Dia masih pacar Arga,” lanjut Erica.
“Tapi Arga jauh.”
Erica tersenyum tipis.
“Jauh bukan berarti selesai.”
Lalu ia meletakkan ponsel di meja.
Di layar: foto Alea dan Aldo di parkiran kampus. Tertawa. Terlihat terlalu dekat untuk sekadar teman.
“Aku bisa bantu kamu,” kata Erica pelan. “Tapi kamu harus berani ambil kesempatan.”
Aldo tidak pernah benar-benar tahu bahwa obsesi bisa berubah menjadi racun yang perlahan menggerogoti kewarasan,Yang ia tahu hanya satu hal,Alea harus menjadi miliknya, dengan cara apa pun.
sejak hari itu, pikirannya tidak lagi bekerja untuk cinta… tapi untuk rencana.
_________________________________________________
Langit Jakarta sore itu berwarna keemasan, seperti lukisan mahal yang hanya bisa dinikmati dari balkon apartemen kelas atas.
Dari balik kaca tebal restoran privat di lantai atas gedung bisnis, Aldo menatap Alea yang sedang duduk sendiri sambil menelphone agra.
di sudut lain ruangan, Erica tersenyum tipis.
“Semakin lama mereka terlihat bahagia, semakin mudah merusaknya,”
ucap Erica pelan, seperti seseorang yang sedang membicarakan cuaca, bukan kehancuran hidup orang lain.
Aldo tidak menjawab. Tapi senyumnya tipis, dingin.
“Agra terlalu percaya diri,” gumamnya.
“Orang seperti itu paling mudah jatuh… kalau diinjak tepat di titik lemahnya.”
Erica menatap Aldo.
“Dan titik lemahnya?”
Aldo mengalihkan pandangan ke Alea.
“Dia.”!
Alea sudah lama berhenti menjadi gadis yang mudah dipermainkan emosi,Sejak masa lalu Mamanya kembali diungkit oleh Erica dalam bentuk bisikan-bisikan yang sengaja disebar ke lingkungan sosialnya, Alea justru berubah menjadi lebih diam. Lebih kuat. Lebih tajam dalam membaca niat orang.
"Tapi kamu juga harus tahu… tidak semua orang bisa kamu lawan sendirian.”ujar agra dari balik tlp.
Alea tersenyum tipis.
Agra,Bukan Agra yang dulu dikenal sebagai pria muda penuh konflik batin dan emosi yang masih mudah goyah. Yang ini berbeda,Ia melangkah dengan tenang, seperti seseorang yang sudah menaklukkan dunia.
sebelum kembali ke rumahnya sendiri,Setelan jas hitamnya jatuh sempurna di tubuhnya. Jam tangan klasik di pergelangan tangannya memantulkan cahaya halus. Wajahnya lebih tegas, rahangnya lebih terdefinisi, dan matanya bukan lagi mata seorang anak muda yang mencari arah,Itu mata seorang pemimpin,Seorang CEO.
Ayahnya telah menyerahkan seluruh kendali perusahaan padanya tanpa ragu. Harvard bukan hanya membentuk kecerdasannya, tapi juga cara ia membawa dirinya: dingin, strategis, dan tak mudah digoyahkan.
“Selamat datang kembali, Pak Agra,” ujar asisten pribadinya,Agra hanya mengangguk kecil.
“Semua sudah siap?”
“Ya,Pak,rapat direksi pertama jam sepuluh pagi.”
Agra melangkah keluar bandara, dan dunia di sekitarnya seperti otomatis membuka jalan,Bukan karena ia meminta dihormati,Tapi karena auranya memang tidak bisa diabaikan.
Sementara itu, di Jakarta pusat, Alea berdiri di sebuah cafe yang tak jauh dari Rumah sakit tempat ia bekerja,Angin menerpa rambutnya, membuat helaian halusnya bergerak pelan.
Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam, hidupnya akan berubah lagi.
“Apa kabar Dok” suara di belakangnya membuat Alea menoleh.
"Senyum Alea lebar dan langsung memeluk nya,
agra sengaja tidak memberitahu kepulangan nya di Indonesia, dan sekarang tidak ada lagi keraguan dalam hubungan mereka yang sudah dijaga selama ini, mereka semakin erat, dan saling mendukung puncak karier mereka kedepan.
“Empat tahun bukan waktu yang singkat,Dan di empat tahun itu, banyak hal yang tidak aku tahu.”ujar agra.
Alea tersenyum tipis
"Terimakasih sudah menunggu ku selama ini🙂"
Rumah Sakit Metropolitan Jakarta berdiri megah di pusat kota, seperti kota kecil yang hidup di dalam kota besar. Gedung kacanya memantulkan matahari pagi dengan kilau steril dingin, bersih, dan terlalu rapi untuk menyimpan terlalu banyak rahasia.
Di tempat inilah Alea bekerja sekarang,Nama yang ia pakai di lingkungan rumah sakit bukan sekadar “Alea”. Rekan-rekannya sering memanggilnya dengan nada hormat yang mulai terbentuk sendiri:
“Dokter Alea.”
waktu berlalu,Hari itu, hujan baru saja berhenti,agra berjalan dengan tatapannya lurus, dingin, dan fokus,Namun baru beberapa langkah…
Ia berhenti,a melihat Alea sedang berdiri dengan clipboard di tangan, berbicara dengan perawat.
Dan di sebelahnya,terlalu dekat untuk ukuran profesional,Aldo berdiri sambil tersenyum,seolah percakapan mereka adalah sesuatu yang ringan, pribadi, bahkan intim.
Aldo menyerahkan sesuatu,Alea menolak,Aldo tetap bertahan,Alea berbalik pergi,Aldo mengejar langkahnya,Dan itu… cukup.
Agra menatap adegan itu tanpa bergerak.
Wajahnya tetap tenang,Tapi udara di sekitarnya berubah,Matanya hanya mengikuti langkah Alea yang menjauh… dan Aldo yang masih berusaha menyamainya.
Di hari lain, kejadian itu terulang lagi,Dan lagi.
Seperti semesta sengaja mempermainkan satu titik lemah yang sama,Alea sendiri mulai merasa lelah,Bukan karena pekerjaannya.
Tapi karena pola yang tidak pernah berhenti.
“Aldo, kamu tidak perlu selalu muncul di setiap shift saya,” ucap Alea suatu malam di ruang istirahat.
Aldo bersandar di pintu"
Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja.”ujar Aldo ramah.
“Aku dokter. Aku baik-baik saja setiap hari tanpa kamu.”
Aldo menatapnya lama,Aldo bekerja di rumah sakit yang sama sebagai konsultan medis dan bagian dari tim administrasi proyek kesehatan perusahaan sponsor. Ia cerdas, rapi, dan selalu muncul di waktu yang terlihat kebetulan.
di dunia lain yang lebih mewah tapi jauh lebih kosong...Erica hidup dengan cara yang berbeda.
Apartemen penthouse miliknya tidak pernah sepi, tapi juga tidak pernah hangat.
Ia bangun siang, menghabiskan waktu dengan spa, belanja, dan acara sosial yang tidak pernah benar-benar ia pedulikan,Di matanya, dunia hanyalah panggung.
Dan ia hanya penonton yang sedang menunggu adegan utama,Erica masih menyimpan satu obsesi yang sama.tapi Setiap kali ia mencoba mendekati Agra,pria itu ia selalu menjauh dengan cara yang halus tapi tegas.
“Perjodohan itu tidak perlu,"
kata Agra suatu kali Erica tersenyum manja.
“Kamu terlalu serius, Agra. Kita ini sudah sama-sama cocok dari keluarga.”
Agra menatapnya dingin.
“Kecocokan tidak sama dengan keputusan.
”ujar agra pergi meninggalkan.
Kembali ke rumah sakit,Hari itu Agra datang lagi.
Dan seperti biasa,ia melihatnya,Alea sedang berjalan di lorong bersama Aldo,Tapi kali ini berbeda,Aldo menyentuh pergelangan tangan Alea sebentar untuk menarik perhatiannya. Bukan kasar, tapi cukup dekat untuk terlihat salah di mata siapa pun yang tidak tahu konteksnya.
Agra berhenti,Langkahnya tidak lagi maju,Matanya menajam,Bukan marah.
Tapi sesuatu yang lebih berbahaya,Cemburu yang tidak diakui,Aldo tersenyum tipis,seolah ia tahu, permainan kecilnya baru saja berhasil menyalakan sesuatu yang lama terkubur.
di malam hari, Alea akhirnya bertemu Agra di parkiran rumah sakit,tidak ada orang lain.
Hanya suara mesin mobil dan lampu putih yang terlalu terang.
“Apa maksud semua ini?” suara Agra datar.
Alea menatapnya lelah.
“Semua yang mana?”
Agra menatapnya lama.
“Dia.”
Alea menghela napas.
“Kamu datang ke rumah sakit Agra,Bukan untuk saya. Tapi untuk asumsi kamu sendiri.”
Agra diam.
Alea melanjutkan, lebih pelan.
“Aldo hanya rekan kerja. Tidak lebih.”
Agra menatapnya tajam.
“Tapi dia tidak bertindak seperti itu.”
Alea tersenyum pahit.
“Dan kamu ingin aku mengontrol bagaimana orang lain bersikap?”
Hening.
Angin malam lewat di antara mereka,tidak ada kata yang bisa menjembatani jarak itu.
Di kejauhan, Aldo mengamati dari dalam mobilnya,Erica mengirim pesan singkat:
“Biar mereka saling meragukan. Itu cukup untuk memecah semuanya."
Aldo tersenyum tipis,Dan di tengah semua itu…
Alea berdiri di antara dua dunia yang mulai runtuh dengan cara yang sangat halus,Satu orang yang mencintainya tapi mulai meragukannya.
Satu orang yang mengaku peduli tapi diam-diam memanipulasi semuanya.
Di ruang tamu sederhana namun hangat itu,Mama Tika sedang merapikan vas bunga di meja kaca. bel pintu berbunyi.
Mama Tika menoleh,Ia berjalan ke pintu, membuka perlahan.
di sana berdiri seorang pria muda dengan penampilan rapi, wajah tenang, dan senyum yang terlalu sopan untuk dianggap sekadar kunjungan biasa.
“Selamat pagi tante,” ucapnya lembut
“Maaf mengganggu waktu tante.
Mama Tika menatapnya sebentar,
“Silakan masuk,” jawab mama tetap ramah,Aldo duduk dengan sikap sopan di sofa ruang tamu.
“Saya Aldo tan,teman dekat Alea di rumah sakit.
Aldo menarik napas pelan.
“Saya menyukai Alea tan, saya mau minta ijin untuk ikut jagain alea setiap waktu.
Tidak ada drama dalam cara ia mengucapkannya,seperti seseorang yang sudah lama menyimpan kalimat itu dan akhirnya memutuskan untuk mengeluarkannya.
Suasana hening sejenak,Lalu Mama Tika tersenyum kecil, sopan namun berhati-hati.