NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana ruang tengah kediaman Bramantyo terasa sangat mencekam malam itu.

Setelah semua berkumpul pasca jam makan malam yang hening, Andre, Riko, dan Angela duduk berjejer di satu sofa panjang.

Mereka bertiga telah bersatu, memasang barikade wajah penuh amarah untuk melayangkan protes keras kepada Darren dan Jihan yang duduk tenang di hadapan mereka.

Riko membuka suara lebih dulu dengan nada tinggi, menumpahkan segala kekesalannya.

"Pa, ini sudah keterlaluan! Kami benar-benar menderita seharian ini! Aku dan Andre jadi bahan tertawaan orang-orang di kantor karena harus boncengan naik motor matic butut dan membawa kotak bekal seperti anak TK! Kesombongan kami di tempat kerja hancur dalam sehari!"

"Iya, Pa!" timpal Angela tidak mau kalah, matanya berkaca-kaca karena menahan kesal sekaligus malu.

"Angela juga malu setengah mati di kampus tadi! Gara-gara diantar naik motor dan dikuliahi di depan Jonas dan geng sosialita Angela, sekarang mereka semua menjauhi Angela! Harga diri kami diinjak-injak, Pa!"

Mendengar rentetan keluhan yang sangat egois dan hanya memikirkan gengsi fana tersebut, Jihan menarik napas panjang.

Ia melirik luka di lututnya yang masih terbalut plester, lalu menatap ketiga anak tirinya dengan ketenangan yang justru terasa menohok.

"Malu? Menderita?" balas Jihan, suaranya tenang namun bergema tajam di ruangan itu.

"Membawa bekal makanan bersih yang dimasak dengan saku sendiri dan naik kendaraan beroda dua untuk bekerja itu bukan penderitaan, melainkan proses hidup yang normal. Di rumah ini, kerja keras adalah hal utama. Tidak ada lagi tempat untuk kemanjaan dan kesombongan yang tidak menghasilkan apa-apa!"

Jihan menjeda kalimatnya, menatap mereka satu per satu dengan sorot mata mengintimidasi.

"Kalau kalian hanya peduli pada pandangan orang lain tentang kemewahan, artinya kalian tidak pernah menghargai esensi dari mencari uang itu sendiri."

Melihat anak-anaknya hendak membantah ucapan Jihan, Darren langsung memotong dengan cepat.

Ia menggeser duduknya, merangkul bahu Jihan, dan menunjukkan dukungan sepenuhnya kepada sang istri.

Protes keras ketiga anak itu seketika mental begitu saja.

"Apa yang dikatakan mama kalian itu seratus persen benar," sahut Darren dengan suara baritonnya yang dingin dan berwibawa. "Dan karena kalian masih saja tidak bisa bersyukur dan terus menuntut warisan mendiang mama kalian untuk berfoya-foya..."

Darren menatap Andre, Riko, dan Angela dengan tatapan yang sangat serius. "...Papa putuskan, jika dalam satu bulan ini tabiat kalian tidak berubah, Papa akan menyumbangkan seluruh aset dan harta warisan mendiang mama kalian ke yayasan sosial. Tidak akan ada satu rupiah pun yang tersisa untuk anak-anak pembangkang."

Mendengar keputusan ekstrem sang ayah, Andre, Riko, dan Angela seketika melotot syok seolah tersambar petir.

Harapan mereka untuk menguasai harta mendiang ibu mereka musnah total.

"PAPA EGOIS!!" teriak mereka bertiga kompak dengan suara melengking frustrasi, tak mampu lagi membendung rasa kecewa yang luar biasa.

Sadar bahwa mereka telah mengalami kekalahan telak lagi malam ini di hadapan kekompakan Darren dan Jihan, ketiganya langsung bangkit berdiri.

Dengan langkah menghentak-hentak penuh amarah, Andre, Riko, dan Angela berlari masuk ke dalam kamar masing-masing dan membanting pintu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Cklek.

Pintu kamar Andre dikunci dari dalam dengan sangat rapat.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Andre dan Riko duduk berhadapan di tepi tempat tidur, sementara Angela duduk gelisah di kursi rias sembari terus meremas jemarinya yang dingin.

Sisa amarah dari sidang keluarga tadi masih membekas jelas di wajah mereka.

"Kita tidak bisa diam saja seperti ini, Mas. Kalau dibiarkan, harta Mama benar-benar akan disumbangkan ke yayasan gara-gara perempuan bertubuh gajah itu!" bisik Andre dengan kilatan mata penuh dendam.

Riko menyunggingkan senyum licik yang tampak mengerikan di bawah temaram lampu kamar.

"Aku sudah punya rencana. Besok, saat Papa sudah berangkat ke kantor pusat, kita akan menjebak Jihan di rumah ini. Kita buat dia melakukan kesalahan besar yang tidak akan bisa dimaafkan oleh Papa."

"Rencana apa, Mas?" tanya Andre penasaran, memajukan tubuhnya.

"Kita buat dia seolah-olah telah mencuri barang berharga peninggalan almarhumah Mama yang paling berharga di lemari kaca ruang tengah, lalu kita hancurkan barang itu," bisik Riko dengan suara rendah yang penuh bisa.

"Papa pasti akan sangat murka kalau melihat barang kesayangan almarhumah Mama rusak karena keteledoran perempuan itu."

Mendengar rencana ekstrem kedua kakaknya, jantung Angela seketika berdegup kencang.

Bayangan wajah dingin Darren saat mengamuk di lobi kantor dan gerbang kampus tadi siang langsung melintas di benaknya, membuat bulu kuduknya berdiri merinding.

"Mas, kalian yakin rencana ini tidak apa-apa?" tanya Angela dengan suara yang sedikit gemetar, menatap Riko dan Andre bergantian.

"Kalau Papa sampai tahu kita yang merencanakannya dan Papa marah besar, bagaimana? Kalian tahu sendiri kan, sekarang Papa berubah jadi sangat menakutkan kalau menyangkut perempuan itu!"

Riko mendecitkan lidahnya, menatap adik perempuannya dengan pandangan meremehkan.

"Kamu ini penakut sekali, Angela! Tenang saja, rencana ini akan sangat rapi. Kita akan pastikan semua bukti mengarah pada Jihan. Lagipula, Papa itu akan pingsan kalau melihat barang almarhumah Mama disentuh orang lain. Jadi, Papa pasti langsung mengusir perempuan gajah itu tanpa berpikir panjang."

Andre menepuk bahu Angela untuk menenangkannya.

"Aku setuju dengan Mas Riko. Ini satu-satunya cara untuk mengembalikan posisi kita dan menyelamatkan warisan Mama. Kamu mau selamanya hidup melarat dengan uang saku dua juta sebulan dan dijauhi teman-teman sosialitamu, hah?"

Pertanyaan Andre langsung menusuk ego terdalam Angela.

Mengingat kembali rasa malunya di kampus tadi siang, ketakutan Angela perlahan terkikis oleh rasa gengsi dan dendam yang membara.

Angela menarik napas panjang, lalu perlahan menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang ikut berubah dingin.

"Baiklah, aku ikut rencana kalian. Besok kita hancurkan perempuan itu di depan Papa."

Sementara ketiga anak tirinya sedang sibuk menyusun rencana jahat di kamar sebelah, suasana di dalam kamar utama justru terasa sangat hangat dan berbanding terbalik.

Jihan baru saja selesai membersihkan diri dan duduk di tepi tempat tidur sembari mengoleskan krim di lututnya yang masih terbalut plester.

Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar mesra dari arah belakang, memeluk pinggang suburnya dengan sangat erat.

Darren mengecup pundak Jihan dengan lembut, lalu meletakkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil di atas pangkuan istrinya.

"Buka, Sayang. Ini hadiah kejutan untuk mengobati rasa lelahmu seharian ini," bisik Darren dengan suara baritonnya yang seksi.

Jihan membuka kotak tersebut dengan perlahan, dan seketika itu juga matanya membelalak sempurna melihat seuntai perhiasan yang berkilau indah di bawah temaram lampu kamar.

"Kalung berlian? Mas, ini berlebihan sekali. Aku kan hanya mengantarkan dompetmu, kenapa sampai diberi hadiah semewah ini?"

Darren terkekeh pelan. Ia membalikkan tubuh Jihan agar menghadap ke arahnya, lalu menatap manik mata istrinya dengan tatapan yang sangat memuja.

"Tidak ada yang berlebihan untuk bidadariku, Jihan. Kalung ini bahkan belum cukup untuk membalas rasa terima kasihku karena kamu sudah hadir di hidupku."

Darren mengusap pipi Jihan dengan lembut, menurunkan tangannya untuk menggenggam jemari Jihan yang terasa hangat.

Tatapan mata Darren perlahan berubah menjadi lebih dalam dan penuh kerinduan yang tertahan.

"Dan, bolehkah malam ini aku memintanya, Sayang?" tanya Darren dengan suara yang merendah, meminta haknya sebagai seorang suami seutuhnya.

Mendengar permintaan yang begitu tiba-tiba itu, jantung Jihan seketika berdegup kencang.

Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan buncah dan tidak percaya diri yang mendadak muncul ke permukaan.

"Mas, yakin?" tanya Jihan dengan suara yang sedikit bergetar.

Ia mendongak, menatap Darren dengan tatapan ragu.

"Aku, takut kalau Mas nanti jijik melihat tubuhku yang gemuk dan subur seperti ini saat kita melakukannya."

Mendengar ketakutan terbesar Jihan, senyuman di wajah Darren memudar, digantikan oleh ekspresi yang sangat serius dan penuh ketulusan. Darren menangkup kedua pipi Jihan, memaksa istrinya untuk menatap langsung ke dalam kejujuran matanya.

"Sayang, dengarkan aku," ucap Darren dengan nada bicara yang begitu lembut namun sangat tegas.

"Kita sudah menikah, kita adalah pasangan suami istri yang sah di mata agama dan hukum. Di antara kita, tidak ada dan tidak akan pernah ada rasa jijik atau penilaian fisik lainnya. Aku mencintaimu seutuhnya, Jihan. Segala yang ada pada dirimu adalah keindahan bagiku."

Darren mendekatkan wajahnya, mengecup kening Jihan dengan sangat lama dan penuh perasaan, menyalurkan seluruh rasa hormat dan cintanya yang membara.

Setelah menjauhkan wajahnya, ia tersenyum tipis yang sangat menawan.

"Jadi, bagaimana, Sayang?" tanya Darren sekali lagi, memberikan ruang bagi Jihan untuk menentukan pilihan.

Mendengar untaian kalimat suaminya yang begitu menghargai dan menerimanya apa adanya, seluruh keraguan di hati Jihan runtuh seketika.

Air mata haru hampir saja menetes di sudut matanya. Jihan tersenyum sangat manis, lalu perlahan namun pasti, ia menganggukkan kepalanya dengan patuh sebagai tanda persetujuan.

Malam itu, di kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, Darren dan Jihan akhirnya menyatukan cinta mereka seutuhnya dalam ikatan suci yang semakin tak tergoyahkan oleh badai apa pun di luar sana.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!