"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20. pena yang di letakkan, kisah yang terus hidup
Satu tahun telah berlalu sejak perjalanan terakhir kami mengelilingi seluruh penjuru negeri. Tidak ada lagi kejadian yang mendadak, tidak ada lagi kekacauan yang perlu diselesaikan, dan tidak ada lagi rasa cemas akan masa depan. Dunia ini telah menemukan iramanya sendiri tenang, seimbang, namun tetap bergerak maju dengan penuh semangat.
Di halaman luas istana, di bawah naungan pohon perak yang semakin rindang, diadakan sebuah perayaan sederhana namun penuh makna. Bukan perayaan kemenangan atas musuh, bukan pula perayaan kekuasaan, melainkan perayaan atas kebebasan dan kebersamaan. Datanglah tamu dari segala penjuru. para Siluet dari Hutan Kenangan, Guntur beserta rombongan Penyanyi Batu, rombongan warga Kota Permata, dan Ratu Elara yang datang membawa angin sejuk dari puncak gunungnya. Semua berkumpul dalam satu suasana yang hangat dan damai.
Leon berdiri di atas tangga kecil, ditemani oleh Liora, Zarek, dan Valgus di sisinya. Di tangannya tergenggam erat buku catatan tua yang telah menemaninya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia ini. Buku itu kini tidak lagi terlihat seperti sekadar alat tulis, melainkan benda yang menyimpan seluruh jejak perjalanan, air mata, tawa, dan perubahan yang telah terjadi.
“Teman-teman sekalian,” kata Leon memulai, suaranya tenang namun terdengar jelas hingga ke penjuru halaman. “Dahulu aku datang ke sini dengan perasaan takut dan penuh rasa bersalah. Aku datang karena sadar telah menciptakan dunia ini dengan tergesa-gesa, meninggalkan banyak ruang kosong, banyak makhluk yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, dan banyak tempat yang terabaikan. Aku mengira tugasku hanyalah mengisi segala kekurangan itu dengan tulisan dan aturan.”
Ia berhenti sejenak, menatap wajah-wajah yang hadir di hadapannya, lalu melanjutkan dengan senyum lembut.
“Namun sepanjang perjalanan ini, aku mempelajari pelajaran yang jauh lebih berharga. Aku belajar bahwa kekosongan bukanlah hal buruk yang harus dihapuskan, melainkan ruang yang memberi kesempatan untuk tumbuh. Aku belajar bahwa makna tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan harus ditemukan dan dipilih sendiri oleh setiap hati. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa sebuah cerita tidak menjadi indah hanya karena ditulis dengan sempurna, melainkan karena di dalamnya terdapat persahabatan, pengertian, dan kebebasan.”
Leon lalu membuka halaman terakhir buku itu. halaman yang selama ini dibiarkan kosong dan kini ia menuliskan satu kalimat terakhir yang akan menjadi penutup dari peran utamanya sebagai penulis:
“Dunia ini tidak lagi membutuhkan pena untuk mengaturnya, melainkan hati untuk menjalaninya.”
Setelah selesai menulis, ia menutup buku itu perlahan, lalu meletakkannya di atas alas dari kayu halus yang telah disiapkan. Buku itu tidak lagi ia bawa ke mana-mana, melainkan disimpan di ruang perpustakaan istana, terbuka untuk dibaca dan dilihat oleh siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana semuanya bermula.
“Kau tidak akan menulis lagi?” tanya Liora pelan di sampingnya, meski ia sudah memahami jawabannya.
Leon menoleh ke arahnya, matanya bersinar dengan ketenangan yang tulus. “Aku masih bisa menulis, namun tidak lagi sebagai perintah atau aturan. Sekarang aku hanya akan menulis catatan harian, merekam cerita-cerita yang terjadi begitu saja, sama seperti orang lain. Aku ingin menjadi bagian dari cerita ini, bukan lagi orang yang berdiri di luar mengatur jalannya.”
Zarek menepuk pundaknya dengan riang. “Bagus juga! Kita bisa melakukan hal-hal yang lebih menyenangkan sekarang . berburu di hutan, memancing di sungai, atau sekadar duduk-duduk sambil mendengarkan lagu tanpa harus memikirkan masalah apa pun!”
Valgus tersenyum tipis, tatapannya terasa lebih lembut dari biasanya. “Kendali yang paling bijaksana adalah mengetahui kapan harus melepaskannya. Dunia ini kini sudah cukup dewasa untuk melangkah dengan kakinya sendiri.”
Di tengah perayaan itu, para tamu dari berbagai daerah pun saling berbagi kabar baik. Elara menceritakan bahwa ia telah mengajari banyak orang cara menjaga keseimbangan alam, sehingga tanaman tumbuh subur dan air selalu tersedia dengan cukup. Guntur menceritakan bahwa lagu-lagu baru terus bermunculan, mewakili berbagai perasaan dan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya. Kepala Kota Permata melaporkan bahwa perdagangan dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan warganya hidup makmur dengan rasa syukur. Bahkan para Siluet menyampaikan bahwa tidak ada lagi ingatan yang hilang atau terlupakan, karena setiap orang kini menghargai perjalanan hidupnya sendiri.
Saat malam tiba, langit dipenuhi bintang-bintang yang terlihat lebih terang dan banyak dibandingkan sebelumnya. Cahaya mereka memantul di permukaan danau kecil di tengah taman, menciptakan pemandangan yang terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Leon dan Liora berjalan menyusuri tepi danau, menjauh sebentar dari keramaian. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga yang baru mekar.
“Apakah kau tidak pernah merasa rindu pada dunia asalmu?” tanya Liora tiba-tiba, suaranya lembut.
Leon berhenti berjalan, lalu menatap wajah Liora dengan pandangan yang penuh kasih dan keyakinan.
“Memang ada rasa rindu, dan aku pernah merasa bingung, pernah merasa ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana,” jawabnya jujur. “Namun lama-kelamaan aku sadar, tempat yang membuatmu merasa utuh bukanlah tempat di mana kau dilahirkan, melainkan tempat di mana hatimu merasa memiliki tujuan, di mana kehadiranmu berarti bagi orang lain, dan di mana kau dapat mencintai serta dicintai dengan tulus. Di sini, bersama kalian, aku menemukan semua itu. Jadi bagiku, ini bukan lagi sekadar dunia ciptaanku. ini adalah rumahku yang sesungguhnya.”
Liora tersenyum bahagia, lalu memeluk lengan Leon erat-erat. Di kejauhan, terlihat Zarek sedang tertawa terbahak-bahak sambil mencoba meniru suara hewan hutan untuk menghibur anak-anak, sedangkan Valgus duduk dengan tenang sambil memandangi langit, sesekali mengangguk seolah menyetujui percakapan yang hanya ia dengar sendiri.
Dunia ini kini berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri. Cerita yang pernah dimulai hanya sebagai tulisan sederhana telah tumbuh menjadi kehidupan yang nyata, berwarna, dan penuh makna. Tidak ada akhir yang pasti, tidak ada batas yang tertutup karena selama ada kehidupan, selama ada kebebasan untuk bermimpi dan berkarya, lembaran-lembaran baru akan terus terbuka dengan sendirinya.
Dan di tengah semua itu, Leon, Liora, Zarek, dan Valgus akan terus berjalan bersama, menyaksikan, merasakan, dan menjadi bagian dari kisah yang tak akan pernah selesai.
Namun di tengah malam yang sunyi dan tenteram itu, Leon yang berada di kamar istana justru tidak dapat terpejam. Perasaannya terasa gelisah tanpa sebab. Samar-samar, ia mendengar suara lirih yang terus memanggil namanya. Suaranya terdengar sangat sedih, dan entah mengapa hatinya terasa perih mendengarnya. Tiba-tiba suasana di sekitarnya berubah menjadi hening seketika. Suara-suara hewan malam yang tadinya masih terdengar, kini lenyap sama sekali. Hanya dalam sekejap mata, posisinya pun berpindah tempat, dan di sekelilingnya hanya terlihat kegelapan yang hitam dan kosong.
Leon mulai merasa panik. Ia segera memanggil nama teman-temannya. “Zarek… Valgus… tolong aku!”
Ia merasa takut dengan suasana tempat ini. Memang, ia pernah mengunjungi tempat yang terasa kosong seperti ini dan mampu menghadapinya, namun kali ini rasanya berbeda. Di sini terlalu gelap, bahkan tidak ada setitik cahaya pun yang terlihat.
Ingatannya pun melayang pada Liora. selama ini gadis itulah yang selalu menyinari dan melindunginya dengan cahayanya saat mereka berada di tempat tanpa penerangan.
“Liora… aku takut…” gumam Leon lirih, lalu terduduk sambil memeluk kedua lututnya.
Dari kejauhan, muncul sebuah titik cahaya kecil, disertai suara yang tadi ia dengar. Cahaya itu perlahan membesar, semakin terang, hingga Leon terpaksa menutup matanya karena terlalu silau. Bersamaan dengan itu, suara itu pun terdengar semakin jelas dan nyata.
“Nak… bangun, Nak… tolong jangan tinggalkan Ibu…”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁