NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Dua hari setelah demam hebat yang melumpuhkannya, Zoya akhirnya kembali ke kampus. Meski tubuhnya belum sepenuhnya bertenaga dan Arvin tetap bersikap dingin seolah-olah perhatian malam itu hanyalah fatamorgana, Zoya tidak bisa meninggalkan kewajibannya.

Proyek penelitian dengan Liam sudah mencapai tahap akhir, dan hari ini ada agenda besar di Fakultas Ekonomi - Kuliah Umum dari salah satu filantropis dan CEO muda tersukses tahun ini.

Zoya tidak tahu siapa tamu kehormatan itu. Arvin tidak mengatakan apa-apa saat sarapan tadi, ia hanya pergi lebih awal dengan setelan jas yang jauh lebih formal dari biasanya.

"Zoya! Akhirnya kamu masuk!" suara ceria Liam memecah lamunan Zoya saat ia baru saja duduk di bangku taman kampus yang rindang.

Liam berlari kecil menghampirinya, wajahnya tampak sangat lega. "Aku khawatir banget. Aku telepon kamu nggak aktif, kirim pesan nggak dibalas. Aku hampir saja nekat cari alamat rumah kerabatmu itu."

Zoya membenahi letak tasnya, merasa bersalah. "Maaf, Liam. Ponselku rusak dan aku benar-benar tidak berdaya karena demam. Terima kasih ya, sudah mencemaskanku."

"Yang penting kamu sudah sembuh," Liam duduk di samping Zoya, namun tetap menjaga jarak sopan. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan. "Lihat, aku sudah ringkas data inflasi yang kemarin kita bahas. Aku pakai referensi dari buku yang kuberikan itu. Ternyata kamu benar, prediksimu soal kebijakan fiskal jauh lebih akurat."

Zoya mencondongkan tubuh sedikit untuk melihat catatan Liam. "Wah, kamu detail sekali, Liam. Kalau begini, kita pasti bisa selesai sebelum tenggat waktu."

Tanpa sadar, Zoya tertawa kecil melihat coretan lucu yang dibuat Liam di pinggir kertas sebagai penyemangat. Itu adalah tawa pertama Zoya dalam beberapa hari ini. Tawa yang lepas, murni, dan penuh rasa syukur karena memiliki teman sebaik Liam.

Namun, tawa itu membeku di udara saat sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti tepat di jalanan utama depan taman.

Arvin Dewangga melangkah keluar dari mobil SUV-nya. Ia mengenakan kacamata hitam, namun aura dominan dan kedinginannya langsung menyapu seluruh area kampus. Di belakangnya, dekan dan para birokrat kampus menyambutnya dengan tunduk hormat.

Arvin sedang mendengarkan penjelasan dekan tentang fasilitas laboratorium ekonomi yang baru saja ia donasikan, namun matanya yang tajam bak elang justru menangkap pemandangan di taman.

Di sana, di bawah pohon besar, istrinya kini sedang tertawa akrab dengan pria bernama Liam itu. Arvin melihat bagaimana mereka condong ke arah satu sama lain, bagaimana Liam menatap Zoya dengan pandangan yang bagi Arvin sangat menjijikkan karena terlalu penuh kasih.

Darah Arvin mendidih. Rasa sesak yang semalam ia rasakan kini berubah menjadi kemarahan murni yang membakar harga dirinya.

"Pak Arvin? Apakah ada yang salah?" tanya Pak Dekan saat melihat Arvin berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah taman.

Arvin melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan mata yang berkilat berbahaya. "Tidak. Saya hanya melihat... mahasiswa yang sepertinya terlalu santai saat jam kuliah akan dimulai."

Rombongan itu mulai berjalan melewati taman. Arvin melangkah dengan tegap, langkah sepatunya beradu dengan paving blok, menimbulkan suara yang bagi Zoya terdengar seperti lonceng kematian.

Zoya membeku. Pandangannya beradu dengan Arvin yang berjarak hanya lima meter darinya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan saat itu juga. Arvin menatapnya, namun tidak ada pengakuan dalam mata itu. Hanya ada kebencian yang dingin.

Arvin menatap Liam sesaat, sebuah tatapan yang begitu mengancam seolah ingin melenyapkan pria itu dari muka bumi, sebelum akhirnya memalingkan wajah dan terus berjalan mengikuti dekan menuju aula besar.

"Zoya? Kamu kenapa? Wajah kamu pucat lagi," tanya Liam cemas, ia mengikuti arah pandang Zoya. "Oh, itu Arvin Dewangga. CEO Dewangga Group. Dia memang punya aura yang menyeramkan, ya? Katanya dia bachelor yang paling sulit didekati."

Zoya hanya bisa mengangguk kaku. "A-ayo kita masuk ke aula, Liam. Kuliah umumnya akan dimulai."

Aula besar sudah penuh sesak. Zoya dan Liam duduk di barisan tengah. Di atas panggung, Arvin duduk di kursi utama dengan penuh wibawa. Saat gilirannya memberikan kuliah umum, Arvin berbicara dengan sangat lancar.

Ia cerdas, karismatik, dan sangat menguasai panggung. Semua mahasiswi di aula itu tampak terpesona, kecuali Zoya yang hanya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan diri di balik bahu mahasiswa lain.

"Baik, sekarang kita buka sesi tanya jawab," ucap moderator. "Pak Arvin ingin sesi ini sedikit berbeda. Beliau yang akan memilih mahasiswa untuk menjawab tantangan analisisnya."

Arvin berdiri, memegang mikrofon dengan gaya santai namun matanya terus memindai ruangan.

"Saya ingin bertanya pada mahasiswi di baris kelima, kursi nomor dua belas," suara Arvin menggelegar di aula.

Zoya tersentak. Itu kursinya.

Seluruh mata kini tertuju pada Zoya. Liam menyenggol lengan Zoya pelan. "Zoya, itu kamu dipilih!"

Zoya berdiri dengan kaki gemetar. Ia merasa seperti domba yang sedang diincar serigala di depan ratusan pasang mata.

Arvin menatap Zoya tanpa ekspresi, seolah-olah wanita di depannya adalah orang asing yang tidak pernah berbagi atap dengannya.

"Saudari yang mengenakan cadar... sebagai mahasiswi ekonomi, jelaskan pada saya bagaimana Anda menganalisis kegagalan strategi hedging pada perusahaan manufaktur di tengah fluktuasi nilai tukar yang tidak menentu, dikaitkan dengan teori volatilitas asimetris. Dan tolong, berikan argumen yang tidak hanya sekadar teks buku, tapi solusi praktis."

Ruangan mendadak senyap. Itu bukan pertanyaan untuk tingkat mahasiswa S1, itu adalah pertanyaan tingkat ahli yang sengaja dirancang untuk menjatuhkan lawan bicara.

"Pak Arvin, maaf, sepertinya pertanyaan itu terlalu teknis untuk...." Moderator mencoba memotong, namun Arvin mengangkat tangannya.

"Saya ingin tahu sejauh mana kualitas mahasiswa di sini. Jika istirahat dan candaan di taman bisa dilakukan dengan sangat mahir, seharusnya menjawab tantangan sederhana ini bukan masalah, bukan?" sindir Arvin dengan nada yang sangat tajam.

Zoya merasakan napasnya sesak. Sindiran soal 'candaan di taman' itu jelas ditujukan padanya. Arvin sedang menghukumnya di depan umum, menghancurkan kepercayaan dirinya di tempat di mana ia merasa paling aman.

Liam menatap Arvin dengan kening berkerut, ia merasa ada yang salah dengan nada bicara sang CEO.

Zoya memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam di balik cadarnya. Ia teringat buku pemberian Liam, ia teringat malam-malam ia belajar hingga matanya pedih. Ia tidak boleh kalah. Jika ia gagal sekarang, ia tidak hanya mempermalukan dirinya, tapi juga prinsip yang selama ini ia pegang.

Zoya memegang mikrofon dengan tangan yang kini lebih stabil.

"Terima kasih atas pertanyaannya, Tuan Dewangga," ucap Zoya, suaranya jernih dan tenang, membuat beberapa orang di aula terkesima.

Zoya mulai membedah pertanyaan itu. Ia menjelaskan tentang risk appetite, mengaitkannya dengan model GARCH untuk volatilitas asimetris, dan menutupnya dengan solusi tentang diversifikasi portofolio instrumen derivatif yang lebih konservatif. Penjelasannya begitu runut, cerdas, dan sangat tajam.

Setelah Zoya selesai bicara, aula itu hening selama tiga detik sebelum akhirnya tepuk tangan meriah membahana. Bahkan para dosen di barisan depan tampak mengangguk kagum.

Arvin terdiam. Ia tidak menyangka Zoya akan mampu menjawab pertanyaan yang ia siapkan untuk mempermalukannya.

Bukannya merasa bangga, Arvin justru merasa semakin terusik. Ia melihat Liam bertepuk tangan paling keras sambil menatap Zoya dengan mata yang penuh binar kebanggaan.

"Jawaban yang cukup... teoritis," ucap Arvin dingin, mencoba menutupi kekalahannya. "Tapi ingat, di dunia nyata, teori seringkali tidak berguna jika Anda tidak memiliki keberanian untuk mengakui realita."

Arvin menutup sesi itu dengan sepihak dan segera turun dari panggung.

Setelah acara selesai, Zoya mencoba keluar aula secepat mungkin, namun Arvin sudah menunggunya di koridor yang menuju arah parkir VIP, tempat yang kebetulan searah dengan jalan Zoya menuju perpustakaan.

Saat Liam sedang pergi ke toilet, Arvin mencegat Zoya di lorong yang sepi.

Arvin menyudutkan Zoya ke dinding, tangannya menumpu di samping kepala Zoya. "Hebat sekali, Zoya Alana. Kau pikir dengan jawaban cerdas tadi, kau bisa membuatku terkesan?"

"Saya tidak berniat mengesankanmu, Tuan. Saya hanya menjawab tantanganmu," jawab Zoya, matanya menatap tajam ke arah Arvin.

"Berhenti tertawa dengan pria itu," desis Arvin, suaranya sangat rendah dan berbahaya. "Kau terlihat menjijikkan saat kau memamerkan gigimu pada pria lain di saat kau bahkan tidak mau menatapku di rumah."

"Itu karena dia memperlakukan aku seperti manusia, Tuan! Bukan seperti pajangan atau aib!"

"Jaga bicaramu!" Arvin mencengkeram bahu Zoya. "Ingat siapa yang membiayaimu, siapa yang memberi makan keluargamu. Sekali lagi aku melihatmu bersama Liam... aku akan pastikan dia didepak dari kampus ini dengan catatan kriminal. Kau tahu aku bisa melakukannya."

"Zoya? Kamu di sana?" suara Liam terdengar dari kejauhan.

Arvin segera melepaskan Zoya dan mundur selangkah, memasang wajah dingin dan berwibawa seolah tidak terjadi apa-apa.

Liam muncul dan tampak bingung melihat Arvin berada di sana. "Lho, Pak Arvin? Ada masalah, Zoya?"

Arvin menatap Liam dengan senyum sinis yang meremehkan. "Tidak ada. Saya hanya sedang mengingatkan mahasiswi berprestasi ini agar tidak menyia-nyiakan kecerdasannya untuk hal-hal yang tidak berguna. Seperti... bermain-main di taman."

Arvin berlalu pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan aura mencekam yang tertinggal di lorong itu.

Liam menatap punggung Arvin, lalu menatap Zoya yang tampak gemetar. "Zoya, dia beneran aneh. Kenapa dia kelihatan benci banget sama aku ya?"

Zoya tidak menjawab. Ia hanya memeluk buku catatannya erat-erat. Ia tahu, pertemuan ini hanyalah awal. Arvin sudah menyatakan perang, dan kali ini, ia tidak hanya mengincar hati Zoya, tapi juga menghancurkan segala hal yang membuat Zoya merasa hidup.

...----------------...

To Be Continue .....

1
ρυтяσ kang'typo✨
aaaaccchhhhhh 😭😭😭😭😭nyesek q Zo... g tahan u di perlakukan sekeras itu sama Arvin
ρυтяσ kang'typo✨
mau sampe kapan kau bertahan Zoya🥺😤😭🤧ikut kesel dengan tingkah Arvin
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!