Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Pagi itu suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Tawa kecil Kirana memenuhi ruang keluarga, berpadu dengan suara langkah kaki kecil yang berlarian ke sana kemari. Erlan duduk di lantai, bersandar santai di sofa, membiarkan putrinya memanjat pundaknya seolah ia adalah taman bermain pribadi.
“Ayah, kenapa tidak kerja?” tanya Kirana polos, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Erlan tersenyum, menepuk lembut kepala putrinya. “Hari ini ayah libur. Nanti kalau waktunya kerja, ayah kerja lagi.”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk anak seusia Kirana. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dunia kecilnya hanya berisi permainan, kasih sayang, dan camilan. Tanpa beban, tanpa rumitnya keputusan orang dewasa.
Di sudut ruangan, Linda memperhatikan mereka sambil melipat pakaian. Ada kehangatan yang jarang ia lihat sebelumnya. Erlan benar-benar berubah. Dulu, pria itu nyaris tidak pernah punya waktu. Kini, ia duduk di lantai, membiarkan bajunya kusut hanya demi menemani anaknya bermain.
Namun di balik itu, ada kegelisahan kecil yang tidak bisa ia abaikan.
Ia tahu Erlan sudah meninggalkan perusahaan keluarganya. Keputusan yang besar, bahkan mungkin nekat. Dan meskipun Erlan tampak santai, Linda tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kenyataan bahwa kehidupan mereka sekarang bergantung pada sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Kirana yang sudah bosan memanjat, kini duduk di pangkuan ayahnya sambil membuka bungkus camilan.
“Ayah beli ini?” tanyanya.
“Iya. Enak tidak?”
Kirana mengangguk cepat, pipinya menggembung penuh makanan. Erlan tertawa kecil melihat ekspresi putrinya.
Linda menarik napas pelan. Mungkin… untuk sekarang, semuanya baik-baik saja.
—
Malam harinya, setelah Kirana tertidur lelap, suasana rumah menjadi lebih tenang. Hanya terdengar suara televisi yang menyala pelan sebagai latar.
Linda duduk di samping Erlan, menatapnya sejenak sebelum akhirnya berbicara.
“Aku kepikiran… mungkin aku juga harus cari kerja.”
Erlan menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Kerja?”
“Iya. Untuk bantu kebutuhan kita.”
Erlan menghela napas ringan, lalu mematikan televisi. Ia menatap Linda dengan serius, sesuatu yang jarang ia lakukan sejak kembali ke rumah itu.
“Aku sudah pikirkan semuanya sebelum keluar dari perusahaan.”
Linda tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu.
“Aku investasi di beberapa perusahaan,” lanjut Erlan. “Sekarang aku jadi pemegang saham di dua perusahaan besar. Jadi soal keuangan… kamu tidak perlu khawatir.”
Linda terdiam.
Kalimat itu terdengar meyakinkan, bahkan sangat meyakinkan. Tapi tetap saja, ada bagian dalam dirinya yang sulit untuk langsung merasa tenang.
“Jadi kamu… tidak akan kerja lagi?” tanyanya pelan.
Erlan tersenyum tipis. “Bukan tidak kerja. Hanya… tidak seperti dulu. Sekarang aku bisa pilih kapan harus terlibat.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, terlihat jauh lebih santai dibandingkan pria yang dulu selalu dikejar waktu.
“Dan jujur saja… aku menikmati ini.”
Linda menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sikapnya, tapi juga cara ia melihat hidup.
Untuk pertama kalinya, Erlan terlihat benar-benar… bebas.
—
Keesokan paginya, Linda bersiap untuk pergi berbelanja. Ia mengenakan pakaian sederhana, mengikat rambutnya, lalu mengambil tas.
“Aku mau ke supermarket,” katanya.
Erlan yang sedang bermain dengan Kirana menoleh. “Perlu aku antar?”
Linda menggeleng. “Tidak usah. Kamu istirahat saja.”
Ia kemudian menatap Kirana. “Mama pergi sebentar, ya.”
Kirana langsung berdiri. “Aku ikut!”
Linda tersenyum, lalu berjongkok sejajar dengan putrinya. “Mama cuma sebentar. Kamu di rumah saja sama ayah.”
Kirana terlihat ragu.
“Sekarang ayah tidak kerja, kan?” lanjut Linda lembut. “Kamu bisa main sama ayah.”
Kirana menatap Erlan, lalu kembali ke Linda. Perlahan, ia mengangguk.
“Ya sudah… aku di rumah.”
Erlan mengangkat Kirana ke dalam pelukannya. “Nanti kita tidur siang setelah main, ya.”
Kirana langsung tersenyum lebar. “Habis itu berenang?”
Erlan tertawa kecil. “Kolamnya masih diperbaiki. Tapi nanti kalau sudah selesai, kamu bisa berenang sendiri. Ada kolam dangkal.”
“Mau!” seru Kirana semangat.
Linda tersenyum melihat mereka. Setidaknya, ia tidak perlu khawatir meninggalkan Kirana.
Ia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar rumah.
—
Mobil yang dikendarainya adalah pemberian dari Erlan. Mobil keluarga yang nyaman, jauh berbeda dari sedan milik Erlan yang terkesan kaku dan formal.
Linda memang lebih menyukai sesuatu yang sederhana dan fungsional.
Perjalanan menuju supermarket terasa biasa saja. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang mengganggu. Ia bahkan sempat menikmati waktu sendiri yang jarang ia dapatkan.
Sesampainya di supermarket, Linda langsung mengambil troli dan mulai berbelanja.
Beras, ayam, daging, telur, sayuran, dan berbagai bumbu masakan masuk satu per satu ke dalam keranjang. Ia melakukannya dengan cekatan, seolah ini adalah rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala.
Sesekali, ia berhenti di bagian camilan.
“Kirana pasti suka ini…” gumamnya sambil mengambil beberapa bungkus snack.
Ia tahu betul kebiasaan putrinya. Tanpa camilan, rumah akan terasa seperti medan perang kecil.
Setelah semua kebutuhan dirasa cukup, Linda menuju kasir untuk membayar.
Ia lalu mendorong troli menuju parkiran dan mulai memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.
Namun saat ia hendak menutup bagasi, sebuah suara menghentikannya.
“Linda.”
Ia langsung menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah di belakangnya. Penampilannya rapi, tapi sorot matanya membuat Linda tidak nyaman.
“Ada perlu apa?” tanya Linda waspada.
Pria itu tersenyum tipis. “Saya diutus oleh ayah Erlan.”
Wajah Linda langsung berubah dingin.
“Saya tidak punya urusan dengan dia.”
Ia kembali menutup bagasi, berniat mengabaikan pria itu. Namun suara pria itu kembali terdengar.
“Tapi dia punya urusan dengan Anda.”
Linda berhenti.
Ia menatap pria itu lagi, kali ini dengan tatapan tajam.
“Saya tidak tertarik.”
Pria itu tidak terlihat terganggu. Justru ia tampak semakin santai.
“Bagaimana kalau ini soal penawaran?”
Linda mengernyit. “Penawaran?”
“Penawaran yang mungkin… akan membuat Anda puas.”
Linda menahan napas.
Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Saya tidak butuh apa pun dari keluarga itu,” jawabnya tegas.
Pria itu sedikit mendekat, tapi tetap menjaga jarak.
“Bagaimana kalau dengan menerima penawaran ini… Anda tidak akan diganggu lagi oleh ayah Erlan?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Linda terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak pria itu muncul, ia benar-benar mempertimbangkan apa yang dikatakan.
Tidak diganggu lagi.
Kalimat sederhana, tapi memiliki arti yang besar.
Ia tahu betul seperti apa kerasnya keluarga Erlan. Mereka tidak akan diam begitu saja. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mencoba mengambil kembali apa yang mereka anggap milik mereka.
Dan Linda… berada tepat di tengah semuanya.
“Apa maksudnya?” tanya Linda akhirnya.
Pria itu tersenyum tipis, seolah sudah menunggu pertanyaan itu.
“Kita bisa bicara di tempat yang lebih nyaman.”
Linda tidak langsung menjawab.
Ia menatap pria itu, mencoba membaca niat di balik sikap tenangnya.
Dalam benaknya, berbagai kemungkinan mulai bermunculan.
Ini bisa jadi jebakan.
Bisa jadi ancaman terselubung.
Atau… sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Namun di sisi lain, ia juga tahu satu hal.
Ia tidak bisa terus menghindar.
Linda menarik napas dalam.
“Apa pun yang ingin disampaikan, katakan di sini saja.”
Pria itu menggeleng pelan. “Ini bukan percakapan singkat.”
Linda mengepalkan tangannya.
Situasi ini jelas tidak ia inginkan. Tapi ia juga tidak bisa begitu saja pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh ayah Erlan.
“Baik,” katanya akhirnya, suaranya tetap tegas. “Tapi saya tidak akan lama.”
Pria itu mengangguk.
“Cukup.”
Linda menutup pintu mobilnya perlahan.
Dalam hatinya, ia tahu… langkah ini bisa mengubah banyak hal.
Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan bahwa ini bukan sekadar penawaran biasa.