NovelToon NovelToon
Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Antagonis / Perjodohan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Eleanor Diculik

Bel berbunyi nyaring menandakan pergantian jam pelajaran, namun suasana di kelas tetap terasa membosankan. Udara siang yang hangat membuat beberapa murid mulai kehilangan fokus. Di barisan dekat jendela, Eleanor menopang dagunya sambil sesekali menguap lebar. Matanya tampak berat, bahkan beberapa kali kepalanya terangguk seperti hampir tertidur.

“Eleanor, apa kamu mengantuk? Apa pelajaranku sangat membosankan?” tanya guru di depan kelas.

Eleanor mengangkat tangan dengan lemah. “Oh... Maaf… saya sedikit pusing. Boleh izin ke toilet?”

Guru itu mengangguk tanpa banyak komentar. Eleanor segera berdiri perlahan, sengaja membuat langkahnya tampak goyah sebelum keluar kelas.

Tak sampai lima menit kemudian, Poppy ikut berdiri.

“Bu, saya juga izin ke toilet.”

Guru hanya melambaikan tangan menyuruhnya pergi.

Poppy langsung masuk ke salah satu bilik di toilet melewati Eleanor yang sedang membasuh wajah di wastafel. Begitu pintu toilet wanita tertutup, suara gemericik air terdengar samar. Poppy mengintip dari celah pintu bilik ke arah wastafel dan melihat Eleanor sedang membasuh wajahnya berkali-kali. Rambutnya sedikit basah menempel di pipi.

“Hah… kenapa aku mengantuk sekali hari ini…” gumam Eleanor sambil menguap panjang.

Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu kembali memercikkan air dingin ke wajahnya, seolah berusaha keras mempertahankan kesadaran.

Dari salah satu bilik toilet terdengar suara flush. Lalu Poppy keluar dengan santai dan mencuci tangan di sebelah Eleanor.

“Apa kamu begadang tadi malam?” tanyanya ringan. “Kelihatannya kamu benar-benar ngantuk, El.”

Eleanor mengusap air di wajahnya. “Entahlah… Tiba-tiba saja aku mengantuk.”

Poppy tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kalau aku mentraktirmu hari ini? Aku baru dapat uang saku tambahan.”

Eleanor langsung menoleh. “Di mana? Kapan?”

“Karena kamu mengantuk…” Poppy menurunkan suaranya, “Bagaimana kalau kita keluar sekolah sekarang saja? Ingat dulu kita sering bolos seperti ini? Sudah lama banget kita nggak melakukannya.”

Eleanor tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mengangkat bahu kecil.

“Benarkah? Tapi semua kamu yang tanggung, ya? Aku benar-benar tidak bawa uang.”

“Tenang saja!” jawab Poppy cepat. “Ayo pergi!”

Mereka berjalan menuju belakang sekolah yang sepi. Semakin jauh dari gedung utama, langkah Eleanor semakin lambat. Gadis itu terus menguap sambil memegang dahinya.

Begitu sampai di pintu kecil belakang sekolah, mereka berhenti.

Pintu besi itu tergembok rapat dan tembok di sekitarnya cukup tinggi.

“Sepertinya susah keluar lewat sini,” kata Eleanor malas. “Sudahlah, kita kembali saja ke kelas. Kamu bisa mentraktirku nanti pulang sekolah.”

Namun Poppy segera mengambil batu besar di dekat rerumputan. Dengan cekatan ia menghantam gembok beberapa kali.

KRAK!

Gembok itu terlepas.

Poppy sudah sering melakukan ini jadi merusak gembok ataupun memanjat tembok belakang sama sekali bukan hal sulit.

Poppy tersenyum puas. “Lihat? Bisa, kan? Ayo cepat keluar!”

Eleanor malah menghela napas panjang.

“Ah sudahlah… tidak jadi. Aku ngantuk sekali. Lebih baik aku izin sakit ke klinik dan tidur di sana.”

Baru saja ia berbalik, seseorang tiba-tiba muncul dari arah pintu kecil yang baru dibuka Poppy.

Sebuah tangan besar menutup mulut dan hidung Eleanor dengan kain berbau menyengat. Bau tajam langsung menusuk indra penciumannya.

Mata Eleanor membelalak.

Secara refleks ia menahan napas sekuat mungkin. Tubuhnya meronta kecil, tangan berusaha mendorong pria itu, namun gerakannya perlahan melemah. Setelah beberapa detik, tubuhnya akhirnya terkulai lemas seolah benar-benar kehilangan kesadaran.

Poppy menatap adegan itu dengan jantung berdegup keras.

Tiga pria bertubuh besar lainnya segera masuk lewat pintu belakang yang sudah terbuka. Rupanya sejak tadi mereka memang menunggu di luar tembok sekolah. Poppy sudah memberi kabar sebelum masuk toilet tadi, dan gembok yang rusak menjadi tanda bahwa situasi aman.

“Cepat bawa dia!” bisik Poppy tegang.

Mereka segera mengangkat Eleanor dan memasukkannya ke dalam van hitam tua yang terparkir tak jauh dari sana.

Pintu van ditutup keras.

Mesin mobil meraung lalu melaju meninggalkan sekolah.

Di kursi paling belakang, Eleanor dibaringkan dengan tangan dan kaki terikat. Poppy duduk di sampingnya sambil menggeledah saku rok dan tas gadis itu.

“Nah, ketemu,” gumamnya saat menemukan ponsel Eleanor.

Ia menyerahkan benda itu pada salah satu penculik di bangku tengah.

Di dalam van itu ada empat pria, dua duduk di tengah dan dua di depan. Bau rokok memenuhi udara di dalam kendaraan tua itu.

Sementara itu, Eleanor yang pura-pura pingsan sebenarnya masih sadar sepenuhnya.

“…Sebenarnya tidak sulit bagiku melepaskan ikatan ini dan menumbangkan mereka berlima,” pikirnya kesal. “Tapi aku masih penasaran apakah Poppy bergerak sendiri atau ada orang lain di balik ini.”

Ia mencoba mengingat isi novel asli ini.

Ia ingat tidak ada adegan penculikan seperti ini.

Poppy bahkan seharusnya sudah menghilang dari alur cerita dua tahun lalu setelah hubungan Eleanor dengan keluarga Sinclair memburuk.

“Aneh…”

Di sisi lain, Poppy menggigit bibir gelisah.

Rencana awalnya sebenarnya berbeda. Ia berniat pura-pura menjadi penyelamat dengan mengikuti mobil penculik dari belakang. Namun setelah dipikir-pikir, itu terlalu berisiko. Ia tidak punya kendaraan pribadi, dan jika menggunakan taksi, sopirnya bisa saja diam-diam melapor polisi. Poppy tidak berencana melibatkan polisi.

Akhirnya ia memutuskan ikut 'diculik'.

Menurutnya, itu jauh lebih dramatis.

Kalau nanti ia pura-pura membantu Eleanor kabur dan terluka demi melindunginya, Eleanor pasti akan merasa berutang budi. Dan jika itu terjadi, hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.

Sementara van terus melaju, Eleanor kembali tenggelam dalam pikirannya.

“Apa karena aku sudah mengubah terlalu banyak alur cerita aslinya? Apa karena sekarang aku punya uang lagi, parasit seperti Poppy jadi mendekat? Atau ada orang lain yang bisa menggerakkan para NPC ini?”

Tiba-tiba suara dingin sistem terdengar di kepalanya.

[Host, kemunculan Poppy memang disebabkan perubahan alur cerita. Bukan hanya tindakan Anda, tetapi keputusan kedua pemeran utama juga memengaruhi munculnya rute cerita baru.]

Eleanor terdiam.

[Termasuk penculikan ini, ada campur tangan pemeran utama.]

Mata Eleanor yang terpejam hampir berkedut.

“Hah?! Siapa? Liam?! Audrey?!” Ia langsung memikirkan kemungkinan yang ada. “Liam jelas tidak punya alasan menculikku. Yang ada justru aku yang ingin menculik dan mengikatnya di ranjangku...”

[Host, ini bukan waktu yang tepat untuk berkhayal tentang pemeran utama pria.]

Eleanor batuk kecil dalam hati.

“Ehem… benar juga.” Ia kembali berpikir keras. “Kalau Audrey memang terlibat… apa tujuannya? Metode penculikannya ceroboh sekali. Ikatan ini bahkan longgar, jelas sekali orang-orang ini tidak profesional. Apa dia cuma ingin menakutiku agar aku membatalkan pertunanganku dengan Liam?”

Semakin dipikir, semakin rumit.

“Atau… Audrey menyuruh Poppy berpura-pura menyelamatkanku supaya aku kembali percaya padanya?”

Van hitam itu terus melaju semakin jauh dari pusat kota.

Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan gudang tua berkarat dan kawasan industri terbengkalai yang sunyi.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, senyum tipis perlahan muncul di bibir Eleanor.

“Baiklah,” pikirnya tenang. “Kalau kalian ingin bermain… aku akan lihat sejauh apa permainan ini berjalan.”

1
Yuyun Suprapti
kapan up nya lg thor
est
lanjut thor suka 👍
Yuyun Suprapti
crazy up kk💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!