NovelToon NovelToon
Driven By You

Driven By You

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.

Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.

Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.

Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.

Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.

Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?

Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Malam di Los Angeles bukan lagi sekadar udara sejuk, melainkan simfoni lampu neon yang berpendar di antara gedung-gedung tinggi.

Audrey berjalan di samping Vivian, langkah kaki mereka beradu dengan trotoar beton. Vivian tampak begitu bersemangat, sesekali ia melompat kecil, sementara Audrey masih berusaha menyesuaikan diri dengan denyut nadi kota yang tak pernah tidur ini.

"Drey," suara Vivian memecah keheningan di antara deru mesin mobil yang lewat. Ia tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar agak nakal namun hangat.

"Apa ibumu tadi siang benar-benar sekhawatir itu padamu? Maksudku, wajahnya tadi... seperti melihatmu akan masuk ke kandang singa."

Audrey tersenyum tipis, ada gurat kerinduan yang mendadak muncul saat mengingat wajah cemas ibunya.

"Hanya aku yang dia miliki, Vi. Ibuku sudah berpisah dengan ayahku sejak lama. Baginya, aku adalah pusat dunianya. Kegagalanku adalah kegagalannya, dan keselamatanku adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa tidur nyenyak."

Langkah Vivian melambat sejenak. Ekspresi wajahnya yang semula jenaka berubah menjadi sedikit melankolis di bawah lampu jalan yang kekuningan.

"Oh... maafkan aku, Audrey. Aku tidak bermaksud menyinggungmu." Ia menghela napas panjang. "Sebenarnya, aku justru menyukai kekhawatiran ibumu itu. Aku... aku tidak punya ibu. Melihat ada seseorang yang begitu peduli sampai ingin memindahkan kamar asrama karena takut anaknya salah pergaulan... itu sesuatu yang mewah bagiku."

Audrey menoleh, menatap Vivian dengan tatapan yang lebih lembut. Ia baru menyadari bahwa di balik asap rokok dan sikap cueknya, Vivian menyimpan ruang kosong yang besar. Audrey mengangguk pelan dan memberikan senyum tulus. "Jangan minta maaf. Aku mengerti."

Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah gedung apartemen kelas atas yang menjulang tinggi. Ini bukan sekadar asrama atau apartemen biasa; ini adalah kompleks penthouse mewah yang letaknya memang sangat dekat dengan kampus, namun terasa seperti dunia yang berbeda sekali.

Saat memasuki lobi, suasana pesta sudah mulai terasa. Suara dentuman bass yang merambat melalui dinding gedung membuat jantung Audrey berdegup lebih kencang.

Mereka naik ke lantai paling atas menggunakan lift berlapis cermin emas. Begitu pintu lift terbuka, kebisingan itu meledak.

Penthouse itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip Los Angeles dari ketinggian.

Orang-orang memenuhi setiap sudut, memegang gelas plastik merah, tertawa, dan menari di bawah sorotan lampu disko yang berputar.

Vivian menarik tangan Audrey, membelah kerumunan manusia menuju sebuah ruangan yang agak terpisah dari aula utama.

Ruangan itu tampak lebih eksklusif, jauh dari dentuman musik yang memekakkan telinga, namun tetap dipenuhi aroma alkohol dan parfum mahal.

Di sana, sekitar sepuluh orang sedang berkumpul. Ada yang duduk di lantai, ada yang bersandar di meja biliar. Beberapa teman Vivian menyapa dengan lambaian tangan yang malas.

"Hei, Vivian! Siapa yang kau bawa?" teriak salah satu pria berambut gondrong.

"Teman sekamarku! Jangan nakal ya!" balas Vivian sambil tertawa.

Audrey duduk di satu-satunya kursi kosong di pojok ruangan. Ia merasa seperti alien di planet asing.

Vivian menyodorkan sebuah gelas berisi cairan berwarna biru cerah. "Mau minum, Drey?"

Audrey menggeleng dengan sopan. "Tidak, terima kasih. Aku tidak minum alkohol."

Jawaban itu membuat beberapa orang di sana saling bertukar pandang dan tersenyum remeh.

Bagi mereka, Audrey hanyalah seorang junior polos yang tersesat di pesta orang dewasa. Mereka mulai mengabaikannya, kembali larut dalam obrolan keras tentang dosen-dosen mereka atau rencana liburan musim panas.

Namun, perhatian Audrey teralih pada pemandangan di ujung sofa panjang di tengah ruangan.

Seorang pria sedang berbaring malas di sana, sebelah tangannya menopang kepala. Seorang gadis cantik duduk di lantai di samping sofa itu, bersandar pada lengan sang pria.

Tak lama kemudian, gadis itu bangkit sedikit dan mencium bibir pria itu dengan sangat dalam.

Audrey segera memalingkan wajah, merasa malu karena telah mengintip momen pribadi. Namun, secara tak sengaja, saat ia menoleh kembali, matanya bertabrakan dengan mata pria itu. Pria itu tidak menutup matanya saat berciuman; ia justru menatap lurus ke arah Audrey dengan pandangan yang tajam dan dingin.

Audrey gelagapan, ia merasa tertangkap basah. Jantungnya berpacu cepat.

"Kau lihat pria itu?" bisik Vivian di sampingnya, membuat Audrey tersentak.

Vivian menunjuk ke arah pria yang baru saja menyelesaikan ciuman panasnya dan kini sedang mengusap bibirnya dengan ibu jari.

"Dia yang punya penthouse ini. Namanya Kensington Valerio. Si raja pesta. Semua orang di sini bernapas atas izinnya, secara kiasan."

Audrey hanya bisa mengangguk kaku. Ia memperhatikan Kensington yang sekarang duduk tegak di sofa. Pria itu memiliki rahang yang tegas, rambut hitam yang tertata berantakan namun sempurna, dan sorot mata yang seolah bisa membaca pikiran orang lain.

Audrey harus mengakuinya dalam hati: ia belum pernah melihat pria setampan dan sesempurna itu dalam kehidupan nyatanya.

Sander tampan dengan cara yang manis dan akrab, tapi Kensington... dia tampan dengan cara yang berbahaya.

Tiba-tiba, Vivian berdiri dan menghampiri Kensington. Audrey melihat mereka berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya.

Audrey yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya bisa mengangguk-angguk kaku setiap kali mata mereka tertuju padanya.

Sebenarnya, Vivian sedang memberikan peringatan. "Ken, bilang pada teman-teman playboy-mu itu, gadis di pojok sana adalah teman baruku. Teman satu kamarku. Jangan biarkan ada yang mengganggu atau mencoba merusaknya. Dia anak yang sangat polos."

Kensington Valerio hanya mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Ia menatap Audrey sekali lagi, kali ini dengan pandangan yang sedikit lebih lunak. "Jangan khawatir, Vivian," ucapnya dengan suara bariton yang dalam. "Dia akan baik-baik saja di sini."

Vivian kembali ke samping Audrey dengan wajah puas. "Ken adalah sahabatku sejak tahun pertama. Dia mungkin terlihat seperti brengsek, tapi dia menjaga orang-orangnya."

Malam semakin larut, dan suasana semakin liar. Tiba-tiba, sekelompok orang yang tadi berdansa di luar merangsek masuk ke dalam ruangan itu.

Suasana mendadak menjadi riuh. Salah seorang pria meletakkan sebuah botol minuman kosong di tengah lingkaran lantai.

"Waktunya Truth or Dare!" teriak mereka serempak.

Audrey ingin menolak, tapi ia sudah terjebak di tengah lingkaran. Ia hanya bisa duduk kaku di sana, berusaha tidak menarik perhatian.

Matanya sesekali melirik ke arah Kensington. Pria itu sekarang memangku gadis yang menciumnya tadi. Gadis itu tertawa manja di pelukannya, dan Audrey bergumam dalam hati, Mungkin itu kekasihnya.

Permainan dimulai.

Botol berputar dengan cepat, menunjuk ke arah beberapa orang yang memilih tantangan gila, mulai dari meminum campuran aneh hingga menari di atas meja.

Hingga akhirnya, botol itu berhenti tepat di depan gadis yang sedang dipangku Kensington.

"Tantangan!" seru gadis itu dengan berani.

Salah satu pria di lingkaran itu menyeringai. "Aku tantang kau mencium pria di sebelah kiri Ken selama sepuluh detik."

Audrey menahan napas. Ia melirik Kensington, mengharapkan adanya percikan cemburu atau kemarahan.

Namun, pria itu justru bersandar santai, memberikan ruang bagi gadis itu untuk bangkit.

Dengan gila, gadis itu benar-benar melakukan tantangan itu—berciuman dengan pria lain di depan mata Kensington—dan Kensington sama sekali tidak tampak peduli. Ia malah menyesap minumannya seolah-olah yang terjadi hanyalah tontonan televisi biasa.

Pertemanan ini benar-benar gila, batin Audrey dengan perasaan syok yang luar biasa.

Kemudian, botol itu berputar lagi. Kali ini, ujung botol menunjuk tepat ke arah Audrey. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Oke, si anak baru!" seru pria yang tadi memutar botol. "Truth or Dare?"

Audrey menelan ludah. Ia tidak mungkin memilih tantangan di tempat gila ini. "Jujur. Aku pilih Truth."

Vivian menyeringai, matanya berkilat nakal karena pengaruh alkohol yang mulai bekerja. "Biar aku yang bertanya!" Vivian berdiri dan menatap Audrey dengan tatapan menantang. "Apa kau masih perawan, Audrey?"

"Whoaaaaah!" Sorakan riuh dan siulan menggema di seluruh ruangan. Semua orang menanti jawaban dengan wajah haus gosip.

Wajah Audrey memanas hingga ke telinga. Ia merasa ingin tenggelam ke dalam lantai saat itu juga. Namun, ia teringat pada dirinya sendiri yang tidak suka berbohong.

Dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas, ia menjawab, "Ya... aku masih perawan."

Seketika, ruangan itu dipenuhi suara tak percaya. Ada yang tertawa, ada yang bersorak mengejek, dan ada yang menatapnya seolah ia adalah peninggalan purba yang langka.

Di ujung sana, di balik keributan itu, Audrey merasakan tatapan yang berbeda. Kensington Valerio menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan ejekan, bukan pula kekaguman, melainkan sebuah rasa ingin tahu yang dingin.

Merasa sesak, Audrey bangkit berdiri. "Aku ingin mencari udara segar sebentar," pamitnya pada Vivian yang sedang sibuk tertawa.

Ia melangkah keluar dari lingkaran itu, berjalan menelusuri lorong penthouse yang lebih tenang. Ia melewati meja panjang penuh makanan lezat yang terlihat sangat mahal—potongan wagyu, canapé dengan kaviar, dan buah-buahan eksotis. Ia mencicipi sedikit makanan yang menurutnya paling menarik, mencoba menghilangkan rasa canggung di lidahnya.

Rasa ingin tahunya menuntunnya lebih jauh ke dalam bangunan mewah ini. Audrey terkesima melihat deretan rak buku yang menjulang tinggi di salah satu lorong.

Di satu sisi, rak itu penuh dengan buku-buku hukum yang tebal dan tampak berat. Namun di sisi lain, ia menemukan koleksi yang sangat kontras: ratusan novel cinta. Mulai dari karya klasik hingga novel modern terbaru.

Siapa yang membaca semua ini di rumah yang penuh pesta? pikirnya kagum. Ia menyusuri barisan buku itu dengan jari-jarinya, tidak merasa lelah sama sekali meski sudah berjalan cukup jauh dari keramaian.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu besar yang sedikit terbuka. Cahaya temaram keluar dari sana.

Tanpa sadar, Audrey mendorong pintu itu sedikit lagi, menampakkan kamar tidur utama yang sangat mewah dengan balkon pribadi yang menghadap langsung ke arah tulisan 'Hollywood' di kejauhan.

Kamar ini terasa berbeda—lebih sunyi, lebih pribadi.

"Jangan masuk ke kamar pribadiku."

Sebuah suara bariton yang berat dan dingin membuat Audrey mematung. Suara itu berasal dari sudut kamar yang gelap.

"Kau boleh berkeliling ke semua tempat di rumah ini, asal jangan masuk ke kamarku."

Audrey segera mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang karena takut. Ia berbalik dengan terburu-buru untuk pergi, namun ia justru terpaku di tempat.

Kensington Valerio berdiri tepat di belakangnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi pribadi.

Rambutnya basah, tetesan air mengalir di dadanya yang bidang dan bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Aroma sabun maskulin yang segar langsung menusuk indra penciuman Audrey.

"Maaf... maafkan aku. Aku tidak tahu... aku akan segera keluar," ucap Audrey terbata-bata, matanya menatap lantai karena tak sanggup melihat pemandangan di depannya.

Kensington tidak tampak marah, tapi ia juga tidak ramah. Ia hanya menatap Audrey sejenak dengan tatapan datar yang mengintimidasi.

"Jangan lupa tutup pintunya saat kau keluar," ucapnya singkat sambil berjalan menuju lemari pakaiannya seolah Audrey tidak ada di sana.

Audrey hampir berlari keluar dari ruangan itu. Ia menarik pintu hingga tertutup rapat dan menyandarkan punggungnya di dinding lorong, berusaha mengatur napasnya yang memburu.

Bayangan tubuh Kensington dan tatapan dinginnya seolah terpatri di otaknya.

Belum sempat ia menenangkan diri, Vivian muncul dari ujung koridor dengan langkah gontai. "Drey! Akhirnya ketemu," ucap Vivian sambil memegangi kepalanya. "Ayo kita pulang. Kepalaku pusing sekali... terlalu banyak minum biru tadi."

Audrey mengangguk cepat, merasa lega karena punya alasan untuk segera pergi dari tempat gila itu. "Ayo, Vi. Kita pulang sekarang."

Sambil memapah Vivian menuju lift, Audrey sempat menoleh ke arah koridor menuju kamar Kensington. Ia tahu, mulai malam ini, kehidupannya di Los Angeles tidak akan pernah sama lagi. Ia baru saja menyentuh dunia yang seharusnya tidak ia masuki, dan bertemu dengan pria yang seharusnya ia hindari.

1
nayla tsaqif
Haduhhh,, knp tamat semua sihhh,,, jangan lama2 cerita barunya yaaaa!!??
Thee-na Tooth
lagi dong kak
Zahra Alifia Hidayat
Yo bapakmu itu yg jadi nyamuk raksasanya max
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
untung tersesatnya di toilet toko perhiasan coba klo tersesatnya di kedai kopi late alamat GK tau jalan pulang wkwkwk🤣🤣🤣
Ros 🍂: Hahhaa bahaya kalo nyasar kesana ya kak🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astagaaa,, kmna ken yg dingin dan angkuh itu dreyyy,,, knp skrng dia sengklek,,, 🤣
Ros 🍂: mabuk cinta kak🤣🤣🤣🤣😘
total 1 replies
Almeera
tinggalin jejak duluuuuuuuu yaaaa nyicil aku maraton kerja duluuu
Ros 🍂: Hehe siap Kak🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
ingat Ken segera lenyapkan si kopi late lagian jadi cowok tuh harus bisa mengendalikan senjatanya ini malah tercelup ke kopi late🤭
Ros 🍂: Late Vera kak, Bukan Latte Coffee 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ,,,terharu aku thor😍😍😍
Ros 🍂: Huhuhu semoga Suka ya kak🫶🥰
happy reading 😍
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pantesan Ken gendeng wong bapaknya klo ngasih saran diluar Nurul moga kegendengan mereka menurun ke max kelak🤭🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: hahhaa Daddy Felix asline kalem kak🤭🤣
total 1 replies
Murnia Nia
lagi seru ni ceritanya
Ros 🍂: ma'aciww komentar nya ya kak🫶
total 1 replies
Murnia Nia
lanjut thor
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Thee-na Tooth
puas bacanya kak,,,
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
Ros 🍂: Ma'aciww kak 🫶🫶😘
semoga kakak juga sehat selalu 🥰
total 1 replies
winpar
lgi kk 💪💪💪💪
Ros 🍂: sama-sama kak🫶
total 3 replies
Thee-na Tooth
ayoo up lagi🤭
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
Ros 🍂: Besok ya kak🫶 ditunggu 😍
total 1 replies
Thee-na Tooth
Alurnya bagus banget,,,
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
Ros 🍂: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
sehat selalu ya kak😘
total 1 replies
Thee-na Tooth
semangat up kakak,,,
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭
Ros 🍂: uuuwwwwwhh 🫶🫶🫶
ma'aciww ya kak, sehat Selalu 🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes tambah gendeng ini Bang Ken,tak tunggu kegendenganmu selanjutnya Bang🤣🤣🤣
Ros 🍂: Nular Ya kak bucinnya 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Gen valerio,, awal2 dingin, angkuh,, begitu bucin setrezzzz,,, bikin esmosi!! Mom kim&dad felix ceritanya judulnya apa thor??
Ros 🍂: hihihi Rekomendasi baca "The End Of Before" kak, Ndak kalah seru🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk knl cinta,, gk percaya cinta sekalinya cinta gueenndennng kowe ken,,, bisa2nya pengen jd simpanan,, emg mau di simpan dimna,, badanmu kn segedhe gaban,,, 😄
Ros 🍂: hahaha Dia senang jadi simpanan kak🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Q suka kalo para wanita2 itu sudah mengumpat,,, seperti briella kalo ngumpat fasih banget,,, "bringsiikkk" 🤣🤣
Ros 🍂: wkwkw iya kak🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!