Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Pagi itu, ibukota sudah dilanda mendung. Tidak ada hujan, namun angin berhembus kencang. Pukul sembilan lewat beberapa menit Aruna sudah nangkring di cafe. Dengan satu cup latte yang ia pesan. Laptop menyala diatas meja. Sesekali jarinya menari diatas tuts keyboard.
Ia tidak ke kantor hari ini. Wfh kata bosnya. Karena tidak ada banyak pekerjaan, sekalian biar ia tidak terlalu stress yang bisa mempengaruhi kinerja nanti.
Angin meniup rambutnya yang tergerai. Karena ia memilih tempat diluar cafe. Dingin didalam karena ber-AC.
Hingga pukul sepuluh pagi, ketika Aruna sedang menggulir layar ponselnya, kopi tinggal setengah, dan TV di pojok menyala. CNBC Indonesia.
Matanya menatap. Telinganya terbuka lebar untuk mendengar. Netranya bergerak cepat melihat TV, menatap beritawan di dalamnya. Seolah ia takut salah dengan informasi yang baru saja ia dengar.
“K.A. Sports, startup sportstech asal Venesia dengan valuasi 2 miliar dolar, resmi akuisisi saham mayoritas. CEO-nya, Noah Pattingga Rajasa yang juga atlet bola Internasional, hari ini resmi menandatangani--"
Kopi tumpah. Ke meja. Diatas keyboard laptop. Ke hidupnya. Nafasnya tertahan di ujung tenggorokan. Tercekat. aliran darah berhenti memompa.
Di layar, Noah. Memakai jas. Bukan jersey nomor 2. Rambut disisir rapi. Dikelilingi orang-orang pakai dasi. Di belakangnya ada logo perusahaan yang entah apa. Di bawah namanya ada headline: CEO & Founder
Aruna sontak mengetik nama Noah di Google. Di ponselnya. Jarinya gemetar.
Noah Pattingga – Forbes 30 Under 30
K.A. Sports IPO, Noah Pattingga jadi miliarder termuda Eropa
Noah Pattingga dan Piere Hunt – Merger of The Century?
Piere Hunt? Anak pemilik bank terbesar di Venesia. Perempuan di foto opera minggu lalu. Yang tangannya melingkar di lengan Noah. Yang katanya cuma mantan pacarnya?
Ponsel yang ditanganya berdenting. Bukan lagi laman berita yang full dilayarnya. Melainkan pop up pesan terpampang nyata.
Noah Pattingga
Run I have to go back today. Sorry. I'll explain later.
Aruna tersenyum gamang. Kalut, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setelah ia tahu dari TV kalau kekasihnya punya perusahaan 2 miliar dolar. Setelah ia tahu tunangan bisnisnya nyata, mantan pacarnya pula.
Setelah ia tahu jika dirinya pacaran dengan berita, bukan sama manusia.
^^^Me^^^
^^^What happened? Who are you really? You came home but your face is on international TV.^^^
Balasan itu Aruna kirim. Namun hanya dibaca, tidak dibalas selama kurang lebih Dua jam. Aruna bahkan sudah beranjak pulang dari cafe.
Noah
Nanti aku jelasin
Pesan terakhir dari Noah ia biarkan begitu saja. Tidak berniat membalasnya sama sekali. Ia terlalu terkejut dan masih tidak menyangka dengan apa yang barusan ia terima.
Noah yang selama ini bilang 'Apa itu jengkol?'
Noah yang selalu bilang 'Jangan makan pedas Aruna itu bahaya'
Dan Noah yang selalu bilang 'Run, aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku ya'
Lalu kini semuanya berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan. Dia merasa dikhianati untuk yang kesekian kalinya. Oleh seseorang yang entah sejak kapan mulai ia cintai?
Apa ini yang dimaksud kakaknya beberapa waktu lalu?
Noah bukan seseorang yang bisa kamu pacari begitu aja?
.
.
.
Stadion sudah sepi. Lampu sorot satu per satu dimatikan, menyisakan siluet gawang yang kini terasa seperti luka yang menganga.
Aruna berdiri di lorong pemain. Ia sendirian. Dalam kegelapan. Bau rumput dan hujan masih menempel di sana dan juga Bau Noah. Karena ditangannya terdapat Jersey dengan nomor punggung 2.
Kemarin waktu berita itu muncul, laki-laki itu bilang akan kembali dengan cepat. Telfon dan pesan-pesan yang ia kirimkan tidak ada yang dibalas oleh laki-laki itu.
Atau mungkin kini Aruna yang bodoh? Aruna yang terlalu berharap? Apa definisi cepat dari laki-laki itu sampai harus membuatnya menunggu hampir satu bulan lebih? Tidak ada kabar, tidak ada berita apapun kecuali berita pertunangan laki-laki itu yang setiap hari jadi pembuka utama portal lamna televisi.
Aruna menunggu. Dua jam. Dua puluh dua hari. Menghabiskan semua hari-harinya untuk menunggu kabar dari laki-laki itu. Setiap hari-sepulang kerja ia sempatkan mampir ke lapangan stadion.
Dan Yang datang bukan Noah. Yang datang adalah notifikasi dari grup suporter yang sempat ia ikuti sejak beberapa bulan yang lalu.
BREAKING NEWS
Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Hanya foto blur dia di bandara, menunduk, dikelilingi petugas. Caption-nya: “Goodbye, Indonesia.”
Beberapa hari berlalu seperti luka yang tidak diberi obat. Chat centang satu. Telepon dialihkan. Teman satu timnya bungkam. Di Aruna, potongan hari terakhir mereka berputar jadi pisau: Aruna yang marah karena di tribun Noah menghampiri sepupu dan mantan pacarnya bukan dirinya. Bahkan laki-laki itu menciumnya.
Noah sempat memberi penjelasan dan ia menolaknya mentah-mentah.
Ternyata itu bukan tentang bola. Ia tahu sekarang. Kejadian tempo hari itu bukan hanya sekedar kesalahpahaman yang nyata. Melainkan sesuatu yang lebih besar ketimbang kalimat cinta.
Green flag-nya bukan pura-pura. Dia memang selalu datang tepat waktu kecuali hari itu. Dia selalu dengar keluhku sampai habis sebelum memberi solusi. Dia yang mengganti ban motorku tengah malam saat mogok di tengah hujan, padahal besoknya ada laga penting.
Dan ia mengusirnya dengan kalimat "Aku capek pengen sendiri"
Dan hari ini Aruna kembali mendengar berita lainnya. Pagi hari ketika ia sarapan di warung pinggir jalan dekat kantornya. Berita tentang Noah.
Di berita, Noah berdiri di depan gedung kaca Stockholm. Jas hitam, wajah datar, tapi mata yang sama. Mata yang dulu menatapnya seolah ia satu-satunya orang di tribun yang penuh 50 ribu manusia.
Reporter bertanya, “Apakah Anda akan kembali ke sepak bola, Mr. Pattingga?”
Dia diam sejenak. Lalu menjawab, “Ada janji yang belum saya tepati di Indonesia. Saya harus menyelesaikannya dulu.”
Kamera berpindah. Napas Aruna ikut berpindah.
Di meja warung, nasi dipirngnya dingin. Tapi untuk pertama kalinya setelah dua puluh dua hari dadanya terasa hangat. Karena salah paham bisa membunuh, tapi kejujuran yang tertunda masih bisa menghidupkan.
Dan ia, gadis biasa yang tahunya dia hanya pemain bola bernomor 2, tinggal menunggu peluit panjang berikutnya ditiup. Entah untuk mengakhiri, atau memulai babak kedua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...