NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Setelah subuh Asya berkutat di dapur seorang diri. Ia memasak berbagai jenis lauk dengan lihainya. Abi dan umi serta kakak-kakaknya menginap di rumah.

Umi dan Lisa memasuki area dapur. Mereka kagum dengan Asya yang mengerjakan semua sendiri tanpa menyewa jasa pembantu.

"Pengantin baru kok udah di dapur aja," goda umi

"Iya nih padahal lagi anget-angetnya," timpal Lisa

Asya menoleh ke arah dua orang itu. Ia mempersilakan keduanya duduk menunggu di meja makan. Namun keduanya bersikukuh untuk membantu Asya menata menu makanannya.

"Pengantin baru apaan? Orang udah agak lama," sinis Asya

"Kamu masak banyak banget, Dek?," tanya umi

"Iya dong. Kan di rumah lagi ada orang-orang yang spesial," ucap Asya terkekeh

"Martabak kali spesial," ucap Lisa lalu tertawa

Semua makanan tertata rapi di meja makan. Berbagai jenis lauk tersedia. Asya memasak dengan penuh semangat.

"Wangi banget aromanya," ucap abi yang memasuki ruang makan diikuti yang lainnya

"Iya dong. Ini yang masak tuan rumahnya," ucap umi

"Maaf ya semuanya. Asya masak seadanya saja. Semoga kalian suka dengan masakan ini," ucap Asya sambil menyodokkan nasi ke piring Alif

"Apapun pasti akan aku makan," ucap Alif sambil tersenyum

"Em virus bucin tampak terlihat pemirsa," goda Raffa yang duduk di sebelah kanan Alif

"Abang jangan goda mereka dulu. Kita makan dulu," tegur abi

Semua orang memakan dengan santai. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang bersahutan pelan. Semua sangat menikmati masakan Asya yang rasanya sesuai selera.

Setelah selesai, Asya membereskan semuanya dibantu umi dan Lisa. Sedangkan para lelaki tengah berkumpul di ruang keluarga sambil mengobrol ringan.

"Sumpah ya masakan kamu enak banget, Dek. Sangat cocok di lidah," puji Lisa

"Kak Lisa terlalu memuji deh," ucap Asya terkekeh

"Tapi beneran enak loh," sahut umi

"Tapi sayang sekali ya kak Anisa sama bang Kafka pulang terlebih dahulu," ucap Asya lesu

"Jangan sedih. Mereka pulang karena kyai ada acara di Yogyakarta. Gus Kafka tentu harus mengurus pesantren," ucap umi

Asya hanya tersenyum. Mereka bertiga melanjutkan obrolan ringan sebentar lalu pergi ke ruang tengah menyusul para lelaki. Mereka duduk di samping suami masing-masing.

"Kami akan pulang habis sholat asar ya, Dek," ucap abi

"Ih kok nggak pulang besok aja," protes Asya

"Pesantren gak bisa ditinggal lama-lama," timpal Raffa

"Kamu baik-baik di sini yang nurut sama suami," ucap umi

"Iya nasehat kalian akan selalu aku ingat," ucap Asya sambil tersenyum

"Abi ingin menyampaikan hal yang mungkin pernah didengar Alif entah nasehat dari umi ataupun abi," ucap abi sambil memandang menantu barunya

"Iya Abi," balas Alif sambil tersenyum

"Semarah apapun kamu dengan Asya, tolong jangan pernah sekalipun bentak dia. Karena kami semua tak pernah berkata dengan nada tinggi. Dan jika suatu hari nanti kamu sudah tidak menginginkannya, tolong kembalikan secara baik-baik kepada Abi," ucap abi

Asya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Alif menggenggam tangan Asya. Ia tersenyum menatap suaminya.

"Abi, Alif telah meminta Asya menjadi bagian dari hidup Alif sebagai istri, pendamping hidup, bahkan ibu dari anak-anak kami kelak. Kalian telah memberikan kasih sayang kepada Asya. Mana mungkin Alif akan menyakitinya. Air mata yang jatuh dari mata Asya adalah air mata kebahagiaan saja. Alif akan mengusahakan apapun sebagaimana kalian semua mengusahakan dia," ucap Alif sambil tersenyum

Asya tersenyum haru dengan pernyataan suaminya. Semua orang merasa bahagia mendengar perkataan Alif.

Raffa berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Alif lalu memeluk adik iparnya itu. Bahu Raffa bergetar. Ia menangis karena Asya mendapatkan seseorang yang tepat. Alif mengelus punggung kakak iparnya itu.

"Terima kasih Lif sudah mau menyayangi Asya dengan tulus. Kami bisa tenang melepas Asya kepada orang yang tepat," ucap Raffa lalu melepaskan pelukannya

"Alif akan menjaga amanah kalian dengan baik, Bang," ucap Alif tulus

"Abang cengeng," ledek Asya

"Tapi kamu sayang, kan?," ledek Raffa

Raffa memeluk Asya. Tak lupa juga ia memeluk Alif. Raffa berada di tengah-tengah.

"Semoga kalian bahagia selalu," ucap Raffa

"Aamiin," jawab Alif dan Asya bersamaan

Abi, umi dan Lisa tersenyum haru melihat ketiganya. Semua orang menangis bahagia untuk kebahagiaan Asya.

Malam harinya rumah terasa sepi. Keluarga Asya sudah kembali tadi sore. Alif belum pulang dari masjid.

Asya menonton televisi sambil menunggu suaminya pulang.

"Assalamualaikum," ucap Alif sambil mengunci pintu

"Waalaikumsalam," jawab Asya lalu berdiri

Alif tersenyum sambil menghampiri istrinya. Asya mencium tangan Alif lalu dibalas dengan Alif yang mencium pelipisnya.

"Maaf ya, Sayang. Tadi masih diajak bercengkrama sama warga komplek," ucap Alif sambil menyeret Asya duduk

"Iya nggak papa, Mas," jawab Asya sambil tersenyum

"Besok kayaknya aku harus mulai kerja deh. Kasihan papa terus yang handle selama persiapan resepsi," ucap Alif

Asya menyenderkan kepalanya di pundak suaminya. Alif mengelus kepala Asya dengan lembut.

"Iya kerja sana biar nanti jatah skincare aku nggak macet," ucap Asya lalu tertawa kecil

"Iya dong. Istri cantik itu perawatannya mahal," ucap Alif terkekeh

"Jelas itu pasti nomor satu. Jaman sekarang kalo nggak cantik udah pasti ditinggalkan," ucap Asya

"Makanya nggak ada istilahnya cewek matre. Kalo ada yang bilang cewek matre berarti laki-lakinya aja yang nggak mampu," ucap Alif lalu tertawa

"Cewek itu realistis. Kebutuhan kita banyak, kita memang perlu uang," ucap Asya terkekeh

"Obrolan macam apa ini," timpal Alif

"Realita kehidupan di jaman sekarang aja," ucap Asya

"Iya benar. Menurut aku nggak papa cewek matre soalnya cantik itu butuh dana," ucap Alif lalu tertawa pelan

"Tapi aku suka heran deh sama omongan cowok yang bilang gini 'kamu natural aja cantik' tapi ujung-ujungnya diselingkuhi," ucap Asya sambil menggelengkan kepalanya

"Bilang natural cantik itu karena cowoknya aja yang gak mampu modal kan ceweknya," ucap Alif terkekeh

"Makin malam makin absurd nih obrolan," ucap Asya

"Bahas yang lain aja," ucap Alif lalu tertawa

"Oh aku mau tanya sesuatu deh, Mas," ucap Asya

"Tanya apa?," ucap Alif

"Sebenarnya Rifky itu suka apa enggak sih sama Rania?," tanya Asya

"Kayaknya sih enggak tapi Rifky tau kalo Rania suka sama dia," ucap Alif

"Tapi masak Rifky nggak peka sama perasaan Rania," ucap Asya

"Kayaknya dia suka sama orang lain deh tapi aku nggak tau siapa," ucap Alif sambil mengelus kepala Asya

"Kita doakan yang terbaik aja deh buat mereka," ucap Asya

"Udah malam nih. Tidur yuk!," ajak Alif

Asya mengangguk. Alif mematikan televisi lalu mengajak Asya untuk istirahat.

1
Mrs. Ren AW
selamat asya... semoga bahagia selalu beesama alif... 😍
Shofiyah 19: Terima kasih😍 jangan lupa gift nya kakak🙏🤭
total 1 replies
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!