NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Terungkap Sudah

Hari yang menyenangkan menghabiskan waktu bersama keluarga Devan. Hanum tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang kini mulai nyaman tinggal dengan mereka. Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah dia merasakan kehangatan keluarga setelah dua belas tahun lamanya dia yatim piatu.

"Sebelum magrib kita ke pantai ya," begitulah Bunda meminta tadi. Jadilah mereka menghabiskan waktu di pantai hingga azan magrib menggema. Setelah itu mereka makan malam di restoran seafood tepi pantai kota.

"Dari tadi kamu diem aja, Hanum. Capek kah?" tanya Bunda pada perempuan yang kini ada di sebelahnya.

"Hehe nggak kok, Bun..," Hanum menggeleng cepat.

"Kelihatannya iya, ya udah habis ini kita pulang ya," Bunda menyuruh Devan langsung. Pria itu mengangguk.

Mobil merapat di depan rumah, mereka turun satu persatu. Sementara hari telah gelap, kira-kira pukul sembilan lewat sepuluh Hanum telah berada di dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang cukup letih karena jalan-jalan seharian ini. Tadi, sebelum dia masuk ke kamarnya Devan memanggilnya sejenak untuk memastikan apakah besok ada pekerjaan yang akan perempuan itu lakukan. Hanum hanya menjawab akan pergi ke butiknya besok.

"Gak nyangka aku bakal di sini," guman Hanum sebelum matanya terpejam dan akhirnya tertidur pulas.

...****************...

"Bun, aku habis ini mau pergi dulu ya," ucap Hanum saat mereka telah selesai sarapan. Bi Inah memasak nasi goreng kampung pagi ini.

"Oh.., iya kalau begitu hati-hati ya," Bunda tak bertanya kemana dia pergi sebab dia tak ingin mendahului rencana Hanum yang barangkali masih berurusan dengan suaminya.

"Gak sekalian aja bareng aku, Nun?" Devan yang telah rapi mengenakan setelan jas kantor nya berjalan ke arahnya.

Nun?

Hanum teringat dengan panggilan nya dulu. Teman-teman sekelas dan di lingkungan SMA nya dulu dia sering dipanggil Nun.

"Nggak usah, Van. Kamu duluan saja," kata Hanum.

Devan mengangguk lalu dia pamit kepada Bunda nya. Lalu disusul Hanum yang telah memesan ojek online.

"Bu Hanum!! Ya Allah, Lala kangenn banget sama ibukk," Lala salah satu pegawai butiknya yang chubby begitu senang saat melihat Hanum.

"Eh, Lala? Kamu kok baru nampak hehe. Gimana? Orang tua kamu di kampung sudah sehat?" tanya Hanum mengingat Lala ini kemarin mengambil cuti lantaran orangtuanya di kampung sedang sakit.

"Alhamdulillah sudah, Buk. Terimakasih banyak ya buk atas kiriman uangnya kemarin, kalau perlu potong saja gaji saya, Buk," Lala merasa tak enak sebab Hanum membantunya dengan kiriman uang tambahan kemarin.

"Gapapa kok, La. Aku ikhlas itu pun buat bantu kamu. Eh, mana yang lainnya?" Hanum melihat sekelilingnya.

"Mereka.. pada resign, buk," ucap Lala kemudian.

"Loh kok gitu?"

Beberapa saat kemudian Hanum tersadar bahwa butik ini tak lagi miliknya. Dia menghela napas berat, "Ya sudah kamu kembali bekerja ya. Nanti Pak Bram marahin kamu," ucap Hanum kemudian. Tetapi Lala masih belum beranjak, dia menatap Hanum dengan sedih.

"Tapi Bu.., Lala pengennya ibuk aja yang ngawasin Lala dan beberapa teman di sini.., maaf Lala lancang buk tapi kenapa jadi wanita itu yang megang butik Bu Hanum?" tanya Lala lagi.

"Wanita? Maksudnya gimana?" Hanum sudah menebak pasti itu selingkuhan suaminya.

"Dia itu galak banget, Buk. Beda sama Buk Hanum yang selalu sabar meski saya sering yapping mulu hehe. Contohnya kayak kemarin saja pas si Vani resign karena capek disuruh-suruh wanita itu untuk beresin ini itu sendirian, mana pake bentak-bentak segala lagi. Kasihan jadinya, Buk..," Lala bercerita.

"Gapapa, La. Kamu tetep kerja di sini saja ya, urusan butik memang sudah berpindah ke tangan suami saya.., tapi saya bakalan sering kesini kok," kata Hanum lagi.

Mendengar itu Lala pun tersenyum senang. "Baiklah buk Lala lanjut kerja dulu ye," katanya. Setelah Lala pergi, Hanum berjalan menuju ruang tempat dia bekerja. Sebelum masuk ke dalam, dia berhenti sejenak di depan pintu. Dia tahu ini bukan miliknya lagi, tapi setidaknya dengan cara curang yang dilakukan suaminya tanpa persetujuan sah darinya lah yang membuatnya tetap kemari.

Tapi samar-samar dia menatap jelas dari balik pintu ruangannya itu, ada dua orang di dalam ruangannya. Pintu itu memiliki celah tipis yang bisa dilihat dari luar meski harus diintip. (paham kan)

Hanum memutuskan untuk mengintip nya sekilas. Tetapi tubuhnya mendadak kaku saat dia melihat pemandangan yang menyayat hatinya.

Dia mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil. Lalu buru-buru dia berlari meninggalkan tempat itu.

"Ibu mau kemanaa??" Lala yang melihat Hanum berlari itu bertanya namun tak sempat dibalas oleh Hanum.

Air matanya menetes. Sedih, sakit sekali rasanya menyaksikan langsung perbuatan kotor yang dilakukan oleh suaminya. Benteng kekuatan yang sudah dia bangun entah mengapa rubuh seketika, seolah-olah dihantam oleh mega meteor dari luar angkasa.

"MENJIJIKKAN!" Hanum merasa mual dengan apa yang terjadi barusan. Dia terus berlari hingga akhirnya duduk di bangku taman yang ada di tepi jalan raya.

"Tega kamu, Mas. Selama ini kamu anggap aku apa?" bisiknya sendiri. Hanum mengelus dada nya, mengambil napas panjang. Apa yang dilihatnya tadi begitu mengerikan baginya. Suaminya sedang berhubungan intim dengan selingkuhannya itu. Suatu hal yang jarang dilakukan oleh suaminya sepanjang pernikahan nya. Terkecuali satu hal yang membuat dirinya hamil.

Seketika itu juga, Hanum tersadar akan kehamilannya. Hanum hanya sekali dua kali berhubungan dengan suaminya. Biasanya mereka selalu pisah kamar, jika tidak pisah kasur saja. Sungguh suatu hal yang ironis sebenarnya tapi itulah yang terjadi.

"Aku harus cari tahu lagi tentang kehamilan ini," Hanum segera menuju rumah sakit tempat dia pergi sebelumnya.

"Ternyata benar, Bu Hanum. Ibu tidak hamil. Berdasarkan analisis dari awal kunjungan sampai yang kemarin pun hasilnya tetap sama. Apakah alat tespek yang Ibu gunakan itu benar-benar milik Ibu?" tanya dokter yang menunjukkan hasil tes kehamilannya.

Hanum tak mengiyakannya. Bagaimana mungkin dia salah tespek. Apa jangan-jangan itu milik selingkuhan suaminya?"

"Saya tidak ingat, Dok..," kata Hanum lagi.

"Baiklah kalau begitu, saya hanya bisa memberikannya informasi tadi, Bu. Jika ada keluhan atau tanda-tanda seperti yang sudah jelaskan sebelumnya silahkan hubungi saya lagi," akhirnya Hanum pun mengangguk.

"Ini cukup sulit. Aku pikir aku beneran gak hamil," ucap Hanum kemudian. Memang sama sekali tak ada tanda kehamilan di tubuhnya.

Hanum tak habis pikir dengan perlakuan Bramasta. Apa yang sudah dia lakukan itu membuatnya merasa muak sekaligus jijik.

"Suatu saat kamu bakalan ngerasain apa yang aku rasa, Mas. Aku harap kita segera bercerai."

Benar saja, malam itu juga Hanum mendapat pemberitahuan bahwa persidangan cerainya dipercepat menjadi dua hari lagi.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!