NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Dijual, Tapi Pria Itu Membeli Neraka

📖 BAB 1: Aku Dijual, Tapi Pria Itu Membeli Neraka

Hari itu hujan turun deras.

Bukan hujan yang menenangkan, melainkan hujan dingin yang membuat seluruh kota tampak suram. Langit kelabu menggantung rendah di atas rumah keluarga Lin, rumah besar yang dari luar terlihat mewah, tetapi di dalamnya penuh kebusukan.

Lin Qingyan berdiri di ruang tamu dengan pakaian sederhana. Rambut panjangnya sedikit basah karena baru pulang bekerja. Sepatunya bahkan belum sempat ia lepas saat suara bentakan ibunya menyambut.

“Kau akhirnya pulang juga!”

Wanita paruh baya itu melempar sebuah map ke meja kaca hingga isinya berhamburan.

“Lihat ini!”

Qingyan menatap sekilas. Surat tagihan. Surat utang. Surat ancaman penyitaan.

Ia sudah hafal semuanya.

“Aku baru saja menerima gaji,” katanya pelan. “Besok akan kubayar sebagian.”

“Sebagian?” suara ayahnya yang duduk di sofa terdengar penuh ejekan. “Utang keluarga kita miliaran, dan kau bicara sebagian?”

Qingyan menggenggam tasnya erat.

Sejak lulus kuliah, ia bekerja siang malam demi keluarga ini. Semua gajinya diserahkan. Bonus diserahkan. Tabungan diserahkan.

Namun bagi mereka, itu tak pernah cukup.

Adiknya, Lin Meili, turun dari tangga sambil memainkan ponsel baru.

“Kakak memang payah,” katanya santai. “Kalau aku yang kerja di perusahaan besar, pasti keluarga sudah kaya.”

Qingyan menatap ponsel di tangan adiknya.

Itu ponsel yang ia lihat kemarin di pusat perbelanjaan. Harga setara tiga bulan gajinya.

“Ibu membelikannya?” tanyanya.

Ibunya mendengus. “Adikmu perlu penampilan. Beda denganmu.”

Qingyan tersenyum pahit.

Jadi uang hasil kerjanya dipakai membeli barang mewah, sementara dirinya dimaki karena utang belum lunas.

Sudah biasa.

Yang belum biasa adalah kalimat ayahnya berikutnya.

“Besok malam, kau ikut kami ke Hotel Imperial.”

Qingyan menatap tajam.

“Untuk apa?”

Ayahnya menyalakan rokok dengan santai.

“Menikah.”

Ruangan mendadak hening.

Suara hujan di luar terdengar makin jelas.

Qingyan mengira ia salah dengar.

“Apa?”

Ibunya menyilangkan tangan.

“Keluarga Zhang bersedia memberi satu miliar sebagai mahar. Putra mereka menyukaimu.”

“Putra mereka?” Qingyan mengernyit. “Bukankah dia sudah berumur lima puluh tahun dan punya dua anak?”

“Jaga bicaramu!” bentak ibunya. “Dia kaya!”

Qingyan merasa darahnya naik ke kepala.

“Kalian menjualku?”

Ayahnya menghempaskan asbak ke meja.

“Kau makan dari rumah ini! Tinggal di rumah ini! Sekarang saatnya membalas!”

“Aku sudah membalas!” suara Qingyan bergetar. “Semua gajiku kuberikan! Aku kerja tanpa libur! Aku bahkan membayar utang judi Ayah!”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya.

Ibunya berdiri dengan mata melotot.

“Anak durhaka! Berani mengungkit orang tua?”

Qingyan terdiam.

Pipinya panas.

Namun yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa tak satu pun dari mereka merasa bersalah.

Adiknya malah tertawa kecil.

“Sudahlah, Kak. Menikah dengan orang kaya enak kok. Tinggal diam, dapat uang.”

Qingyan menatap seluruh keluarga itu satu per satu.

Lalu ia sadar sesuatu.

Selama ini ia bukan anak bagi mereka.

Ia hanya mesin uang.

Malam turun perlahan.

Qingyan mengunci diri di kamar sempitnya. Kamar yang bahkan lebih kecil dari ruang ganti milik adiknya.

Ia duduk di lantai sambil menatap hujan di jendela.

Telepon genggamnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari sahabat lamanya, Ning Xia.

Aku dengar keluargamu mau menjodohkanmu. Kau baik-baik saja?

Qingyan menatap layar lama sebelum membalas.

Tidak.

Air mata yang ia tahan seharian akhirnya jatuh.

Ia tidak menangis keras. Hanya diam sambil memeluk lutut sendiri.

Kadang, orang yang paling lelah bukan yang bekerja paling berat.

Tapi yang berjuang sendirian.

Telepon bergetar lagi.

Kalau kau mau lari, datang ke rumahku sekarang.

Qingyan menutup mata.

Lari?

Ia memikirkannya.

Namun jika ia lari, keluarga itu akan mengejar Ning Xia. Mereka akan membuat keributan. Mereka akan menghancurkan hidup orang lain seperti mereka menghancurkan hidupnya.

Ia mengetik pelan.

Terima kasih. Tapi aku akan hadapi.

Setelah mengirim pesan itu, Qingyan berdiri.

Ia membuka lemari, mengambil gaun putih lama peninggalan neneknya.

Jika mereka ingin menjualnya...

Maka setidaknya ia akan pergi dengan kepala tegak.

Keesokan malam, Hotel Imperial terang benderang.

Mobil mewah berjejer di depan pintu masuk. Musik piano mengalun di lobi. Tamu-tamu elit datang dengan pakaian mahal dan senyum palsu.

Keluarga Lin tampak paling antusias.

Ibunya mengenakan gaun merah menyala.

Ayahnya tersenyum lebar.

Adiknya sibuk mengambil foto untuk media sosial.

Sementara Qingyan berjalan di belakang mereka seperti bayangan.

Ia memakai gaun putih sederhana. Cantik, tapi dingin.

Mereka dibawa ke ballroom lantai tiga.

Namun saat pintu terbuka, Qingyan langsung merasa ada yang aneh.

Ruangan itu kosong.

Tidak ada tamu.

Tidak ada keluarga Zhang.

Tidak ada pesta.

Hanya satu meja panjang di tengah ruangan... dan satu pria duduk sendirian di ujung sana.

Ia mengenakan setelan hitam sederhana.

Tubuh tinggi.

Bahu lebar.

Wajah tampan yang terlalu tenang untuk tempat seperti ini.

Tatapannya dingin, tajam, dan sulit ditebak.

Keluarga Lin berhenti melangkah.

Ayah Qingyan berdeham gugup.

“Maaf... kami datang untuk acara pertunangan dengan Tuan Zhang.”

Pria itu meletakkan cangkir tehnya perlahan.

“Dibatalkan.”

“Apa?” Ibunya menjerit. “Mana bisa dibatalkan?!”

Pria itu menatap mereka tanpa ekspresi.

“Aku membeli haknya.”

Semua orang membeku.

Ayah Qingyan tertawa canggung.

“Tuan bercanda?”

Pria itu mengangkat satu jari.

Seorang pria tua berjas abu-abu masuk membawa koper logam.

Koper dibuka.

Di dalamnya tersusun batangan emas dan dokumen bank.

“Satu miliar,” kata pria tua itu datar. “Tunai dan legal.”

Ibunya hampir pingsan.

Adiknya menutup mulut.

Ayah Qingyan gemetar.

“Kau... kau siapa?”

Pria di kursi itu bangkit perlahan.

Setiap langkahnya membuat ruangan terasa makin sunyi.

Ia berhenti tepat di depan Qingyan.

Jarak mereka hanya satu lengan.

Qingyan mendongak menatapnya, menahan diri agar tidak mundur.

Pria itu jauh lebih mengintimidasi dari siapa pun yang pernah ia temui.

Namun anehnya... matanya tidak menjijikkan seperti pria-pria lain yang menatap perempuan sebagai barang.

Matanya dingin.

Tapi bersih.

“Aku Gu Beichen,” katanya tenang.

Nama itu terdengar asing.

Namun entah kenapa, semua orang di ruangan langsung pucat.

Pria tua di belakangnya menunduk hormat.

Ayah Qingyan buru-buru ikut menunduk meski tak tahu kenapa.

“Jadi... Tuan Gu yang ingin menikah dengan putri kami?”

Beichen menatap Qingyan, bukan ayahnya.

“Bukan.”

Ibunya berkedip bingung.

“Lalu?”

Pria itu memasukkan satu tangan ke saku celana.

“Aku datang membeli seseorang yang sedang dijual.”

Wajah keluarga Lin memerah.

Qingyan menahan napas.

Beichen melanjutkan dengan suara datar yang justru lebih tajam dari bentakan.

“Dan barang yang kalian jual... tidak akan kembali ke tangan kalian.”

Ayah Qingyan maju setengah langkah.

“Tuan Gu, maksud Anda—”

Dua pria berpakaian hitam masuk dan berdiri di kanan kiri ayahnya.

Sekali pandang, jelas mereka bukan pengawal biasa.

Beichen menoleh sedikit.

“Mulai malam ini, seluruh utang keluarga Lin dibekukan.”

Ayah Qingyan membelalak.

“Apa?!”

“Rumah kalian disita.”

Ibunya menjerit.

“Tidak mungkin!”

“Rekening kalian diaudit.”

Adiknya mulai menangis.

“Kau tidak bisa melakukan ini!”

Beichen akhirnya tersenyum tipis.

Senyum yang lebih menakutkan daripada marah.

“Aku bisa.”

Ia lalu menatap Qingyan lagi.

“Mau tetap di sini...”

Tangannya terulur ke arahnya.

“Atau ikut denganku?”

Ruangan hening total.

Qingyan melihat tangan itu.

Lalu melihat keluarganya yang selama ini menghisap hidupnya.

Untuk pertama kali sejak bertahun-tahun...

Ia merasa punya pilihan.

Dan ia mengambilnya.

Qingyan meletakkan tangannya di telapak pria itu.

“Aku ikut.”

Beichen menggenggamnya erat.

Lalu tanpa menoleh ke belakang, ia membawa Qingyan keluar dari ballroom.

Di belakang mereka, suara teriakan keluarga Lin menggema panik.

Namun Qingyan tidak menoleh.

Tidak sekali pun.

Karena saat pintu lift tertutup, ia sadar satu hal.

Ia mungkin baru saja lolos dari neraka.

Atau...

baru masuk ke neraka yang jauh lebih besar.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!