NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Bel pergantian jam berbunyi, menandakan kegiatan perkuliahan hari ini telah usai. Dinda, Angel, dan Mira berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Rencana mereka adalah mampir sebentar ke kafe tempat Dinda bekerja, sekedar membeli minum .

Wajah Dinda terlihat lebih cerah dibandingkan pagi tadi. Dukungan sahabat dan perhatian Samudra benar-benar membuatnya merasa lebih berharga.

Namun, kebahagiaan itu seketika terganggu saat mereka melewati area parkir motor. Dari balik tiang listrik, Sasha dan gengnya muncul menghadang jalan mereka. Wajah Sasha terlihat sangat murka, matanya melotot penuh kebencian.

Sasha berjalan mendekat dengan langkah angkuh, diikuti oleh tiga orang anak buahnya.

"Halah... senang-senang banget sih lo Din! Jangan kepedean dulu deh ya!"

Dinda berhenti, mencoba tetap tenang. "Ada apa lagi Sash? Kami mau pulang."

Sasha tertawa sinis lalu menatap Dinda dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan pandangan menghina.

"Pulang? Mau pulang ke gubuk lo? Atau mau cari perhatian lagi sama Samudra? Dengerin ya lo baik-baik Din!"

Sasha mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada mengancam.

 "Jangan terlalu berharap lebih ya! Samudra itu cuma lagi kasihan doang sama lo! Dia gak mungkin suka sama cewek miskin, cupu, dan pembawa sial kayak lo! Lo itu gak setara sama dia!"

 "Iya nih! Kak Samudra itu masa depan cerah, anak orang kaya, idola kampus! Kalau sama lo, dia bisa jatuh citranya! Mending lo sadar diri dan JAUHI DIA!" timpal Santi .

Sasha menunjuk dada Dinda dengan kasar.

"Gue kasih peringatan terakhir! menjauh lo dari sisi Samudra! Berhenti manis-manis sama dia! Kalau lo nekat dan masih berani deketin dia, lo bakal nyesel seumur hidup! Gue bakal bikin hidup lo di kampus ini neraka! Lo ngerti gak?!"

Angel dan Mira sudah siap melawan, tapi Dinda menahan tangan mereka. Dinda menatap mata Sasha dengan tajam, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

 "Dengerin ya Sasha. Aku gak pernah nyari perhatian Samudra. Dia yang datang dan ngebela aku karena dia orang baik . Dan soal perasaan... itu hak Samudra, bukan hak lo buat ngatur."

Dinda menarik napas panjang, lalu berkata tegas.

 "Aku gak akan menjauh. Selama kita temenan dan selama dia mau berteman sama aku, aku gak bakal lari cuma karena ancaman lo. Lo mau bikin hidup aku susah? Silakan! Tapi inget ya... Aku Dinda yang gak gampang dijatuhin cuma karena omongan orang kayak lo!"

Sasha kaget karena Dinda berani melawan. "HAH?! LO BERANI YA?!"

"Udah ah sana pergi! Jangan ngerusuh! Kalian itu cuma iri doang! Iri karena Dinda lebih cantik alami, iri karena Samudra lebih milih temenan sama Dinda daripada sama kalian yang hatinya busuk!"

 "Bener! Minggir jalan! Atau kita teriakin sekarang juga biar samudra dengar dan datang ke sini !" ancam angel

Melihat Dinda dan teman-temannya tidak gentar malah siap melawan, Sasha dan gengnya menjadi ciut. Mereka tidak mau masalah ini makin besar dan sampai ke telinga dosen atau Samudra.

Sasha mendengus kasar. "Hhh! Dasar kurang ajar! Lo tunggu aja ya Din! Belum selesai urusan kita!"

Akhirnya dengan wajah dongkol, Sasha dan kelompoknya pergi meninggalkan tempat itu sambil menghentakkan kakinya dan menggerutu kesal .

Angel menghela napas lega. "Waduhh... Berani banget ya lo tadi Din! Gue kira lo bakal takut!"

Dinda tersenyum tipis. "Dulu mungkin aku takut. Tapi sekarang aku sadar, kalau kita tunjukin rasa takut, mereka makin semangat ngerjain kita. Lebih baik kita hadapin aja."

 "Nah itu baru temen gue! Tapi beneran deh Din, hati-hati ya. Sasha itu orangnya dendam dan licik. Siapa tau dia ngelakuin hal jahat pas kita gak lihat."

"Iya aku ngerti. Makasih ya guys. Yuk sekarang kita ke kafe! Aku harus siap-siap kerja nih!" ucap Dinda dengan nada lembut .

Mereka bertiga pun tertawa dan berjalan pergi, meninggalkan rasa kesal yang membara di hati Sasha yang berjanji akan membalas Dinda suatu saat nanti.

 Baru saja Sasha dan gengnya hilang dari pandangan, tak lama kemudian munculah sosok tinggi besar yang sangat dikenal di kampus itu. Samudra berjalan mendahului Bimo dan Raka. Wajahnya tampak sedikit khawatir seolah baru saja mencari-cari keberadaan Dinda.

Mereka langsung berhenti tepat di hadapan Dinda, Angel, dan Mira.

 "Waduh... untung kalian belum pergi. Kita kira kalian kabur duluan." ujar Bimo .

Raka tersenyum lebar. "Gini nih guys, kita berniat baik nih. Kita mau antar kalian pulang atau mau ke mana gitu. Biar aman, soalnya tadi kan udah ada yang ngancam-ngancam gitu. Kasihan kalau kalian di jalan ada apa-apa."

Angel dan Mira langsung berbinar-binar. Siapa sih yang nolak diantar pulang pake mobil-mobil mewah punya Trio Ganteng itu?

 "Wah serius Kak? Wah makasih banget dong! Kebetulan kaki gue udah pegal nih jalan jauh." ujar angel .

 "Iya nih! Hoki banget kita hari ini! Yuk Din, ayo ikut aja! Kita dianter sampe kafe kan enak!" sahut mira .

Namun Dinda justru menggeleng pelan dengan senyum sopan namun tegas. Ia melangkah maju sedikit menghadap Samudra.

"Makasih banyak ya Kak Samudra, Kak Bimo, Kak Raka. Tapi... kami nolak dulu deh. Gak usah dianterin kok." tolak dinda .

Samudra mengerutkan keningnya. "Loh kenapa Din? Lagian kalian kan mau ke kafe, sekalian aja lewat jalan kita. Gak merepotkan kok, serius."

Dinda menggeleng lagi, wajahnya terlihat tulus.

 "Enggak Kak, justru itu yang bakal bikin aku nggak enak hati. Kalian kan pasti ada kesibukan lain atau mau pulang istirahat. Aku gak tega kalau harus nyusahin dan ngehambat waktu kalian cuma buat nganterin kami."

Dinda menunduk sedikit sopan.

 "Lagipula jarak ke kafe juga nggak terlalu jauh kok. Kami bisa naik ojek online atau angkot biasa. Nanti kalau udah selesai kerja juga aku bisa pulang sendiri. Jadi kalian gak usah pikirin kami ya. Pulang aja duluan."

Samudra menatap wajah Dinda lekat-lekat. Ia semakin kagum dan menyukai gadis ini. Di zaman sekarang, jarang ada cewek yang mau menolak kemudahan dan kemewahan demi tidak mau merepotkan orang lain. Dinda benar-benar gadis yang sederhana dan punya harga diri tinggi.

Bimo berbisik pelan ke telinga Raka. "Gila ya... makin ganteng aja kelakuannya. Gak matre sama sekali. Pantesan Sam klepek-klepek sama dia."

Raka: mengangguk setuju. "Bener bro. Langka."

Samudra tersenyum lembut, ia tidak memaksa karena tahu sifat Dinda memang begitu.

Samudra: "Ya sudah... kalau itu permintaanmu, aku hargai. Tapi ingat ya Din, kalau di jalan ada apa-apa, atau ada yang berani ganggu kalian lagi, langsung telpon aku. Dimanapun aku berada, aku bakal datang secepatnya."

Dinda tersenyum manis, matanya menyipit cantik. "Iya siap Kak! Makasih banyak ya perhatiannya."

"Sama-sama. Hati-hati di jalan ya cantik..." ucapnya pelan namun cukup terdengar oleh mereka semua, membuat Dinda langsung tersipu malu.

Angel dan Mira: "Cieee cieee!!"

Akhirnya Samudra, Bimo, dan Raka pamit undur diri menuju mobil mereka. Sebelum masuk mobil, Samudra sempat menoleh ke belakang sekali lagi, memastikan Dinda dan teman-temannya berjalan dengan aman.

 Di perjalanan menuju kafe...

"Ya ampun Din... lo itu beneran deh! Kesempatan emas dianter pake mobil mewah sama cowok idaman ditolak mentah-mentah! Rugi tau gak sih?!"

 "Iya nih! Padahal kan enak banget rasanya dianterin kayak putri raja! Tapi ya sudahlah... emang sifat lo emang gitu, gak mau ngerepotin orang. Tapi bener deh, Samudra itu sayang banget sama lo Din. Mata nya kaga lepas dari lo tadi!"

Dinda tertawa kecil sambil memegangi pipinya yang terasa panas.

 "Udah ah kalian... jangan dibesar-besarin dong. Kita kan cuma temen. Yuk cepet jalan, nanti telat loh aku masuk kerjanya!" ajak dinda merasa malu .

Mereka bertiga pun tertawa riang melanjutkan perjalanan, membawa kenangan manis dari kampus hari ini.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!