NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Dikota B.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Xin Yi melangkah keluar pagar. Di sana, sebuah mobil hitam mengkilap terparkir. Benda itu terasa begitu asing, begitu besar, dan begitu mewah dibandingkan apa pun yang pernah ia lihat di pulau ini.

Di sini, alat transportasi hanyalah sepeda ontel atau truk terbuka milik kontraktor desa yang sesekali lewat untuk mengantar warga ke kota terdekat. Tapi ini? Ini seperti mobil dari dunia lain.

Seorang pria berkemeja rapi dengan kacamata tebal segera membukakan pintu untuknya. Ia hanya membungkuk singkat.

"Silakan masuk, Nona Lin. Saya Wang asisten Tuan Besar."

Xin Yi hanya mengangguk pelan. Sifatnya yang pendiam dan tertutup membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk bertanya.

Banyak pertanyaan berputar di kepalanya: Siapa ayahnya sebenarnya? Mengapa ia baru dicari sekarang? Mengapa selama ini ia dibiarkan hidup sederhana di sini? Namun, mulutnya terkunci rapat. Rasa canggung dan kebingungan bercampur menjadi satu.

Ia masuk ke dalam kabin mobil yang dingin karena AC dan berbau wangi parfum mahal. Duduk di sebelah jendela, ia melambaikan tangan terakhir kali pada sosok Nenek yang semakin mengecil dan akhirnya hilang tertelan jalanan berbatu.

Perjalanan pun dimulai. Mobil itu melaju sangat kencang, meninggalkan debu dan pemandangan laut biru, menembus hutan menuju pelabuhan, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Ibu Kota.

Getaran halus mobil dan suasana yang hening perlahan menguasai kesadaran Xin Yi. Mata gadis itu terasa berat; rasa lelah bercampur dengan pikiran yang kacau membuatnya tak sadar perlahan terlelap.

Kepalanya menyandar lembut di sandaran kursi, napasnya teratur, dan wajah polosnya terlihat begitu damai dalam tidur.

Dari kaca spion tengah, Wang Te diam-diam memperhatikan sosok di kursi belakang itu. Tatapannya penuh selidik dan sedikit kaget.

Selama bertahun-tahun mengabdi pada Keluarga Xin, seluruh dunia tahu bahwa Tuan Xin hanya memiliki satu putra mahkota klan itu. Tidak ada yang pernah mendengar, apalagi melihat, bahwa sang Tuan memiliki seorang putri. Keberadaan gadis ini adalah rahasia terpendam yang bahkan tak tersentuh oleh gosip elit kota.

Namun, melihat gadis yang tertidur lelap itu—garis wajahnya yang halus, meski terselimuti kulit yang sedikit kecokelatan karena matahari, masih menyisakan kemiripan yang tak bisa disangkal dengan wajah tuannya.

Wang Te menarik napas panjang, lalu kembali menatap lurus ke jalanan aspal yang memanjang di depan.

Jadi, benar adanya... Tuan Besar memang memiliki seorang putri. Dunia akan gempar jika tahu rahasia ini akhirnya terungkap.

Hening. Begitu sunyi hingga hanya terdengar suara mesin dan napas pelan gadis itu, seolah menandakan bahwa kehidupan lamanya telah tertinggal jauh di belakang, dan badai besar di dunia baru sedang menunggunya di depan mata.

Perlahan, kelopak mata Xin Yi terbuka. Kesadarannya kembali seiring dengan hilangnya getaran halus yang biasa terasa saat mobil melaju. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan yang masih sedikit kabur.

Mobil sudah berhenti total.

Secara refleks, ia menoleh ke arah jendela. Napasnya tercekat sejenak. Di luar sana, barisan gedung pencakar langit menjulang tinggi—megah dan kokoh, menembus langit biru. Pemandangan yang selama ini hanya bisa ia saksikan lewat layar televisi kuno milik Nenek kini hadir nyata di depan matanya.

Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ada rasa takjub dan terkejut melihat betapa besar dan modernnya dunia ini dibandingkan pulau kecil tempatnya tinggal.

Namun, sifatnya yang tenang dan pendiam membuatnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan. Ia hanya memandang hening, menyimpan semua rasa kagum itu di dalam hati.

Tak lama kemudian, pintu sisi penumpang depan terbuka. Wang Te masuk kembali, tangan kanannya membawa beberapa kantong plastik berisi bungkusan makanan. Ia menoleh ke belakang dan menyodorkan satu set kotak makan kepada gadis itu.

"Silakan makan, Nona. Perjalanan masih cukup jauh. Kita butuh waktu sekitar satu jam lagi untuk sampai ke pelabuhan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandara Kota B," ujarnya dengan nada datar namun sopan.

Xin Yi menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Tuan Wang," ucapnya pelan, suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur.

Ia membuka penutup kotak makan itu. Aroma harum masakan yang masih mengepul langsung tercium. Di dalamnya tersusun rapi nasi putih, sayuran, dan sepotong ikan kukus dengan saus yang terlihat sangat lezat—hidangan yang jauh berbeda dengan lauk sederhana yang biasa ia makan di pulau.

Tanpa banyak bicara, Xin Yi mulai menyantap makanan itu perlahan. Perutnya yang keroncongan sejak tadi akhirnya terisi.

Sesaat setelah ia selesai menutup kembali kotak makan yang sudah kosong, mesin mobil kembali dinyalakan. Kendaraan mewah itu pun kembali melaju, meninggalkan area restoran dan menyusuri jalan raya lebar yang sibuk, semakin menjauh dari tempat asalnya menuju takdir yang belum ia ketahui.

Di sisi lain kota, di lantai tertinggi Rumah Sakit Huo, suasana di dalam Ruang VIP terasa begitu dingin dan kaku, sebanding dengan udara pendingin ruangan yang menyelimuti setiap sudutnya.

Di atas ranjang mewah itu, terbaring seorang pria paruh baya yang memasuki usia lima puluhan tahun—Tuan Xin. Wajahnya memang tampak pucat dan lelah, namun matanya masih tajam dan penuh wibawa. Fisiknya mungkin sedang lemah, namun sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu ajal. Kesan "sekarat" yang terdengar seolah hanya alasan untuk memanggil seseorang pulang.

Di sofa empuk di sudut ruangan, duduk seorang wanita seusianya dengan wajah yang masam dan penuh ketidakpuasan. Alisnya terangkat tinggi, nada bicaranya terdengar ketus dan meremehkan.

"Kakak benar-benar serius ingin membawa gadis desa itu kembali ke keluarga ini?" tanyanya tajam, matanya menatap tajam ke arah Tuan Xin. "Selama ini kita hidup tenang; semua orang tahu Xin hanya punya satu anak laki-laki. Kenapa tiba-tiba harus mengganggu ketenangan dengan membawa anak haram itu masuk?"

Tuan Xin tidak langsung menjawab. Ia perlahan memutar kepalanya, menatap adik perempuannya itu dengan tatapan tenang namun tak terbantahkan. Tidak ada amarah yang meledak, hanya ketegasan seorang pemimpin keluarga.

"Aku sudah memerintahkan Wang Te untuk menjemputnya," ucapnya pelan namun terdengar berat. "Dia adalah darah dagingku. Selama tujuh belas tahun aku membiarkannya hidup jauh di sana—itupun sudah cukup. Sekarang, waktunya dia pulang."

Wanita itu mendengus kesal, memalingkan wajah dengan napas memburu. Ia tak terima, namun tak kuasa menentang keputusan kakaknya.

Tuan Xin kembali menatap langit-langit kamar, jemarinya mengepal perlahan di atas selimut. Xin Yi... Ayah sudah membiarkanmu tumbuh terlalu lama di tempat yang sunyi. Maafkan Ayah, Nak. Sekarang, mari kita hadapi dunia ini bersama.

Pendaratan pesawat terasa begitu singkat. Begitu roda menyentuh landasan, Xin Yi tidak diberi waktu sekejap pun untuk beristirahat atau sekadar mengatur napas. Ia langsung digiring menuju mobil yang sudah menunggu, melaju kencang menuju Rumah Sakit Huo.

Sepanjang perjalanan, tubuhnya terasa berat dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. Namun, bibirnya tetap terkunci rapat—tidak ada keluhan, tidak ada pertanyaan. Di benaknya hanya tertanam satu pikiran: Ayah sedang sekarat. Waktunya mungkin tidak banyak. Karena itulah, ia tidak mau membuang waktu untuk hal-hal remeh.

Pintu ruang VIP terbuka.

Xin Yi melangkah masuk dengan langkah pelan namun pasti. Matanya langsung tertuju pada sosok pria di atas ranjang. Namun, detik itu juga, seluruh kekhawatirannya berubah menjadi kebingungan, lalu berubah menjadi rasa kecewa yang menusuk.

Pria itu duduk bersandar pada bantal tinggi. Wajahnya memang pucat, tapi matanya terlihat tajam dan penuh semangat. Ia bahkan bisa menggerakkan tangannya dengan bebas dan menatap sekeliling dengan jelas—sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang mendekati ajal.

Xin Yi berdiri mematung di dekat pintu. Hatinya terasa sesak. Bukan karena ia berharap ayahnya sakit parah, melainkan karena ia merasa... dibohongi. Ia ditarik paksa dari rumah neneknya, dibawa ribuan kilometer dengan alasan mendesak, padahal kenyataannya tidak sedramatis itu.

"Xin Yi, kemarilah." Suara berat Tuan Xin memecah keheningan.

Dengan langkah berat, gadis itu berjalan mendekat dan berhenti di sisi ranjang.

Tangan besar pria itu terulur, menggenggam tangan kecil Xin Yi yang sedikit kasar karena terbiasa bekerja. Wajahnya menampakkan ekspresi haru dan bangga.

"Akhirnya Ayah bisa melihatmu..." ucapnya lembut, matanya menelusuri setiap detail wajah gadis itu. "Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Sangat cantik... persis seperti ibumu, persis seperti mendiang ibumu."

Pujian itu keluar dengan tulus dari mulut Tuan Xin. Namun, bagi Xin Yi, kata-kata itu terdengar begitu hampa.

Ia hanya diam. Tidak ada senyum, tidak ada rasa bahagia, bahkan tidak ada air mata haru. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Pujian itu tidak sampai menyentuh hatinya sedikit pun. Ia menatap pria di hadapannya ini—orang yang seharusnya memiliki ikatan batin paling kuat dengannya.

Tapi anehnya... Xin Yi tidak merasakan apa-apa.

Pria ini terasa asing. Bukan seperti seorang Ayah, melainkan lebih seperti seorang paman atau tetangga yang jarang ditemui. Terlihat dekat secara fisik, namun jarak di antara hati mereka terasa begitu luas, dingin, dan tak terjembatani.

Ini... benarkah Ayahku? batinnya bertanya, sementara tangannya masih dibiarkan digenggam, namun jiwanya tetap berdiri sendiri, terpencil.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!