Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab
Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: SINGGASANA DI ATAS RERUNTUHAN
Banyuwangi menyambut Nata dengan aroma laut yang kuat dan kesunyian yang kontras dengan kekacauan di Bali. Di sebuah vila tersembunyi milik Jenderal Surya, Nata berdiri di balkon, menatap helikopter yang baru saja mendarat. Ia melihat sosok yang sangat ia kenal turun dengan langkah terburu-buru: Tuan Lim, perwakilan pemerintah Singapura yang selama ini menjadi sekutu sekaligus rival cerdiknya.
"Kamu gila, Nata," Tuan Lim memulai pembicaraan bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke ruangan. "Kamu tidak hanya menghancurkan Blackstone. Kamu menghancurkan sistem moneter yang sudah ada sejak Perjanjian Bretton Woods. Dunia sedang panik, dan Singapura... pelabuhan kami macet total karena semua sistem kliring dolar membeku."
Nata tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada cakrawala. "Jika sebuah sistem bisa runtuh hanya karena satu algoritma, maka sistem itu memang sudah tidak layak dipertahankan, Tuan Lim. Saya hanya mempercepat kematian yang sudah pasti."
"Dan apa sekarang? Kamu ingin menjadi raja dunia?"
Nata berbalik, menatap Lim dengan tajam. "Saya ingin menjadi perisai. Saya sudah menyiapkan kuota likuiditas khusus untuk Singapura melalui Aquatic Nexus. Jika pemerintah Anda setuju untuk melakukan kliring perdagangan menggunakan mata uang kita sendiri—bukan dolar—maka pelabuhan Anda akan kembali bergerak dalam satu jam."
Tuan Lim terdiam. Ia menyadari bahwa pilihan yang tersisa hanyalah tenggelam bersama dunia lama atau berenang bersama Nata menuju dunia baru.
Di dalam vila, Nata mendapati Elena sedang sibuk di depan layar monitor darurat. Wajahnya tampak sangat tegang, namun bukan karena serangan siber.
"Bos... ada sesuatu yang aneh," Elena berbisik. "Setelah Protokol Nemesis meruntuhkan jaringan The Council, sebuah entitas lain mulai bergerak. Bukan dari kalangan finansial, tapi dari sektor Energi dan Pangan. Mereka menyebut diri mereka 'The Harvester'. Mereka sedang mencoba memborong seluruh pasokan gandum dan beras dunia menggunakan emas fisik yang tidak terdeteksi oleh sistem kita."
Nata mengerutkan kening. "Mereka ingin menciptakan kelaparan massal?"
"Tepat," jawab Elena. "Jika orang-orang tidak bisa makan, mereka tidak akan peduli seberapa canggih sistem Icarus atau seberapa stabil Dinar Digital milikmu. Mereka akan menyerang siapa saja demi sesuap nasi."
Nata mengepalkan tangan. Madame Vivienne mungkin sudah jatuh secara finansial, tapi faksi lain dari elit global ini mulai menggunakan senjata yang paling primitif namun paling efektif: Perut Rakyat.
Sore itu, Nata memanggil Yuda. "Yuda, siapkan pemindahan Kirana dan Arya ke fasilitas rahasia kita di Kalimantan. Tempat itu lebih terisolasi dan memiliki cadangan pangan mandiri untuk sepuluh tahun. Jakarta dan sekitarnya akan menjadi tidak stabil jika krisis pangan ini benar-benar dipicu."
"Bagaimana denganmu, Bos?" tanya Yuda.
"Aku harus pergi ke Kazakhstan lagi," jawab Nata. "Satu-satunya cara menghentikan The Harvester adalah dengan memantau pergerakan logistik mereka dari udara melalui satelit baru yang lebih spesifik. Kita butuh Icarus-3, satelit dengan sensor termal yang bisa melacak gudang-gudang penimbunan mereka di seluruh dunia."
Namun, sebelum Nata melangkah keluar, Kirana menarik ujung jasnya.
"Kak... jangan pergi lagi," pintanya dengan suara parau. "Kakak sudah menang, kan? Kenapa kita masih harus lari dan bersembunyi?"
Nata berlutut di depan adiknya, memegang kedua bahunya. "Kirana, ini adalah pertempuran terakhir. Jika Kakak berhasil mengamankan jalur pangan dunia, tidak akan ada lagi yang bisa mengancam kita. Kakak janji, ini yang terakhir."
Nata tahu dia berbohong tentang "yang terakhir", karena kekuatan selalu mengundang musuh baru. Tapi di tahun 2026 ini, ia telah menjadi sosok yang jauh berbeda dari mahasiswa yatim piatu di tahun 2005. Ia adalah arsitek dari sebuah tatanan yang sedang lahir, dan ia tidak akan membiarkan bayangan kelaparan menghancurkan menara yang baru saja ia bangun.
"Elena," panggil Nata saat ia berjalan menuju landasan helikopter. "Aktifkan 'Protokol Agraria'. Kita akan mulai mendanai petani lokal di seluruh nusantara secara langsung melalui Prawira Pay. Jika dunia ingin kelaparan, Indonesia harus menjadi lumbung yang tak terkalahkan."
Babak baru telah dimulai. Bukan lagi soal angka di layar saham, tapi soal kedaulatan di atas tanah dan piring rakyat. Nata Prawira siap berperang melawan mereka yang mencoba memperdagangkan nyawa manusia demi kekuasaan.
Bersambung.....
Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa like ❤️ ya!
Tinggalin komentar juga, aku pengen tahu pendapat kamu!
Dan vote-nya bantu banget supaya cerita ini terus lanjut 🔥