NovelToon NovelToon
POSESIF

POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga / LGBTQ
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Na_1411

Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.

"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"

suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.

"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."

kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.

"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."

Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya lima hari.

“Pa, kita ke beli mainannya kapan…?” Rengek eric yang sudah mulai merasa bosan.

“Oh iya, papa sampai lupa. Oke lima menit lagi papa selesai, kamu sabar dulu ya boy…?” Steve mengelus pelan rambut lembut milik eric.

Kepala eric menganguk lemah, dia tahu jika Steve tidak akan pernah ingkar janji dengannya. Pintu di ketuk dari arah luar kantor Steve, suara Steve yang berat terdengar saat mempersilahkan orang tersebut segera masuk kedalam.

Terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi berjalan ke arah Steve, tatapan mata Steve terlihat biasa melihat wanita yang menjadi manager di perusahaan Steve.

“Saya sudah mempersiapkan mobil untuk tuan Steve selama di sini, dan ini kunci mobilnya tuan.”

Terlihat tangan putih dan mulus terulur menyerahkan kunci di atas meja, tatapan mata steve terarah di mana wanita tersebut meletakkan kunci mobilnya.

“Hmm.. terima kasih, kamu boleh pergi.”

Steve yang tidak ingin berlama lama berbicara dengan wanita tersebut segera menyuruhnya pergi, dengan wajah yang tampak lesu wanita itupun segera pergi dan keluar dari dalam kantor Steve.

“Kita pergi sekarang boy.” Ucap Steve segera mengajak eric yang tampak memainkan kedua kakinya.

“Oke, ayo pa. Aku sudah tidak sabar mau beli mainan lego.” Ucap eric terlihat antusias.

Senyuman mengembang dari kedua ujung bibir Steve, dia sekaan mendapat obat penawar rasa capeknya ketika melihat tingkah eric seperti sekarang ini.

“Papa akan belikan mainan lego yang paling besar buat kamu, agar kamu tidak selalu bermain gadget.” Steve merentangkan kedua tangannya, dia berharap agar eric mau dia gendong.

“No… pa… no… no… aku sudah besar, dan aku tidak mau papa menggendong ku seperti anak kecil.”

Penolakan eric membuat Steve tertawa, dengan perlahan Steve menautkan tangannya ke tangan eric.

“Oke… kalau begitu kita jalan sekarang, sebelum matahari tenggelam.” Ajak Steve segera di angguk eric.

Kini kedua laki laki beda usia tersebut terlihat sedang berjalan perlahan menuju ke arah tempat mainan, anak dan anak itu terlihat kompak dengan tujuan mereka.

“Pa, aku mau Leo yang ini.” Tunjuk eric dengan antusias ke rak yang berisi tumpukan mainan Leo yang ada di adalah kardus.

Steve mengacungkan satu jempolnya ke arah eric, dia tidak bisa menolak permintaan anak nya. Pandangan mata Steve mengedar, tujuannya ingin mencari mainan untuk eric selain lego.

Saat eric melihat tumpukan mobil di atas kardus, kedua matanya terpaku menatap laki laki yang sedang berjalan bersama wanita menuju ke rak yang di lihat Steve.

Steve terdiam mematung, dia seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.

“Kak Leon…? Dengan siapa dia….? Wanita itu bukan kak dias.” Batin Steve masih tetap menatap Leon dna wanita yang ada di sampingnya.

“Pa… aku mau yang ini.” Eric menyerahkan mainan pilihannya ke samping Steve.

Steve yang masih fokus menatap Leon seakan tidak mendengar seruan eric, atensinya teralihkan saat eric menarik jas kerjanya.

“Pa… papa…” seru eric terlihat kesal.

Steve terperanjat, terkejut dengan tarikan tangan eric. tatapan mata Steve beralih menatap ke arah eric. Dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya kedepan eric yang tampak mengerucutkan bibirnya.

“Hei boy, kenapa…?” Tanya Steve seakan tidak menyadari kesalahannya.

“Ih… papa… dari tadi aku panggil enggak dengar.” Kesal eric menatap ke arah lain, dia terlihat sangat kesal dengan Steve.

“Oke… oke… papa minta maaf, kamu sudah pilih mainannya…?” Steve mengelus rambut eric perlahan, dia tahu jika tindakannya akan menghilangkan rasa marah eric.

“Aku mau yang ini pa.” Eric mengambil mainan pilihannya dan di serahkan ke depan Steve, tampak senyuman termanisnya Steve berikan ke arah eric.

“Oke, kita bayar dulu. Setelah itu kita makan, oke…” Steve segera berdiri dan beranjak pergi di ikuti dengan eric yang ada di sampingnya.

Langkah cepat eric terlihat begitu mengemaskan, anak kecil itu terlihat sangat senang dengan mainan yang baru saja Steve belikan.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan Steve dan eric. Senyuman terbit di kedua ujung bibir laki laki tersebut.

“Sudah kamu pilih mainan untuk anakmu Clara…?” Tanya Leon menatap Clara.

“Sudah kak, aku akan berikan mainan ini untuk si ka.. dan el.., pasti mereka akan sangat senang. Aku akan bilang kalau om nya yang membelikannya.” Ucap Clara memilih empat kardus mobil mainan yang masih terbungkus rapi.

“Hmm…” jawab Leon seperti biasa tampak dingin.

“Sehabis ini kita makan ya kak, aku lapar banget.” Clara mengelus perut rasanya, dia memberikan isarat ke depan Leon jika dia benar benar lapar.

“Oke, terserah kamu.” Jawab Leon sambil beranjak akan pergi ke arah kasir.

Steve yang kini tengah menikmati makanannya bersama eric, terlihat sangat senang. Celotehan eric terdengar sangat mengemaskan bagi Steve, dan tanpa mereka sadari tatapan orang orang di sekitarnya tampak mengarah ke anak dan ayah tersebut.

“Huh… aku kesal pa, enggak di Singapura enggak di sini. Semua orang selalu pandangi kita, papa sih… kenapa wajah papa sangat tampan.” Gerutu eric terlihat kesal.

“Kamu salah boy, mereka tidak menatap papa. Tapi mereka menatapmu karena kamu terlihat sangat lucu.” Sangkal Steve yang tak ingin eric semakin kesal.

“Benarkah…! Apa aku terlihat lucu…?” Suara eric terdengar antusias.

“Hmm… tentu saja, anak papa adalah anak paling imut dan lucu.” Steve mencubit pipi eric yang terlihat tembam.

“Papa Ish… kebiasaan, aku sudah besar pa. Papa tidak boleh cubit cubit pipi aku lagi, aku tidak mau di anggap anak kecil trus.” Eric mengembulkan kedua pipinya, Steve yang meliaht tingkah eric sampai tertawa, sampai pandangan orang orang kembali terfokus dengan ayah dan anak tersebut.

Leon dan Clara yang berjalan masuk ke resto cepat saja yang sama dengan tempat makan Steve dan eric, terlihat berjalan menuju ke kursi di belakang Steve. Beruntung Steve tidak melihat keberadaan Leon dan Clara saat duduk di belakangnya, kini Leon duduk tepat di belakang Steve. Dia dapat mendengar seluruh obrolan Steve dan eric.

“Pa, kita rencana di sini berapa hari…?” Tanya eric sambil memakan ayam goreng miliknya.

“Sepertinya kita tidak akan lama sayang, empat hari lagi kita pulang.” Ucap Steve menjawab pertanyaan eric.

“Hmm… katanya kita di sini dua minggu, dan papa akan mengajak ku jalan jalan.” Eric mengingatkan janji Steve sebelum mereka sampai di negara Indonesia.

“Maaf sayang, lusa papa harus ke Jepang. Dan papa harap kamu tidak ikut, papa akan menitipkan kamu ke kediaman oma dan opa. Kamu mau…?” Ucap Steve berharap eric mau menuruti keinginannya.

“Oke, aku akan puas in puas in main sama Stevi.”

Steve menatap tajam ke arah eric, dia tidak suka mendengar panggilan eric untuk stevi.

“Sayang… kenapa kamu masih memanggil stevi…? Dia lebih tua dari kamu, dan dia adalah adik papa. Jadi kami harus memanggilnya tante stevi.” Ucap Steve mengingatkan.

“No pa… aku malu jika aku memanggil dia dengan sebutan tante, oma dan opa juga tidak keberatan jika aku panggil stevi.” Eric terlihat cuek, dia tidak peduli dengan peringatan Steve.

Helaan nafas terdengar dari Steve, dan tanpa Steve sadari jika Leon mendengar keresahannya.

“Ternyata banyak yang telah terjadi dengan kamu Steve.” Batin Leon sambil mengepalkan tangannya di atas meja.

1
Vanni Sr
deemi???? ini crta Gay?? kek gni lolosss?? astgaaa bner² gila
Reichan Muhammad: mengerikan,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!