"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Belati di Balik Senyuman
Pagi itu, kediaman Baskara terasa begitu sesak bagi Alea, namun bukan hanya karena ketakutan. Sinar matahari yang menembus jendela ruang makan seolah menelanjangi rahasia yang ia simpan rapat di balik kemeja berkerah tingginya. Alea duduk dengan punggung tegak, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa berat setiap kali bayangan kejadian semalam di SUV hitam melintas. Ia menyentuh lehernya secara refleks; di balik kain itu, ada jejak kemerahan yang ia biarkan Bima buat dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan gelap.
Di hadapannya, Bima menyesap kopi hitam dengan ketenangan seorang predator yang tahu bahwa mangsanya telah menyerah dengan sukarela. Tatapan mata Bima tidak lagi sekadar mengintimidasi; ada binar kemenangan yang sensual setiap kali matanya bertemu dengan mata Alea.
"Alea, kau tampak kurang sehat. Apa istirahatmu terganggu lagi?" Daddy bertanya dengan nada cemas sembari membalik halaman korannya.
"Hanya sedikit kurang tidur, Dad," jawab Alea. Suaranya sedikit serak, sebuah detail yang hanya dipahami oleh Bima sebagai sisa dari rintihan Alea di dalam mobil semalam.
"Mungkin karena Alea terlalu memikirkan tugasnya, Baskara," timpal Bima dengan suara profesional yang berat. "Atau mungkin karena dia terlalu sering digoda oleh teman-temannya yang tidak tahu cara menjaga jarak."
Daddy tertawa kecil, mengira itu hanya bentuk proteksi seorang paman. "Bicara soal teman, Revan akan datang untuk makan malam nanti. Dia bilang ingin meminjam buku referensi yang kau miliki, Bima. Aku harap kau tidak keberatan membantu anak tunggal kolega bisnis kita itu."
Bima meletakkan cangkir kopinya dengan denting porselen yang tajam. Ia menatap Alea, menantikan reaksi gadis itu. Alea merasakan gejolak di dadanya, campuran antara rasa bersalah pada Daddy dan gairah yang menyakitkan saat menyadari Bima akan kembali menunjukkan taringnya malam ini. "Tentu tidak, Baskara. Aku justru sangat menantikan kehadiran pemuda yang... sangat percaya diri itu."
**Malam Hari.**
Meja makan tertata dengan kemewahan yang mencekik. Revan datang dengan pakaian bermerek dan jam tangan mewah, memancarkan aura anak tunggal kaya raya yang cerdas. Namun, bagi Alea, kehadiran Revan kini terasa seperti gangguan bagi "dunia rahasia" yang ia bangun bersama Bima. Revan tidak takut pada gertakan Bima karena ia merasa memiliki kecerdasan untuk membongkar apa yang salah di rumah ini.
"Terima kasih atas undangannya, Om Baskara," ujar Revan sopan. Ia menoleh ke arah Bima dan memberikan anggukan formal, namun matanya menatap tajam, mencari celah.
Bima menyambutnya dengan senyum miring. "Sama-sama, Revan. Aku dengar ayahmu baru saja memenangkan tender besar. Prestasi yang luar biasa."
"Terima kasih, Paman Bima. Ayah saya selalu mengajarkan bahwa untuk menjaga sesuatu yang berharga, kita harus memiliki bukti dan integritas yang kuat," balas Revan dengan nada tenang namun mengandung makna ganda yang menusuk. "Terkadang, orang-orang merasa aman di balik topeng mereka, tanpa sadar bahwa ada mata yang selalu mengamati setiap celahnya."
Alea merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Revan sedang berusaha mengumpulkan potongan bukti untuk "menyelamatkannya", tapi Revan tidak mengerti bahwa Alea sendiri yang memilih untuk menyerahkan dirinya pada Bima.
Di bawah meja, Bima mulai beraksi. Ia menjepit kaki Alea dengan kaki kokohnya. Namun kali ini, Alea tidak meronta. Ia justru membalas tekanan itu dengan pelan, sebuah tindakan penyerahan diri yang terang-terangan di bawah hidung Daddy.
"Alea, kau tampak sangat tenang malam ini. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Revan, matanya terus menyelidiki ekspresi Alea.
"Aku merasa sangat baik, Revan. Terima kasih sudah khawatir," jawab Alea dengan senyum manis yang dipaksakan. Ia menatap Revan, namun pikirannya tertuju pada tangan Bima yang kini berani menyentuh lututnya di bawah meja, tersembunyi dari pandangan Daddy.
Bima, yang menyadari perlawanan tenang dari Revan, mulai menyusun serangan baliknya melalui jalur keluarga Revan. "Kau tahu, Revan," Bima memulai sembari menyesap *wine*-nya. "Dalam bisnis, satu kesalahan kecil dari orang tua bisa meruntuhkan masa depan anak tunggalnya dalam sekejap. Sangat disayangkan jika ambisi seorang pemuda justru menjadi beban bagi keluarganya sendiri."
Revan hanya tersenyum tipis, tidak gentar sama sekali terhadap ancaman terselubung itu. "Saya percaya kebenaran adalah investasi terbaik, Paman. Dan terkadang, investasi itu butuh waktu untuk memberikan hasil."
Makan malam berakhir dengan ketegangan yang menggantung. Saat Revan berpamitan, ia sempat membisikkan sesuatu pada Alea: "Aku sedang menyatukan potongan-potongan itu, Alea. Jangan biarkan dia menghancurkanmu."
Alea hanya bisa terdiam melihat punggung Revan yang menjauh. Namun, begitu Daddy masuk ke ruang kerja, Alea tidak lagi berdiri kaku. Ia justru berbalik dan menatap Bima yang kini berdiri dengan aura kemenangan.
Bima melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Alea secara posesif. "Kau dengar apa yang pahlawanmu katakan? Dia pikir dia bisa menyelamatkanmu dariku."
Alea melingkarkan tangannya di leher Bima, membiarkan jemarinya bermain di rambut tengkuk pria itu, sebuah keberanian yang tumbuh karena adiksi. "Dia tidak tahu kalau aku tidak ingin diselamatkan, Bima."
Bima tertawa rendah, suara yang sangat memabukkan bagi Alea. Ia menyudutkan Alea ke dinding perpustakaan yang gelap. "Kau sangat berani malam ini, Little Bird. Kau berani membalas sentuhanku di depan ayahmu."
"Aku hanya memberikan apa yang kau minta," bisik Alea, matanya sayu karena penyerahan diri yang total.
"Besok, setelah aku resmi pindah ke rumah baru, tidak akan ada lagi Baskara yang menghalangi kita," desis Bima sembari mencium leher Alea dengan rakus. "Aku sudah menyiapkan kehancuran untuk keluarga Revan. Satu panggilan telepon dariku, dan ayahnya akan menghadapi masalah besar. Itu harga yang harus dia bayar karena mencoba mengusik milikku."
Alea memejamkan mata, merasakan kepuasan gelap saat menyadari betapa Bima sangat terobsesi padanya. "Pindahlah secepatnya, Bima. Aku ingin bermain di tempat di mana aku tidak perlu bersembunyi lagi dari Daddy."
Bima menyeringai, sebuah binar kepuasan terpancar di matanya. "Aku akan memanjakanmu setiap kau disana, Alea. Di rumah baruku nanti, kau akan menjadi milikku seutuhnya."
Malam itu berakhir dengan kesepakatan gelap. Bima akan pindah lusa nanti, dan Alea telah bersiap untuk menyerahkan sisa kebebasannya demi berada di dalam sangkar emas yang dibangun oleh pria yang paling ia cintai sekaligus ia takuti tersebut. Di luar, hujan turun perlahan, menyamarkan rahasia terlarang yang tumbuh semakin subur di rumah keluarga Baskara.