NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

 

Jakarta malam itu basah. Lampu jalan redup, suara kendaraan makin jarang. Lyra jalan sendirian, langkahnya pelan tapi hati resah. HP-nya mati total, baterai habis, jadi nggak ada cara buat telepon supir atau Paul.

Tumben banget, cewek pewaris keluarga Raven jalan di trotoar kumuh kayak gini. Gaun kampusnya masih rapi, rambut panjang hitamnya nempel di pipi karena gerimis.

Dari ujung jalan, tiga cowok nongol. Wajah kusut, rokok masih nempel di bibir. Begal kelas bawah, tapi tatapan mereka jelas predator.

Begal 1 (senyum miring):

"Eh... cewek sendirian jam segini? Kayak jackpot."

Begal 2:

"Dompetnya mana, Neng? Atau kita anterin sekalian biar aman?"

Lyra berhenti, jantungnya deg-degan. Ingatannya flashback ke kehidupan lama: kejadian ini nggak pernah ada. "Apa ini karena pilihan-pilihan kecilku berubah?"

Begal 3 udah maju, mau narik tasnya. Lyra mundur, tapi trotoar licin.

Tiba-tiba-

"WEEEEEW WEEEEEW!!"

Sirine mobil polisi meraung, lampu merah-biru nyala, memecah gelap jalanan. Para begal langsung kaget, ada yang spontan lari terbirit-birit, ada juga yang pura-pura santai.

Mobil berhenti tepat di depan Lyra. Pintu supir kebuka, keluar seorang pria tinggi, gagah, pakai seragam polisi rapi dengan pangkat jelas lebih tinggi dari Paul.

Rambut hitamnya disisir licin ke belakang, tatapannya dingin, rahangnya tegas. Langkahnya berat, penuh wibawa.

Polisi itu (dingin, suara keras):

"Kalian bertiga. Angkat tangan. Sekarang."

Nada suaranya tanpa kompromi. Begal 1 nekat coba kabur, tapi pistol sudah diarahkan ke udara. "DOR!" satu kali tembakan peringatan bikin semua langsung gemetar.

Lyra (monolog, shock):

"Dia... bukan Paul. Tapi seragamnya... lebih tinggi pangkatnya."

Pria itu menoleh ke Lyra, tatapannya tajam tapi bukan tatapan mesra-lebih kayak inspektur yang menilai barang bukti.

???:

"Kamu... Raven, ya? Anak Dr. Ratchet Raven?"

Lyra mengangguk pelan, masih panik.

Dia mendekat, mantelnya sedikit basah kena gerimis. Wajahnya tanpa ekspresi, bahkan dingin.

???:

"Nama saya Noormen Magnus. Komisaris Polisi."

Senyumnya tipis, lebih kayak senyum formalitas daripada ramah.

Magnus:

"Kamu bikin repot. Pewaris keluarga besar jalan sendirian jam segini, tanpa pengawal, tanpa alat komunikasi. Kalau kamu adik saya, sudah saya tahan seminggu penuh."

Lyra langsung melotot.

Lyra:

"Ha? Baru kenal udah ngegas begitu?"

Magnus (datar):

"Fakta."

Dia nengok ke bawahannya yang udah ngamanin para begal. Magnus balik lagi ke Lyra.

Magnus:

"Ayo, saya antar pulang. Jangan bilang tidak. Kamu udah cukup jadi target malam ini."

Lyra diam. Dalam hati, kesalnya numpuk. Kaku, nyebelin, sombong. Tapi entah kenapa... aura Magnus bikin perasaan beda. Bukan manis kayak Pharma, bukan sejuk kayak Loen. Ini lebih kayak tembok dingin yang mustahil ditembus.

 

 

Mobil polisi melaju mulus di jalanan kota malam itu. Sirene sudah mati, hanya suara mesin yang terdengar. Magnus nyetir dengan wajah kaku, tatapannya lurus ke depan. Lyra diam di kursi penumpang, masih agak kesal karena ditinggalin Pharma begitu aja. Suasananya tegang, cuma ditemani lampu jalan yang lewat satu per satu.

Tiba-tiba-

BRAAAKK!!!

Suara benturan keras menggema. Magnus langsung injak rem, mobil sedikit oleng ke samping.

Di depan mereka, seorang wanita muda tergeletak di aspal, tubuhnya terguling ke dekat trotoar. Mobil hitam yang menabraknya sudah melaju kencang, menghilang ke tikungan.

Magnus mengumpat pendek.

"Damn it..." dia langsung menyalakan lampu hazard dan berhenti di pinggir jalan.

Sebelum Magnus sempat keluar, Lyra sudah lebih dulu membuka pintu dan lari ke arah korban.

"Magnus, telepon ambulans! Cepat!" serunya tegas.

Wanita itu terlihat masih sadar, tapi wajahnya pucat. Kaki kanannya berdarah cukup parah, kemungkinan patah ringan atau sobek dalam. Napasnya tersengal, tangannya bergetar.

Magnus buru-buru menghubungi tim medis lewat radio polisi, sementara Lyra jongkok di samping korban, tangannya cekatan.

"Aku dokter magang, tolong tenang ya, Mbak. Tarik napas pelan-pelan..."

Dengan sigap, Lyra melepas cardigan yang ia pakai dan merobek salah satu bagiannya untuk membuat perban darurat. Ia tekan luka di kaki wanita itu agar pendarahan berkurang. Tangannya sedikit gemetar, tapi wajahnya fokus luar biasa.

Wanita itu meringis. "Sa... sakit..."

Lyra menatap lembut. "Aku tahu. Tapi tahan sebentar, ya. Kamu akan baik-baik saja. Aku jamin."

Magnus selesai menghubungi radio, lalu berdiri di belakang Lyra, memperhatikan. Tatapannya tajam, tapi di dalam hatinya, ia sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka gadis muda itu bisa bergerak seprofesional ini, seolah benar-benar sudah terlatih.

"Ambulans dalam perjalanan," katanya singkat.

Lyra mengangguk tanpa menoleh, masih fokus. "Oke, aku butuh sesuatu buat imobilisasi kakinya...."

Magnus mendengus kecil, melepas sabuk polisi yang lebar dan kaku, lalu menyerahkannya ke Lyra. "Pakai ini."

Lyra sempat menatapnya sekilas, heran tapi segera menerima. "Thanks."

Dengan cepat, ia menggunakan sabuk itu untuk membantu menjaga posisi kaki wanita itu agar tidak makin bergeser.

Magnus jongkok di sisi lain, menopang bahu korban agar lebih stabil. Lyra sempat meliriknya, lalu kembali bekerja. Mereka seperti tim darurat dadakan, padahal baru saja kenal.

Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans mendekat. Lyra tersenyum kecil pada korban.

"Dengar kan? Itu pertolonganmu sudah datang. Kamu kuat banget."

Saat paramedis turun dan mengambil alih, Magnus berdiri sambil menepuk debu dari seragamnya. Lyra ikut berdiri, wajahnya sedikit pucat tapi puas.

Salah satu paramedis sempat melirik Lyra. "Kamu dokter?"

Lyra tersenyum tipis. "Masih magang. Tapi... setidaknya aku bisa bikin dia bertahan sampai kalian datang."

Paramedis itu mengangguk kagum. "Kamu penyelamat dia malam ini."

Lyra hanya menunduk, sedikit tersipu. Magnus di sampingnya menghela napas, lalu membuka pintu mobil polisi.

"Ayo. Kita masih harus ke kantor."

Lyra sempat melirik ke arah Magnus, ingin komentar, tapi pria itu sudah duduk di kursi supir dengan wajah kaku seperti biasa. Seolah barusan tidak ada kejadian besar.

Namun saat mobil melaju lagi, Lyra sempat melihat sekilas-jari-jari Magnus mengetuk ringan setir. Ritmenya tenang, hampir seperti tanda kalau dia sebenarnya... impressed.

 

 

Ambulans sudah siap berangkat, paramedis sibuk menaikkan korban ke dalam. Lyra berdiri di samping mobil polisi, tangannya sedikit bergetar karena tadi buru-buru bergerak tanpa pikir panjang. Wajahnya pucat, keringat dingin menetes di pelipis.

Magnus keluar dari sisi lain, baru saja selesai bicara dengan salah satu petugas medis. Tatapannya tertuju ke Lyra.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya kaku.

Lyra mengangguk cepat. "Aku... iya, cuma agak... pusing."

Langkahnya goyah, tubuhnya condong ke depan.

Magnus refleks maju, menangkap bahunya. "Hei!"

Lyra hampir jatuh, tapi tubuhnya justru terhenti karena dada Magnus jadi penopang. Mereka berdiri terlalu dekat. Nafas Lyra memburu, matanya terangkat menatap wajah pria itu.

Magnus, dengan wajah setenang tembok baja, mencoba menjauhkan dirinya. Tapi saat Lyra hendak mundur, kakinya tersandung trotoar kecil-membuat tubuhnya kembali terdorong.

Dan... BRUK.

Kepala Lyra terangkat, bibirnya secara tidak sengaja menyentuh bibir Magnus.

Detik itu dunia seakan berhenti. Suara sirene, langkah kaki paramedis, bahkan bunyi mobil di kejauhan lenyap. Hanya ada dua orang itu.

Lyra membeku, wajahnya merah padam. Magnus juga kaku, matanya melebar sesaat sebelum buru-buru menjauhkan diri.

"...Itu kecelakaan," ucapnya cepat, suara dalam tapi sedikit parau.

Lyra menunduk dalam, jantungnya berdetak kencang tak karuan.

"A-aku tahu," jawabnya lirih, meskipun pipinya sudah panas luar biasa.

Suasana jadi canggung banget. Magnus akhirnya berdeham keras, lalu membuka pintu mobil polisi.

"Masuk. Kita tidak punya waktu untuk hal... sepele seperti ini."

Lyra menggigit bibirnya sendiri, mencoba menutupi senyum kecil yang tak sengaja muncul. Ia tahu Magnus berusaha menyangkal, tapi wajah kaku itu tidak bisa menyembunyikan semburat merah tipis di telinganya.

 

Matahari baru naik, tapi rumah megah keluarga Raven sudah riuh. Mobil polisi berwarna gelap berhenti di depan halaman. Dari dalam keluar Lyra dengan wajah setengah lesu, ditemani sosok tinggi gagah dengan seragam polisi: Normeen Magnus.

Pintu depan rumah terbuka. Dr. Ratchet Raven langsung muncul dengan wajah tegang, rambut sedikit berantakan karena semalaman bekerja. Matanya menyipit tajam melihat pemandangan itu.

"Lyra Raven! Kau pikir aku ini bapak apa? Kau pulang pagi-pagi diantar polisi?!" suaranya meninggi, sampai beberapa asisten rumah terloncat kaget.

Lyra tersentak, buru-buru menunduk. "Pa, bukan kayak gitu... aku-"

"Diam!" Ratchet mengangkat tangan, suaranya penuh amarah bercampur khawatir. "Kau sadar nggak, semalam itu hampir-HAMPIR saja kau bisa celaka? Apa-apaan jalan sendirian malam-malam, hah?!"

Sementara itu, Paul muncul dari lantai atas, masih dengan piyama biru navy, rambut acak-acakan. Matanya sempat menyipit karena cahaya pagi, tapi begitu melihat siapa yang berdiri di teras bersama adiknya... dia langsung melek.

"...Magnus?" suaranya penuh ketidakpercayaan.

Magnus hanya berdiri tegak, ekspresinya tetap kaku dan formal. "Selamat pagi, Officer Raven," sapanya singkat, mengangguk pada Paul.

Paul refleks melotot. "Kenapa kau-" ia memandang adiknya, lalu Magnus, lalu balik lagi ke Lyra. "Jangan bilang kau semalam-"

"PAUL!" Lyra buru-buru menyela dengan wajah memerah, tahu arah pikiran kakaknya.

Ratchet mengusap wajahnya kasar, semakin pusing. "Aku nggak peduli apa hubungan kalian! Yang jelas, mulai hari ini, Lyra, kau nggak boleh seenaknya jalan sendirian! Dan kau, Magnus..." tatapannya beralih, menusuk Magnus dari ujung rambut sampai sepatu. "Aku hargai kau sudah menolong putriku. Tapi aku akan pastikan tidak ada hal lain yang lebih jauh dari sekedar itu. Mengerti?"

Magnus menegang, tapi ia mengangguk tenang. "Mengerti, Dokter Raven."

Paul masih berdiri di tangga, bengong. Dia kenal reputasi Magnus-polisi muda yang pangkatnya sudah lebih tinggi dari dirinya, disiplin, dan nyebelin setengah mati. Dan sekarang? Dia nganterin Lyra pulang jam segini?

Dalam hati Paul cuma bisa mendesis, "Sialan, kenapa harus dia?"

Lyra sendiri berdiri kaku, merasa dunia makin rumit. Di kepalanya terngiang kejadian tadi malam-tatapan Magnus, dan... kecelakaan kecil yang bikin jantungnya masih belum normal

 

Lyra masuk kamarnya dengan langkah berat, nyaris ngebanting pintu. Dia langsung nyemplung ke kasur, narik selimut sampai nutupin kepala.

"Capek banget... cukup udah... dunia tolong diem sebentar..." gumamnya lirih sebelum akhirnya ketiduran.

Paul, masih kepo setengah mati, nyusul ke depan pintu. Dia ngetok pelan, "Noi... eh, Lyra? Kau baik-baik aja?"

Nggak ada jawaban. Paul nyalain insting kepolisian plus insting abang posesif: buka pintu pelan-pelan.

Lyra udah terlelap. Rambut hitam panjangnya berantakan di bantal, napasnya teratur, tapi bibirnya bergumam pelan.

Paul merapat, berharap adiknya cuma ngigau soal kuliah atau tugas. Tapi kalimat berikutnya bikin matanya langsung melebar:

"Pharma... jangan tinggalin aku..."

Paul beku di tempat. Wajahnya kayak baru lihat kejahatan tingkat berat.

"...APAAN itu barusan?"

Lyra menggeliat, menarik selimut lebih rapat, lalu bergumam lagi, setengah merengek.

"Kenapa kamu... sama Veronica... bukan aku..."

Paul mundur dua langkah, tangannya nempel ke jidat. "Astaga, seriusan? Jadi cowok pirang songong itu...?!"

Dia keluar kamar dengan ekspresi kecut, langsung menuju dapur buat ngopi biar bisa mencerna semuanya. Di kepalanya cuma satu kesimpulan:

"Bapak bakal ngamuk kalau tahu anaknya lagi jatuh hati sama dokter aneh itu... dan sekarang malah ada Magnus juga. Hidupku resmi jadi drama telenovela."

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!