Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diana Kangen Ibunya
Beb... ayang beb ..." suara manja keluar dari mulut Diana kepada suaminya.
"Kenapa bebeb sayang ?" tanya sang suami.
"Aku kangen ibu ..."
"Boleh gak kalau aku nginep di rumah ibu" rengek manja Diana.
"Ya boleh banget dong sayang, semenjak menikah kan kita jarang banget maen kesana" ujar sang suami.
"Jadi boleh ya beb ?"
Hafidz menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
"Makasih yah ayang beb" ucap Diana lalu mencium pipi suaminya.
"Muuuaach ..muuuaach, makasih banyak-banyak ayang beb"
"Oh ya sekalian aku juga sebenarnya mau ngomong ke kamu kalau besok lusa sampai pekan depan, aku ada project di luar kota, kamu gak papa kan di tinggal ?" Terang Hafidz.
"Iya beb gak papa nanti aku tidur di rumah ibu dulu"
"Semangat ya beb kerjanya disana !" seru Diana.
"Iya beb" jawab Hafidz.
Esok pagi itu begitu cerah, Hafidz mengantarkan sang istri ke rumah ibunya. Saat mobilnya berhenti di depan warung bu Ratih, ia merengek minta di gendong.
"Beebbb, gendong !" rengek manja Diana kembali.
"Kamu ini kenapa jadi manja gitu sih beb ?" respon sang suami.
"Ini bukan aku yang mau beb, tapi dede bayinya yang minta di gendong ayahnya" kilah Diana dengan suara manjanya.
"Ya tapi kan malu kalau di lihat ibu" terang Hafidz.
"Tenang beb, ibu ku gak bakalan protes kok" ujar Diana di sertai tawa.
Sesuai permintaan istrinya, Hafidz menggendong istrinya sampai ke depan rumah masa kecilnya. Bu Ratih yang menyaksikan itu seketika tersenyum lalu menghampiri mereka.
"Ya Allah, kamu kenapa Diana ?" tanya ibunya.
"Gak tau nih bu, anak ibu akhir-akhir ini lagi manja banget, mau kesini aja mintanya di gendong" ujar Hafidz kepada ibu mertuanya.
Ibu Ratih seakan mengetahui kalau anak bungsunya sedang berbadan dua.
"Biasanya kalau perempuan manja-manja kaya gitu, tandanya .... kamu lagi hamil ya nak ?" tanya bu Ratih penasaran.
Diana menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar menatap wajah ibunya.
"Wah selamat ya nak, akhirnya kamu mau jadi seorang ibu dan nak Hafidz mau jadi seorang ayah" ucap bu Ratih.
"Eh tuh kan lupa, kok kita malah ngobrolnya di luar, ayo masuk !" seru bu Ratih.
"Sini ..sini ..nak , duduk di samping ibu"
"Ibuu, Diana kangen ibu" ujar Diana sembari memeluk ibunya.
"Ibu juga kangen banget sama kamu nak".
"Bu, besok kan kak Hafidz ada project nih di luar kota selama sepekan, kalau untuk sementara waktu, aku tidur di sini boleh kan bu ?" ucap Diana kepada sang ibu.
"Ya boleh banget dong sayang, rumah ini kan rumah kamu juga, kapan pun kamu pengin tidur disini, ibu ijinkan sayang" jawab bu Ratih.
"Ya sudah sekarang kamu istrahat di kamar dulu, ibu hamil gak boleh terlalu capek !"
"Nak Hafidz, temeni istri kamu yah di kamar !" seru bu Ratih.
"Iya bu" respon singkat Hafidz.
Berada di kamarnya, Diana masih memanja di depan suaminya.
"Beb, perut ku mual banget, rasanya pengin muntah" ujar Diana.
Melangkah cepat, Diana menuju ke toilet.
"Huuaa ... huaaa" suara muntahan Diana.
Hafidz bergegas mengelus pundak istrinya lalu membersihkan bekas muntahannya.
"Beb kamu istrahat aja yah !" seru Hafidz.
Hafidz segera menuju dapur lalu membuatkan teh jahe hangat untuk meminimalisir rasa mual di perut istrinya.
"Ini beb teh jahe hangat, di minum yah !" Diana mulai meminumnya berlahan-lahan.
"Gimana beb, udah mendingan ?" tanya Hafidz.
"Udah agak mendingan beb, aku istirahat dulu ya beb" ujar Diana.
Pukul 11.30 WIB, Diana terbangun. Seperti biasa dia merengek meminta sesuatu.
"Beb, nanti sore keluar yuk !" seru Diana.
"Keluar kemana beb ?"
"Ya keluar di luar lah masa keluar di dalam" ujar Diana.
"Tapi ada loh yang keluar di dalam" jawab Hafidz.
"Hemm..dasar otak mesum" canda Diana kepada suaminya.
"Besok kan kak Hafidz mau ninggalin aku, jadi sore ini aku pengin jalan-jalan kemana gitu" rengek Diana.
"Ya duduk berdua gelar tikar di angkringan sambil minum wedang jahe juga aku udah seneng banget kok beb"
Sore itu dengan mobil brio nya, Hafidz mengajak Diana keliling alun-alun. Di sebuah angkringan, mobilnya berhenti lalu mereka duduk berdua.
"Mas wedang jahe dua yah sama nasi kucingnya empat bungkus !" seru Hafidz kepada penjual angkringan.
"Oh iya mas, siap" respon penjual angkringan.
Baru satu suap Diana makan nasi kucing, tiba-tiba perutnya kembali mual.
"Beb, kita pulang aja yuk, perut ku mual banget pengin muntah" ajak Diana.
"Loh baru juga nyampe, belum di makan, belum di minum kok udah minta pulang" respon Hafidz.
"Ayo lah beb, kita pulang aja, perut ku mual banget !" pinta Diana.
"Baik lah kalau begitu"
Hafidz begitu sabar menghadapi keinginan Diana yang tidak jelas itu. Bergegas mereka kembali menuju ke mobil namun hafidz lupa dimana dia menaruh kunci nya. Saku celana dan kemejanya sudah di rogoh berulang kali tetapi ia belum menemukan kunci mobilnya.
"Duh dimana yah kunci mobilnya ?" gerutu lirih Hafidz.
"Sebel deh, kamu sukanya lupa naruh kunci" ucap Diana.
"Huuaa ...huuaa"
Diana muntah di samping pintu mobil. Sementara itu Hafidz berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Ia kembali menuju penjual angkringan.
"Mas lihat kunci mobil saya gak ? Barangkali ketinggalan di sini" tanya Hafidz kepada penjual angkringan.
"Kayaknya dari tadi gak ada kok mas kunci mobil di sini" respon penjual itu.
"Oh ya sudah terimakasih mas" ucap Hafidz.
Ia kembali menuju mobil nya, ekspresi wajah istrinya semakin memucat.
"Beb, kita naik taksi online aja yah pulangnya, kuncinya gak ketemu" ujar Hafidz.
"Ya sudah beb, saya pesankan taksi online nya yah" ucap Diana.
Tangan Diana masuk kedalam tas nya untuk mengambil handphone nya. Tiba-tiba saja di dalam tas itu ada kunci yang sedang di cari suaminya.
"Beb, maaf yah kuncinya ternyata di tas aku" terang Diana di sertai tawa kecil.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih beb ?" suara Hafidz merasa kesal.
"He.he.he, iya aku yang lupa, maaf ya beb" respon Diana merasa malu.
"Hemm..sabar, sabar " gumam hafidz sembari mengelus dada nya sendiri.
"Ini beb kuncinya, maaf ya beb, senyum dong", ujar Diana sembari memberikan kunci mobil ke suaminya.
Seorang pemuda tak di kenal tiba-tiba datang menghampiri Hafidz dan Diana yang sedang berdiri di samping mobil mereka.
"Mas, mba, maaf mau tanya alamat, kalau jalan rumah mu dimana yah ?" tanya pemuda itu.
"Anda itu siapa ? kenapa tanya jalan rumah kami ?" tanya balik Hafidz.
"Loh saya tanya kok tanya balik, saya mau tanya mas, jalan rumah mu dimana ?" kembali pemuda itu bertanya.
"Iya ngapain kamu tanya jalan rumah kami ?"
"Mas, aku tanya jalan rumah mu itu dimana bukan rumahnya mas sama mba ? katanya deketan sini, aku searching di google map soalnya gak ada", jawab pemuda itu dengan nada lebih keras.
"Buseet deh, kok anda ngajak ribut sih" respon hafidz yang terpancing emosi.
"Mas, siapa yang ngajakin ribut sih ? aku cuma tanya alamat jalan namanya jalan rumah mu, itu dimana ?"
"Ooooh, bilang dong dari tadi" jawab Hafidz sedikit kesal.
"Lah dari tadi juga aku udah bilang mas" sahut pemuda itu.
"Nih mas lurus terus dari sini sampai ketemu pekarangan kosong yang ada pohon besarnya, nah di situ ada jalan kecil namanya jalan rumah mu" ucap Diana sambil menunjukkan dengan jarinya.
"Baik, terimakasih mba mas"
"Sama-sama"