Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: OPERASI TERATAI MERAH
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden otomatis di ruang kerja Arlan Syailendra tidak membawa kehangatan, melainkan cahaya dingin yang menyinari wajah Alana yang tampak tidak berpindah sedikit pun dari posisinya sejak semalam. Di depannya, layar monitor masih menampilkan gelombang suara dari rekaman pengakuan Adrian yang kini sudah terenkripsi dalam tujuh lapis keamanan.
Alana menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin. Matanya yang tajam tertuju pada peta digital Kota A, khususnya sebuah titik merah yang berkedip di area perbukitan terpencil—lokasi vila tua milik mendiang Kakek Mahendra.
"Kau tidak bisa terus terjaga seperti ini, Alana. Bahkan mesin tercanggih milik Lukas pun butuh waktu untuk mendinginkan prosesornya," suara Arlan terdengar berat dan dalam saat ia masuk membawa berkas fisik. Ia meletakkan berkas itu di atas meja, tepat di depan Alana.
Alana mendongak, rambutnya sedikit berantakan, namun sorot matanya tetap setajam silet. "Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa kubeli, Arlan. Setiap detik yang kita buang memberikan Adrian kesempatan untuk menyembunyikan 'Proyek Teratai'. Jika formula itu jatuh ke tangan yang salah, kehancuran Mahendra Group tidak akan ada artinya."
Arlan menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Harry baru saja melaporkan bahwa Adrian keluar dari rumahnya pukul empat pagi tadi. Dia tidak menuju kantor, melainkan ke arah pelabuhan lama. Sepertinya dia mencoba menghubungi koneksi lamanya di pasar gelap untuk mencari tim tentara bayaran baru setelah tim Sisca habis kita bantai."
Alana menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia merasa terpojok. Semakin panik mangsanya, semakin banyak kesalahan yang akan dia buat. Namun, kita tidak akan fokus pada pergerakan fisiknya saja. Lukas!"
Lukas, yang sejak tadi meringkuk di sofa dengan laptop di pangkuannya, segera duduk tegak. "Ya, Mummy?"
"Mulailah tahap pertama 'Operasi Teratai Merah'. Masuk ke sistem internal bank sentral dan cari aliran dana keluar dari rekening pribadi Adrian dalam enam bulan terakhir.
Aku ingin tahu siapa yang mendanai penelitian rahasianya," perintah Alana.
Lukas mengangguk, jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk anak seusianya.
"Sedang dikerjakan, Mummy. Aku juga sedang menanamkan 'Virus Teratai' ke server utama Mahendra Group. Saat jam bursa dibuka dalam tiga jam lagi, setiap kali saham mereka diperdagangkan, sistem akan mengirimkan peringatan 'Resiko Tinggi' kepada setiap investor."
Arlan mengamati interaksi ibu dan anak itu dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menyadari bahwa Alana bukan hanya seorang dokter medis, tapi juga seorang ahli strategi yang mampu menggunakan kejeniusan anaknya sebagai senjata digital.
"Kau berencana menghancurkan nilai saham mereka sebelum kita mengambil alih laboratoriumnya?" tanya Arlan.
"Tepat sekali," sahut Alana. "Aku ingin Mahendra Group menjadi beban bagi siapa pun yang memegangnya. Saat Adrian kehilangan dukungan finansial, dia akan terpaksa membuka brankas kakek untuk mencari modal. Dan saat itulah, dia akan membukakan pintu untuk kita."
Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran Pelabuhan Kota A, bau anyir laut dan karat memenuhi udara. Adrian Mahendra berdiri di tengah ruangan yang remang-remang, berhadapan dengan seorang pria bertato yang memiliki bekas luka memanjang di wajahnya—pimpinan tentara bayaran 'Black Cobra'.
"Aku butuh tiga puluh orang terbaikmu," kata Adrian dengan suara serak. Ia mengeluarkan tas berisi tumpukan uang tunai. "Kalian akan menjaga Vila Mahendra di perbukitan utara. Siapa pun yang mendekat, bunuh di tempat. Terutama jika itu adalah wanita berbaju merah atau unit taktis Syailendra."
Pria bertato itu menghitung uangnya dengan santai. "Tuan Mahendra, kau meminta kami melawan Arlan Syailendra? Uang ini tidak akan cukup untuk menutupi biaya pemakaman anak buahku jika kaisar bayangan itu marah."
Adrian mencengkeram kerah baju pria itu, kemarahan dan ketakutan membuatnya kehilangan kendali. "Dengar! Jika kau berhasil menjaganya selama satu minggu, aku akan memberimu sepuluh kali lipat dari ini! Aku sedang menunggu sebuah penemuan yang akan membuat kita semua menjadi penguasa dunia ini! Kau hanya perlu menahan mereka sementara aku memecahkan kode brankas itu!"
Pria itu menyeringai, memperlihatkan gigi emasnya. "Satu minggu? Baiklah. Kami akan menjadikannya benteng yang tidak bisa ditembus. Tapi ingat, Tuan Mahendra, jika kau berbohong tentang bayarannya, kau akan berakhir di dasar laut ini sebelum Syailendra sempat menyentuhmu."
Setelah kesepakatan itu selesai, Adrian kembali ke mobilnya dengan napas tersengal. Ia mengeluarkan sebuah kunci tua berbentuk lotus dari saku jasnya—kunci yang ia curi dari brankas kakeknya sesaat setelah kematian pria tua itu. Namun, kunci itu hanyalah bagian fisik; bagian digitalnya terkunci oleh enkripsi biometrik yang hanya bisa dibuka oleh garis keturunan yang ditunjuk: Aura.
"Sialan kau, Aura!" maki Adrian sambil memukul setir mobilnya. "Bahkan setelah mati pun kau masih mengikatku! Tapi jika wanita itu benar-benar kau... aku akan membedahmu hidup-hidup untuk mendapatkan akses ke laboratorium itu!"
Kembali di kediaman Syailendra, Alana dan Arlan sedang meninjau cetak biru Vila Mahendra yang berhasil didapatkan oleh intelijen Arlan.
"Vila ini dibangun di atas fondasi bunker zaman perang," Arlan menjelaskan zZzzaZz menunjuk pada layar holografik.zazazZZzz "Laboratorium itu tidak berada di dalam vila,zZ, tapi di bawah tanah yang kedalamannya mencapai empat puluh meter. Ada satu jalur masuk utama melalui liftz tersembunyi di ruang kerja kakekmu, dan satu jalur evakuasi yang mengarah ke hutan belakang."
Alana menyentuh gambar lift tersebut. "Kakek pernah membawaku ke sana saat aku masih kecil. Dia bilang itu adalah 'taman rahasia' tempat dia menanam bunga-bunga yang tidak bisa mati. Saat itu aku tidak mengerti, tapi sekarang aku sadar... bunga yang tidak bisa mati itu adalah metafora untuk regenerasi sel."
Arlan menatap Alana dengan serius. "Jika Proyek Teratai ini adalah tentang regenerasi sel manusia, maka ini bukan lagi sekadar warisan. Ini adalah cawan suci di dunia medis. Kekuatan untuk memperpanjang hidup atau menyembuhkan penyakit yang tak tersembuhkan."
"Dan itulah sebabnya Adrian tidak akan pernah membiarkannya pergi," Alana menambahkan. "Dia ingin menjualnya kepada penawar tertinggi, atau menggunakannya untuk mengontrol para elit dunia. Aku tidak akan membiarkan tangan kotornya menyentuh warisan suci kakekku."
Tiba-tiba, suara alarm lembut berbunyi dari tablet Lukas. "Mummy, bursa saham baru saja dibuka. Dan seperti yang diprediksi... Mahendra Group terjun bebas."
Alana berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah pusat bisnis Kota A di kejauhan. "Ini baru permulaan dari 'Operasi Teratai Merah'. Lukas, kirimkan bukti transaksi ilegal Adrian ke bursa saham sekarang. Biarkan dunia melihat bahwa raksasa Mahendra hanyalah sebuah istana kartu yang siap runtuh ditiup angin."
Arlan berdiri di samping Alana, tangannya secara perlahan melingkar di bahunya, memberikan dukungan yang tak terucapkan. Alana tidak menolak kali ini. Di tengah badai yang mereka ciptakan sendiri, ia merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia tidak lagi berdiri sendirian.
"Arlan," panggil Alana tanpa menoleh.
"Ya?"
"Jika misi ini menghancurkan seluruh Mahendra Group dan membuat kota ini kacau, apakah kau akan menyesal telah membantuku?"
Arlan menatap profil wajah Alana yang diterangi cahaya pagi, ada senyuman tipis dan dingin di bibirnya. "Kota ini butuh pembersihan, Alana. Dan jika kau adalah badai yang akan membersihkannya, maka aku akan menjadi langit yang menaungimu. Aku tidak pernah menyesal berdiri di pihak pemenang."
Alana berbalik, menatap mata Arlan. Jarak di antara mereka begitu dekat sehingga mereka bisa merasakan napas satu sama lain. Ketegangan di antara mereka bukan lagi hanya tentang dendam, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih kompleks.
"Kita akan berangkat ke vila itu malam ini," kata Alana, suaranya kembali menjadi profesional. "Siapkan pasukanmu, Arlan. Malam ini, 'Sang Teratai' akan mengambil kembali takhtanya."