Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GENERASI BARU YANG MENERUSKAN WARISAN
Mentari pagi menyinari kampus Universitas Hadian yang sudah beroperasi selama setahun. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh dua tahun, berdiri di depan perpustakaan yang penuh dengan mahasiswa—beberapa sedang membaca buku, yang lain sedang berdiskusi tentang proyek sosial mereka. Dia mengenakan baju batik yang dibuat Laras dengan motif daun muda dan bunga yang mekar, melambangkan generasi baru yang tumbuh dan berkembang. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso yang semakin tua tapi tetap kokoh, dan kotak pemberian ayahnya yang kini berisi surat dari ribuan mahasiswa dan alumni di seluruh dunia.
Pak Rio mendekatinya dengan laporan tahunan universitas. "Qinara, kita telah memiliki hasil yang luar biasa. 95% mahasiswa kita aktif dalam proyek sosial—mereka membangun sekolah di daerah terpencil, memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak miskin, dan bekerja di rumah sakit kampus untuk membantu orang yang tidak mampu membayar biaya perawatan. Bahkan beberapa mahasiswa telah membuat inovasi untuk membantu komunitas—seperti alat pertanian yang lebih efisien dan aplikasi pendidikan untuk anak-anak."
Qinara mengangguk, melihat mahasiswa yang sibuk. Sari dari Papua, yang sekarang mahasiswi jurusan pendidikan, sedang membimbing sekelompok anak-anak dari desa terdekat. Johan dari Medan, yang sedang menempuh spesialisasi anak, sedang memeriksa seorang anak kecil yang datang ke rumah sakit kampus. "Ya, Pak. Ini adalah apa yang aku harapkan—mahasiswa yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki hati yang peduli. Mereka adalah yang akan meneruskan warisan ayahmu."
Kabelo dari Afrika Selatan, yang sekarang telah menjadi direktur proyek global Yayasan Hadian, membawa berita baik. "Kak Qinara, kita telah mencapai target 350 sekolah di 40 negara. PBB telah mengumumkan bahwa kita adalah mitra utama mereka dalam mencapai tujuan pendidikan global. Mereka ingin kamu membimbing program baru untuk melatih guru dari seluruh dunia—agar mereka bisa menerapkan model Sekolah Hadian di negaranya."
Qinara terdengar senang. "Baik, kita akan mulai program pelatihan guru bulan depan. Kita akan mengundang guru dari negara-negara yang membutuhkan, memberikan mereka pelatihan, dan membimbing mereka membangun sekolah di daerah mereka."
Sore hari, mereka berjalan ke lapangan olahraga kampus di mana mahasiswa sedang mengadakan acara "Hari Hadian"—acara tahunan di mana mereka berbagi cerita tentang proyek sosial mereka. Di tengah lapangan, ada pameran karya mahasiswa—alat pertanian yang dibuat oleh mahasiswa teknik, lukisan oleh mahasiswa seni, dan buku yang ditulis oleh mahasiswa sastra.
Siti, yang masih menjabat sebagai direktur Yayasan Hadian, mendekatinya dengan berkas proyek baru. "Kak, mahasiswa kita ingin membangun sekolah pertama di benua Australia—untuk anak-anak asli Australia yang tinggal di daerah terpencil. Mereka telah mengumpulkan dana dan menemukan lokasi yang cocok."
Qinara melihat ke arah kelompok mahasiswa yang sedang membicarakan proyek itu. Mereka berasal dari berbagai negara—Indonesia, Afrika Selatan, India, Brasil—bekerja bersama-sama dengan antusias. "Ini luar biasa, Siti. Izinkan mereka melakukannya. Mereka adalah generasi baru yang akan membawa warisan ayahmu ke seluruh dunia."
Di saat itu, Aisha—yang sekarang berusia sepuluh tahun dan telah pindah ke Sekolah Hadian yang berada di dekat kampus universitas—datang bersama dengan sekelompok anak-anak. Mereka membawa hadiah untuk Qinara: sebuah patung kayu yang dibuat oleh anak-anak dari Papua, berbentuk lampu yang menyala.
"Kak Qinara, ini untukmu. Kita membuatnya bersama—melambangkan cahaya ayahmu yang tidak pernah padam," kata Aisha dengan senyum lebar.
Qinara menerima patung itu dengan hati-hati, merasa kehadiran ayahnya semakin dekat. "Ini indah, Aisha. Aku akan menaruhnya di meja kerjaku di kantor universitas, agar setiap hari aku melihatnya."
Keesokan harinya, Qinara terbang ke Kenya untuk memulai program pelatihan guru. Di sana, lebih dari 200 guru dari seluruh Afrika telah datang untuk mengikuti pelatihan. Qinara memberikan materi tentang model pendidikan berbasis kasih sayang, bagaimana mendidik anak-anak yang menderita trauma akibat kemiskinan atau konflik.
Selama pelatihan, seorang guru dari Somalia bernama Fatuma mendekatinya. "Kak Qinara, aku bekerja di daerah yang penuh konflik. Anak-anakku takut belajar, tapi setelah mendengar ceritamu, aku tahu bahwa aku harus memberikan mereka harapan. Aku akan membangun sekolah di daerahku, meskipun sulit."
Qinara memeluk Fatuma. "Kamu bisa melakukannya, Fatuma. Keberanianmu akan menjadi cahaya bagi anak-anakmu. Ingatlah kata ayahku—tetap kuat dan jangan pernah menyerah."
Malam itu, Qinara berdiri di teras hotel di Nairobi, memandang kota yang penuh cahaya. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan patung lampu yang diberikan Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:
"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."
Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh melampaui impian semula. Jaringan Sekolah Hadian telah membantu lebih dari 100.000 anak, Universitas Hadian telah menghasilkan lebih dari 500 lulusan yang bekerja di berbagai bidang, dan program pelatihan guru akan membantu ribuan guru di seluruh dunia.
Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk menghadiri wisuda pertama Universitas Hadian. Lebih dari 500 mahasiswa akan menerima ijazah—di antaranya Sari dari Papua dan Johan dari Medan. Lebih dari 30.000 orang hadir di acara itu—keluarga mahasiswa, alumni Sekolah Hadian, delegasi PBB, dan tokoh masyarakat dari seluruh dunia.
Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 93 tahun, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi. Dia memberikan pidato yang menyentuh hati semua orang. "Qinara, sepuluh tahun yang lalu, kita hanya memiliki satu sekolah. Sekarang, kita memiliki universitas yang menghasilkan pemimpin dunia. Ayahmu pasti bangga padamu—kamu telah membuat impiannya menjadi kenyataan yang abadi. Aku bangga bisa menyaksikan semua ini."
Setelah pidato, Qinara memberikan pidato kepada wisudawan. "Kalian semua telah melalui perjalanan yang sulit, tapi kalian telah berhasil. Sekarang, waktunya bagi kalian untuk memberikan kembali—membangun dunia yang lebih baik bagi anak-anak mendatang. Ingatlah, kalian adalah generasi yang akan meneruskan warisan ayahku—cahaya yang tidak pernah padam."
Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, berlangsung selama lebih dari empat puluh menit. Sari dan Johan, yang menjadi wisudawan terbaik, mendekati panggung untuk menerima ijazah. Sari berbicara kepada hadirin: "Tanpa Kak Qinara dan Sekolah Hadian, aku tidak akan pernah sampai di sini. Aku akan membangun sekolah di daerah terpencil di Papua, untuk memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak lain."
Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga, teman-temannya, dan wisudawan terbaik. Dia membawa ijazah Sari dan Johan, serta patung lampu Aisha. Dia duduk di dekat makam, membicarakan semua yang telah terjadi.
"Ayah, Universitas Hadian telah mengadakan wisuda pertama. Lebih dari 500 mahasiswa akan mulai bekerja untuk membantu orang lain. Sari akan membangun sekolah di Papua, Johan akan bekerja di rumah sakit untuk membantu anak-anak. Sudah dua puluh dua tahun sejak kamu pergi, tapi kamu selalu ada di sini—dalam setiap generasi yang kamu bangun, setiap cahaya yang kamu berikan."
Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, menemukan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya. "Aku mencintaimu selamanya, ayah. Terima kasih telah memberiku hidup yang berarti dan warisan yang akan hidup selamanya. Cahayamu akan terus menerangi jalanan masa depan bagi banyak orang, bahkan setelah aku tiada."
Laras memeluknya dengan erat, air mata mengalir di wajahnya. "Qinara, kamu adalah anugerah bagi dunia. Ayahmu pasti sangat bangga padamu, dan aku juga bangga menjadi ibumu."
Qinara membalik memeluk Laras, merasa penuh syukur. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang—Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, Siti, Kabelo, dan semua yang percaya—aku tidak bisa melakukan ini. Kita adalah keluarga yang abadi, dibangun dari hati dan kasih sayang yang tidak pernah hilang."
Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak cahaya untuk diberikan. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari keluarga yang tercinta, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang terang dan penuh harapan—cahaya ayahnya selalu akan ada di sana.