"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan dari Masa Lalu
Malam itu, Puri kembali tidur dengan perasaan cemas. Ia memikirkan kata-kata Mbah Sastro tentang sejarah bale pasanggrahan dan kelemahan roh jahat. Ia berharap, ia bisa mendapatkan petunjuk lebih lanjut dalam mimpinya.
Saat ia terlelap, ia merasakan dirinya tertarik ke dalam sebuah pusaran cahaya. Ia merasa seperti melayang di angkasa, sebelum akhirnya mendarat di sebuah tempat yang asing.
Ia melihat sekelilingnya. Ia berada di sebuah halaman yang luas, di tengah-tengah sebuah desa yang ramai. Rumah-rumah di desa itu terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap yang terbuat dari jerami. Orang-orang di desa itu mengenakan pakaian tradisional Jawa, dengan kain batik dan kebaya.
Puri merasa bingung. Ia tidak tahu di mana ia berada dan apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba, ia melihat seorang pria berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu mengenakan pakaian bangsawan Jawa, dengan keris terselip di pinggangnya. Wajah pria itu tampak tegas dan berwibawa.
"Sugeng rawuh ing Desa Sidomukti, Nimas," kata pria itu dengan nada sopan. "Kula Raden Arya, lurah ing desa mriki. Sinten panjenengan niki?"
Puri terkejut mendengar perkataan pria itu. Ia tidak mengerti mengapa pria itu berbicara kepadanya dengan bahasa Jawa kuno.
"Maaf, Raden," kata Puri dengan nada bingung. "Saya tidak tahu di mana saya berada. Saya juga tidak mengerti mengapa Anda berbicara kepada saya dengan bahasa Jawa kuno."
Raden Arya tersenyum tipis. "Sampun kuwatos, Nimas," kata Raden Arya. "Panjenengan bakal ngertos sedanten. Sumangga nderek kula."
Raden Arya mengajak Puri berjalan bersamanya menuju sebuah bangunan yang megah. Bangunan itu terbuat dari kayu jati yang kokoh, dengan ukiran-ukiran yang indah di setiap sudutnya.
"Menika bale pasanggrahan," kata Raden Arya dengan nada bangga. "Bangunan menika dados kabanggaanipun desa kula. Ing ngriki, kula nampi tamu-tamu agung saking kerajaan Mataram, para sudagar saking manca negari, lan ugi para seniman ingkang badhe ngunjukaken bakatipun."
Puri tertegun melihat bale pasanggrahan itu. Bangunan itu tampak sangat megah dan indah, jauh berbeda dengan bale pasanggrahan yang ia lihat di masa kini. Bale itu tampak terawat dengan baik, dengan taman yang indah di sekelilingnya.
"Bale pasanggrahan ini adalah tempat yang istimewa, Raden?" tanya Puri dengan nada penasaran.
Raden Arya mengangguk. "Leres, Nimas," kata Raden Arya. "Bale pasanggrahan ini adalah jantung dari desa kami. Di sinilah kami berkumpul, bermusyawarah, dan merayakan berbagai acara penting."
Raden Arya mengajak Puri masuk ke dalam bale pasanggrahan. Di dalam bale, Puri melihat berbagai macam hiasan yang indah, seperti lukisan, ukiran, dan patung-patung. Ia juga melihat beberapa orang sedang duduk di atas tikar, bercakap-cakap dengan santai.
"Monggo, Nimas, pinarak," kata Raden Arya sambil mempersilakan Puri duduk di sebelahnya.
Puri duduk di sebelah Raden Arya dan memperhatikan sekelilingnya. Ia merasa seperti berada di dunia yang berbeda, dunia di mana kehidupan berjalan dengan tenang dan damai.
"Raden, saya ingin bertanya sesuatu," kata Puri dengan nada hati-hati. "Apakah bale pasanggrahan ini pernah mengalami kejadian aneh atau mistis?"
Raden Arya terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras.
"Sejatosipun, wonten setunggal cariyos ingkang medeni," kata Raden Arya akhirnya. "Cariyosipun babagan. lelembut ingkang ngreksa bale pasanggrahan menika. Dipuncariyosaken, lelembut menika saged maringi kasugihan lan kamulyan dhumateng sinten kemawon ingkang purun sesarengan kaliyan piyambakipun. Nanging, ugi saged nyuwak bebaya lan kasangsaran dhumateng sinten kemawon ingkang wantun ngganggu. Kula piyambak dereng nate kepanggih langsung kaliyan lelembut menika, nanging kula pitados bilih piyambakipun pancen wonten."
Puri merinding mendengar cerita Raden Arya. Ia teringat pada wanita bergaun putih yang muncul dalam mimpinya. Apakah wanita itu adalah lelembut yang dimaksud oleh Raden Arya?
"Lelembut menika... menapa piyambakipun leres-leres jahat, Raden?" tanya Puri dengan nada
leres-leres jahat, Raden?" tanya Puri dengan nada hati-hati. "Menapa piyambakipun saged nyelakai manungsa?"
Raden Arya menghela napas panjang. "Sedanten gumantung kaliyan niatipun manungsa," jawab Raden Arya dengan nada bijaksana. "Menawi niatipun sae, lelembut menika saged dados kanca. Nanging menawi niatipun ala, lelembut menika saged dados mungsuh ingkang nggegirisi."
Tiba-tiba, suasana di sekitar mereka berubah menjadi gelap dan sunyi. Angin bertiup kencang, menerbangkan debu dan daun-daun kering. Orang-orang yang tadi bercakap-cakap di dalam bale pasanggrahan tiba-tiba menghilang.
Puri merasa takut. Ia tahu, ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Raden, wonten napa niki?" tanya Puri dengan nada gemetar.
Raden Arya tidak menjawab pertanyaan Puri. Ia hanya menatap Puri dengan tatapan kosong dan dingin.
Tiba-tiba, Raden Arya meraih kerisnya dan mengacungkannya ke arah Puri.
"Panjenengan kedah pejah!" kata Raden Arya dengan suara yang mengerikan.
Puri terkejut dan ketakutan. Ia tidak mengerti mengapa Raden Arya tiba-tiba ingin membunuhnya.
Tepat saat Raden Arya hendak menusuk Puri dengan kerisnya, Puri terbangun dari tidurnya dengan kerisnya, Puri terbangun dari tidurnya dengan jeritan tertahan. Ia terduduk tegak di tempat tidur, napasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdebar kencang.
Mimpi itu terasa begitu nyata dan mengerikan. Ia tidak bisa melupakan tatapan kosong Raden Arya dan ancamannya yang mengerikan.
Puri tahu, mimpinya itu bukanlah sekadar bunga tidur biasa. Itu adalah sebuah peringatan, sebuah petunjuk, atau mungkin... sebuah kutukan.
Ia segera meraih buku catatannya dan mulai menuliskan semua detail mimpinya. Ia mencatat tentang Desa Sidomukti, Raden Arya, bale pasanggrahan yang megah, dan cerita tentang lelembut yang menjaga bale itu.
Setelah selesai menulis, Puri terdiam sejenak. Ia mencoba menafsirkan arti dari mimpinya itu.
Ia yakin, mimpinya itu adalah gambaran tentang masa lalu bale pasanggrahan. Raden Arya adalah orang yang membangun bale itu dan menjalin hubungan dengan lelembut yang menjaganya. Namun, hubungan itu ternyata berujung pada malapetaka.
Puri juga yakin, ia adalah bagian dari cerita itu. Entah bagaimana caranya, ia terhubung dengan masa lalu bale pasanggrahan dan dengan roh jahat yang menghuninya.
Puri merasa takut dan putus asa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah permainan yang sangat berbahaya, dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari permainan itu.
Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat pada kata-kata Mbah Sastro: "Cari tahu kelemahan dari roh jahat itu."
Malam-malam berikutnya, tidur Puri dipenuhi mimpi yang semakin aneh dan menakutkan. Mimpi tentang Raden Arya dan lelembut itu terus menghantuinya, namun kini disertai dengan penglihatan-penglihatan baru yang lebih mengerikan.
Dalam salah satu mimpinya, Puri melihat seorang gadis muda yang cantik jelita, mengenakan pakaian sederhana dan tersenyum lembut. Gadis itu tampak bahagia dan damai, berjalan di tengah sawah yang hijau membentang luas.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, muncul sekelompok orang yang mengenakan pakaian mewah dan wajah bengis. Mereka menyeret gadis itu dengan kasar, menuduhnya melakukan perbuatan yang keji dan menghinanya dengan kata-kata yang kasar.
Puri merasakan sakit hati dan kemarahan yang mendalam saat melihat gadis itu diperlakukan dengan tidak adil. Ia ingin membantu gadis itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan penderitaan gadis itu dari kejauhan.
Dalam mimpi yang lain, Puri melihat bale pasanggrahan yang ramai dengan orang-orang yang berpesta pora. Namun, di balik kemeriahan itu, ia merasakan aura yang gelap dan jahat. Ia melihat seorang pria yang berkuasa, tertawa dengan kejam saat ia merencanakan sesuatu yang jahat.
Puri merasa ngeri saat menyadari bahwa pria itu adalah dalang dari semua penderitaan yang dialami oleh gadis muda itu. Ia bersumpah dalam hatinya untuk membalas dendam atas nama gadis itu.
Setiap kali ia terbangun dari mimpi-mimpinya, Puri merasa semakin terbebani oleh rasa sakit hati dan kemarahan yang ia rasakan. Ia tidak tahu siapa gadis muda itu dan mengapa ia harus mengalami penderitaan yang begitu besar.
Namun, ia yakin bahwa gadis itu adalah kunci untuk mengungkap misteri bale pasanggrahan dan mengalahkan kekuatan jahat yang menghuninya. Ia harus mencari tahu siapa gadis itu dan apa yang terjadi padanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*