Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Felix menelan ludah, jantungnya memukul keras dadanya.
Felix menatap Shayna yang sangat mirip dengan Syerly.
"Jangan menggodaku!" Kata Felix pelan.
"Aku bisa menciummu disini." Tatapan Felix mengunci Shayna.
"Dan membuatmu mendesah seperti tadi malam."
Shayna menahan tawa.
Tapi seseorang di belakang Felix tidak.
"Apa kau selalu menggoda gadis dimana-mana, Fel?" Suara yang akrab membuat Felix menoleh.
"Syerly!!!"
Mata Felix membesar. Seolah dunia berhenti, ketika melihat keduanya berdiri dalam frame yang sama.
Ia menunjuk Shayna.
Kemudian menatap Syerly.
Lalu menunjuk lagi.
"Kembaranmu...?"
Syerly tersenyum kecil lalu duduk perlahan disamping Felix.
Shayna tersenyum lebar dengan tawa, menikmati setiap perubahan wajah Felix.
"Kau mempermainkannya dengan sangat baik." Komentar Syerly kepada Shayna
Lalu Syerly menoleh pada Felix yang wajahnya sudah memerah
"Lain kali perhatikan sebelum kau menggoda gadis lain!" Syerly sedikit memarahinya.
Felix menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak tangannya dan menghela nafas berat.
Syerly mendesah kecil, seolah merasa geli.
"Shay... ini Felix." Syerly memperkenalkan Felix kepada Shayna.
Shayna mengangguk santai lalu mengulurkan tangan.
"Hallo, Fel... aku Shayna, mahasiswa Fakultas Hukum." katanya dengan percaya diri.
"Aku saudara kembarnya Syerly."
Felix menjabat tangannya terlalu cepat, karena merasa gugup dan canggung.
"Senang bertemu denganmu." Jawab Felix lirih.
"Kalau begitu, aku akan pergi cari makan dulu."
Tanpa menunggu balasan orang-orang. Felix langsung melarikan diri seolah ingin cepat-cepat mencari tempat bersembunyi.
Shayna tertawa dengan keras merasa sangat puas.
Syerly hanya menggelengkan kepalanya, tapi tatapannya lembut.
"Apa dia pacarmu?" Tanya Shayna.
"Pacar apa..." sangkal Syerly. "Bukankah kau, tahu aku tidak mencari pacar."
"Tapi, dia memperlakukanmu dengan baik." Shayna menatap Syerly dengan senyum kecil seolah ingin mencari jawaban.
"Aku sudah sangat lama tidak melihatmu tersenyum seperti ini."
Syerly memutar bola matanya dengan malas.
"Jangan bicara omong kosong!" Katanya pelan, lalu menyesap kembali minumannya, seolah-olah ingin lari dari Shayna yang ingin masuk menelusuri lorong hatinya.
Beberapa menit kemudian Felix kembali. Ketika melihat Shayna yang sedang berbicara dengan Syerly, wajahnya kembali memanas.
Sialan! Ia benar-benar tidak menyangka akan menggali kuburannya sendiri.
Mengingat kebodohannya tadi Felix benar-benar sangat malu. Ia bahkan bisa merasakan panas di telinganya.
Felix menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang kacau. Setelah merasa cukup stabil ia kembali berjalan mendekat.
Felix duduk disebelah Syerly, ketika melihat Shayna yang berdiri.
"Aku akan pergi dulu." Katanya sambil mengambil barang-barangnya.
"Kau sudah selesai makan?" Tanya Syerly.
"Ya." Shayna mengangguk. Lalu sedetik kemudian menoleh kearah Felix.
"Adik ipar."
Felix menegang ketika melihat senyum kecil Shayna.
Shayna mencondongkan tubuhnya sedikit, dengan suara berbisik dan setengah menggoda.
"Lain kali kita bertemu," Shayna berkedip pelan.
"Telanlah aku dengan utuh."
Boom!!!
Wajah Felix kembali memerah seperti udang rebus.
Mulutnya terbuka, nafasnya tercekat. Ia ingin berbicara tapi sangat kesulitan.
Syerly melihatnya, mendesah pelan merasa kasihan dengan Felix. Lalu menoleh kearah Shayna dengan dingin.
"Cepat pergi, Shay!" Kata Syerly dengan nada tajam.
Shayna tertawa puas karena berhasil menggoda Felix. Ia melambaikan tangannya dan berjalan pergi.
Syerly memperhatikan pipi Felix yang masih memerah. Semakin ia menatap, semakin sulit rasanya menahan diri untuk tidak mencubitnya. Laki-laki itu biasanya terlihat dingin dan percaya diri. Tapi saat ini? Felix lebih mirip anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan.
"Aku sangat malu." Kata Felix pelan.
Syerly terkekeh pelan.
"Kau pantas mendapatkannya."
"Mengapa kamu tidak memberitahuku, jika kau mempunyai saudara kembar." Felix sedikit merajuk kepada Syerly.
Lalu mendesah pelan.
"Aku telah mempermalukan diriku sendiri." Kata Felix lirih.
Syerly tidak bisa menahan diri. Tangannya terulur pelan, lalu mencubit pipi Felix dengan gemas.
"Apa kau marah?"
Pipi Felix sangat lembut dan bersih. Sangat jarang seorang laki-laki mempunyai kulit yang sehat seperti Felix.
Felix tertegun ketika tiba-tiba Syerly mencubit pipinya, ada senyum kecil yang tidak terlihat diwajahnya.
"Aku tidak marah, jika kau menciumku."
Felix mencondongkan pipinya mendekat kearah Syerly
Dengan tamparan ringan di pipi, cukup untuk menghentikan rencana licik Felix.
"Kau memang tidak dapat tertolong lagi." Kata Syerly.
Felix menghela napas sedih.
"Aku hanya meminta sedikit ciuman, apa salahnya?"
Syerly menatap sekeliling, lalu kembali menatap Felix.
"Apa kau tidak melihat dimana kita sekarang?" Nada Syerly terdengar sedikit tajam.
"Jadi maksudmu..." mata Felix tiba-tiba bersinar, seolah ia baru saja mendapatkan pencerahan.
"Kita dapat melakukannya ditempat lain."
"Kau ingin ciuman, bukan?" Dengan senyum kecil yang tidak terlihat, Syerly mengambil bakso dengan garpu, lalu langsung menyumpal mulut Felix menggunakannya.
"Kalau begitu cium ini!"
Mata Felix membesar, ia ingin protes tapi mulutnya penuh.
Syerly tertawa, airmatanya hampir keluar, bahkan perutnya sampai terasa sakit.
Felix yang melihat tawa lepas dari Syerly akhirnya menyerah.
Kemarahannya seketika lenyap.
Dengan pelan ia mengunyah makanannya.
Melihat Syerly tertawa, ia pikir sebanding dengan semua rasa malu yang ia alami hari ini.
Felix menepati janjinya untuk mentraktir Ivan, karena telah membantunya menutupi perselingkuhannya kepada Thea, tentu saja Gio ikut bersama mereka.
Disebuah restoran mereka duduk bersama dan menikmati makanan.
Ivan makan sambil bermain ponsel. Ivan tengah asyik melihat postingan di akun media sosialnya, ketika ia melihat seseorang mengunggah sebuah foto salah satu temannya.
Ivan sedikit menyenggol Gio disampingnya, sambil diam-diam melirik kearah Felix didepannya.
Gio menatap Ivan penuh tanda tanya, ketika melihat Ivan menyodorkan ponselnya kearahnya.
Gio mengambil ponsel Ivan dan melihat postingan yang sedang diunggah.
Mata Gio sedikit melebar ketika membacanya, dan tanpa sadar melirik kearah Felix.
Tapi gerakannya telah dilihat oleh Felix.
"Ada apa?" Tanya Felix curiga.
Gio dengan ragu-ragu menyerahkan ponsel ditangannya kepada Felix.
Felix mengambilnya dengan tenang.
Ia melihat layar.
Akun: @Merah_Jambu
Caption:
>Bersikap manis dan menggemaskan.
#FELIXloveSYERLY #FeelSheer #FixkS
Image.Jpg
Felix menatap foto dirinya yang sedang duduk dan pipinya sedang dicubit oleh Syerly.
Di sana, matanya melunak.
Seperti seseorang yang sedang memandang sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.
Dan Syerly?
Gadis itu tertawa penuh kehangatan yang sangat jarang muncul dari wajahnya.
Cantik.
Teramat cantik.
Felix menatap foto itu lama.
Namun sedetik kemudian...
"Sialan!!!" Tiba-tiba Felix mengumpat, membuat Ivan dan Gio hampir tersedak makanan mereka.
"Ada apa, Fel?" Tanya Ivan dengan hati-hati.
"Siapa orang yang telah mengambil gambar ini?" Suara Felix terdengar dingin.
"Itu..." Ivan ragu-ragu membuka mulutnya ketika mendengar Felix berbicara lagi.
"Mengapa gambarku sangat gelap?" Kata Felix kesal.
"Lihat!" Felix menunjukkan layarnya kedepan teman-temannya.
"Apa orang yang mengambil foto tidak tahu cara mengambil gambar?"
"..." Ivan dan Gio diam-diam menggeleng kepala dengan pelan.
Mereka pikir, Felix akan marah dengan postingan itu. Tapi, mereka tidak menyangka, temannya benar-benar...
Ivan Gio sampai tidak tahu harus mengatakan apa...
"Fel..." panggil Ivan pelan.
"Apa kau tidak takut postingan ini diunggah di salah satu forum kampus?"
Felix menatap Ivan dengan datar.
"Mengapa aku harus takut?" Kata Felix tenang.
"Bukankah kau yang bilang, jika akun Merah Jambu sering memposting hal-hal seperti itu?"
"Bagaimana jika Thea tahu?" Tanya Ivan dengan cemas.
Tapi sedetik kemudian ia menyadari suasana menjadi sunyi.
Bahkan ia dapat merasakan perubahan emosi Felix yang berubah menjadi dingin dan menakutkan.
Ivan dengan cepat menunduk.
"Maaf." Katanya pelan.
"Seharusnya aku tidak bertanya."
Felix tetap menatap Ivan sebentar sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Sebenarnya aku sangat senang kau bertanya." Kata Felix
Perlahan Ivan mengangkat wajahnya lalu menunggu kelanjutannya.
"Tapi, aku ingin kamu tidak mencemaskanku." Tegas Felix dengan tenang.
"Tentang Thea, aku bisa mengatasinya. Karena aku sangat mengenalnya dengan sangat baik."
Ivan sedikit mengangguk. Lalu Felix tersenyum tipis tapi tulus.
"Terimakasih, Van. Sudah perduli denganku." Katanya pelan.
Ivan juga tersenyum membalas Felix dan mengangguk lagi.
Mereka kembali makan dengan tenang. Beberapa menit kemudian, ponsel Felix diatas meja berbunyi.
Gio melirik notifikasi pesan yang muncul pada layar ponsel menyala itu.
Dengan senyum menggoda, Gio menyenggol Ivan disampingnya.
"Lihat! Seseorang yang baru saja dibicarakan langsung muncul."
Felix hanya tersenyum datar, lalu menatap ponselnya.
Thea
Fel, kau ada dimana?
Felix tidak membalas, ia hanya menyalakan kamera depannya lalu mengajak teman-temannya untuk berforo bersama.
Ivan dan Gio berpose sangat baik. Lalu Felix mengirimkan gambar itu kepada Thea.