NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Tua

Kunci kuningan itu terasa berat dan dingin di telapak tangannya, sebuah artefak dari masa lalu yang menjanjikan jawaban sekaligus menuntut keberanian. Peringatan Eyang Putra masih terngiang di telinganya, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah tantangan.

...Sekali kau membuka pintu itu… kau tidak akan pernah bisa melihat keluarga ini dengan cara yang sama lagi.

Raras tidak takut. Rasa takutnya telah habis terkuras oleh penghinaan dan kesepian. Yang tersisa kini adalah rasa penasaran yang membara, sebuah insting bertahan hidup yang menuntutnya untuk memahami medan perang tempat ia dijatuhkan.

Dua hari ia habiskan di dalam gudang buku di sayap barat itu. Tempat itu bukan sekadar gudang. Itu adalah sebuah perpustakaan pribadi yang terabaikan, sebuah mausoleum bagi sejarah Cokrodinoto. Udara di dalamnya pekat dengan aroma kertas lapuk, debu, dan jejak waktu. Rak-rak kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit dipenuhi buku-buku bersampul kulit yang retak, lontar-lontar kuno yang diikat dengan benang rapuh, dan catatan-catatan tulisan tangan yang tintanya telah memudar menjadi bayangan cokelat.

Raras tidak lagi merasa seperti korban. Di antara tumpukan pengetahuan itu, ia bermetamorfosis. Ia melahap semuanya, silsilah keluarga yang rumit, catatan bisnis dari generasi pertama, hingga buku-buku primbon yang lebih tebal dan mendalam dari yang pernah ia bayangkan. Ia menemukan catatan tentang pusaka, bukan hanya sebagai benda keramat, tetapi sebagai jangkar spiritual yang menjaga keseimbangan dan kemakmuran keluarga. Ia membaca tentang weton-weton tertentu yang dianggap sebagai pilar dan yang lainnya sebagai potensi perusak.

Korban pasrah yang menandatangani kontrak di kamar pengantin itu telah mati. Yang lahir di antara debu sejarah ini adalah seorang pengamat, seorang analis yang otaknya yang tajam kini memiliki data untuk diolah. Ia mulai melihat pola, menghubungkan kesialan Radya dengan siklus-siklus tertentu yang tertulis di buku ramalan kuno.

Raras mulai mengerti mengapa Eyang begitu bersikeras pada solusi spiritual. Ini bukan takhayul buta, ini adalah sistem kepercayaan yang telah teruji oleh generasi-generasi sepuh terdahulu.

Malam ketiga, matanya sudah terasa perih karena terlalu lama menatap aksara kuno di bawah cahaya lampu petromaks yang ia bawa. Jarum jam di ponselnya menunjukkan pukul dua dini hari. Perutnya melilit, meminta asupan kafein dan sedikit karbohidrat. Dengan langkah pelan, ia keluar dari gudang buku, mengunci kembali pintunya, dan berjalan menyusuri koridor gelap menuju dapur.

“Mbok, belum tidur?” sapanya pelan saat melihat siluet seorang pelayan tua sedang membersihkan meja dapur.

Pelayan itu, Mbok Tumi, sedikit terperanjat.

“Eh, Nyonya. Kaget saya. Belum, Nyonya. Nyonya sendiri kenapa belum istirahat?”

“Lagi nggak bisa tidur, Mbok. Boleh saya minta dibuatkan kopi pahit?”

“Tentu, Nyonya. Sebentar saya siapkan.” Mbok Tumi bergerak dengan cekatan. Sambil menunggu, Raras berjalan ke jendela besar di ruang makan yang menghadap langsung ke taman belakang. Dari sana, Paviliun Tua tampak seperti siluet agung yang berjaga di bawah siraman cahaya bulan yang pucat.

“Ini kopinya, Nyonya,” suara Mbok Tumi menyadarkannya.

“Terima kasih, Mbok. Istirahat saja kalau sudah selesai. Biar saya yang taruh cangkirnya nanti.”

“Baik, Nyonya. Saya permisi dulu.”

Raras menyesap kopinya perlahan, kehangatan pahit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya tak lepas dari paviliun itu.

Tempat sakral di mana nasibnya diikat pada keluarga ini. Tiba-tiba, sebuah gerakan di sudut matanya menarik perhatiannya.

Sesosok bayangan bergerak dari arah gerbang samping, menyelinap di antara rimbunnya pohon kamboja. Langkahnya cepat dan senyap, jelas tidak ingin terlihat. Jantung Raras mulai berdebar sedikit lebih kencang. Maling? Di kediaman yang dijaga seketat ini?

Sosok itu berhenti di bawah pohon beringin, menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan keadaan aman. Saat cahaya bulan menimpa wajahnya sejenak, Raras menahan napas.

Itu Bayu. Ajudan kepercayaan Radya.

Untuk apa Bayu berada di taman pada jam dua pagi dengan gerak-gerik seperti itu? Bukankah ia seharusnya berada di paviliun ajudan atau pulang ke rumahnya?

Kecurigaan Raras tersulut. Ia meletakkan cangkirnya tanpa suara, lalu mematikan lampu ruang makan, membuat dirinya tak terlihat dari luar. Dari kegelapan, ia terus mengamati.

Bayu tidak menuju ke rumah utama. Tujuannya jelas. Ia berjalan lurus ke arah Paviliun Tua. Bukan langkah biasa seorang abdi dalem yang hendak berdoa, melainkan langkah seorang pencuri di rumahnya sendiri. Ia membuka pintu paviliun yang berat itu tanpa suara, lalu menyelinap masuk dan menutupnya kembali.

Hening.

Raras berdiri mematung di dekat jendela, otaknya bekerja cepat. Apa yang dilakukan orang kepercayaan nomor satu keluarga Cokrodinoto di dalam paviliun keramat pada tengah malam buta? Ini bukan kunjungan biasa. Insting penulisnya, yang terlatih untuk mencium kejanggalan dalam sebuah narasi, berteriak bahwa ada plot tersembunyi yang sedang berjalan.

Raras memutuskan untuk menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti satu jam. Akhirnya, pintu paviliun terbuka lagi. Bayu melangkah keluar, gerakannya sama waspadanya seperti saat ia masuk. Ia tidak membawa apa-apa yang terlihat, tetapi Raras bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada aura kepuasan yang aneh dari siluet tubuhnya. Bayu kembali menyelinap melalui taman dan lenyap di kegelapan.

Raras tidak berpikir dua kali. Didorong oleh adrenalin dan rasa penasaran yang tak tertahankan, ia membuka pintu belakang dapur dan melangkah keluar. Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang. Tanpa alas kaki, ia berjalan di atas rumput yang basah oleh embun, langkahnya seringan mungkin, menuju paviliun.

Pintu kayu jati itu tidak dikunci. Dengan tangan gemetar, ia mendorongnya sedikit. Engselnya berderit pelan, suaranya terdengar memekakkan telinga di tengah keheningan malam. Ia menyelinap masuk.

Aroma dupa cendana yang biasa tercium kini terasa berbeda. Ada bau lain yang menyertainya, bau yang samar tapi tajam, sesuatu yang asing dan tidak seharusnya berada di sana. Matanya menyapu seisi ruangan yang remang-remang. Tidak ada yang tampak berbeda. Amben tempat Eyang biasa duduk, tikar pandan, beberapa guci antik di sudut ruangan. Semuanya tampak normal.

Lalu ia melihatnya.

Di atas sebuah baki kuningan kecil di dekat tiang utama, sebuah lilin tebal berwarna gading baru saja padam. Asap tipis masih mengepul dari sumbunya yang menghitam, menyebarkan aroma aneh itu ke seluruh ruangan. Ini pasti yang Bayu nyalakan.

Raras mendekat dengan hati-hati. Ia membungkuk, mendekatkan hidungnya ke arah lilin itu, mencoba mengidentifikasi bau yang mengusiknya. Itu bukan bau wangi bunga atau rempah seperti lilin aromaterapi. Bukan pula bau lilin biasa.

Bau itu… amis. Anyir.

Seperti bau logam berkarat yang dicampur dengan sesuatu yang pernah hidup. Bau yang mengingatkannya pada darah yang sudah mengering di atas tanah.

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ritual apa yang menggunakan lilin dengan aroma seperti ini? Untuk tujuan apa Bayu melakukannya secara diam-diam di jantung spiritual keluarga Cokrodinoto?

Tepat saat kesadaran mengerikan itu menghantam benaknya, sebuah suara memecah keheningan di belakangnya.

KLIK.

Suara pintu paviliun yang tertutup dan terkunci dari luar.

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!