Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYTB 9
Stendy bergegas berlari masuk ke dalam villa miliknya. Pria itu berteriak mencari sosok yang sejak tadi menjadi pikirannya.
“Janice,”
Suara Stendy terdengar menggema di seluruh ruang. Langkahnya lebar menaiki anak tangga menuju kamar Janice. Sunyi, itu yang kini dirasakan Stendy saat melihat kamar Janice yang begitu gelap.
Stendy melangkah maju dan menekan saklar lampu. Seketika ruangan itu terlihat terang dengan pencahayaan dari lampu.
Stendy memperhatikan dengan seksama seluruh kamar yang Janice, dahinya berkerut saat melihat meja rias kosong, biasanya disana ada berbagai skincare milik janice. Namun, kini tidak satupun benda ada di sana. Firasatnya semakin tidak menentu saat matanya melirik ke sudut lemari. Seketika itu juga matanya terbelalak saat menyadari koper milik Janice tidak ada di sana.
Stendy berjalan cepat menuju lemari dan ia kembali dikejutkan dengan kondisi lemari yang kosong. Tidak ada satu helai pakaian Janice disana. Hanya ada beberapa gaun yang memang pernah Stendy belikan untuk wanita itu.
Bukan hanya pakaian yang pernah diberikan Stendy saja yang Janice tinggal. Tapi beberapa perhiasan dan black card yang pernah diberikan Stendy pun ada di dalam lemari itu. Lututnya terasa lemas, nafasnya mulai memburu. Pikirannya kacau, kemana Janice pergi? Stendy menggeleng dan berteriak.
“Mengapa kamu pergi, Janice!” teriak Stendy sambil meremas rambutnya.
Dadanya sudah naik turun, karena rasa marah dan kesalnya itu. Dengan cepat dia kembali mencoba menghubungi Janice. Namun, hasilnya tetap sama. Ponsel Janice tidak dapat dihubungi, lebih tepatnya Janice sudah mengganti nomor telepon dan hanya beberapa orang saja yang tahu nomornya.
“Sial!” teriak Stendy sambil memukul pintu lemari.
Stendy terdiam sejenak, tatapannya begitu tajam dan dingin. Bibirnya mengatup dengan rahang mengeras. Ia pun meremas ponselnya. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan lurus.
Stendy tersenyum menyeringai. “Kau ingin pergi dan mengakhiri hubungan ini, hah!” Stendy menyugar rambutnya.
“Baiklah, kita lihat saja. Mau sampai kapan kamu akan bertahan di luar sana tanpa diriku,” Stendy tersenyum menyeringai.
Ia tahu kalau Janice tidak bisa jauh dari dirinya. Karena Stendy tahu, Janice sangat mencintai dirinya.
Pagi menjelang, Janice sudah tiba di villa utama keluarga Canet. Di luar villa utama, Briant dan kedua temannya sudah siap di dalam mobil. Mereka menunggu sampai Janice keluar dari villa tersebut. Irene sangat terkejut melihat Janice datang sepagi ini. Kini keduanya duduk bersama di ruang tamu, tidak lama Fandy datang dan juga menyapa Janice.
“Mengapa semalam kamu tidak menginap saja?”
Janice tersenyum mendengar pertanyaan Irene. Ia meraih tangan wanita yang sudah ia anggap ibu angkatnya itu.
“Maafkan aku, Bu. Semalam ada sesuatu yang mendesak, dan aku terpaksa pergi lebih cepat tanpa memberitahukan Ibu ataupun Ayah. Bahkan aku juga belum sempat bertemu dengan Deferla,” jawab Janice yang merasa sangat bersalah.
Irene tersenyum dan menepuk punggung tangan Janice. “Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kami pun memahami urusanmu itu. Pasti Stendy yang mengajakmu pulang,”
“Kami sudah tidak heran jika Stendy yang mengajakmu pulang cepat, Janice. Memang anak itu tidak pernah suka dengan acara yang kami gelar,” Fandy ikut menimpali ucapan Irene.
Janice tersenyum kelu, lalu ia menarik nafas dalam-dalam. Janice menggigit bibir dalamnya, entah mengapa rasanya berat sekali untuk mengatakan apa yang terjadi antara dirinya dan Stendy. Namun, dirinya sudah berjanji untuk tidak lemah menghadapi kedua orang tua Stendy. Siap atau tidak Janice harus tetap membicarakannya. Karena ini demi kebaikan dirinya.
“Bu, Yah, ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian,” ucap Janice yang membuat Irene mengerutkan dahinya. Lalu tatapannya beralih ke arah suaminya.
“Apa yang ingin kamu sampaikan, Janice?” tanya Fandy yang juga penasaran.
Jenice mendesah pelan. “Sebenarnya aku datang sepagi ini, ingin menyampaikan kalau aku dan Stendy sudah mengakhiri hubungan kami,”
“Tidak!”
Janice, Iren dan Fandy segera menoleh ke sumber suara. Disana terlihat Deferla yang baru saja bangun dan sudah berdiri di belakang mereka. Gadis itu berjalan cepat ke arah Janice. Janice pun berdiri dan menatap Deferla.
“Aku tidak suka mendengar apa yang baru saja kamu katakan tadi, Kak Janice. Aku tidak mau kamu pisah dengan Kak Stendy,” protes Deferla dengan tatapan kekecewaan pada Janice.
Janice menelan salivanya. “Deferla,” Janice menjeda ucapannya sejenak sambil ia memainkan jemarinya.
“Apa yang aku katakan tadi adalah kebenarannya. Memang aku dan Stendy sudah mengakhiri hubungan kami tadi malam,” jawab Janice.
“Tadi malam?” Irene segera menyahut. “Bukankah semalam kalian…” Irene menjeda ucapannya, lalu kedua alisnya berkerut.
“Apa ini ada hubungannya dengan Harisa?” tebak Irene yang membuat Fandy dan Deferla menatap Janice.
Janice langsung merubah ekspresi wajahnya, dan itu membuat Irene dan Deferla yakin, kalau tebakan Irene benar.
“Janice, kamu tidak perlu mengakhiri hubunganmu dengan Kak Stendy. Masalah Harisa biar aku yang urus,” kata Deferla.
“Wanita itu memang tidak tahu malu!” Deferla begitu kesal jika ia mengingat pertemuannya tadi malam dengan Harisa.
Deferla sebenarnya juga sangat terkejut dengan kehadiran Harisa di pesta kedua orang tuanya. Padahal mereka tidak pernah mengundangnya, bahkan mereka juga baru tahu kalau Harisa sudah kembali.
Janice tersenyum miris, ia sudah bisa menebak kalau Deferla atau kedua orang tua Stendy akan mengatakan hal itu.
“Tidak. Aku juga sudah sangat yakin untuk mengakhiri hubungan kami,” sahut Janice.
Deferla menatap kecewa pada Janice, dan bertanya. “Tapi, mengapa? Kalian sudah cukup lama berhubungan. Atau perlu kita percepat saja pernikahan kamu dan Stendy. Biar si Harisa itu tidak lagi mengganggu hubungan kalian,” Deferla berkata dengan penuh semangat.
Janice menggeleng dengan senyum mirisnya. “Tidak. Walaupun kami menikah, tetap saja hubungan kami tidak akan sesuai dengan apa yang kalian harapkan. Bu, Yah ..,” ada sedikit jeda dari ucapan Janice ketika menoleh dan menatap kedua orang tua Stendy.
Janice melanjutkan kembali, dan berkata. “Kalian pasti tahu, kan. Kalau menikah itu untuk seumur hidup, dan seumur hidup itu sangatlah lama. Aku memilih mengakhiri hubunganku dengan Stendy pun, ada alasannya. Salah satunya itu, karena aku merasa selama dua tahun ini dia tidak pernah mencintaiku. Stendy menerimaku karena sebuah keterpaksaan. Cintanya dan hatinya hanya untuk Harisa, bukan untukku.” Janice mencoba memberi penjelasan pada kedua orang tua Stendy dan juga adik perempuannya itu.
Irene, Fandy dan Deferla tertegun mendengar ucapan Janice. Ketiganya menatap iba pada wanita yang sudah mereka anggap bagian dari keluarga Canet. Walau hubungan keluarga Canet kurang baik dengan kedua orang tua Janice. Namun, Fandy dan Irene begitu menyayangi Janice.
Dalam benak mereka bertiga bertanya, benarkah itu? Atau ini hanya sebuah alasan atau trik Janice untuk mengakhiri hubungannya dengan Stendy. Janice yang seakan paham situasi pun mengeluarkan sebuah amplop, dan bahkan dia juga sudah siap memutar sebuah video.
“Aku punya bukti bahwa Stendy masih mencintai Harisa. Kalian lihatlah ini,” Janice memberikan beberapa lembar foto, bahkan ponselnya juga sudah menayangkan sebuah video dimana Stendy dan Harisa terlihat bermesraan.
“Itu bukan settingan. Foto dan video ini semuanya real,” ujar Janice.
Kedua orang tua Stendy dan adik perempuannya itu terlihat sangat terkejut setelah melihat foto Harisa dan Stendy sedang berbuat tidak senonoh. Bahkan itu terlihat di sebuah ruangan yang tidak begitu asing di mata mereka. Ya, itu adalah ruang kerja Stendy di perusahaannya.
“Dasar anak kurang ajar,” Irene terlihat begitu marah.
Fandy pun terlihat sudah sangat marah. Lantas pria itu pun segera mengambil ponselnya dari saku celananya. Janice hanya diam, ia sudah siap jika hari ini akan ada kerusuhan dalam keluarga Canet, karena dirinya telah mengadu pada kedua orang tua Stendy.
“Cepat datang ke villa utama!”
Suara Fandy terdengar begitu tegas, wajahnya terlihat muram. Pria paruh baya itu berusaha menahan kemarahannya sampai Stendy tiba.
Sementara itu Stendy yang baru saja membuka matanya masih mencerna apa yang barusan ayahnya katakan. Stendy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya cukup kasar. Ini memang sudah biasa Fandy akan bicara cepat dalam memerintahkan dirinya. Tanpa bertanya lagi Stendy segera menuju kamar mandi.
Walau dalam pikirannya saat ini sedang bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Sampai ia harus datang ke villa utama sepagi ini.
Satu jam berlalu, kini Stendy telah tiba di villa utama. Pria itu cukup terkejut melihat keberadaan Janice. Stendy tersenyum menyeringai dan menatap remeh pada Janice.
“Lihatlah, dia kembali tanpa harus aku minta.” Stendy bergumam dalam hatinya.
“Ternyata kau disini,” suara Stendy terdengar seperti sebuah ejekan. Bahkan tatapannya pada Janice pun, begitu meremeh.
Janice menghela nafasnya dan tersenyum menyeringai, membuat Stendy tertegun sejenak sebelum ia kembali menetralkan dirinya. Tatapannya begitu tajam dan dingin terhadap Janice. Namun, wanita itu tidak takut. Bahkan tatapan Janice pun, sama halnya dengan Stendy.
“Stendy!” Fandy membuka suaranya begitu lantang, sedikit membentak.
Stendy mengerjap dan menoleh ke arah Fandy. Alisnya sedikit berkerut dengan isi kepala yang bertanya-tanya. Sebab saat ini Fandy sedang menatapnya dengan tatapan marah, lalu Stendy mengalihkan tatapannya ke arah Irene dan Deferla. Stendy terheran, mengapa kedua orang tuanya dan adiknya itu menatapnya marah seperti itu?
Masih dengan tatapan bingung, Stendy pun bertanya. “Ada apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?” pertanyaan Stendy sukses membuat Irene semakin kesal.
“Apa kau kembali menjalin hubungan dengan Harisa?” tanya Irene.
Stendy mengerutkan dahinya setelah mendengar pertanyaan dari sang ibu. Kemudian ia pun menatap Janice yang terlihat santai, namun tatapannya begitu dingin saat meta mereka kembali bertemu.
Dalam hati Stendy bergumam kesal. “Sial, jadi Janice sudah memberitahukan kejadian semalam pada mereka.” Stendy mengepalkan kedua tangannya.
“Sebenarnya ini ada apa?” Stendy masih berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud dengan sang ibu.
Ia pun kembali bertanya. “Mengapa tiba-tiba Ibu bertanya seperti itu?” dengan wajah kepura-puraannya itu sukses membuat Janice geram.
Wanita itu diam-diam menggertakkan giginya. Hatinya semakin kesal dan sangat ingin mencakar wajah Stendy.
“Apa kau masih ingin mengelak, hah. Lihat ini!” Fandy melempar semua foto yang diberikan Janice.
“Kamu benar-benar brengsek, Kak!” Kini Deferla ikut bicara dan bahkan suaranya pun meninggi.
Hilang sudah rasa hormatnya pada sang kakak. “Kurang apa Kak Janice selama ini, hah!” Nafas Deferla sudah memburu.
“Diam-diam kamu mengkhianati wanita yang begitu mencintaimu. Yang begitu peduli padamu, bahkan dia rela meninggalkan kuliahnya hanya demi kamu. Tapi, lihatlah….” Deferla menjeda ucapannya sejenak, karena ia tidak sanggup menahan air matanya.
Deferla menarik nafasnya dalam-dalam, di sebelahnya Janice sudah mengusap punggung wanita itu. “Kamu malah mengkhianati Janice, dan memilih wanita yang sudah jelas-jelas pernah membuat luka di hatimu, Kak!” ucap Deferla kembali.
Stendy masih diam menatap lembar foto dimana dirinya dan Harisa sedang berciuman mesra. Bahkan satu tangan Stendy di foto itu terlihat sedang memegang salah satu buah dada Harisa.
Stendy meremas foto itu dan menatap Janice. Hatinya kini mulai bergejolak, dirinya masih begitu terkejut, karena Janice nyatanya sudah mengetahui kebusukannya dalam waktu singkat. Stendy teringat ucapan Janice tadi malam, dan itu membuat dirinya tidak ingin Janice marah dan meninggalkan dirinya. Namun, dirinya juga tidak ingin kehilangan Harisa untuk kedua kalinya.
“Apa kau tidak bisa menjawabnya, Stendy?” tanya Irene dengan ekspresi wajah dinginnya.
Stendy mendongakkan kepalanya dan menatap sang ibu. “Bu,” suaranya begitu tercekat saat ingin bicara.
Irene menggeleng dengan perasaan begitu kecewa pada putranya itu. Irene menatap ke arah lain dan mendesah kasar.
“Diammu sudah membuktikannya. Maka dari itu Ibu setuju dengan keputusan Janice,” ucap Irene tanpa mau menoleh ke arah Stendy.
Stendy mencerna ucapan Irene, dan ia kembali menatap ke arah Janice. Stendy menggeleng dengan cepat.
“Bu, aku bisa jelaskan. Kalian hanya salah paham, aku dan Harisa tidak ada hubungan apapun,” Stendy mengelak dan mencoba untuk membela dirinya.
“Tidak ada hubungan, hah! Lalu ini apa?” sarkas Deferla yang begitu kecewa pada sang kakak.
Dengan hati yang terselimuti kekecewaan dan kemarahan, Deferla kembali berkata sambil menunjuk wajah Stendy. “Kamu sudah menyakiti hati wanita sebaik Kak Janice. Asal kamu tahu, Kak. Itu sama saja kamu menyakiti Ibu dan aku!” Stendy bergeming mendengar ucapan Deferla.
“Aku kecewa sama kamu, Kak.”
Usai berkata seperti itu, Deferla pun berlalu meninggalkan ruang tamu dan kembali ke dalam kamarnya. Stendy masih bergeming, ini pertama kalinya ia melihat sang adik begitu marah dan kecewa kepadanya. Irene pun menyusul dan pergi dengan perasaan kecewa pada putranya. Tinggalkanlah Fandy, Stendy dan Janice di dalam ruangan tersebut.
Fandy pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Stendy. Stendy menatap pria paruh baya itu, dan dapat Stendy lihat dari sorot mata sang ayah yang juga terlihat marah, kesal bercampur dengan rasa kecewa.
“Kamu berhasil membuat kami semua kecewa. Semoga pilihanmu itu tidak membuatmu kembali terluka seperti dulu,” Fandy segera pergi begitu saja dan hanya menyisakan Janice dan Stendy.
Janice melihat Stendy masih diam pun, berkata. “Selamat tinggal, Stendy. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu,” Janice segera berbalik dan berjalan meninggalkan Stendy.
Stendy tersadar mendengar ucapan Janice. Ia pun bergegas mengejar Janice.
“Tunggu, Janice!” panggil Stendy, akan tetapi Janice mengabaikan panggilan itu.
Stendy semakin kesal dan melebarkan langkahnya. Di depan teras ia berhasil mencekal dan menarik lengan Janice. Membuat Janice sedikit terhuyung dan membentur dada bidang Stendy.
“Kau sengaja, bukan!” bentak Stendy.
Alis Janice berkerut. “Apa maksudmu?”
Stendy tersenyum sinis. “Aku tahu seperti apa dirimu, Janice. Jadi tidak perlu kamu berpura-pura untuk mencari perhatian penuh dariku,”
Janice tertawa dingin mendengar ucapan Stendy. “Apa yang kamu ketahui tentang diriku, hah?” tantang Janice.
Stendy mengeraskan rahangnya. “Kau..” tangannya semakin mencengkeram lengan Janice, hingga wanita itu meringis kesakitan.
“Lepaskan aku, brengsek!” Janice mencoba memberontak.