Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Cahaya Palsu
Cahaya malam merambat lembut melalui kisi-kisi jendela ruang meditasi kecil itu, menimpa lantai batu dengan warna biru pucat yang tampak rapuh. Lin Feiyan duduk bersila di tengah ruangan, kedua bahunya turun, nafasnya berat dan pendek seperti seseorang yang baru saja berlari jauh meski ia tidak bergerak sama sekali. Ia memandangi kedua tangannya yang terkulai di pangkuan—telapak yang bergetar halus, seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ia sanggup pahami.
Bekas kekalahan di arena masih menghantam dirinya dari dalam. Sorakan kecil, bisik-bisik merendahkan, tatapan kasihan… semuanya berputar di kepalanya tanpa arah. Ia berusaha menarik napas panjang, tetapi dada terasa seolah dibungkus kabut dingin. Ruangan hening, hanya suara angin malam yang sesekali meraba dinding kayu.
Pintu bergeser perlahan.
“Feiyan.” Suara itu begitu lembut, serasa jatuh dari atap malam. Xi Qinxue melangkah masuk tanpa suara—seolah lantai tak berani menampik langkahnya. Gaun putih kebiruan yang ia kenakan hanya memantulkan sedikit cahaya, tetapi entah bagaimana, kehadirannya membuat ruangan tampak lebih terang.
Feiyan mengangkat wajah perlahan. “Senior Xi…”
Senyum Qinxue seperti kabut musim semi, tipis namun menghangatkan. “Aku mendengar apa yang terjadi di kompetisi.” Ia menutup pintu perlahan, matanya tetap tidak beralih dari wajah Feiyan. “Kau pasti merasa berat.”
Feiyan tidak menyangkal. Ia hanya menunduk lebih dalam. “Aku… sudah mencoba, tetapi tetap saja gagal.”
Qinxue duduk di belakang Feiyan, sedikit menyamping agar gadis itu tidak merasa terintimidasi. “Kegagalan bukanlah dosa,” bisiknya lembut. “Tetapi membiarkan luka itu membusuk… itu yang membuat batinmu runtuh. Dan aku tidak ingin itu terjadi padamu.”
Ia mengulurkan tangan, menyentuh udara di dekat bahu Feiyan—gerakan yang begitu ringan, seakan menunggu izin tanpa memintanya. Feiyan tidak menjauh, meski tubuhnya sedikit menegang. Dengan senyum kecil, Qinxue menyalakan dupa kecil berbentuk kelopak bunga. Aroma lembut menguar, ringan dan manis seperti embun yang jatuh di kelopak bulan.
Feiyan menghirupnya tanpa sadar. Kelopak matanya turun perlahan, wajahnya melunak.
“Dupa ini tidak berbahaya,” kata Qinxue lembut, suaranya seperti untaian benang sutra yang ditarik perlahan. “Ia hanya membantumu menenangkan pikiran yang berisik.”
Feiyan mengangguk pelan, mengikuti ritme nafas aromatik yang samar. Xi Qinxue memosisikan diri tepat di belakangnya. Kedua telapak tangannya diletakkan di punggung Feiyan dengan sentuhan seolah tidak menyentuh—jeda tipis di antara kulit dan kulit, namun Feiyan dapat merasakan aliran energi halus dari seniornya, menelusuri sepanjang tulang belakangnya.
“Tarik napas perlahan.”
Feiyan mengikuti.
“Keluarkan.”
Ia mengikuti lagi.
Suhu ruangan seperti berubah. Suara angin menghilang. Dunia terasa sedikit melayang.
“Baik,” Qinxue berbisik, suaranya hampir hilang dalam aroma incense. “Sekarang biarkan dirimu masuk.”
***
✦ Memasuki Ilusi
Ruangan runtuh tanpa suara. Lantai dan dinding lenyap dalam sekejapan. Feiyan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah padang rumput halus dengan bunga putih yang berpendar lembut. Setiap helai rumput tampak seperti bagian dari mimpi yang belum selesai—terlalu lembut, terlalu bersih untuk menjadi nyata. Langit penuh bintang, namun bintang-bintang itu mengalir perlahan seperti butiran hujan yang tersangkut di udara.
Angin berhembus tanpa dingin, membawa aroma manis yang sama dengan incense tadi. Feiyan menyentuh dadanya; detak jantungnya lambat dan stabil, berbeda dari sebelumnya.
“Jangan takut,” suara Xi Qinxue muncul dari belakangnya.
Feiyan menoleh. Seniornya tampak sedikit berbeda—lebih bersinar, lebih halus, seperti sosok yang terbuat dari cahaya air. Namun Feiyan tidak merasa terancam. Sebaliknya, ia merasa seperti telah menemukan tempat yang sudah lama menunggunya meski ia tak tahu namanya.
“Ini… mimpi?” Feiyan bertanya.
“Bukan mimpi,” Qinxue menjawab. “Hanya meditasi yang dipandu. Dunia batinmu sedang menata ulang dirinya.”
Feiyan memandang padang rumput itu sekali lagi. “Rasanya… tenang.”
Qinxue tersenyum, melangkah mendekat. “Karena di sini, kau tidak membawa rasa sakitmu.”
Sentuhan jemari Qinxue menyapu udara dekat lengan Feiyan, dan pendar tipis mengikuti gerakan itu. Feiyan merasakan sesuatu yang hangat merambat lembut ke sela-sela hatinya—seperti seseorang akhirnya menutup pintu-pintu bad memories dengan tangan penuh kasih.
“Feiyan,” Qinxue berbisik, “lihatlah ke langit.”
Feiyan mendongak. Bintang-bintang bergerak perlahan, membentuk tiga cahaya yang berbeda:
Satu biru pucat—dingin tetapi menenangkan.
Satu merah muda—hangat dan menggoda.
Satu keemasan—cerah dan ceria.
Feiyan mengenal sensasi-sensasi itu meski ia tak bisa menyebut namanya.
Gao Lian.
Lin Yue.
Yan Mei.
Namun dalam ilusi ini, semua rasanya jauh lebih lembut. Mereka tidak menusuk, tidak menyakitkan. Hanya kenangan samar yang dipoles menjadi cahaya.
“Hubunganmu dengan mereka,” Qinxue berujar, “penuh warna.”
Feiyan memejamkan mata, seakan ingin mempercayai itu. “Mereka… peduli padaku.”
Qinxue tersenyum kecil. “Tentu saja.”
Ia mengelus rambut Feiyan ringan, dan cahaya-cahaya itu meredup sedikit. “Kenangan buruk hanya lahir dari pikiran yang tidak stabil. Semuanya bisa terlihat lebih baik jika kau melihat dengan hati yang jernih.”
Feiyan mengangguk, terseret oleh ketenangan palsu itu. “Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir…”
“Tidak apa-apa.” Qinxue mengulur tangan, dan dari tanah muncul sebuah titik cahaya kecil, sebesar biji embun. “Ini—lihatlah.”
Feiyan mendekat perlahan.
“Titik kecil ini,” Qinxue menjelaskan lembut, “adalah inti bakatmu. Ia mungkin tampak redup… tetapi tidak salah jika kau ingin menyentuhnya.”
Feiyan ragu. “Bolehkah?”
“Boleh,” jawab Qinxue sambil menepuk pundaknya pelan. “Aku akan membimbingmu.”
Feiyan mengulurkan tangan. Begitu ujung jarinya menyentuh cahaya itu, sesuatu di dalam dirinya terasa tersedot sedikit—sangat halus, hampir terasa seperti sekadar udara yang bergerak. Ia tidak merasa sakit. Ia tidak merasa lemah. Ia hanya merasa… semakin ringan.
Xi Qinxue menatapnya dengan mata yang tidak berkedip, memantau setiap gerakan energi yang berpindah.
“Lakukan perlahan,” katanya.
Feiyan melanjutkan, menyentuh titik cahaya itu lagi.
Energi kecil dari fondasi spiritnya mengikis, nyaris tak terlihat. Senyuman Qinxue tetap lembut, namun ada garis tipis ketegangan di bawah kelopaknya—tanda kendali yang ia sembunyikan begitu halus.
“Bagus,” Qinxue membisik, mendekatkan wajahnya sedikit. “Sangat bagus…”
Feiyan tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya merasakan kehangatan menyebar dari titik itu, menyelimuti hatinya seperti selimut malam.
“Tarik napas lagi,” perintah Qinxue.
Feiyan melakukannya.
“Bagus. Lupakan semuanya untuk sekarang.”
Feiyan menurunkan bahunya, tubuhnya terasa melayang.
“Di sini,” Qinxue melanjutkan, “kau aman. Kau tidak sendirian. Kau tidak perlu berjuang.”
Feiyan menunduk, matanya berkabut. “Aku… lelah.”
“Aku tahu,” Qinxue membalas, nada suaranya begitu lembut hingga seperti mendekap jiwa. “Biarkan aku yang menuntunmu.”
Feiyan mengangguk perlahan, sepenuhnya tenggelam dalam kedamaian semu yang membungkusnya.
Aroma dupa semakin kuat, padang rumput makin kabur, dan bintang-bintang bergerak lebih cepat, seperti mengalir mengitari mereka berdua. Feiyan menatap titik cahaya di depannya lagi—kini tampak lebih kecil, tetapi bercahaya lebih lembut—dan merasa seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang penting, padahal ia kehilangan hal lain yang jauh lebih besar.
Qinxue menatapnya dari samping, jari-jarinya bergerak halus memandu energi. “Lanjutkan, Feiyan. Kau sudah sangat baik.”
Feiyan mengulurkan tangan untuk menyentuh titik cahaya itu sekali lagi—
dan dunia sedikit bergetar, seakan ada sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.
Namun getaran itu masih terlalu halus untuk disadari Feiyan.
Ia hanya memejamkan mata dan membiarkan dirinya lebih dalam tenggelam.
Titik cahaya itu berdenyut perlahan, seperti jantung kecil yang tidak tahu milik siapa. Feiyan menatapnya dengan mata setengah terpejam, tubuhnya condong ke depan tanpa ia sadari, seolah ada tali halus yang menarik dirinya mendekat. Setiap denyut cahaya memantul di irisnya yang berkabut, membuatnya tampak seperti sedang menatap sesuatu yang sangat berharga.
“Sentuh sekali lagi,” ucap Xi Qinxue, suaranya turun satu nada, dalam dan halus seperti embun jatuh. “Kali ini… biarkan dirimu benar-benar merasakannya.”
Feiyan mengangguk kecil. Ujung jarinya menyentuh cahaya itu—dan seketika sensasi hangat mengalir melalui lengannya, melintasi pundak lalu menyusup ke dada. Tidak menyakitkan. Tidak mengganggu. Hanya hangat, lembut, menenangkan, seperti seseorang sedang mengusap hatinya yang penuh retak.
Namun di balik hangat itu, ada sesuatu yang bergerak keluar dari dirinya. Aliran tipis, lebih halus daripada aliran qi biasa. Sebuah fragmen kecil dari spirit foundation-nya menyelinap keluar, mengalir ke titik cahaya itu seperti embun yang jatuh ke kelopak bunga.
Feiyan tidak menyadarinya. Ia hanya merasakan tubuhnya semakin ringan.
“Bagus,” bisik Qinxue. Ia berdiri di belakang Feiyan, mencondongkan tubuh sedikit hingga rambutnya hampir menyentuh pundak Feiyan. “Kau sangat… sangat mudah untuk dibimbing.”
Feiyan tidak mendengar nada halus yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Ia hanya memejamkan mata lebih dalam.
Padang rumput ilusi bergemerisik tanpa angin. Bintang-bintang di langit bergeser, kali ini tidak lembut—tetapi sedikit terlalu cepat, seperti ada tangan besar mengaduk langit. Cahaya bintang memanjang, berputar membentuk lingkaran samar di udara.
Feiyan mengangkat wajah. “Kenapa… langitnya bergerak?”
Qinxue tersenyum lembut. “Karena hatimu mulai menenangkan diri. Ilusi beradaptasi dengan keadaanmu.”
Feiyan mengangguk, meski ada sedikit ketidakpastian di dalam dirinya. Namun ketidakpastian itu tertelan cepat oleh aroma incense yang semakin pekat, menutup ruang antara pikiran dan perasaan hingga batas keduanya kabur.
Ia menyentuh titik cahaya itu lagi.
Kali ini, cahaya bergetar keras.
Feiyan tersentak kecil. “Ah…”
“Ada apa?” Qinxue memiringkan kepala, tetapi matanya tetap tajam mengawasi aliran energi yang berpindah.
“Aku merasa… aneh. Seperti… ada yang hilang.”
Qinxue menempelkan dua jarinya di tengkuk Feiyan, aliran spiritual terdengar seperti riak lembut. “Itu hanya bebanmu yang terangkat. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Feiyan. Biarkan semuanya mengalir.”
Feiyan menarik napas, dan seluruh padang rumput kembali tenang—setidaknya di permukaan.
Namun sesuatu di balik ketenangan itu mulai berubah.
Di tepi penglihatannya, rerumputan yang seharusnya lembut dan bercahaya tampak sedikit lebih gelap. Bintang-bintang yang semula bergerak tenang berputar sedikit miring. Seolah ada garis tipis yang memotong dunia ini menjadi dua, meski garis itu masih samar seperti goresan di udara.
Feiyan memincingkan mata. “Senior… apa itu?”
Qinxue mengerutkan alis halusnya. “Apa yang kau lihat?”
Feiyan menunjuk. “Di sana. Seperti… retakan? Hitam.”
Qinxue menajamkan mata. Untuk pertama kalinya, senyum lembutnya bergetar sedikit. Ia melangkah maju dan menyentuh udara tempat Feiyan menunjuk. Titik itu berkedip.
Sayatan hitam tipis, seperti coretan tinta yang hidup, melintas di atas padang rumput. Hanya sekejap, namun cukup untuk membuat ilusi tersentak.
Rerumputan di sekitar garis itu retak, seperti kaca yang diinjak.
Feiyan menelan ludah. “Kenapa… terlihat seperti itu?”
Qinxue menatap dalam, suaranya lebih rendah. “Itu… seharusnya tidak muncul.”
Feiyan merasa dingin merambat di tulang punggungnya. “Ada yang salah?”
Qinxue menggenggam lengan Feiyan, sentuhannya kali ini lebih kuat, lebih tegas. “Jangan lihat. Fokus padaku. Tetap di sini.”
Tetapi ilusi tidak menuruti perintah Qinxue.
Bintang-bintang menyala terlalu terang, lalu meredup. Langit memudar, diganti warna kelabu. Titik cahaya kecil di tangan Feiyan bergetar hebat, seperti ketakutan. Retakan hitam itu muncul lagi—lebih jelas kali ini, lebih panjang, seperti garis yang memotong udara.
Feiyan menoleh pada Qinxue dengan wajah pucat. “Senior… apa ini…?”
Qinxue menggigit bibir bawahnya—reaksi yang sangat jarang ia tunjukkan. “Aku harus menutup teknik ini.”
Ia meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Feiyan, menyalurkan energi dengan cepat. Rerumputan ilusi berkibar liar, bintang-bintang pecah menjadi serpihan kabut. Titik cahaya kecil itu padam, meleleh seperti lilin tersentuh angin dingin.
Feiyan merasakan dunia runtuh dari bawah kakinya.
Kemudian semuanya gelap.
***
✦ Kembali ke Dunia Nyata
Feiyan membuka mata perlahan. Pandangannya berputar sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada langit-langit kayu ruang meditasi. Tubuhnya terasa berat, seperti baru bangun dari tidur panjang yang menguras lebih banyak energi daripada mengembalikannya.
Di belakangnya, Xi Qinxue masih memeluk punggung Feiyan dengan satu lengan, sementara tangan lainnya berada di atas dada Feiyan, menstabilkan aliran qi yang sempat kacau.
“Napas… tarik perlahan,” bisiknya.
Feiyan menurut. Ia menatap ke depan, wajahnya pucat dan penuh kebingungan. “Senior… apa yang terjadi? Kenapa… semuanya hancur?”
Qinxue tidak langsung menjawab. Ia memeriksa aliran qi Feiyan, memastikan tidak ada kebocoran fatal. Lalu perlahan ia menarik diri, duduk di samping Feiyan.
“Ilusimu terganggu,” ucapnya pelan. “Ada sesuatu dalam dirimu yang… menolak bimbingan.”
Feiyan menunduk. “Aku… melakukan kesalahan lagi?”
Tidak ada nada menyalahkan. Hanya rasa takut… dan letih.
Qinxue meraih dagu Feiyan, mengangkatnya perlahan agar kedua mata mereka sejajar. Wajahnya lembut, tetapi ada sesuatu lain di balik ketenangan itu—perhatian tajam yang menyentuh hingga ke tulang.
“Bukan salahmu,” kata Qinxue. “Tapi ada hal dalam dirimu yang tidak aku mengerti. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di inti spiritual seorang murid tahap awal.”
Ia mendekat sedikit, suaranya merendah.
“Feiyan… kau menyimpan sesuatu yang berbahaya.”
Feiyan menatap balik dengan bingung, tidak mengerti apa pun. “Sesuatu… berbahaya? Tapi aku… aku tidak punya apa-apa.”
Qinxue mengusap rambutnya pelan.
“Itu justru masalahnya.”
Saat Feiyan memejamkan mata karena sentuhan itu, Xi Qinxue sempat melirik ke arah altar kecil tempat incense tadi membara. Api incense padam begitu saja tanpa angin. Di atas abu yang tersisa, Qinxue melihatnya.
Garis hitam tipis. Retakan kecil, muncul sesaat lalu lenyap seperti bisikan.
Ia mengerutkan alis tipisnya.
“Retakan itu… bahkan mencemari dunia nyata,” gumamnya dalam hati.
Namun ia tidak mengatakannya pada Feiyan.
Ia hanya meraih bahu Feiyan dan membimbingnya bersandar, suaranya kembali lembut, seolah seluruh dunia aman dalam genggamannya.
“Tenanglah. Malam ini, biarkan aku yang menjagamu.”
Dan Feiyan, yang sudah letih hingga tidak mengenali bahaya, mengangguk pelan.