NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kopi, Jebakan, dan Siasat

Bab 8: Kopi, Jebakan, dan Siasat

​Pukul enam pagi, sinar matahari yang tipis mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden besar di dapur utama Mansion Dirgantara. Udara pagi itu terasa dingin, bercampur dengan aroma panggangan roti dan mentega yang sedang disiapkan oleh para koki mansion.

​Aline sudah berdiri di depan meja konter dapur marmer putih sejak setengah jam yang lalu. Ia mengenakan seragam pengasuhnya—rok plisket panjang berwarna cokelat tua, kemeja putih longgar, apron rajut krem, dan tentu saja, kacamata bulat tebalnya yang ikonik. Rambut pendeknya ia ikat asal-asalan ke belakang dengan jepitan plastik murah.

​Di depannya, sebuah mesin pembuat kopi espresso manual bernilai ratusan juta rupiah milik Adrian berdiri angguh. Tugas pertama seorang pengasuh di pagi hari, selain membangunkan si kembar, adalah memastikan kopi hitam pekat milik Tuan Besar sudah tersedia di meja makan tepat pukul tujuh pagi.

​Pak Yusuf berjalan mendekati Aline dengan langkah tegapnya. "Nona Aline, Tuan Besar hanya meminum double shot espresso dari biji kopi arabika Gayo yang digiling segar tanpa gula dan tanpa susu sedikit pun. Suhu airnya harus tepat sembilan puluh dua derajat celsius. Jika terlalu dingin atau terlalu gosong, beliau akan membuangnya dan Anda akan menerima konsekuensinya."

​"B-Baik, Pak Yusuf. Saya akan berhati-hati," jawab Aline dengan anggukan kepala yang canggung, berpura-pura gemetar saat memegang sendok takar kopi.

​Setelah Pak Yusuf berbalik untuk memeriksa bagian ruang makan, Aline langsung mengubah tatapan matanya. Ia merogoh saku apronnya, menyentuh botol cairan pencahar pemberian si kembar semalam.

​Jika aku memasukkan cairan pencahar ini, Adrian pasti akan langsung merasakan perubahan viskositas atau rasa mint samar di dalam espresso pekatnya, analisis Aline dalam hati. Pria itu memiliki indra pengecap yang sangat sensitif karena selalu waspada terhadap racun. Ini adalah misi bunuh diri jika aku menuruti si kembar mentah-mentah.

​Aline tidak kehilangan akal. Sejak subuh tadi, ia telah menyelinap ke ruang penyimpanan bahan makanan organik di bagian belakang dapur. Mengandalkan pengetahuannya tentang farmakologi dasar dan herbal yang ia pelajari selama masa pelatihannya di organisasi intelijen swasta sebelum melacak pembunuh kakaknya, Aline berhasil mengumpulkan beberapa lembar daun lemon balm segar dan ekstrak akar valerian dosis sangat rendah yang biasa digunakan sebagai teh penenang tidur untuk para pelayan yang insomnia.

​Aline mengekstrak beberapa tetes cairan dari akar valerian dan lemon balm tersebut ke dalam sebuah wadah kecil terpisah. Rencananya adalah menukar cairan pencahar si kembar dengan teh herbal penenang ini. Teh penenang ini memiliki aroma alami yang sangat mirip dengan profil aroma buah dan herbal yang sering ditemukan pada biji kopi arabika berkualitas tinggi, sehingga Adrian tidak akan mencurigainya sebagai zat asing. Efeknya pun tidak akan membuat pria itu sakit perut, melainkan memberikan efek relaksasi ringan pada sistem sarafnya yang selalu tegang.

​Dengan gerakan tangan yang sangat cepat—memanfaatkan teknik sulap tangan yang ia kuasai—Aline menuangkan cairan teh herbal penenang buatannya sendiri ke dalam cangkir porselen hitam milik Adrian, lalu mengalirkan cairan espresso panas dari mesin langsung di atasnya. Aroma kopi yang kuat dan pekat seketika menguar, menutupi seluruh jejak herbal penenang tersebut.

​Sementara itu, dari balik celah pintu dapur yang sedikit terbuka, dua pasang mata kecil tampak mengintip dengan senyum tertahan. Kenzo dan Keira sedang mengawasi jalannya "misi" mereka dengan antusiasme tinggi. Mereka melihat Aline memasukkan cairan dari sebuah wadah ke dalam cangkir kopi Adrian, mengira itu adalah cairan pencahar milik mereka.

​Tepat pukul tujuh pagi, Aline membawa nampan perak berisi cangkir kopi tersebut menuju ruang makan utama yang megah.

​Adrian sudah duduk di kepala meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati utuh. Pria itu tampak sangat menawan namun mengintimidasi dalam balutan setelan jas formal tiga potong berwarna abu-abu gelap. Rambut hitamnya tertata rapi ke belakang menggunakan pomade mahal. Di samping piringnya, berserakan beberapa berkas laporan keuangan kuartal pertama Dirgantara Group yang tampaknya membuat keningnya berkerut dalam sejak bangun tidur. Aura di sekitar pria itu begitu pekat oleh stres dan kemarahan yang tertahan.

​"K-Kopi Anda, Tuan Besar..." Aline meletakkan cangkir porselen hitam itu di sebelah kanan laptop Adrian dengan tangan yang sengaja ia buat sedikit bergetar, menyebabkan cangkir itu berdenting pelan di atas meja.

​Adrian tidak menoleh. Ia hanya mengangkat tangan kirinya sekilas sebagai isyarat agar Aline segera menjauh dari jangkauan pandangannya.

​Aline mundur beberapa langkah, berdiri di dekat dinding ruang makan bersama Pak Yusuf dan beberapa pelayan lainnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Kenzo dan Keira yang baru saja duduk di kursi makan mereka masing-masing dengan wajah super polos, seolah-olah mereka adalah anak-anak paling penurut di dunia.

​Adrian meraih gagang cangkir kopi tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptop. Ia membawa cangkir itu ke bibirnya, meniupnya pelan, lalu meminum espresso panas itu dalam satu tegukan besar yang cukup dalam.

​Suasana di ruang makan mendadak mendingin. Kenzo dan Keira menahan napas mereka, menunggu momen di mana perut ayah mereka akan mulai melilit hebat atau ketika wajah sang mafia akan berubah murka karena mendeteksi rasa pencahar.

​Aline juga menahan napasnya, mengamati setiap perubahan mikro pada ekspresi wajah Adrian.

​Satu detik... dua detik... tiga detik...

​Adrian meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas tatakan porselen. Pria itu sempat terdiam sesaat, matanya menatap cairan hitam di dalam cangkir dengan kening yang sedikit berkerut.

​Pak Yusuf yang menyadari perubahan ekspresi tuannya langsung bersiap maju. "Ada yang salah dengan kopinya, Tuan Besar? Apakah perlu saya minta dapur untuk menggantinya?"

​Adrian mengangkat tangannya, menghentikan langkah Pak Yusuf. Pria itu menarik napas dalam-dalam melintasi hidungnya.

​Bukannya marah atau berteriak murka, sesuatu yang luar biasa justru terjadi pada tubuh tegap sang mafia. Bahu Adrian yang sejak tadi pagi tampak kaku dan tegang perlahan-lahan mengendur. Otot-otot di sekitar rahang tegasnya yang selalu mengatup rapat kini tampak merileks. Kerutan dalam di dahinya memudar seolah-olah beban berat yang menghimpit kepalanya baru saja diangkat secara gaib.

​Efek relaksasi dari akar valerian dan aroma segar dari lemon balm yang berpadu dengan kafein murni bekerja dengan sempurna di dalam sistem saraf Adrian. Pria itu merasakan kehangatan yang menenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya, memberikan kedamaian mental yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan sejak ia memimpin organisasi dunia bawah Gorgon.

​Adrian mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat rileks—sebuah helaan napas yang belum pernah didengar oleh Pak Yusuf maupun anak buahnya selama lebih dari tiga tahun terakhir. Wajah dingin sang predator kini tampak... sedikit lebih manusiawi dan tenang.

​Kenzo dan Keira saling bertukar pandang dengan mata terbelalak tidak percaya dari balik meja makan mereka. Mengapa Daddy tidak panik? Mengapa wajah monster Daddy malah terlihat seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesi meditasi di spa mewah? Apa pengasuh baru ini salah memasukkan obat?

​Aline menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat tersembunyi di balik kepala menunduknya. Misi pertama berhasil dilewati dengan sempurna tanpa pertumpahan darah.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!