Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Will You Marry Me?
Kayden mengendarai motor besarnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Di belakangnya, Zira menikmati setiap detik terpaan angin malam yang menerpa wajahnya. Kedua tangannya melingkar erat di perut Kayden, menyandarkan kepalanya di punggung kokoh pria itu. Anehnya, rasa sakit yang biasanya menghimpit dada akibat kehancuran rumah tangganya seolah menguap begitu saja terbawa angin. Kayden, dengan segala sikapnya yang tenang namun protektif, seolah telah menariknya keluar dari lubang penderitaan yang sangat dalam.
Setelah beberapa saat berkendara, Kayden menghentikan motornya di sebuah area taman yang cukup tersembunyi. Zira baru menyadari bahwa pria itu membawanya masuk ke dalam sebuah jalan setapak yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan membuat suasana terasa begitu privat dan tenang.
"Kay," lirih Zira dengan suara yang sedikit bergetar karena cemas. Ia menatap sekitar yang terlihat sepi, hanya ada suara serangga malam yang bersahutan. Namun, Kayden hanya diam, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebuah tatapan yang penuh dengan rencana besar.
"Kay," panggil Zira sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih gelisah.
Kayden justru melangkah mendekatinya dengan senyum tipis. Tangan kanannya merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan sesuatu. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tangannya dan menutup kedua mata Zira dengan selembar kain merah. Zira tersentak kaget, napasnya memburu seketika.
"Kay! Apa yang kamu lakukan?" seru Zira merasa takut dalam kegelapan yang mendadak itu.
"Percayalah padaku, oke? Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu," bisik Kayden tepat di telinganya. Suara berat itu entah bagaimana berhasil menenangkan badai di hati Zira. Zira mencoba mengatur napasnya, membiarkan Kayden mengikat kain itu dengan lembut. Setelah pandangannya tertutup sepenuhnya, Kayden meraih tangan Zira, menuntunnya untuk melangkah perlahan.
Indera penciuman Zira mulai menangkap aroma bunga mawar yang sangat menyengat namun harum. Kakinya terasa melangkah di atas permukaan batu-batu kecil yang bergesekan pelan. Sampai akhirnya, ujung sepatunya mengetuk permukaan lantai kayu yang menimbulkan bunyi khas, membuat Zira hampir melonjak kaget karena merasa berada di tempat yang tinggi. Namun, Kayden dengan sigap merangkul pinggangnya, mencengkeramnya dengan lembut namun posesif untuk memberi rasa aman.
"Jangan takut, aku ada di sini tepat di sampingmu," bisik Kayden yang membuat bulu kuduk Zira meremang.
Setelah berjalan beberapa langkah lagi, Kayden menghentikan langkah mereka. Perlahan, jemari pria itu membuka ikatan kain di belakang kepala Zira. Saat kain itu jatuh, Zira perlahan membuka matanya. Ia terkesiap, nyaris tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Ternyata mereka berada di sebuah gazebo cantik yang terletak di tengah danau kecil yang tenang. Lampion-lampion gantung dengan cahaya kuning temaram menghiasi sekeliling gazebo, memantul indah di permukaan air. Lilin-lilin kecil tertata rapi di sepanjang jalan setapak kayu yang baru saja mereka lalui. Zira menundukkan kepalanya, menyadari bahwa ia berdiri di atas tumpukan kelopak mawar yang sengaja disebar. Matanya kemudian tertuju pada bagian tengah gazebo, di mana sebuah buket mawar biru berukuran raksasa, hampir setinggi tubuhnya berdiri dengan anggun.
"Kay ...," lirih Zira. Ia melangkah mendekati buket mawar biru itu dengan tatapan tidak percaya. Mawar biru, bunga favoritnya sekaligus simbol kelangkaan dan keindahan yang misterius. Sebagai seorang yang pernah berkecimpung di dunia bunga, Zira tahu betul betapa langka dan mahalnya bunga-bunga itu.
"Kay, ini kamu ...," Saat Zira berbalik untuk menanyakan maksud semua ini, ia kembali terkejut. Kayden sudah dalam posisi berlutut di hadapannya. Sebuah kotak cincin beludru terbuka di tangannya, menampilkan sebuah cincin berlian biru yang sangat cantik dan berkilau terkena cahaya lilin. Ukirannya terlihat sangat unik, membuat Zira terpaku di tempatnya.
"Will you marry me, Zira?" ucap Kayden dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh cinta.
Zira tersentak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa Kayden akan melamarnya secepat ini, di saat luka lamanya bahkan belum kering sepenuhnya.
"Kay ...,"
"Katakan iya atau tidak, Zira. Aku butuh kepastianmu sekarang. Aku tidak bisa lagi menunda lebih lama. Usiaku bukan lagi usia untuk bermain-main dengan perasaan. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan serius bersamamu," tegas Kayden.
Zira menatap pria itu dengan lekat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu tahu apa kekuranganku, bukan? Kamu tahu apa yang dikatakan Bunda tadi?"
"Aku tahu, dan aku sudah menerimanya sejak lama," sahut Kayden lantang tanpa keraguan sedikit pun.
"Tapi Kay, kamu adalah penerus tunggal di keluargamu. Kamu satu-satunya ahli waris ...,"
"Aku tahu itu!" potong Kayden sekali lagi. Air mata Zira akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, merasa tidak pantas.
"Kay, carilah wanita lain yang sempurna. Wanita yang bisa memberimu penerus dan kebanggaan bagi keluargamu. Carilah dia, jangan aku," ucap Zira dengan suara parau. Trauma masa lalu dan bayang-bayang kegagalan sebagai seorang istri kembali menghantuinya. Ia takut Kayden akan berubah pikiran di masa depan seperti yang dilakukan Raka.
Melihat ketakutan yang nyata di mata Zira, Kayden beranjak berdiri. Ia mendekati wanita itu, lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata di pipi Zira dengan gerakan yang sangat lembut.
"Aku melamarmu karena aku mencintaimu, Zira. Bukan karena aku mencari mesin pencetak anak atau hal-hal duniawi lainnya. Di masa tuaku nanti, aku hanya ingin bangun di sampingmu, menghabiskan setiap waktu luangku bersamamu. Anak hanyalah sebuah bonus dalam sebuah hubungan. Jika semesta tidak memberikan bonus itu kepada kita ... bagiku tidak masalah sama sekali. Kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup untuk melengkapi hidupku."
"Kay ...," Zira terisak pelan.
Kayden meraih wajah Zira dengan kedua tangannya, menyelipkan jari-jemarinya di belakang telinga wanita itu, menangkup wajahnya dengan penuh kasih. "Tolong, untuk kali ini saja, biarkan aku membuktikan semua perkataanku. Aku sudah mencintaimu sejak lama, jauh sebelum pria itu masuk ke hidupmu. Tidakkah ada jalan bagiku untuk memilikimu seutuhnya? Berikan aku kesempatan, sekali saja."
Zira menunduk, ia sempat menggelengkan kepalanya sekali lagi karena ragu. Kayden yang melihat reaksi itu mulai menurunkan tangannya dari wajah Zira. Perasaan kecewa mulai menyerang hatinya. Ia merasa bahwa mungkin ia memang harus menyerah dan pergi. Namun, di luar dugaan, Zira tiba-tiba meraih kotak cincin itu dari tangan Kayden. Ia mengambil cincin tersebut dan memakainya sendiri di jari manisnya.
"Menurutmu, cantik enggak?" tanya Zira sambil menunjukkan jari manisnya yang kini telah berhias berlian biru di sebelah wajahnya. Matanya yang sembab kini memancarkan binar kebahagiaan yang tulus, sebuah pemandangan yang membuat Kayden syok seketika.
"Jadi?"
"Yes, I will marry you, Kayden," ucap Zira dengan senyuman lebar yang menghancurkan seluruh keraguan Kayden.
Mendengar jawaban itu, Kayden tak sanggup lagi menahan tawa bahagianya. Ia segera merengkuh tubuh Zira dan memeluknya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan wanita itu lagi. Dengan penuh kasih, ia mengecup kening Zira cukup lama. Zira memejamkan matanya, mengira Kayden mungkin akan mencium bagian lain dari wajahnya sebagai tanda perayaan. Namun, pria itu justru menjauhkan wajahnya dan hanya mengelus pipi Zira sambil menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh hasrat yang tertahan.
Zira membuka matanya kembali, menatap Kayden dengan bingung. "Kenapa?"
Kayden mendekatkan bibirnya ke telinga Zira, memberikan hembusan napas hangat yang membuat Zira merinding. "Aku akan melakukan bagian yang lebih dari ini setelah kita menikah nanti, Sayang."
"Kenapa harus menunggu?" tanya Zira polos.
Kayden terkekeh rendah, suaranya terdengar seksi di telinga Zira. "Karena aku takut tidak bisa menahan diri jika memulainya sekarang," bisiknya dengan nada suara berat yang seketika membuat pipi Zira memerah padam seperti kepiting rebus. Ia segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kayden, sementara pria itu tertawa puas melihat reaksi calon istrinya.
___________________
Wiiiih kapal akan berlayar
Hbs ni jujur sejujur²nya sm Zira...jelasin siapa itu perempuan pirang
Bilang aja klw dia emang ngejar²mu biar Zira jg menyiapkan amunisi
Jgn ada yg ditutup²i
Meski sedikit menurutmu tp klw gak tuntas bs jd mslh besar
Denger Kay...dengeeerrr
Aysss...pen kujewer kupingmu Kay