Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Benih Cinta yang Tumbuh
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden pemindahan Nenek ke ruang paviliun VVIP rumah sakit. Seiring dengan kondisi kesehatan sang nenek yang semakin membaik di bawah perawatan dokter spesialis, ritme kerja Mahesa kembali berjalan normal secara profesional. Siang itu, atmosfer di area lobi utama gedung Subroto Holdings tampak cukup sibuk. Lantai marmer yang berkilau memantulkan hiruk-pikuk para karyawan yang berlalu-lalang memanfaatkan sisa waktu istirahat makan siang.
Alena melangkah anggun keluar dari lift eksekutif, berniat menemui ayahnya di lantai atas setelah menyelesaikan urusan administrasi kuliahnya. Namun, langkah kaki cantiknya mendadak terhenti di dekat deretan sofa lobi. Sepasang mata indahnya menyipit tajam di balik kacamata hitam mahalnya.
Di sudut ruangan dekat meja resepsionis, Mahesa yang siang itu tampil sangat gagah dengan setelan jas hitam premiumnya sedang berdiri tegap. Namun, yang membuat dada Alena mendadak terasa sesak dan panas adalah kehadiran seorang wanita lain di depan pengawal pribadinya itu. Siska, salah satu sekretaris muda dari divisi pemasaran yang terkenal berwajah cantik dan bertubuh sintal, sedang berdiri terlalu dekat dengan Mahesa. Siska tampak memilin ujung rambutnya dengan manja, sesekali tertawa kecil sembari menyodorkan sebuah kotak bekal makan siang berhias pita merah ke arah dada bidang Mahesa.
"Ini murni buatan aku sendiri loh, Mas Mahesa. Kemarin kan Mas udah bantuin benerin printer di ruangan aku, jadi ini sebagai tanda terima kasih dari aku," tutur Siska dengan suara yang bernada centil dan manis, matanya berkedip-kedip menatap garis rahang tegas milik Mahesa.
Mahesa menurunkan kepalanya sedikit, tetap mempertahankan sikap hormat yang konstan tanpa ada riak emosi terselubung di wajah tampannya. "Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, Mbak Siska. Namun, sesuai dengan prosedur ketat profesionalisme kerja, saya tidak diizinkan menerima pemberian apa pun dari staf kantor selama jam operasional pengawalan berlangsung," jawab Mahesa dengan nada suara beratnya yang terdengar sangat tenang, jernih, dan berwibawa.
Dari jarak sepuluh meter, Alena yang menyaksikan interaksi tersebut merasakan benih-benih cemburu meledak di dalam lubuk hatinya. Rasa tidak mau kalah sebagai seorang wanita kini benar-benar mendominasi batinnya. Ego manjanya yang dulu ketus kepada Mahesa, kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sikap posesif seorang wanita yang merasa kepemilikannya sedang diganggu oleh pihak luar.
Dengan entakan sepatu hak tingginya yang sengaja dibuat berbunyi nyaring di atas lantai marmer, Alena melangkah cepat menghampiri mereka berdua.
*TAK! TAK! TAK!*
"Mahesa!" panggil Alena dengan suara yang melengking tinggi dan sangat manja, langsung menyela percakapan tanpa memedulikan etika sekitar.
Siska langsung tersentak kaget dan buru-buru menarik kembali kotak bekalnya sembari membungkuk hormat dengan wajah pucat. "E-eh, Nona Alena... Selamat siang, Nona," sapa Siska dengan suara terbata-bata karena ketakutan melihat tatapan mata Alena yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Mahesa segera membalikkan tubuh tegapnya, lalu membungkuk hormat dua langkah di depan Alena. "Selamat siang, Nona Alena. Ada yang bisa saya bantu untuk keperluan Anda siang ini?" tanya Mahesa dengan intonasi suara yang tetap sedingin es, meskipun indra supernya menangkap hawa panas emosi yang memancar kuat dari tubuh sang nona besar.
Alena tidak menjawab pertanyaan Mahesa. Ia justru melipat kedua tangannya di bawah dada, menatap Siska dari atas sampai bawah dengan pandangan mata yang penuh dengan keangkuhan borjuisnya. "Lu... sekretaris dari divisi pemasaran kan? Jam istirahat siang udah mau habis, kenapa lu masih kelayapan di lobi sambil bawa-bawa kotak bekal murahan kayak gitu? Kurang kerjaan ya lu?!" semprot Alena dengan kalimat yang sangat ketus dan tidak bersahabat.
"M-mohon maaf, Nona Alena. Saya... saya cuma mau ngasih ini ke Mas Mahesa sebagai tanda terima kasih. Saya permisi kembali ke ruangan dulu, Nona," pamit Siska dengan terburu-buru, melangkah seribu langkah meninggalkan area lobi sebelum amukan sang putri mahkota semakin menjadi-jadi.
Setelah Siska menghilang di balik pintu kaca lift, Alena membalikkan tubuhnya menghadap Mahesa. Ia melepas kacamata hitamnya dengan satu sentakan manja, mendongak menatap lekat sepasang mata elang pengawalnya dengan bibir tipis yang dikerucutkan kesal.
"Heh, Mahesa! Lu tuh ya, genit banget jadi orang! Sejak kapan lu hobi tebar pesona sama karyawan cewek di kantor Papa, hah?!" omel Alena dengan gaya manja seorang wanita yang sedang menuntut penjelasan dari prianya, sebuah sikap yang sangat kontras dengan hubungan majikan-babu di awal kontrak mereka.
Mendengar tuduhan sepihak yang dibalut dengan kemanjaan posesif yang teramat sangat masif itu, dada bidang Mahesa mendadak berdesir hebat dengan ritme yang tak beraturan. Di balik setelan jas hitamnya, jantung Mahesa bergetar sangat kuat menerima serangan emosional dari Alena. Pengakuan terselubung lewat rasa cemburu sang nona besar benar-benar menguji pertahanan batinnya yang disokong oleh energi murni Kitab Inti Jagat. Namun, demi keprofesionalan kerja dan kesadaran akan perbedaan status sosial yang bagai langit dan bumi, Mahesa sekuat tenaga menahan gejolak perasaannya agar tidak melampaui batas kewajaran.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tindakan saya membuat Nona merasa tidak nyaman," ucap Mahesa dengan suara beratnya yang sengaja diturunkan satu oktaf agar terdengar lebih menenangkan. "Namun, demi kehormatan tugas, saya sama sekali tidak melakukan tindakan genit atau tebar pesona seperti yang Nona tuduhkan. Saya hanya menjawab pertanyaan Mbak Siska secara sopan dan profesional."
Alena melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum mewah bernuansa bunga mawar miliknya berpadu sempurna dengan aroma maskulin dari tubuh Mahesa. "Halah! Alasan aja lu! Kalau gua nggak dateng tadi, lu pasti udah terima kan kotak bekal dari cewek centil itu?! Ngaku aja lu!" cecar Alena dengan penuh kegemasan yang meluap-luap, matanya berkedip-kedip menatap garis bibir tegas Mahesa yang selalu terlihat kaku namun menawan.
Sikap kaku dan kepasrahan profesional Mahesa yang terus-menerus menahan diri justru membuat Alena merasa semakin gemas setengah mati. Ia ingin sekali melihat pria berwibawa di depannya ini kehilangan ketenangannya, meskipun hanya untuk satu detik saja.
"Tugas pengawalan saya adalah prioritas mutlak yang tidak bisa digantikan oleh makanan apa pun, Nona Alena. Seluruh fokus hidup saya saat ini murni hanya untuk memastikan keselamatan nyawa dan kenyamanan batin Anda," jelas Mahesa lagi, matanya menatap jernih ke dalam manik mata Alena, memancarkan kedalaman rasa tanggung jawab yang sangat jujur hingga membuat dada Alena kembali berdegup kencang.
Alena memalingkan wajah cantiknya ke arah samping, menyembunyikan semburat merah muda yang kini merona pekat di kedua belah pipinya akibat rasa salah tingkah yang luar biasa setelah mendengar kalimat manis terselubung dari Mahesa.
"Lagian... lagian ya, kalau lu laper atau mau makan siang, lu kan bisa ngomong sama gua, Mahesa! Gua bisa beliin lu makanan di restoran bintang lima mana pun yang lu mau! Jangan mau ya dikasih makanan kotak dari cewek lain, gua nggak suka!" ketus Alena akhirnya dengan kalimat yang penuh dengan ego kemanjaan posesif, memberikan ultimatum yang sangat jelas bahwa hanya dirinyalah yang berhak mengatur segala kebutuhan fisik maupun batin sang pengawal pribadi.
Mahesa menarik napas panjang yang sangat halus melalui hidungnya, mencoba meredakan getaran hebat di dalam hatinya yang kian hari kian sulit untuk dikendalikan akibat pesona manja Alena yang mulai merasuki jiwanya. "Baik, Nona Alena. Segala instruksi dan kenyamanan yang Nona inginkan akan saya patuhi sepenuhnya sebagai bentuk loyalitas kerja saya," tutur Mahesa sembari membungkukkan sedikit tubuh tegapnya sebagai tanda kepatuhan mutlak.
Alena kembali memakai kacamata hitam mahalnya, lalu melempar senyuman kemenangan yang sangat manis di sudut bibirnya. "Nah, gitu dong! Bagus! Sekarang, temenin gua ke ruangan Papa di atas, gua nggak mau lu jalan jauh-jauh dari belakang gua hari ini, paham?!" perintah Alena dengan nada suara manja khasnya yang kini terdengar jauh lebih ceria dan bahagia.
"Dimengerti, Nona. Saya akan selalu berada tepat di samping Anda," sahut Mahesa sembari melangkah maju secara cekatan untuk memandu jalan menuju lift eksekutif.
Siang itu, di tengah hiruk-pikuk aktivitas gedung Subroto Holdings, benih-benih cinta yang tumbuh secara terselubung di antara sang putri mahkota dan sang pelindung sekeras baja kian merajut jalinan rasa yang semakin mendalam. Meskipun keprofesionalan kerja dan benteng status sosial masih membatasi langkah mereka secara kasatmata, namun kedekatan emosional yang diwarnai drama cemburu manja hari ini telah membuktikan bahwa ruang batin di antara keduanya kini telah resmi terkunci rapat, bersiap menghadapi segala bentuk badai ujian duniawi yang menanti di lembaran hari esok.