Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Dalam Sangkar-1
Malam telah larut ketika deru mesin mobil-mobil hitam klan The Inferno kembali memecah keheningan Mansion Moretti. Jam dinding di kamar utama telah melewati angka dua malam, namun hawa dingin yang menusuk dari luar jendela seolah enggan membawa kehangatan bagi jiwa yang sedang terjebak di dalamnya.
Sonya Munic belum tidur. Gadis itu duduk meringkuk di atas ranjang beludru hitam yang luas, memeluk kedua lututnya erat-erat. Gaun tidur sutra yang diberikan Ibu Yooka sore tadi melekat pas di tubuhnya, namun tak mampu menghalau rasa dingin yang bersumber dari ketakutannya sendiri. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah pintu besar kamar, menanti dengan cemas kapan sang pemilik sangkar akan kembali. Setiap detak jarum jam terasa seperti hitungan mundur menuju siksaan baru.
Klik.
Gagang pintu berputar. Jantung Sonya seketika mencelos. Tubuhnya menegang, dan ia refleks menarik selimut sutra hingga menutupi dadanya saat sosok tinggi tegap Batara Moretti melangkah masuk.
Aura dari luar ruangan yang dibawa pria itu terasa begitu pekat dan berbahaya. Batara tidak langsung menatap Sonya. Wajah tampannya terlihat luar biasa lelah, namun garis rahangnya tetap mengeras kaku. Hal pertama yang membuat Sonya merinding hingga ke tulang adalah kondisi kemeja hitam yang dikenakan Batara. Kemeja itu tidak lagi rapi; kancing bagian atasnya terbuka, lengannya digulung asal-asalan, dan yang paling mengerikan, kain hitam itu basah oleh bercak-bercak noda yang lebih gelap.
Aroma amis yang sangat pekat langsung menyeruak, memenuhi kapasitas udara di dalam kamar. Itu adalah bau darah yang segar. Darah dari orang-orang klan Scattershot yang ia bantai siang tadi di perbatasan Kota Rugunda.
Sonya menahan napas, tubuhnya gemetar hebat di balik selimut. Pemandangan itu menegaskan kembali siapa pria di hadapannya, seorang mafia berdarah dingin yang tangannya berlumuran darah.
Batara berjalan mendekati ranjang, lalu berhenti tepat di ujung tempat tidur. Ia melepaskan jam tangan mewahnya, melemparnya ke atas meja nakas dengan bunyi dentingan yang nyaring, sebelum akhirnya mengarahkan sepasang mata elangnya langsung ke manik mata Sonya.
"Takut?" suara Batara terdengar serak, rendah, dan dingin.
Sonya tersentak. Pertanyaan singkat itu terasa seperti intimidasi yang menyudutkan jiwanya. Ia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan menghujam milik suaminya, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "T-Tidak, Tuan..." bisiknya berdusta, walau detak jantung bawaannya yang berpacu gila-gilaan di dalam dada mengkhianati ucapannya.
Batara menatap puncak kepala Sonya selama beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman sinis yang kaku. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan lambat yang menyiksa.
"Bantu aku mandi," perintah Batara, mutlak tanpa bantahan.
Sonya mendongak dengan mata membelalak panik. "A-Apa? Mandi, Tuan?" Sonya semakin erat memeluk kedua kakinya, menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Membayangkan dirinya harus menyentuh tubuh pria yang baru saja pulang dari medan bantai membuat seluruh urat sarafnya menolak.
Langkah kaki Batara terdengar mendekat ke sisi ranjang. Ia mencengkeram dagu Sonya, memaksa gadis itu mendongak untuk menatapnya. "Aku tidak suka wanita yang tidak penurut, Sonya. Aku sudah mengatakannya pagi tadi, bukan?" desisnya dengan tatapan yang begitu mengintimidasi hingga pasokan oksigen di sekitar Sonya seolah lenyap.
Melihat kilat berbahaya di mata Batara, Sonya tidak memiliki pilihan lain. Dengan tubuh yang masih lemas dan gemetar, ia beranjak turun dari ranjang. Langkah kakinya terasa berat saat berjalan mendahului Batara menuju kamar mandi mewah yang terletak di sudut kamar.
Di dalam kamar mandi, Sonya memutar keran, mengisi bathtub marmer besar dengan air hangat. Uap air mulai mengepul, sedikit menghalau suhu dingin, namun tidak mampu mencairkan ketegangan di antara mereka. Batara berdiri di belakangnya, menunggu dengan sabar dalam keheningan yang mencekam.
Setelah air terisi cukup, Sonya membalikkan badannya dengan ragu. "A-Airnya sudah siap, Tuan..."
Batara hanya diam, merentangkan kedua tangannya sedikit, memberi isyarat agar Sonya melanjutkan tugasnya. Sonya menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk memegang kerah kemeja hitam Batara yang basah dan lengket.
Sonya refleks menutup kedua matanya rapat-rapat saat jarinya bersentuhan dengan kain kemeja tersebut. Bau amis darah yang begitu pekat dan tajam langsung menusuk indra penciumannya, membuat perutnya bergejolak hebat. Ia hampir saja mual dan muntah di tempat jika tidak menahannya dengan sekuat tenaga.
Dengan mata yang tetap terpejam, Sonya perlahan mendorong kemeja itu turun dari bahu kokoh Batara, membiarkannya jatuh ke atas lantai marmer. Namun, saat ia membalikkan tubuh Batara untuk membantu melepaskan bagian lengan, kedua mata Sonya tidak sengaja terbuka.
Di bawah temaram lampu kamar mandi, Sonya melihat punggung tegap suaminya. Di sana, di atas kulit kecokelatan yang dipenuhi otot-otot kokoh, terdapat lima jalur luka cakaran vertikal yang panjang dan memerah. Beberapa bagian di antaranya bahkan tampak membiru dan membengkak, sebuah bukti nyata dari kegilaan malam pertama mereka semalam. Itu adalah hasil perbuatannya sendiri.
Rasa bersalah mendadak menyusup di antara rasa takutnya. Tanpa sadar, jemari tangan Sonya yang kecil dan halus bergerak naik. Ia meraba pinggiran bekas luka cakar itu dengan sangat lembut, seolah ingin memastikan seberapa dalam ia telah melukai sang penguasa The Inferno.
Sentuhan jemari Sonya yang dingin di atas kulit punggungnya yang terluka membuat seluruh otot tubuh Batara seketika menegang hebat. Rasa perih yang tiba-tiba menyengat bercampur dengan sensasi asing dari sentuhan lembut istrinya membuat Batara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Shit!!!" desis Batara dengan suara geraman rendah yang tertahan di tenggorokan, rahangnya mengatup rapat menahan gejolak di dadanya.
Sonya tersentak panik, mengira ia telah memicu kemarahan sang monster. Ia langsung menarik kembali tangannya dan mundur selangkah dengan wajah pucat pasi. "M-Maaf, Tuan! Maaf, aku salah... Aku tidak sengaja..." isak Sonya ketakutan, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Batara tidak membalas ucapannya. Pria itu membalikkan badan, menatap Sonya sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan, bukan pandangan murka, melainkan tatapan yang sarat akan intensitas emosi yang tertahan gelap. Tanpa berkata apa-apa, Batara melangkah masuk ke dalam bathtub, menenggelamkan tubuh perkasanya ke dalam air hangat yang perlahan berubah warna menjadi sedikit keruh akibat sisa darah yang melarut.
Sonya menghela napas lega yang bergetar. Ia mengambil spons lembut dan sabun cair, lalu berlutut di samping bathtub. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh kelembutan, Sonya mulai menyabuni bahu dan dada bidang Batara, membersihkan sisa kotoran yang menempel. Batara memejamkan matanya, menikmati setiap usapan tangan lembut Sonya yang terasa seperti penawar racun setelah seharian ia berada di medan perang yang panas.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat tangan Sonya bergerak menyabuni bagian lehernya, Batara tiba-tiba membuka mata. Sebelum Sonya sempat bereaksi, tangan besar Batara bergerak cepat mencengkeram tengkuk leher Sonya, menarik wajah gadis itu ke bawah dengan kekuatan yang dominan.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭