Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Temuan Dimas
Ruangan itu kembali sunyi.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah nama Dimas diucapkan.
Almira dan Reynard masih berusaha mencerna kenyataan baru yang baru saja terungkap.
Selama ini mereka menganggap Dimas hanyalah seorang staf administrasi gudang yang tanpa sengaja terseret ke dalam masalah besar.
Namun kenyataannya berbeda.
Jauh berbeda.
Dimas ternyata sudah lebih dulu berada di jalur yang sama.
Mencari jawaban yang sama.
Dan sekarang ia menghilang.
Fakta itu membuat seluruh situasi menjadi jauh lebih mengerikan.
Karena jika seseorang seperti Dimas bisa menghilang begitu saja, maka tidak ada jaminan mereka akan lebih aman.
"Aku ingin tahu semuanya."
kata Almira akhirnya.
Suaranya tegas.
Tidak ada keraguan.
Pradipta Valencia dan Arman Mahardika saling berpandangan.
Keduanya tampak seperti orang yang telah memikul beban terlalu lama.
Dan kini tidak punya pilihan selain membaginya.
Arman menghela napas panjang.
"Dimas mulai bekerja di gudang Makassar sekitar tiga tahun lalu."
"Kami tahu itu."
kata Reynard.
"Tapi yang tidak kalian tahu, dia bukan karyawan biasa."
Almira mengernyit.
"Maksudnya?"
"Dimas adalah anak dari seseorang yang pernah bekerja untuk kami."
jawab Pradipta.
"Orang yang dulu membantu penyelidikan."
Almira langsung menegakkan tubuh.
"Jadi dia memang sengaja ditempatkan di sana?"
"Awalnya tidak."
jawab Arman.
"Namun setelah ayahnya meninggal, Dimas menemukan sebagian catatan lama."
"Catatan tentang jaringan itu?"
"Ya."
Pradipta membuka salah satu laci meja kerjanya.
Dari dalam ia mengeluarkan sebuah map tua berwarna cokelat.
Sudut-sudutnya sudah kusam.
Seolah telah disimpan bertahun-tahun.
Map itu kemudian diletakkan di atas meja.
Perlahan.
Hati-hati.
Seperti benda yang memiliki nilai sangat besar.
"Ayah Dimas bernama Haris Pratama."
kata Pradipta.
"Ia pernah menjadi auditor independen."
"Auditor?"
ulang Almira.
Pradipta mengangguk.
"Dan mungkin salah satu orang paling teliti yang pernah kami kenal."
Reynard membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama.
Foto.
Catatan tangan.
Salinan laporan audit.
Dan satu buku catatan kecil yang terlihat sering digunakan.
"Ini miliknya?"
tanya Reynard.
"Ya."
jawab Arman.
"Dan sebagian informasi yang kalian temukan berasal dari penyelidikan yang ia mulai."
Almira mulai membaca beberapa halaman.
Tulisan tangan memenuhi setiap lembar.
Rapi.
Terstruktur.
Penuh tanda panah dan hubungan antar nama.
Semakin lama membaca, semakin jelas satu hal.
Haris bukan sekadar auditor.
Ia adalah seseorang yang terobsesi menemukan pola.
"Bertahun-tahun lalu."
lanjut Pradipta.
"Haris menemukan transaksi yang tidak masuk akal."
"Transaksi uang?"
tanya Almira.
"Tidak."
jawab Arman.
"Transaksi informasi."
Almira dan Reynard saling menatap.
Istilah itu terdengar aneh.
Namun mereka tidak menyela.
"Beberapa perusahaan besar ternyata saling bertukar informasi rahasia."
jelas Arman.
"Data tender."
"Data investasi."
"Data akuisisi."
"Bahkan informasi tentang kebijakan pemerintah yang belum diumumkan."
Reynard langsung memahami maksudnya.
Jika informasi seperti itu berpindah ke tangan yang salah, dampaknya bisa bernilai miliaran rupiah.
Mungkin bahkan lebih.
"Haris mulai menyelidiki."
lanjut Pradipta.
"Dan semakin dalam ia masuk, semakin besar jaringan yang ia temukan."
Almira menatap foto-foto yang ada di meja.
Beberapa wajah terlihat familiar.
Sebagian lagi tidak.
Namun semuanya tampak seperti orang-orang penting.
Orang-orang yang memiliki pengaruh.
"Lalu apa yang terjadi?"
tanya Almira.
Pradipta terdiam sesaat.
Ekspresinya berubah.
Menjadi lebih suram.
"Haris mengalami kecelakaan."
katanya pelan.
Ruangan mendadak hening.
Kalimat itu sederhana.
Namun semua orang langsung memahami maknanya.
"Kecelakaan?"
ulang Reynard.
"Resmi, ya."
jawab Arman.
"Tapi kami tidak pernah benar-benar percaya."
Almira merasakan bulu kuduknya meremang.
Karena ia mulai memahami ke mana arah cerita ini.
"Haris meninggal?"
tanyanya.
Pradipta mengangguk perlahan.
"Delapan tahun lalu."
Tidak ada yang berbicara.
Karena meskipun tidak ada bukti langsung, kecurigaan yang muncul terlalu jelas.
"Dimas tahu semua ini?"
tanya Reynard.
"Sebagian."
jawab Arman.
"Awalnya hanya sebagian."
Ternyata setelah kematian ayahnya, Dimas menemukan beberapa dokumen yang tersisa.
Dokumen-dokumen itu tidak lengkap.
Namun cukup untuk membangkitkan rasa penasaran.
Dan rasa penasaran itulah yang perlahan berubah menjadi penyelidikan.
"Ia menghubungi kami sekitar setahun lalu."
kata Pradipta.
"Diam-diam."
"Kenapa diam-diam?"
tanya Almira.
"Karena dia tidak percaya kepada siapa pun."
jawab Arman.
Jawaban itu masuk akal.
Semakin banyak yang mereka pelajari, semakin jelas bahwa jaringan ini mungkin sudah menyusup ke banyak tempat.
"Kami mencoba menghentikannya."
lanjut Pradipta.
"Tapi dia keras kepala."
Reynard langsung menoleh.
"Seperti Almira."
"Halo?"
protes Almira.
Arman tertawa kecil.
Sementara Pradipta menggeleng pelan.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, suasana sedikit mencair.
"Dimas percaya bahwa ayahnya tidak mati sia-sia."
kata Pradipta.
"Dan dia ingin membuktikannya."
Kata-kata itu membuat Almira terdiam.
Karena ia bisa memahami perasaan tersebut.
Sangat memahami.
Jika sesuatu terjadi pada ayahnya, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.
"Lalu apa yang ditemukan Dimas?"
tanya Reynard.
Pertanyaan yang sejak tadi menggantung di udara.
Pertanyaan yang menjadi inti dari semuanya.
Kali ini Arman yang menjawab.
"Nama."
"Nama siapa?"
"Bukan siapa."
jawab Arman.
"Tapi apa."
Ia membuka sebuah dokumen lain.
Kemudian menunjukkannya kepada mereka.
Di bagian atas halaman terdapat satu kata.
Satu kata yang ditulis menggunakan huruf kapital.
PROYEK AURORA
Almira mengernyit.
"Aurora?"
"Ya."
jawab Pradipta.
"Itulah hal terakhir yang ditemukan Dimas."
Nama itu terdengar indah.
Tenang.
Hampir puitis.
Namun entah kenapa, Almira langsung merasa tidak nyaman.
"Apa itu?"
tanyanya.
Arman menggeleng.
"Itulah masalahnya."
Mereka tidak tahu.
Atau lebih tepatnya, mereka hanya tahu sedikit.
Selama bertahun-tahun, berbagai informasi yang dikumpulkan Haris maupun Dimas selalu mengarah ke istilah yang sama.
Proyek Aurora.
Namun tidak pernah ada penjelasan lengkap.
Tidak ada dokumen resmi.
Tidak ada catatan rinci.
Seolah seseorang sengaja menghapus semua jejaknya.
"Tapi Dimas menemukan sesuatu."
kata Pradipta.
"Sesuatu yang tidak pernah ditemukan ayahnya."
Almira langsung menegakkan tubuh.
"Apa?"
Pradipta menatap mereka satu per satu.
Lalu menjawab.
"Lokasinya."
Jantung Reynard langsung berdegup lebih cepat.
"Dia menemukan lokasi Proyek Aurora?"
"Ya."
jawab Arman.
"Atau setidaknya kami percaya begitu."
"Tunggu."
kata Almira.
"Kalau begitu kenapa kalian tidak pergi ke sana?"
Pertanyaan itu membuat kedua pria yang lebih tua itu saling berpandangan lagi.
Dan ekspresi mereka langsung berubah.
"Karena Dimas menghilang sehari setelah mengirim koordinatnya."
jawab Pradipta.
Ruangan kembali sunyi.
Satu hari.
Hanya satu hari.
Setelah menemukan sesuatu yang sangat penting.
Dan kemudian ia menghilang.
"Koordinatnya masih ada?"
tanya Reynard cepat.
Arman mengangguk.
Kemudian membuka laci lain.
Dari dalam ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna merah.
Berbeda dengan flashdisk hitam milik Dimas yang mereka temukan sebelumnya.
"Ini salinan terakhir yang ia kirim."
kata Arman.
"Dan sejak hari itu kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi."
Almira menatap flashdisk tersebut.
Benda kecil itu tampak biasa.
Namun mungkin menyimpan jawaban yang mereka cari selama ini.
"Kenapa tidak memberikannya ke polisi?"
tanya Almira.
"Kami mencoba."
jawab Pradipta.
"Tapi sebelum penyelidikan berjalan jauh, kasusnya dihentikan."
"Dihentikan?"
ulang Reynard.
"Tidak ada cukup bukti."
jawab Arman.
"Atau setidaknya itu alasan resminya."
Almira mulai merasakan kemarahan perlahan muncul.
Semakin banyak yang mereka temukan, semakin jelas bahwa seseorang telah bekerja keras untuk menutupi semuanya.
"Jadi selama ini kalian hanya menunggu?"
tanyanya.
"Bukan menunggu."
kata Pradipta.
"Kami mengumpulkan bukti."
"Tiga tahun."
kata Almira.
Pradipta terdiam.
Karena ia tahu putrinya benar.
Tiga tahun adalah waktu yang lama.
Terlalu lama.
"Ayah takut."
katanya akhirnya.
Kalimat itu membuat Almira membeku.
Karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mendengar ayahnya mengucapkan kalimat seperti itu.
Tidak pernah.
"Ayah takut kehilangan orang lain."
lanjut Pradipta pelan.
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada yang menyela.
Tidak ada yang bergerak.
Untuk pertama kalinya, Almira melihat bukan sosok pengusaha besar di hadapannya.
Melainkan seorang ayah.
Seseorang yang telah kehilangan teman.
Kolega.
Dan mungkin orang-orang yang mencoba membantu.
"Termasuk kalian."
kata Pradipta.
Menatap Almira dan Reynard.
Hening panjang menyelimuti ruangan.
Namun tepat ketika suasana mulai melunak, ponsel Reynard tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenal.
Alis Reynard langsung berkerut.
"Ada apa?"
tanya Almira.
Reynard membaca pesan itu.
Lalu wajahnya perlahan berubah pucat.
"Reynard?"
ulang Almira.
Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan ponsel tersebut.
Almira membaca isi pesannya.
Dan jantungnya langsung seperti berhenti berdetak.
Karena pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek.
JIKA KALIAN INGIN MENEMUKAN DIMAS, DATANG SENDIRI.
Di bawah kalimat tersebut terdapat sebuah lampiran.
Koordinat lokasi.
Dan ketika Arman melihat angka-angka itu, ekspresinya langsung berubah.
"Itu..."
gumamnya.
"Apa?"
tanya Reynard.
Arman mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya penuh ketidakpercayaan.
"Itu koordinat yang sama."
Ruangan mendadak membeku.
"Koordinat apa?"
tanya Almira.
Pradipta menjawab dengan suara pelan.
Namun cukup jelas untuk membuat semua orang merasakan ketegangan yang sama.
"Koordinat yang dikirim Dimas sebelum dia menghilang."
Dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, mereka menyadari satu hal yang sangat mengerikan.
Seseorang di luar sana tahu bahwa mereka telah menemukan jejak Dimas.
Seseorang sedang mengawasi mereka.
Dan sekarang...
Orang itu mengundang mereka datang.