Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam kamar tidur yang luas, Sean langsung membanting pintu kayu di belakangnya. Bunyi berdentum keras itu membuat tubuh Freya tersentak. Belum sempat Freya berbalik, Sean sudah mencengkeram kedua bahunya dengan sangat kasar, lalu menyudutkan tubuh mungil itu ke dinding dingin di samping pintu.
"Sakit, Sean! Lepaskan!" rintih Freya, kedua tangannya mencoba mendorong dada suaminya.
"Sakit? Ini belum seberapa dibandingkan rasa malu yang harus kutanggung di depan Papa tadi!" bentak Sean, napasnya memburu berbaur amarah yang memuncak. Wajahnya mendekat, menatap Freya dengan pandangan menghina. "Sekarang katakan padaku, jalang kecil. Apa maksud ucapanmu di bawah tadi? Kau bilang kau bertahan karena teramat mencintaiku? Di depan Papa kau berani membual seperti itu, hah?!"
Air mata Freya kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang masih menyisakan rasa perih akibat tamparan Bianca siang tadi. Di bawah cengkeraman kasar suaminya, benteng pertahanan Freya runtuh. Ia lelah berpura-pura.
"Aku tidak membual, Sean..." isak Freya dengan suara terputus-putus. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Sean, menunjukkan seluruh kerapuhan batinnya. "Aku... aku memang sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, meski kau mengabaikanku, meski kau berselingkuh dengan Bianca di belakangku... aku tetap bodoh karena mencintaimu. Itu ke jujuran yang paling nyata, Sean. Aku bertahan di neraka ini hanya karena aku mencintaimu!"
Mendengar pengakuan jujur itu, Sean terdiam selama beberapa detik. Namun, sedetik kemudian, sudut bibirnya terangkat. Ia melepaskan tawa yang sangat keras dan menggema di dalam kamar sunyi itu—sebuah tawa yang penuh dengan nada ejekan dan kepuasan ego yang sakit.
"Hahaha! Luar biasa! Jadi kau benar-benar sekonyol itu, Freya?" Sean menggeleng-gelengkan kepalanya, tawanya mereda digantikan senyuman sinis. "Kau mencintaiku setelah semua yang kulakukan? Bagus. Sempurna sekali."
Tanpa aba-aba, Sean merangsek maju dan menarik pinggang Freya dengan sentakan kuat, memaksa tubuh mereka berpelukan erat tanpa jarak. Jantung Freya seketika berdegup kencang bagai ditabuh bertalu-talu. Bukan karena debaran cinta, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat yang mendadak menyergap seluruh kesadarannya.
"Kalau kau memang sekadar budak cinta yang rela menderita demi aku, maka malam ini buktikan ucapanmu," bisik Sean di dekat telinga Freya, suaranya mendadak berubah berat dan penuh tuntutan tersembunyi. Tangannya bergerak mengusap punggung Freya dengan kasar. "Kita sudah menikah berbulan-bulan, dan aku belum pernah menyentuhmu. Mari kita lakukan malam pertama kita yang tertunda, Freya. Berikan hakku sebagai suamimu sekarang juga."
Mendengar kata-kata itu, seluruh tubuh Freya mendadak kaku dan mendingin bagai es. Ketakutan yang luar biasa merayapi dadanya. Bagaimana mungkin ia bisa melayani Sean sekarang? Kehormatannya baru saja direnggut paksa secara kejam oleh Rafael—ayah mertuanya sendiri. Dan yang lebih menyiksa, rasa perih serta cedera fisik di area intinya masih sangat terasa menyengat akibat rontaan histerisnya di rumah sakit tadi.
Freya menggelengkan kepalanya dengan panik, air matanya kian deras membanjiri wajah. "Tidak, Sean... kumohon, jangan sekarang. Aku mohon..." ratap Freya, kedua tangannya mencengkeram kemeja Sean, memohon belas kasihan.
Alis Sean bertaut rapat, tatapannya langsung berubah curiga. "Kenapa? Kau bilang kau mencintaiku? Lalu kenapa sekarang menolak saat suamimu sendiri meminta haknya? Apa kau sengaja mengulur waktu agar bisa mengadukan ini pada Papa besok pagi?!"
"Bukan... bukan begitu, Sean. Aku sedang berduka... Ayah baru saja dimakamkan hari ini... jiwaku belum siap, kumohon mengertilah..." Freya mencari alasan sebisanya, menyembunyikan rahasia menjijikkan yang bisa menghancurkan sisa hidupnya.
"Aku tidak peduli dengan alasan bodohmu!"
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Freya, Sean yang sudah tersulut emosi dan gairah yang egois langsung bertindak brutal. Dengan satu sentakan kuat, kedua tangannya mencengkeram bagian depan kemeja oversize hitam yang dikenakan Freya—kemeja longgar yang sengaja dipilih Freya sejak dari rumah sakit untuk menutupi seluruh tubuh serta lehernya.
Sreeek!
Kain kemeja itu robek parah di bagian dada hingga ke bawah, mengekspos kulit putih Freya ke udara malam yang dingin. Namun, begitu pakaian itu terbuka, gerakan Sean seketika terhenti. Seluruh tubuh pria muda itu membeku di tempat. Kedua matanya membelalak sempurna, menatap pemandangan di depannya dengan rasa tidak percaya yang pekat.
Di balik kemeja yang robek itu, sekujur tubuh Freya dipenuhi oleh tanda-tanda kepemilikan yang sangat jelas. Di area gundukan dadanya, di sepanjang leher jenjangnya, hingga ke permukaan perutnya, penuh dengan bercak dan tanda merah keunguan bekas ciuman yang teramat intens dan brutal. Tanda-tanda itu masih sangat baru, membuktikan bahwa seseorang telah menjamah tubuh istrinya belum lama ini.
Kamar itu mendadak hening seketika. Sean terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan saat otaknya mencoba mencerna apa yang sedang ia lihat.
"Apa... apa-apaan ini?" desis Sean, suaranya bergetar rendah oleh badai kemarahan yang mulai bergejolak di dalam dadanya.
Freya dengan panik mencoba menyatukan kembali robekan kain kemejanya dengan tangan yang gemetar hebat. "Sean, tidak... ini tidak seperti yang kau pikirkan...!"
Namun, Sean tidak mendengarkan. Rasa penasaran yang bercampur amarah membuat akal sehatnya hilang. Ia mencengkeram pinggang rok panjang yang dikenakan Freya dan merobeknya ke bawah tanpa ampun.
Sreeek!
"aaaakh, Sean. Jangaaan...!" Freya memekik.
Kain rok itu terbelah, menampilkan sepasang kaki Freya. Dan di sana, di area pangkal paha hingga bagian dalam pahanya, tanda-tanda merah keunguan yang sama bertebaran dengan sangat padat, bahkan menyisakan sedikit bekas memar kebiruan akibat cengkeraman kasar. Tanda-tanda itu adalah bukti mutlak dari sebuah percintaan yang intens.
Jantung Sean bergejolak hebat, darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa harga dirinya sebagai seorang pria dan seorang suami runtuh dalam sekejap, digantikan oleh murka yang tidak tertahankan. Wanita yang baru saja mengaku sangat mencintainya di bawah tadi, ternyata telah ditiduri oleh pria lain di belakangnya.
"JALANG SIALAN!"
Dengan mata yang memerah penuh amarah, Sean langsung melayangkan tangan kanannya ke depan, mencengkeram leher Freya dengan sangat kuat dan mencekiknya ke dinding.
"Uhuk! Se--an... lep--as..." Freya tercekik seketika, kedua kakinya sedikit berjinjit karena tekanan kuat dari tangan Sean yang menahan urat lehernya. Oksigen di parunya perlahan menipis, wajahnya mulai memerah menahan sakit.
"Siapa, Freya?! Siapa bajingan yang sudah menidurimu?!" bentak Sean dengan suara menggelegar, wajahnya memerah padam karena murka. Cengkeramannya di leher Freya semakin mengencang tanpa memedulikan wanita itu yang mulai kesulitan bernapas. "Kau bilang kau mencintaiku? Kau bilang kau bertahan demi aku? Tapi di belakangku kau menjual tubuhmu pada pria lain?! Katakan padaku, siapa pria berengsek yang sudah menyentuh milikku, hah?! JAWAB, FREYA!"
*
*
*
Untuk hari ini update satu bab dulu ya 🙏
Jangan lupa like, coment, gift dan vote. Satu dukungan sama dengan menghargai author. 🥰
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥