Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Nggak Marah?
Daniel menoleh kembali, matanya berkilat penuh tekad. "Biarkan dia mencoba, selama kamu masih ingin tinggal di sini, di tempat ini... tidak akan ada satu pun yang berani membawamu pergi tanpa izinku," ucap Daniel.
Tiba-tiba, suara deru motor Dandi terdengar mendekat. Dandi datang membawa tas kecil berisi kotak P3K dan beberapa botol air mineral.
"Bos! Aman! Anak-anak udah nyebar, mobil Ibunya Rachel sudah dikawal balik ke bandara. Mereka tidak akan tahu kita di sini," lapor Dandi dengan napas terengah.
"Tapi Bos, wajah lo... parah banget. Kalau dilihat emak gue, pasti dikira habis digebukin massa karena maling jemuran," lanjut Dandi.
"Diam lo, Dandi. Obati saja luka lo daripada banyak bicara," gerutu Daniel, meski ia membiarkan Dandi mulai membersihkan luka di wajahnya.
Rachel mengambil alih kapas dari tangan Dandi, "Biar aku aja," ucap Rachel.
Dandi nyengir dan mundur perlahan, "Oke, oke. Gue jaga di depan ya," ucap Dandi.
Saat Rachel dengan telaten mengobati luka Daniel, jarak di antara mereka begitu dekat. Daniel menatap Rachel yang begitu serius dan menyadari bahwa gadis di depannya ini bukan lagi sekadar titipan dari Daddy Brian atau putri orang kaya yang tersesat.
"Rachel," panggil Daniel lirih.
"Ya?" tanya Rachel dan mendongak menatap Daniel.
"Jangan pernah berpikir untuk kembali ke Ibumu hanya karena kasihan padaku, aku bisa menghadapi seribu pengawal seperti tadi, tapi aku tidak bisa menghadapi... jika kamu pergi karena merasa terpaksa," ucap Daniel.
Rachel meletakkan kapasnya, ia menggenggam tangan Daniel yang besar. "Aku tidak akan kembali, aku lebih memilih menjadi sampah di sini, daripada menjadi pajangan bersama Mommy," ucap Rachel tegas tanpa ragu sedikitpun.
Di bawah langit yang mulai menggelap, di sebuah tebing pelabuhan yang terabaikan, dua orang dari dunia yang berbeda itu menyadari satu hal. Perang dengan Mommy Viona baru saja dimulai, namun untuk pertama kalinya, mereka tidak bertarung sendirian.
Setelah memastikan keadaan sudag aman dan tidak ada tanda-tanda Mommy Viona akan datang, motor Daniel melaju pelan memasuki area gudang tua tempat bengkelnya berada. Kali ini tidak ada lagi aksi kebut-kebutan, hanya sisa tenaga yang dipaksakan Daniel untuk menjaga keseimbangan motornya.
Sesampainya di depan bengkel, pemandangan sedikit berantakan. Kursi plastik yang terguling dan bekas ban mobil Mommy Viona masih tercetak jelas di tanah yang berdebu, di sana juga ada Daddy Brian yang sudah menunggu kedatangan putrinya.
"Daddy," panggil Rachel.
"Rachel, syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Daddy Brian dan memeluk putrinya.
Daddy Brian melepaskan pelukannya dan matanya beralih pada Daniel yang sedang berusaha turun dari motor dengan gerakan yang sangat kaku, wajah Daddy Brian tampak penuh penyesalan.
"Daniel... Om tidak tahu harus bicara apa, Viona benar-benar sudah gila. Om minta maaf karena sudah melibatkanmu sedalam ini," ucap Daddy Brian dengan suara serak.
Daniel hanya mengangguk singkat, ia melepas jaket kulitnya dengan rintihan tertahan. Di bawah lampu bengkel yang berkedip-kedip, terlihat memar biru keunguan mulai menjalar di bahu dan rusuknya.
Rachel segera mendekat, mencoba memapah Daniel masuk ke dalam ruangan kecil di belakang bengkel yang berfungsi sebagai kamar sekaligus ruang istirahat pria itu.
Kamar Daniel yang sempit itu terasa sangat hening, Rachel membantu Daniel duduk di pinggiran kasur busa tipisnya. Bau oli dan bensin yang biasanya mendominasi ruangan kini bercampur dengan aroma antiseptik yang menyengat, Daniel menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang catnya sudah mengelupas, matanya terpejam rapat dan menahan denyut nyeri yang seolah memalu tulang rusuknya.
"Aku akan ambilkan air hangat," ucap Rachel, suaranya masih sedikit bergetar.
Saat Rachel hendak beranjak, tangan Daniel yang besar dan kasar menahan pergelangan tangannya. Daniel membuka matanya sedikit dan menatap Rachel dengan pandangan yang sulit diartikan, ada keletihan yang luar biasa di sana, namun juga ada sesuatu yang lebih hangat dari biasanya.
"Tetap di sini, nyeri ini bakal hilang kalau suasananya tenang," gumam Daniel.
Rachel kembali duduk di sampingnya dan membiarkan jemarinya tetap dalam genggaman Daniel. Di luar, terdengar suara Daddy Brian dan Dandi yang sedang menggeser barang-barang, membereskan sisa-sisa amukan anak buah Mommy Viona.
Di sisi lain, Daddy Brian duduk di atas kursi dan menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan kusam. Dandi yang sejak tadi sibuk merapikan tumpukan ban, tiba-tiba berhenti dan melirik ke arah pintu kamar Daniel yang tertutup rapat.
Dandi berdeham dan mencoba memecah keheningan yang canggung, ia melirik Daddy Brian yang tampak layu.
"Om," panggil Dandi pelan.
"Ada apa, Dan?" tanya Daddy Brian.
"Om nggak marah?" tanya Dandi.
Daddy Brian mendongak dan alisnya berkerut tipis, "Marah soal apa, Dandi?" tanya Daddy Brian.
Dandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menunjuk ke arah pintu kamar dengan dagunya, "Ya... itu, si Rachel sama Bos Daniel. Maksudku, mereka berdua kan beda jauh banget, Om. Yang satu anak sultan dan yang satunya, tidurnya aja di atas tumpukan kardus," ucap Dandi.
Dandi terdiam sejenak lalu melanjutkan dengan nada iseng yang khas, "Kalau Rachel beneran milih tinggal di sini dan... yah, katakanlah mereka makin dekat, Om setuju? Apa Om nggak ngerasa Daniel itu terlalu berandal buat putri Om?" tanya Dandi.
Daddy Brian terdiam cukup lama, ia menatap telapak tangannya sendiri yang kasar karena bertahun-tahun bergelut dengan kuah kaldu sapi lalu beralih menatap bengkel rongsokan yang kini menjadi benteng perlindungan bagi putrinya.
"Dandi, selama dua puluh tujuh tahun, Rachel dikelilingi oleh pria-pria berjas mahal yang hanya tahu cara memuji kecantikannya untuk menyenangkan Ibunya. Tapi tak satu pun dari mereka yang berani berdiri di depan senjata demi Rachel," jawab Daddy Brian dan ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan penerimaan pahit sekaligus bangga.
"Viona membangun tembok untuk Rachel, tapi Daniel memberinya kunci untuk keluar. Kalau kamu tanya Om setuju atau tidak... Om lebih memilih Rachel hidup di bengkel rongsokan ini bersama pria yang menghargainya, daripada dia mati pelan-pelan di dalam istana yang dibangun dari kebohongan oleh Ibunya sendiri," lanjut Daddy Brian.
Dandi melongo dan tidak menyangka jawaban Daddy Brian akan seberat itu, "Wih, mantap juga jawaban Om. Tapi ya gitu, Om... Bos Daniel itu kalau udah sayang, dia nggak bakal ngungkapin perasaannya, dia bakal lebih milih berantem sama satu kompi tentara biar orang itu aman," ucap Dandi.
"Itu yang Rachel butuhkan sekarang, Dandi. Bukan kata-kata manis, tapi bukti," ucap Daddy Brian.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁