NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Perjalanan dari apartemen menuju gedung kantor pusat Mahardika Group terasa sangat cepat. Di dalam mobil sedan mewah yang melaju mulus membelah kemacetan pagi Jakarta, tanganku tidak berhenti meremas ujung tas kecil yang kubawa. Rasa gugup sukses membuat telapak tanganku dingin seperti es batu.

Arkan yang duduk di sebelahku menyadari kegelisahanku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan besarnya langsung meraih kedua tanganku yang saling bertautan, lalu menggenggamnya erat. Jempolnya mengusap punggung tanganku dengan gerakan lambat yang sangat menenangkan.

"Tarik napas, Naura. Kamu ini mau menemani saya dilantik jadi CEO, bukan mau maju perang melawan penjajah," gumam Arkan pelan, matanya tetap menatap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

"Ini lebih menegangkan dari perang, Arkan! Di dalam sana nanti pasti banyak kamera, wartawan bisnis, dan pemegang saham yang mukanya galak-galak," balasku sambil mengerucutkan bibir. "Belum lagi rok kebaya ini sempit sekali di bagian bawah. Kalau aku sampai tersandung karpet lalu jatuh tengkurap di depan pintu ruang rapat, aku mau minta pindah warga negara saja rasanya."

Mendengar keluhanku soal rok, Arkan langsung menoleh ke arah bawahanku. Rok songket merah marun ini memang berpotongan span yang sangat ketat, membuat langkah kakiku harus diatur sekecil mungkin bak putri keraton yang sedang berjalan di atas pecahan kaca.

"Kalau kamu merasa tidak bisa berjalan gara-gara rok itu, bilang saja pada saya. Saya bisa langsung menggendongmu ala pengantin baru dari pintu lobi utama sampai ke lantai paling atas," ancam Arkan dengan wajah lempeng tanpa dosa.

Mataku langsung melotot sempurna. "Jangan gila ya! Kalau kamu berani menggendongku di lobi kantor, besok pagi mukaku pasti sudah jadi sampul utama majalah gosip nasional dengan judul 'Mantan Manajer Iklan Cari Perhatian Bos Besar'! Biar aku jalan pelan-pelan saja!"

Arkan terkekeh pelan. Tawanya yang renyah itu entah kenapa selalu berhasil membuat rasa gugupku menguap sedikit demi sedikit. Pria ini memang selalu punya cara aneh namun efektif untuk mengalihkan pikiran panikku.

Mobil sedan kami akhirnya berhenti tepat di depan pintu kaca lobi utama Mahardika Group. Hadi sudah lebih dulu turun dari kursi depan dan membukakan pintu untuk kami.

Begitu kakiku menginjak lantai marmer lobi, puluhan pasang mata karyawan yang sedang berlalu-lalang langsung tertuju ke arah kami. Suasana lobi yang tadinya ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan pagi mendadak hening seketika. Semua orang tampak terpana melihat penampilan bos besar mereka yang biasanya datang dengan aura mematikan, kini berjalan berdampingan sambil menggandeng tangan seorang wanita berkebaya merah marun yang sangat anggun.

"Aduh, Arkan... semua orang menatap kita. Kenapa mereka melongo begitu sih?" bisikku panik sambil merapatkan tubuhku ke arah lengan kokoh Arkan. Langkah kakiku yang kecil-kecil karena rok sempit ini membuat kami berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.

Arkan menegakkan postur tubuhnya, memancarkan aura dominan dan perlindungan yang sangat kuat. Mata elangnya langsung menyapu seluruh penjuru lobi dengan tatapan tajam dan dingin. "Biarkan saja. Mungkin mereka menatap karena calon istri saya hari ini kelewat cantik. Tapi tenang saja, tidak ada satu pun dari pria-pria di lobi ini yang berani melihatmu lebih dari tiga detik, atau mereka akan langsung menerima surat pemecatan sebelum jam istirahat siang."

Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ancaman posesifnya yang sangat tidak masuk akal itu. Bos gila kontrol ini beneran tidak ada obatnya!

Kami melangkah masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Angka digital di atas pintu lift bergerak cepat menuju lantai lima puluh, tempat di mana ruang rapat pleno utama berada. Begitu pintu lift terbuka, ketegangan yang tadi sempat mereda kini kembali menyerangku dengan kekuatan penuh.

Di ujung koridor yang berlapis karpet merah tebal, tampak Paman Dimas sudah berdiri menunggu dengan setelan jas abu-abu terangnya. Di belakangnya berdiri dua orang asisten yang tampak membawa tumpukan dokumen tebal. Wajah Dimas terlihat sangat percaya diri, lengkap dengan senyum culas yang membuatku rasanya ingin melempar sepatu hak tinggiku tepat ke arah hidungnya.

"Wah, wah, lihat siapa yang datang," sapa Dimas dengan nada suara yang dibuat-buat ramah saat kami berdua berjalan mendekat. Matanya menatap sinis ke arah genggaman tangan Arkan di jemariku. "Calon CEO kita rupanya masih sibuk bermain sandiwara rumah tangga bahagia. Selamat pagi, Arkan. Selamat pagi... oh, maaf, siapa namamu tadi? Manajer iklan kelas bawah?"

Belum sempat aku membalas hinaannya, Arkan sudah melangkah maju satu tindak, menyembunyikan sebagian tubuhku di belakang punggung lebarnya. Aura dingin yang mencekam seketika memenuhi lorong tersebut.

"Jaga mulutmu, Dimas," desis Arkan dengan suara bariton yang teramat sangat rendah, mirip geraman singa yang siap menerkam mangsanya. "Wanita yang sedang kamu bicarakan ini adalah Naura Mahardika. calon istri sah saya, sekaligus calon nyonya besar di gedung ini. Sekali lagi kamu merendahkannya, saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rapat mana pun lagi seumur hidupmu."

Dimas tertawa meremehkan, namun aku bisa melihat sedikit getaran takut di sudut bibirnya. "Jangan menggertak, Arkan! Kamu pikir dewan komisaris akan percaya dengan akting pernikahan mendadakmu ini? Saya punya cukup bukti kalau kalian berdua cuma pura-pura menikah demi mengamankan kursi CEO. Begitu saya membeberkan semuanya di dalam sana, kamu akan langsung ditendang keluar dari perusahaan ini!"

Aku yang sedari tadi berlindung di balik punggung Arkan akhirnya tidak tahan lagi. Dengan susah payah menyeimbangkan badan karena rok sempit, aku melangkah maju dan berdiri sejajar dengan suamiku. Aku mengibaskan rambutku sedikit, lalu menatap Dimas dengan senyum manis yang sangat mematikan.

Ruang rapat pleno itu luar biasa besar dan megah. Meja bundar panjang dari kayu jati solid memenuhi bagian tengah ruangan. Di kursi utama, Om Surya duduk dengan penuh wibawa. Di samping kanan dan kirinya, duduk jajaran komisaris senior termasuk Pak Baskoro dan Pak Tirto yang semalam melakukan sidak dadakan ke apartemen kami.

Begitu aku dan Arkan masuk, Om Surya langsung tersenyum bangga. "Silakan duduk, Arkan, Naura. Kita akan segera memulai pengesahan keputusan tertinggi perusahaan pagi ini."

Arkan menarikkan sebuah kursi empuk untukku, memastikan aku duduk dengan nyaman mengingat rok kebaya yang kupakai cukup menyusahkan pergerakanku. Setelah itu, barulah dia duduk di kursi yang berada tepat di sebelahku.

Tak lama kemudian, Dimas melangkah masuk ke dalam ruang rapat dengan langkah kaki yang dihentakkan keras. Dia langsung berdiri di ujung meja, menatap tajam ke arah Om Surya.

"Tunggu dulu! Sebelum pengesahan ini ditandatangani, saya selaku pemegang saham dan keluarga inti Mahardika menyatakan keberatan keras!" seru Dimas dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan. "Arkan telah memanipulasi kita semua! Syarat utama untuk menjadi CEO di perusahaan ini adalah harus sudah berkeluarga dan memiliki stabilitas rumah tangga. Pernikahan Arkan dan Naura ini hanyalah tipuan belaka!"

Ruangan mendadak riuh oleh bisik-bisik para manajer divisi lain yang hadir. Dimas tersenyum menang, merasa taktiknya berhasil menggoyahkan kepercayaan peserta rapat.

"Saya punya laporan dari detektif swasta bahwa mereka sama sekali tidak bersikap seperti sepasang calon suami istri di luar kantor. Ini penipuan publik!" lanjut Dimas berapi-api.

Namun, alih-alih panik, Om Surya justru menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah prihatin. Di sebelahnya, Pak Baskoro, sang komisaris paling galak, mulai mengetukkan bolpoinnya ke atas meja untuk menenangkan suasana.

"Dimas, sudahlah. Hentikan omong kosongmu itu," ujar Pak Baskoro dengan nada bosan yang sangat kentara. "Detektif swasta macam apa yang kamu sewa itu? Pasti detektif amatiran yang cuma berjaga di luar pagar."

Dimas tertegun. "M-maksud Om apa? Laporan saya akurat!"

"Akurat apanya?" timpal Pak Tirto sambil membetulkan kacamatanya. "Kemarin sore, kami bertiga baru saja pulang dari apartemen Arkan. Kami melakukan inspeksi mendadak sampai masuk ke dalam kamar tidur utama mereka. Dan apa yang kami temukan? Mereka tinggal dalam satu rumah, sikat gigi mereka ada dalam satu gelas, dan yang paling penting..."

Pak Tirto menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arahku sambil tersenyum geli menahan tawa.

"...baju tidur kebanggaan istri Arkan yang bermotif awan-awan itu tergantung mesra di sebelah jas Tom Ford milik Arkan yang harganya puluhan juta! Sangat harmonis dan penuh cinta!"

Mendengar penjelasan blak-blakan dari Pak Tirto soal daster mega mendungku di depan puluhan pejabat teras perusahaan, mukaku rasanya mau meledak saat itu juga. Aku refleks menutupi wajahku dengan kedua tangan karena malu yang tidak tertolong lagi.

Sementara itu, Arkan justru mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Dimas dengan senyum miring yang luar biasa mematikan. "Bagaimana, Dimas? Apa kamu butuh bukti foto daster istri saya untuk dilampirkan ke dalam laporan detektif bayaranmu itu?"

Suara tawa tertahan mulai terdengar dari beberapa sudut meja rapat. Dimas berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka. Wajahnya pucat pasi, menyadari bahwa senjata pamungkasnya baru saja dipatahkan dengan cara yang paling memalukan dan kocak sepanjang sejarah rapat Mahardika Group. Seluruh usahanya untuk menjatuhkan Arkan hancur lebur hanya gara-gara pengakuan soal daster dan kasur berantakan.

"Karena sudah tidak ada lagi keberatan yang masuk akal," Om Surya mengambil alih pembicaraan dengan suara tegasnya. "Maka dengan ini, saya selaku Komisaris Utama menetapkan bahwa posisi Chief Executive Officer Mahardika Group secara resmi diserahkan kepada Arkan Mahendra. Keputusan ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat."

Suara tepuk tangan langsung bergemuruh memenuhi ruangan. Dimas akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan lemas, tahu bahwa perlawanannya sudah tamat hari ini.

Arkan berdiri dari kursinya, menerima map dokumen pengesahan dari Hadi, lalu menandatanganinya dengan gerakan tangan yang sangat mantap dan penuh wibawa. Setelah semua formalitas selesai, Arkan menoleh ke arahku. Mata elangnya berkilat penuh kemenangan, namun di balik kilatan itu, ada sebuah lautan kelembutan yang hanya dia tunjukkan padaku seorang.

Dia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dari kursi dengan sangat hati-hati karena rok sempitku. Di hadapan seluruh dewan direksi, komisaris, dan pamannya yang sedang jantungan, Arkan Mahendra menarik tubuhku mendekat, melingkarkan satu lengannya di pinggangku dengan posesif, lalu mengecup keningku cukup lama.

"Kita berhasil," bisik Arkan tepat di telingaku, suaranya menggetarkan seluruh pertahanan hatiku.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!