Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Mas Bahlil Terbongkar
Bahlil tidak mundur sedikit pun. Ia berdiri tegak di bawah terik matahari, keringat membasahi pelipisnya, namun ekspresinya tetap tenang dan mantap.
"Kalau mau terus menghina dan menilai aku sembarangan, silakan aja. Tapi ingat, semua yang aku punya sekarang, nama baik dan harta yang kalian ragukan itu, semuanya aku dapat dari kerja keras sendiri. Aku diam selama ini bukan karena takut atau miskin, tapi karena aku menghormati kalian sebagai keluarga istriku," ucap Bahlil dingin namun sopan. Ini adalah bentuk perlawanan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Suasana seketika menjadi hening. Keluarga Puann tertegun kaget mendengar nada bicaranya yang tegas. Ada hal berbeda dari diri Bahlil kali ini, yaitu aura percaya diri yang membuat mereka ragu terhadap tuduhan sendiri.
Bahlil kembali menoleh ke arah jendela kamar. Wajahnya yang tadinya keras kini melembut, terlihat ada rasa sakit dan kepasrahan di sana.
"Puann, aku nggak bakal maksa kamu pulang kalau belum mau. Tapi sebelum aku pergi dan mungkin nggak bakal datang lagi ... ada banyak hal besar yang belum aku ceritain ke kamu dan keluarga," ucapnya pelan namun terdengar jelas sampai ke dalam rumah.
Ia melangkah mundur perlahan bersiap pergi. Sebelum berbalik badan sepenuhnya, kalimat terakhirnya terucap berat namun penuh kepastian yang membuat jantung Puann berdegup makin kencang.
"Kalau kamu beneran mau ninggalin dan buang aku sepenuhnya, dengerin semuanya dulu. Biar kamu tahu alasan sebenernya aku lakuin semua ini, dan siapa aku yang sebenarnya."
Puann akhirnya melangkah keluar dari rumah. Wajahnya kaku, dan matanya menatap tajam ke arah Bahlil yang masih berdiri di halaman.
"Katanya mau ngomong? Bilang aja sekarang. Jangan kasih kode-kode gitu, aku udah muak banget sama semua rahasia kamu," ucap Puann dengan nada dingin.
Seluruh anggota keluarga yang ada di situ mendekat. Mereka penasaran sekaligus tidak percaya, menunggu apa yang akan diungkapkan Bahlil.
Bahlil menatap Puann lekat-lekat. Ia menarik napas panjang lalu mulai bercerita dengan nada tenang dan tegas.
"Aku nggak pernah beneran miskin, Puann. Kontrakan kecil tempat kita tinggal itu, tanah dan bangunannya emang milik keluargaku. Bengkel AC tempat aku kerja juga aset keluarga yang sengaja aku kelola diam-diam," jelas Bahlil lugas.
"Terus gedung besar sama mobil mewah yang kemarin itu gimana? Itu juga milik kamu?" tanya kakak Puann menyela dengan nada curiga.
"Semua itu milikku sendiri. Aku punya beberapa usaha jasa dan perdagangan. Cuma emang jarang orang yang tahu, soalnya aku nggak suka pamer harta," jawab Bahlil sambil menatap lurus ke arah kakak iparnya.
Ibunya Puann mendengus keras lalu bersedekap dada. Tatapannya masih penuh keraguan dan ketidaksukaan.
"Alasan sebesar apa sih sampai harus bohong soal harta? Kamu biarin anakku makan seadanya, tidur sempit, dan dihina orang cuma buat main-main ya?" potong ibunya tajam.
"Alasanku cuma satu. Aku mau cari pasangan yang tulus sayang sama aku, bukan gara-gara harta atau jabatan. Aku mau tahu, dia bakal bertahan atau malah pergi pas aku lagi nggak punya apa-apa," jawab Bahlil sambil menoleh ke arah Puann.
Puann tertawa kecil, namun suaranya terdengar getir dan penuh kepahitan. Air matanya mulai menggenang lagi, namun ia berusaha menahannya sekuat tenaga.
"Jadi selama ini aku cuma jadi bahan ujian kamu? Puas ya lihat aku malu, susah, dan nangis sendirian? Semua hinaan orang, omongan Ibu, omongan saudara, semuanya cuma tontonan kamu ya?" tanya Puann dengan suara bergetar menahan amarah.
"Bukan gitu maksud aku, Puann. Aku cuma mau pastiin kalau kita nikah itu dasarnya cinta, bukan materi. Aku pengen kamu terima aku apa adanya, pas susah maupun pas lagi enak," jawab Bahlil lalu mencoba mendekat, tapi Puann langsung mundur menjauh.
"Terima apa adanya? Kamu yang nggak ngasih aku kesempatan buat kenal kamu yang sebenernya! Kamu yang pura-pura jadi orang lain! Kamu tahu nggak rasanya dipermalukan terus sementara kamu cuma diam aja, malah asik nikmatin jabatan kamu itu di belakangku?" seru Puann makin keras.
"Aku nggak seneng sama sekali, Puann. Aku juga sakit hati lihat kamu sedih. Tapi aku percaya kalau kamu orang yang tepat, kamu bakal bertahan dan kita bakal bahagia nanti," ucap Bahlil berusaha menjelaskan.
"Dasar egois! Cuma mikirin perasaan sendiri. Kamu pikir cuma kamu yang berhak ngetes kesetiaan? Nggak pernah mikirin gimana rasanya jadi aku ya?" potong Puann cepat.
"Maafin aku, Puann. Aku sadar caraku salah. Tapi semua yang aku lakuin itu karena aku pengen kamu jadi pendamping hidup aku selamanya," kata Bahlil dengan nada memohon.
Puann menggeleng kuat-kuat lalu mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya. Rasa kecewanya yang sempat sedikit berkurang kini meluap lagi, bahkan lebih besar dari sebelumnya.
"Selamanya? Kamu kira abis sandiwara sebesar ini aku masih mau sama kamu? Aku bahkan nggak tahu siapa kamu. Laki-laki di depan aku ini, bukan suami yang aku nikahin tiga bulan lalu," ucap Puann tajam.
Ia menatap Bahlil dengan pandangan asing, seolah melihat orang baru yang baru ditemuinya hari itu. Tidak ada lagi kelembutan atau rasa hormat, yang tersisa hanya kekecewaan.
"Buat aku, orang yang pura-pura miskin dan diam pas istrinya dihina itu udah hilang. Dan orang kaya penuh rahasia ini... maaf, aku nggak kenal kamu," tegas Puann.
Kalimat itu membuat dada Bahlil terasa sangat sakit, lebih sakit daripada pukulan manapun. Ia diam terpaku melihat Puann berbalik badan masuk ke rumah lalu membanting pintu dengan keras.
Keluarga Puann yang menyaksikan kejadian itu hanya diam. Beberapa mulai ragu terhadap penilaian awal mereka, namun mayoritas masih merasa Bahlil telah melakukan kesalahan besar. Bahlil berdiri sendiri di halaman di bawah sinar matahari yang semakin terik. Ia sadar bahwa kebenaran yang baru diungkapkan justru membuat jarak di antara mereka makin jauh dan sulit disambung kembali.
...***...
Setelah kejadian itu, Puann bersedia pulang ke kontrakan, namun sikapnya berubah total. Ia tinggal satu atap kembali bersama Bahlil, tetapi sapaan hangat dan senyum lembutnya tidak ada lagi.
Mereka tidur di kamar dan kasur yang sama, namun jarak di antara keduanya terasa jauh dan dingin. Percakapan hanya terjadi jika ada hal mendesak yang wajib disampaikan.
"Air habis, nanti kamu beli ya," ucap Puann datar, matanya tetap menatap piring yang sedang dicuci, tanpa menoleh sedikit pun.
"Iya, aku ingat kok. Nanti sore aku cari air sekalian pulang kerja," jawab Bahlil pelan. Ia berharap Puann mau menatapnya sebentar saja, namun harapannya itu sia-sia.
Bahlil berusaha mengubah sikapnya. Ia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, membersihkan seluruh rumah, dan memenuhi kebutuhan Puann sebelum berangkat kerja. Perhatian itu selalu dibalas wajah kaku dan jawaban singkat.
"Masak apa ini? Aku nggak minta dibuatkan," kata Puann saat melihat nasi dan lauk tersaji rapi di meja. Ia langsung mengambil piring sendiri, mengambil sedikit makanan, lalu makan dengan cepat.
"Aku cuma mau bantu, biar kamu nggak capek. Kamu makan aja ya, kalau kurang enak bilang aku, nanti aku perbaiki lagi," jawab Bahlil lembut, duduk di hadapan istrinya tapi tidak berani terlalu dekat.
"Enak atau nggak, buatku sama saja. Yang penting kenyang," balas Puann dingin, lalu segera beranjak pergi setelah selesai makan.
Momen canggung terjadi setiap hari. Jika mata mereka tidak sengaja bertemu, Puann langsung membuang muka. Jika tangan bersentuhan saat mengambil barang, Puann menariknya cepat seolah tersentuh benda panas.