NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Sisa Abu yang Terinjak

BAB 8: Sisa Abu yang Terinjak

​Aroma pekat dari biji kopi arabika yang baru saja digiling beradu dengan dinginnya uap pendingin ruangan di lantai tiga puluh gedung Devano Group. Jarum jam dinding berbahan kayu jati yang menggantung di sudut ruangan telah melewati angka delapan malam. Seluruh karyawan di divisi bawah telah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan koridor panjang lantai eksekutif yang senyap, remang, dan mencekam.

​Luna Maharani berdiri mematung di depan mesin pembuat kopi otomatis yang terletak di pantry kecil, tepat di sebelah ruang kerja sang CEO. Jari-jarinya yang dingin menggenggam pinggiran konter marmer dengan begitu erat, hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Di bawah lampu neon pantry yang temaram, wajah Luna tampak sangat pucat. Lingkaran hitam samar di bawah matanya mempertegas bahwa gadis berusia dua puluh tiga tahun itu telah kehilangan waktu tidurnya selama berhari-hari.

​“Letakkan kopinya di sana, dan jangan menyentuh dokumen apa pun di meja saya dengan tangan kotormu itu.”

​Kalimat tajam yang dilontarkan Devano beberapa jam lalu seolah masih bergaung di rongga telinga Luna, berputar-putar seperti kaset rusak yang sengaja disetel untuk terus meremukkan ulu hatinya. Luna memejamkan mata sesaat, menghirup napas dalam-dalam yang terasa begitu sesak dan menyakitkan di dadanya. Setiap kali dia melangkah ke lantai ini, dia merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

​Sejak seminggu yang lalu resmi menyandang status sebagai Personal Assistant dari mantan kakak iparnya, hidup Luna berubah menjadi neraka jahanam yang tak kasat mata. Devano sama sekali tidak memberikan kelonggaran. Pria itu menimbun Luna dengan tumpukan berkas laporan keuangan tahunan, menjadwalkan pertemuan-pertemuan bisnis yang rumit, dan sengaja menyuruhnya tetap tinggal di kantor hingga larut malam hanya untuk urusan-urusan sepele yang sebenarnya bisa diselesaikan esok hari.

​Luna tahu, semua ini bukan karena Devano membutuhkannya sebagai pekerja yang kompeten. Ini adalah hukuman. Ini adalah pelampiasan dari rasa benci dan dendam murni seorang pria yang harga dirinya pernah diinjak-instak hingga hancur oleh Siska, kakak kandungnya. Dan sialnya, di mata Devano, Luna adalah perpanjangan tangan dari dosa-dosa kakaknya.

​Ting.

​Bunyi pelan dari mesin kopi menandakan cairan hitam pekat tanpa gula itu telah memenuhi cangkir keramik putih. Luna membuka matanya perlahan. Dia menatap permukaan kopi yang hitam dan pahit itu, persis seperti garis takdir hidupnya saat ini. Dengan tangan yang masih gemetar, dia mengangkat nampan perak kecil, meletakkan cangkir itu di atasnya, lalu melangkah keluar dari pantry.

​Setiap ketukan dari sepatu hak tahu setinggi lima sentimeter yang dikenakan Luna terdengar begitu nyaring di koridor yang sepi. Pintu jati besar berlapis pernis mengkilap di ujung lorong itu tampak seperti gerbang menuju sarang binatang buas. Luna berhenti di depannya, menstabilkan deru napasnya yang mendadak memburu karena rasa takut yang teramat sangat.

​Tok... Tok... Tok...

​"Masuk," suara bariton yang berat, dalam, dan sedingin es terdengar dari dalam, merambat melalui celah pintu dan seketika membuat bulu kuduk Luna meremang.

​Luna mendorong pintu jati itu perlahan dengan sikunya. Ruang kerja Devano yang sangat luas itu hanya diterangi oleh sebuah lampu meja berdesain minimalis di sudut kiri dan pendaran kelabu dari layar monitor laptop berukuran besar. Di balik meja kerja kaca tebal yang megah, Devano sedang duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya.

​Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu telah melepaskan jas formalnya, menyisakan kemeja abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh kekarnya. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memamerkan pangkal lehernya yang kokoh dan tegas. Lengan kemejanya digulung kasar hingga batas siku, memperlihatkan urat-urat menonjol yang menghiasi lengan bawahnya yang dipenuhi bulu-bulu halus maskulin. Sebuah kacamata baca bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan cerdas namun sangat intimidatif.

​Luna melangkah mendekati meja dengan kepala yang tertunduk dalam. Dia tidak berani menatap mata elang pria itu. Sorot mata Devano akhir-akhir ini terlalu berbahaya untuk diselami—terlalu penuh dengan kabut kebencian yang pekat.

​"Kopi Anda, Tuan Devano," ucap Luna dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang tercekik di tenggorokan. Dia meletakkan cangkir keramik itu di sisi kanan meja dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada setetes pun cairan yang tumpah atau menyentuh berkas-berkas penting di sana.

​Devano tidak menyahut. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh terus mengetik di atas papan ketik dengan ritme yang konstan dan dingin. Keheningan yang menyiksa kembali menyergap ruangan itu selama beberapa menit, membiarkan Luna berdiri kaku seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis hakim.

​Setelah menyelesaikan satu paragraf ketikannya, Devano menghentikan gerakannya. Dia melepaskan kacamata bacanya dengan gerakan lambat, meletakkannya di atas meja dengan bunyi ketukan pelan yang sanggup membuat Luna tersentak kecil. Pria itu kemudian mengambil cangkir kopi yang dibawa Luna, menghirup aromanya sejenak, lalu menyesapnya sedikit.

​"Terlalu manis," ucap Devano tiba-tiba. Suaranya rendah, datar, namun sarat akan celaan.

​Luna tersentak, dahinya berkerut samar. "Maaf, Tuan... tapi saya sama sekali tidak memasukkan gula ke dalamnya. Itu kopi hitam murni seperti yang Anda minta kemarin."

​Devano meletakkan kembali cangkir itu ke atas tatakannya dengan sedikit sentakan, menimbulkan bunyi klak yang memecah kesunyian. Dia mendongak, menatap Luna dari balik meja kerjanya. Pandangan matanya menyapu wajah pucat Luna, lalu turun ke arah kemeja sutra putih yang membungkus tubuh ringkih gadis itu.

​"Saya bilang manis, artinya manis, Luna Maharani," desis Devano dengan nada suara yang merendah, namun menekan. "Atau mungkin... cangkir ini menjadi manis karena tidak sengaja tersentuh oleh bibir murahanmu saat di pantry tadi? Kamu mencoba meracuniku dengan sisa-sisa air liurmu?"

​Deg.

​Hantaman kata-kata itu begitu telak mengenai dada Luna. Rasanya lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Air mata Luna seketika menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Dia meremas jemarinya sendiri di balik punggung, mencoba sekuat tenaga menahan agar air mata itu tidak luruh di depan pria kejam ini.

​"Saya tidak semurah itu untuk meminum kopi Anda terlebih dahulu, Tuan Devano," lirih Luna dengan bibir yang bergetar hebat. "Jika Anda tidak menyukai rasanya, saya bisa membuatnya ulang."

​Devano terkekeh sinis. Tawa yang terdengar sangat hambar, kering, dan dipenuhi rasa muak yang murni. Dia memajukan tubuhnya, menumpu kedua siku di atas meja kerja, menatap lurus ke dalam manik mata Luna yang berkaca-kaca.

​"Tidak semurah itu?" Devano menaikkan satu alisnya, menyunggingkan senyuman merendahkan yang sangat menyakitkan. "Lalu apa sebutan yang pas untuk seorang gadis yang dengan sukarela menyerahkan kesuciannya di kamar hotel kepada mantan suami kakaknya sendiri dalam satu malam hujan? Jika itu bukan murahan, lalu apa, Luna? Apa kamu mau aku menyebutmu sebagai wanita suci yang sedang beramal?"

​Luna menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga rasa anyir darah mulai tercecap di lidahnya. Siksaan batin ini terlalu berat. Malam itu... malam terlarang itu terjadi karena dia lumpuh oleh rasa cinta terpendamnya selama bertahun-tahun, sekaligus rasa bersalah yang luar biasa atas pengkhianatan Siska. Tapi di mata Devano, semua alasan itu tidak ada artinya. Di mata pria itu, Luna hanyalah seonggok daging pemuas nafsu dari keluarga penipu yang bisa dibeli dengan uang pelunasan utang.

​"Malam itu... Anda yang menarik saya ke kamar itu, Tuan," bisik Luna dengan suara yang serak karena menahan tangis.

​"Dan kamu tidak menolak, bukan?" potong Devano cepat dengan nada suara yang semakin meninggi dan tajam. "Kamu menikmatinya, Luna. Kamu mendesah di bawah tubuhku, memohon agar aku tidak berhenti, seolah kamu sedang mengemis agar utang-utang judi almarhum ayahmu segera kulunasi. Kalian sekeluarga tidak ada bedanya. Siska menjual tubuhnya pada pria kaya di luar negeri demi kemewahan, dan kamu... kamu menjual dirimu padaku demi menyelamatkan ibumu dari jerat utang. Menjijikkan."

​Devano bangkit dari kursi kerjanya. Langkah kakinya yang berat dan tegap terdengar mengancam saat dia berjalan memutari meja kerja kaca tersebut. Dia berhenti tepat di hadapan Luna, mengikis jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu yang beraroma kopi hitam yang pahit.

​Devano mengulurkan tangannya, jari-jari kokohnya mencengkeram dagu Luna dengan cengkeraman yang kuat dan menuntut, memaksa gadis itu untuk mendongak menatap wajah tampannya yang kini tertutup oleh topeng kebencian yang pekat.

​"Dengar baik-baik, Asisten Luna," bisik Devano tepat di depan wajah Luna, matanya berkilat penuh dendam yang membara. "Jangan pernah berlagak menjadi korban di sini. Rasa sakit hati yang diberikan kakakmu padaku... harga diriku yang dia injak-injak di depan umum saat dia menceraikanku demi pria lain... semua itu tidak akan pernah sebanding dengan air mata palsumu ini. Aku sudah membayar mahal untuk kebebasan keluargamu, jadi pastikan kamu menerima semua hinaan ini sebagai bentuk cicilan utangmu padaku."

​Luna hanya bisa memejamkan mata erat-earat, membiarkan dua aliran air mata hangat akhirnya lolos membasahi pipinya yang tirus. Cengkeraman tangan Devano di dagunya terasa begitu menyakitkan, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran total di dalam hatinya. Pria yang dia cintai dengan tulus sejak dulu, kini telah menjelma menjadi iblis yang mengunyah harga dirinya setiap hari hingga tak bersisa.

​Di tengah keheningan yang mencekam dan penuh dengan letupan emosi benci itu, tiba-tiba keheningan koridor luar dipecah oleh suara ketukan sepatu hak tinggi yang terburu-buru. Suaranya terdengar semakin mendekat ke arah ruang kerja sang CEO.

​Tak! Tak! Tak!

​Luna membelalakkan matanya yang basah karena panik. Dia sangat mengenali ritme ketukan sepatu itu. Itu adalah langkah kaki Siska!

​"Mas Devano! Aku tahu kamu masih di dalam!" Suara Siska melengking dari balik pintu luar, terdengar begitu manja dan penuh percaya diri.

​Cengkeraman tangan Devano di dagu Luna mendadak terlepas. Rahang pria itu mengetat sempurna mendengar suara wanita yang paling dia benci di dunia ini. Sorot mata Devano seketika berubah menjadi sedingin es yang mematikan.

​Luna mundur beberapa langkah dengan panik, memegangi dadanya yang bergemuruh kencang. "Kak... Kak Siska..." cicit Luna ketakutan. Jika Siska masuk dan melihat matanya yang sembap serta suasana intim yang tegang ini, rahasia malam terlarang mereka bisa terbongkar dalam sekejap.

​Pintu jati besar itu perlahan mulai terdorong dari luar. Siska, dengan gaun merah ketatnya yang sangat seksi dan riasan wajah yang tebal, tersenyum lebar siap melangkah masuk ke dalam ruangan.

​Di saat yang kritis itu, Devano tiba-tiba meraih pergelangan tangan Luna dengan sentakan kasar, lalu menarik tubuh ringkih gadis itu ke belakang tubuh tegapnya, menyembunyikannya dari pandangan pintu masuk seolah ingin menjaga barang jarahannya agar tidak terlihat oleh orang luar. Devano menatap lurus ke arah pintu dengan pandangan mata yang siap membunuh siapa saja yang berani mengusik teritorinya malam ini.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!