NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21 Tindakan tepat

Kepala pria itu tersentak ke samping, senyum menyebalkannya lenyap seketika, dan matanya langsung berputar ke atas sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya di atas lantai permadani.

Reigan tertegun. Sepasang netra gelapnya melebar sekilas, menatap Hana dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa disembunyikan.

Pria itu tidak menyangka Hana akan mengeksekusi mangsanya secepat itu di depan matanya sendiri.

"Kau ...," desis Reigan.

"Dia hanya pingsan. Bukan mati," ujar Hana.

Merasa ditatap dengan intensitas yang menuntut penjelasan, Hana hanya merapikan kembali lipatan gaunnya yang sedikit bergeser dengan gerakan kaku yang anggun. Ia menatap balik Reigan dengan sepasang mata esnya yang tanpa emosi.

"Agar dia tidak kabur," ujar Hana dingin, nadanya datar seolah baru saja melakukan hal paling sepele di dunia.

Reigan mendengus gelap, menelan kembali keterkejutannya. Sialan. Wanita ini benar-benar tidak bisa ditebak. Namun, ia harus mengakui dalam hati bahwa tindakan Hana barulah yang paling efisien malam ini. Pria di bawah lututnya ini sekarang menjadi saksi hidup yang sangat berharga untuk menyeret Leon keluar dari permainan amannya.

***

Suasana pesta.

Di salah satu sudut ruang VIP yang menghadap langsung ke aula pesta utama, atmosfer terasa berbanding terbalik dengan denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para tetua klan di bawah sana. Ruangan itu remang, hanya diterangi seberkas lampu dinding klasik yang kaku.

Arthur Douglas berdiri di dekat jendela kaca besar, mengamati Leon yang tampak sedang tertawa santai sembari bersulang dengan salah satu dewan direksi di tengah aula.

Rowand berdiri seperti bayangan kaku, memegang sebuah gawai taktis yang baru saja meredup setelah menerima laporan terenkripsi dari Nico.

"Tuan Besar," Rowand memulai, suaranya serendah desis angin malam namun sarat akan ketegasan militer. "Marco dan Nico baru saja mengamankan ruang kerja Anda. Umpan berupa pelayan internal tewas karena sianida setelah mencoba meracuni obat harian Anda."

Arthur tidak terkejut. Pria tua itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari siluet Leon di bawah sana. Ia hanya menyesap wiskinya perlahan. "Lalu?"

"Sudah berhasil dilumpuhkan. Tuan Muda Reigan dan Nona Hana yang mengeksekusinya di dalam ruangan." lanjut Rowand, menjeda kalimatnya sejenak sebelum menambahkan detail yang paling penting.

Mendengar laporan itu, sudut bibir Arthur Douglas terangkat tipis. Kerutan di wajah tuanya tidak menampilkan ketakutan, melainkan sebuah kepuasan dari seorang master catur yang melihat bidaknya bergerak sesuai prediksi.

Kakek Arthur tetap berwajah datar. Mungkin pria tua ini sudah paham siapa itu. Tentu merujuk pada kelicikan Leon yang selalu menganggap nyawa orang lain sebagai mainan.

"Tuan Besar, apakah kita harus membiarkan Tuan Muda Reigan sendirian? Bisa saja ada musuh lain yang bergerak," tanya Rowand, menunjukkan kekhawatiran taktisnya sebagai kepala pengamanan tertinggi.

Arthur Douglas membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Rowand dengan sepasang netra setajam elang yang telah melewati ratusan pertempuran berdarah.

"Biarkan Reigan saja. Reigan tahu harus apa. Lagipula ada Hana disana. Dia butuh tamparan keras seperti ini untuk menyadari bahwa memimpin Valerius tidak cukup hanya dengan otot dan senjata. Dia harus belajar membaca kelicikan," jawab Kakek Arthur mutlak.

Ia berjalan mendekati meja kecil, meletakkan gelas wiskinya dengan ketukan kaku yang berwibawa.

"Baik, Tuan." Rowand paham.

Kakek Arthur belum tahu ada musuh kedua yang masuk lagi ke dalam ruang kerja karena saat itu Marco dan Nico  sudah pergi.

***

Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja yang remang itu setelah tubuh pria dari Tim B ambruk tak sadarkan diri. Reigan menarik napas dalam-dalam, menetralkan denyut nadinya yang sempat kacau, lalu merogoh saku jasnya untuk menghidupkan gawai taktis khusus miliknya. Ia menekan satu tombol enkripsi jalur internal.

"Marco, Nico. Masuk ke ruang kerja Kakek sekarang. Bawa pengikat taktis dan amankan jalur evakuasi bawah tanah," perintah Reigan, suaranya dingin tanpa intonasi.

Tidak butuh waktu lama bagi dua orang kepercayaan Valerius itu untuk menyusup masuk melalui pintu rahasia di balik lemari buku. Namun, begitu melangkah masuk dan melihat ada tubuh lain yang terkapar di dekat pilar beton, keduanya tersentak kaku.

"Brengsek! Ada lagi?!" Marco mengumpat rendah, tangannya refleks meraba senjata di pinggang. Matanya melotot menatap tubuh pria asing yang pingsan dengan pelipis membiru akibat hantaman Hana. "Mereka mengirim penyusup lagi? Berani sekali bajingan-bajingan ini. Ini rumah kakek Douglas!"

"Dia masih hidup. Hanya pingsan," sahut Reigan kaku.

"Oh, benarkah?" Marco mengamati musuh di bawah kaki Reigan. "Benar. Dia hanya pingsan." Kaki Marco menendang pelan tubuh musuh hanya untuk mengecek.

Nico melangkah mendekat untuk memeriksa kondisi tawanan baru tersebut. Namun, saat ia berjongkok di dekat tubuh musuh, pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu yang janggal pada Hana. Di bawah pendar cahaya biru gawai siber yang masih tergeletak di meja, Nico melihat buku-buku jari tangan kanan Hana tampak memerah, bahkan sedikit lecet.

Meskipun Nico tahu Nyonya Reigan ini adalah wanita yang kuat dan mematikan, sikap sopan dan hormat yang tertanam dalam dirinya membuat Nico refleks menunjukkan perhatiannya.

Nico mendongak, menatap Hana dengan binar hormat. "Nyonya, tangan Anda terluka."

"Tidak apa-apa," potong Hana pendek, tapi ramah. Sikap ini selalu ditunjukkan Hana pada Nico yang menyambutnya pertama kali. "Hanya memar sedikit."

Nico mengangguk paham. "Sebaiknya segera kompres dengan air hangat, Nyonya."

"Benar." Bibir Hana tersenyum. Menyatakan rasa terima kasih sudah diperhatikan.

Cih.

Sebuah dengusan gelap terdengar dari arah belakang mereka. Reigan melangkah maju, memotong jarak antara Nico dan Hana dengan gestur tubuh yang dominan. Sepasang manik mata gelap Reigan menajam, memancarkan aura tidak suka yang sangat pekat.

Nico tersentak kecil, mendadak menyadari bahwa dia baru saja melewati batas wilayah tak kasat mata.

Reigan merasa kesal karena dia sendiri bahkan tidak menyadari luka di tangan wanita itu karena terlalu sibuk menata fokusnya yang buyar tadi. Mengambil alih perhatian Nico yang terlalu peduli, Reigan langsung mendepak bawahannya itu dengan tatapan mengancam.

"Cepatlah urus musuh itu," sergah Reigan dingin, suaranya menekan rendah.

"Maafkan Saya, Tuan. Baik," jawab Nico sadar. Ia merasakan aura pekat dari sang atasan.

Marco dan Nico tidak berani membuang waktu lagi. Mereka segera membungkuk, memasang pengikat taktis, dan dengan sigap menyeret tubuh pria yang pingsan itu keluar untuk diurus ke tempat isolasi baru.

"Sebaiknya kita juga pergi dari sini," kata Reigan. Namun Hana justru mendekat ke meja kebesaran kakeknya. Reigan melihat dengan heran dan jengkel wanita ini selalu bertindak berbeda dengan arahannya. "Apa yang kau lakukan?"

"Racun ini sebaiknya di bawa." Hana mengambil botol racun yang sempat ditinggalkan oleh pelayan palsu yang mati.

"Untuk apa?"

"Bisa jadi senjata untuk kedepannya," sahut Hana dengan sorot mata yakin.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!