NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8; Kembali ke Jakarta

Pesawat mendarat tepat di jam 9 pagi.

Jakarta nyambut Alya dengan panas, macet, dan bau asap polusi yang udah lama nggak ia hirup.

Revan jalan di sampingnya, bawa koper kecil.

Dia nggak banyak ngomong, cuma sesekali ngelirik Alya.

“Kamu baik-baik aja? kalo ada sesuatu ngomong aja ya. Ada aku”

Alya ngangguk, tapi tangannya ngegenggam tali tas kencang.

“Baik. Cuma… rasanya kayak balik ke rumah yang pernah nendang aku keluar.”

Launching diadakan di Gramedia Matraman.

Tempat yang dulu, 3 tahun lalu, jadi lokasi terakhir Alya ketemu editornya sebelum kabur ke Jogja.

Mas Bayu nggak ikut.

Katanya,

“Kafe nggak bisa ditinggal. Aku jaga meja 7 buat kalian.”

Jadi cuma mereka berdua.

---

Acara segera mulai dan perlahan berjalan lancar.

Alya baca pembukaan,

suaranya masih gemetar di paragraf pertama, tapi makin lama makin stabil.

Penontonnya banyak. Ada mahasiswa, ibu-ibu, beberapa bookstagrammer yang bawa kamera.

Sampai sesi tanya jawab.

“Bu Alya,” seorang pria di baris depan angkat tangan.

“Saya Rian dari Sastra Muda. Saya baca novel ibu, bagus. Tapi jujur, saya dengar cerita ini mirip banget sama kasus almarhumah Dara Maharani, kakak ibu. Apa ini cuma fiksi, atau memoar?”

Ruangan jadi hening.

Revan yang duduk di samping panggung langsung menegak.

Alya ngeliat ke arahnya sebentar, ambil napas.

“Ini fiksi,” jawabnya pelan tapi jelas.

“Tapi iya, ada bagian dari Dara di dalam tokoh utama. Dia yang ngajarin aku buat nggak takut nulis jelek.”

Rian nggak puas.

“Jadi ibu memanfaatkan kematian kakak ibu untuk jualan?”

Suasana langsung panas.

Beberapa orang di belakang bisik-bisik.

Revan hampir berdiri, tapi Alya angkat tangan kecil, ngasih tanda.

“Kalau menurut Mas, menulis tentang orang yang kita sayangi itu memanfaatkan… berarti semua novel tentang cinta juga memanfaatkan, ya?”

Suara Alya tenang.

“Saya nulis karena Dara meminta saya untuk lanjut. dan Kalau Mas ngerasa terganggu, saya minta maaf. Tapi saya nggak akan minta maaf karena udah berani pulang.”

Tepuk tangan pelan mulai terdengar. Rian duduk lagi, mukanya masam.

---

Malamnya, mereka nginep di hotel dekat Stasiun Gambir.

Alya diem aja waktu masuk kamar. Nggak nyalain TV, nggak buka laptop.

Revan taruh dua gelas air di meja.

“Kamu nggak salah jawab,” katanya pelan.

Alya duduk di pinggir kasur.

“Aku tahu. Tapi rasanya… kayak semua luka itu dibuka lagi depan umum.”

Revan duduk di sebelahnya.

“Dulu kamu kabur karena itu. Sekarang kamu diem, jawab, terus tetap di sini. Itu bedanya.”

Alya menoleh. “Kamu nggak marah aku nggak ngasih kamu ngomong tadi?”

Revan senyum tipis. “Ngapain? Kamu udah jawab lebih bagus dari yang bisa aku bilang.”

Mereka diem sebentar. Suara klakson dari bawah terdengar samar.

“Besok kita pulang kan?” tanya Alya pelan.

Revan mengangguk. “Iya. Meja 7 nunggu.”

Alya ketawa kecil.

“Gila ya. Dulu aku kabur dari Jakarta biar lupa. Sekarang aku balik, biar inget.”

Revan nyentil jidatnya pelan.

“Karena sekarang kamu nggak sendiri.”

---

Sebelum tidur, Alya buka HP.

Ada notifikasi DM Instagram dari akun kosong. Isinya cuma satu kalimat:

> _Hati-hati, Alya. Nggak semua orang senang dengar kamu pulang._

Alya nggak balas. Ia screenshot, kirim ke Revan.

Revan baca, rahangnya mengeras.

“Besok kita pulang cepat. gausah dipikirin ya”

---

*[Bersambung:

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!