NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Revisi Rasa

Setelah makan malam yang penuh kejutan dan debar tidak menentu itu, suasana di kantor keesokan harinya terasa sangat canggung—setidaknya bagi Arkan. Pria itu datang lebih pagi dari biasanya, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai mengepel lobi, hanya demi menghindari tatapan Sia. Namun, seketat apa pun Arkan bersembunyi di balik meja jati besarnya, ia tidak bisa lari dari jadwal yang sudah disusun oleh Sia.

Pukul 19.00 WIB, hujan kembali mengguyur Jakarta. Sebagian besar karyawan sudah pulang, menyisakan keheningan yang sedikit mencekam di lantai eksekutif. Sia baru saja menyelesaikan laporannya ketika pintu ruangan Arkan terbuka sedikit.

"Saffiya, bisa ke ruangan saya sebentar?" panggil Arkan. Suaranya terdengar sedikit parau, seolah ia baru saja menelan sekotak kapur tulis.

Sia masuk dengan wajah santai. "Ada apa, Pak? Ada jadwal mendadak?"

"Bukan," Arkan berdeham, matanya tidak berani menatap Sia langsung. Ia menunjuk ke arah laptopnya yang terbuka. "Saya... saya baru saja menyelesaikan revisi Bab 15 berdasarkan masukan 'kehangatan' yang Anda katakan semalam. Tapi saya butuh Anda membacanya sekarang."

Sia mendekat, menarik kursi di samping Arkan tanpa disuruh. "Cepat juga ya, Pak. Ternyata Bapak berbakat jadi penulis kejar tayang."

Arkan memutar laptopnya ke arah Sia. Di sana, draf novel The Velvet Night terpampang nyata. Judul babnya cukup membuat Sia mengangkat alis: Pertautan yang Efisien.

"Astaga, Pak... judulnya masih bau kantor banget," gumam Sia pelan sambil mulai membaca.

Arkan duduk tegang di sampingnya. Ia memperhatikan ekspresi wajah Sia dengan seksama, seolah sedang menunggu hasil putusan pengadilan. Sia membaca dengan serius, tapi baru sampai paragraf ketiga, bahu wanita itu mulai bergetar.

"Kenapa? Ada yang salah dengan diksinya?" tanya Arkan panik.

Sia menutup mulutnya, menahan tawa. "Pak, coba Bapak dengar ini baik-baik. Bapak menulis begini: 'Tangan Bima bergerak menuju pinggang Raya dengan kecepatan konstan, memastikan setiap sentuhan memenuhi standar kenyamanan yang berlaku.'"

Sia meledak dalam tawa. "Pak Arkan! Ini novel romantis atau SOP keselamatan kerja di pabrik semen?"

Wajah Arkan memerah padam sampai ke telinga. Ia segera menarik laptopnya kembali. "Saya sudah mencoba memikirkan aspek kenyamanan dari sisi psikologis! Saya tidak ingin karakter pria terlihat kasar!"

"Tapi bukan berarti harus pakai standar ISO juga, Pak!" Sia mengatur napasnya setelah tertawa. "Bapak tahu nggak, masalah terbesar Bapak itu apa? Bapak nggak bisa membedakan antara 'ghostwriter' sama 'penulis erotis'."

Arkan tertegun. "Maksud Anda?"

"Kemarin waktu saya pertama kali baca draf Bapak, saya pikir Bapak itu lagi jadi ghostwriter buat penulis lain atau lagi melakukan audit konten buat platform digital. Saya nggak nyangka kalau ide-ide... unik ini berasal dari kepala Bapak sendiri."

Arkan menyandarkan punggungnya, tampak terpukul. "Saya menulis karena saya butuh saluran untuk imajinasi saya, Saffiya. Hidup saya sudah terlalu penuh dengan aturan. Tapi sepertinya, otak saya sudah terlanjur terprogram untuk selalu bersikap logis."

Sia menatap bosnya dengan tatapan yang lebih lembut. Ia bisa melihat rasa frustrasi di mata Arkan. "Pak, sejujurnya... awalnya saya pikir Bapak lagi audit konten dewasa karena Bapak kaku banget. Tapi setelah saya tahu ini tulisan Bapak, saya jadi sadar satu hal. Bapak sebenarnya punya gairah itu, cuma Bapak nggak tahu cara ngomongnya."

Arkan menatap Sia dalam-dalam. "Lalu bagaimana cara mengatakannya tanpa terdengar seperti robot?"

"Jangan dipikirkan, Pak. Rasakan," Sia mendekat, jarinya menunjuk ke arah layar. "Ganti kalimat 'kecepatan konstan' itu jadi sesuatu yang lebih impulsif. Misalnya, 'tangannya merengkuh pinggangnya dengan posesif, seolah takut wanita itu akan menghilang'. Jangan pakai logika, pakai perasaan."

Arkan menelan ludah. Ia mulai mengetik ulang kalimat itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Sia terus memperhatikannya dari samping.

"Pak," panggil Sia tiba-tiba.

"Ya?"

"Bapak benar-benar serius jadi penulis Nightshade ini, kan? Bapak nggak takut kalau suatu saat identitas Bapak ketahuan? CEO Dewangga Group ternyata raja novel dewasa online. Itu bakal jadi berita besar."

Arkan terdiam sejenak. Ia memandang ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota Jakarta yang basah. "Itulah sebabnya saya menggunakan nama pena. Menjadi Arkananta Dewangga adalah sebuah kewajiban keluarga. Menjadi Nightshade... adalah kebebasan saya. Hanya di dalam tulisan itu saya bisa menjadi orang yang berbeda."

Sia mengangguk paham. Ia mulai melihat sisi lain dari Arkan yang selama ini tertutup jas mahal dan sikap kaku. Ada jiwa yang kesepian di balik sosok robot itu.

"Oke, kalau begitu, saya akan bantu Bapak menjaga kebebasan itu," ucap Sia tulus. "Tapi syaratnya, draf ini harus benar-benar bagus. Saya nggak mau konsultan risetnya dicap gagal gara-gara novelnya tetap kaku."

Arkan tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar nyata, bukan senyum dua milimeter yang diajarkan Sia kemarin. "Terima kasih, Saffiya. Saya menghargai kerja sama ini."

"Sia, Pak. Kan sudah dibilang kalau lagi bahas novel, panggil Sia aja," protes Sia sambil mencibir.

Arkan berdeham, merasa canggung lagi. "Baiklah... Sia."

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dua jam lagi untuk membedah Bab 15. Sia benar-benar bertindak seperti editor sekaligus guru bahasa. Ia menghapus semua kata-kata teknis seperti "akselerasi", "optimal", dan "koordinasi", lalu menggantinya dengan kata-kata yang lebih "berbahaya" bagi jantung pembaca.

Arkan mendengarkan dengan patuh. Sesekali ia bertanya hal-hal teknis yang membuat Sia tepok jidat, seperti: "Apakah jika karakter pria menggigit bibir bawahnya sendiri, itu akan meningkatkan tekanan darah secara signifikan?"

Sia hanya bisa menjawab dengan sabar, "Itu tandanya dia gemas, Pak! Bukan serangan stroke!"

Keesokan paginya, suasana kembali ke mode kantor yang sibuk. Sia masuk dengan kopi hangat suhu 85 derajat, sementara Arkan sudah berkutat dengan dokumen akuisisi di layar monitornya. Semuanya tampak normal dan profesional, sampai pintu ruangan diketuk dengan nada yang tegas namun akrab.

​Gibran, sang Direktur Operasional sekaligus sahabat lama Arkan, melangkah masuk. Ia membawa map laporan, namun langkahnya terhenti saat ponsel di saku jasnya bergetar hebat.

​"Tunggu sebentar, Kan. Adik gue telepon, tumben banget pagi-pagi," ujar Gibran sambil mengangkat telepon tepat di depan meja Arkan.

​Sia tetap di posisinya, pura-pura sibuk merapikan berkas di meja samping agar tidak terlihat menguping.

​"Halo, Dek? Iya, ini Mas lagi di ruangan Arkan... Apa? Nightshade lagi? Astaga, masih pagi!" Gibran menjauhkan ponsel dari telinganya, seolah suara di seberang sana terlalu berisik. "Iya, Mas tahu dia baru update. Nanti Mas belikan koinnya. Sudah ya, Mas mau rapat."

​Gibran menutup telepon sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia menaruh map laporan di meja Arkan lalu mengembuskan napas panjang.

​"Adik gue bener-bener ya. Dia terobsesi banget sama penulis namanya Nightshade itu. Katanya dia mau belajar nulis novel gara-gara baca karya orang itu," cerita Gibran sambil duduk di depan Arkan.

​Arkan yang tadinya tenang, mendadak kaku. Jemarinya yang memegang pulpen mengencang hingga buku jarinya memutih. "Oh ya? Gue rasa adik lo harus fokus pada kuliahnya daripada membaca fiksi seperti itu."

​Gibran tertawa tipis. "Gue juga bilangnya gitu. Tapi jujur aja, semalam dia maksa gue baca bab terbarunya. Katanya si penulis ini gaya bahasanya berubah total. Biasanya kaku banget kayak instruksi manual, eh semalam katanya jadi lebih... hidup dan emosional. Adik gue sampai baper nggak karuan."

​Sia, yang sedang menaruh kopi di meja, hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia melirik Arkan yang wajahnya mendadak tegang luar biasa.

​"Mungkin penulisnya lagi jatuh cinta, atau dapet hidayah," canda Gibran sambil menatap Arkan dengan santai. "Coba deh lo sekali-kali baca. Siapa tahu bisa bantu lo biar nggak kaku banget kalau ngomong sama klien atau... sama sekretaris lo ini." Gibran melirik Sia sambil tersenyum ramah.

​Sia tersenyum canggung. "Ehm, saya rasa Pak Arkan lebih suka baca laporan tahunan daripada novel, Pak Gibran."

​"Bener juga sih. Arkan mah mana sempat mikirin perasaan orang, yang dipikirin cuma angka," sahut Gibran sambil berdiri kembali. "Ya sudah, itu laporan logistik sudah gue taro. Nanti kita bahas di rapat jam sepuluh. Gue balik ke ruangan dulu."

​Setelah Gibran keluar dan pintu tertutup rapat, Arkan langsung menyandarkan punggungnya dengan berat. Ia melonggarkan dasinya, wajahnya terlihat sangat lelah sekaligus lega.

​"Hampir saja," gumam Arkan pelan.

​Sia mendekat ke meja Arkan, senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Denger kan, Pak? Orang yang nggak hobi baca novel aja bisa ngerasain perubahannya. Itu artinya revisi rasa kita semalam sukses besar."

​Arkan menatap Sia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga karena karyanya dipuji, tapi juga ada rasa takut yang mulai menyelinap.

​"Sia," panggil Arkan pelan.

​"Ya, Pak?"

​"Apakah... menurut kamu saya benar-benar punya bakat? Maksud saya, kalau saya bukan CEO Dewangga, apakah tulisan saya tetap ada harganya?"

​Sia berhenti merapikan dokumen dan menatap Arkan dengan serius. "Pak Arkan, Nightshade itu sudah punya jutaan pembaca sebelum saya muncul. Bapak punya imajinasi yang gila. Saya cuma bantu Bapak buat 'nerjemahin' perasaan itu biar enak dibaca manusia biasa. Bapak itu penulis hebat, mau pakai jas CEO atau cuma pakai kaos oblong di rumah."

​Arkan terdiam lama. Pujian Sia barusan terasa jauh lebih berharga daripada semua piala penghargaan bisnis yang berjejer di lemarinya.

​"Terima kasih, Sia," ucap Arkan tulus.

​Sia tersenyum lebar. "Sama-sama, Pak Penulis. Tapi jangan seneng dulu, draf Bab 16 sudah menunggu. Dan ada adegan karakter wanitanya marah besar. Bapak tahu kan, cara nulis wanita marah tanpa harus pakai istilah 'pelanggaran kontrak kerja'?"

​Arkan memijat pangkal hidungnya, mulai pusing lagi. "Sepertinya saya butuh riset mendalam untuk itu."

​"Tenang aja, Pak. Nanti sore kita riset lagi. Tapi kali ini, Bapak yang harus bikin saya marah beneran, biar Bapak tahu gimana rasanya ngadepin cewek kalau lagi ngamuk," goda Sia sambil berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan.

​Arkan menatap punggung Sia yang menghilang di balik pintu. Ia tersenyum tipis. Hidupnya yang dulu cuma hitam putih, sekarang mulai penuh warna-warna baru yang bikin jantungnya nggak aman. Semua gara-gara laptop yang lupa ditutup di depan sekretaris paling cerewet sedunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!