Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Gilang berlari tergesa masuk ke kelas dengan napas ngos-ngosan, kemejanya sedikit kusut. Matanya langsung menyapu ruangan, dan benar saja, kelas sudah sepi, hanya ada Viona yang sedang merapikan laptopnya.
Viona mendongak, menghela napas panjang. Raut wajahnya jelas kesal. “Mau ngapain lagi, Kak? Kelasnya udah bubar dari tadi.”
Gilang menunduk, menghampiri pelan. “Maaf, Vi…aku telat. Ada urusan mendadak.”
Viona menatapnya lama, seakan menimbang-nimbang apakah harus marah atau diam saja. Ia akhirnya hanya mendengus, memasukkan laptop ke dalam tasnya dengan sedikit kasar.
Viona berkata tanpa menoleh ke Gilang, "urusan apasih sampe gak sempet mandi segala? Itu kemeja bekas kemarin kan?".
Gilang terdiam, salah tingkah. Tangannya refleks merapikan kerah kemeja yang memang kusut.
“Eum.… iya, maaf. Aku buru-buru banget, Vi. Nggak kepikiran ganti baju.”
Viona tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. Senyumnya cuma pura-pura ramah, sebenarnya dia masih kesel. “Ya udah, Kak. Mending pulang aja, kita kan gak ada kelas lagi pagi ini,” ucapnya sambil menenteng tasnya dan langsung keluar meninggalkan Gilang.
Gilang hanya terdiam menatap punggung Viona yang berlalu, dia tahu dia salah, Viona pasti kesulitan mempresentasikan tugas kelompok itu sendirian. Gilang menghela napas panjang, lalu buru-buru berlari mengejar Viona. “Vi! Tunggu!” teriaknya, suaranya penuh penyesalsn.
Gilang mempercepat langkahnya lalu meraih lengan Viona, membuat gadis itu terhenti sejenak. “Vi, sebentar… dengerin aku dulu,” ucapnya pelan.
Viona menoleh cepat, nada suaranya ketus. "Dengerin apalagi sih kak? Kak Gilang gak masuk hari ini, ya udah mau gimana lagi?" Viona menatap Gilang malas, seolah tak mau memperpanjang masalah.
Gilang menunduk, suaranya pelan. “Maaf, Vi… aku telat banget hari ini.”
Viona menghela napas, lalu menatapnya sebentar. “Ya nggak usah minta maaf, Kak, gak ada urusannya sama aku. Kan kak Gilang yang Alfa hari ini. Ya kak Gilang sendiri yang tanggung konsekuensinya. Kalo nggak masuk ya berarti nggak ada nilai.simpel. Udah ah, aku capek, mau pulang.”
Viona berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Gilang hanya bisa berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya menyusul.
“Vi, tunggu dulu,” panggilnya lirih.
Viona menghentikan langkah, tapi tidak langsung menoleh. “Apa lagi sih, Kak? Aku udah bilang, aku capek.”
Gilang menelan ludah, mencoba merangkai kata. “Aku… aku nggak enak aja ninggalin kamu ngerjaij presentasinya sendiri. Aku tahu aku salah.”
Viona akhirnya menoleh, ekspresinya datar. “Tau, tapi tetep aja kejadian. Aku nggak butuh kata-kata, Kak. Aku cuma butuh partner yang hadir, bukan alasan.”
Viona menghela napas panjang, suaranya melembut meski jelas masih kesal.
“Udah ah, nggak usah diperpanjang. Hal kayak gini udah biasa kan? Kak Gilang selalu sibuk tiba-tiba.” Ia menunduk sebentar, lalu menatap Gilang lagi. “Aku tau kakak kerja part time, tapi aku cuma takut… kalau kakak keseringan kayak gini, beasiswa kakak bisa dicabut.”
Gilang terdiam sejenak, menatap mata Viona dengan sungguh-sungguh.
“Aku tahu, Vi. Aku juga nggak main-main sama beasiswa itu. Aku kerja part time bukan karena mau seenaknya sendiri, tapi karena aku butuh. Aku janji… aku bakal lebih hati-hati, nggak bakal sampai ganggu kuliah lagi.”
Viona menunduk sebentar, nada suaranya tak lagi setajam tadi. “Kakak inget mimpi kita kan? Jangan sia-siain kesempatan ini, please … aku nggak mau lihat kakak nyesel nanti.”
Gilang hanya mengangguk pelan. Kata-kata Viona menancap di kepalanya seolah mengingatkan kembali tujuan awal dirinya berkuliah disini.
****************
sementara ditempat lain, Valeria membantingkan diri ke kursi kerjanya, wajahnya kusut.
Tak lama, sekretaris sekaligus sahabatnya, Zoya masuk sambil mengernyit.
“Kenapa, Bu Direktur? Baru dateng udah manyun aja.”
Valeria mendesah, memutar kursinya menghadap jendela.
“Mertua nyuruh gue hamil mulu, padahal gue punya mimpi sendiri. Yang lebih nyebelin, suami gue juga nggak pernah belain.”
Zoya bersedekap. “Lo sebenernya cinta apa benci sih sama laki lo itu?”
Valeria terdiam sebentar, lalu menatap sahabatnya.
“Dua-duanya. Gue sering kesel sama Dimas, tapi gue juga nggak mau cerai. Gue sendiri bingung… entah masih cinta atau nggak, tapi gue takut kehilangan dia.”
Zoya mendengus kecil. “Labil lo.”
Zoya nyengir miring, lalu nyeletuk,
“Kalo laki lo aja nggak bisa ngasih nafkah batin, gimana mau punya anak, gue tanya?”
Valeria langsung melotot, melempar pulpen ke arah Zoya.
“Lo kalo ngomong nggak usah nyelekit gitu deh!”
Zoya ngakak sambil mengangkat tangan tanda menyerah.
“Ya gue realistis aja, Val. Lo capek-capek disuruh hamil, tapi masalah dasarnya aja nggak pernah dibahas sama laki lo.”
Valeria akhirnya menghela napas panjang, wajahnya berubah serius.
“Lo tau nggak, Zoy… Dimas tuh selalu nolak kalau gue ajak periksa. Dia ngerasa dirinya baik-baik aja. Padahal gue… gue sebagai istrinya nggak pernah bener-bener ngerasa menikmati itu.”
Zoya terdiam sejenak, ekspresinya berubah iba.
“Jadi lo yang nahan sendiri?”
Valeria menunduk, memainkan jarinya gelisah.
“Iya… gue kesel, tapi juga bingung. Mau marah takut makin jauh. Mau diem rasanya tertekan.”
“Tapi serius, Val. Lo harus mikirin diri lo juga. Sabar boleh, tapi jangan sampe lo nyiksa diri.”
Valeria terdiam mendengar ucapan Zoya. Senyum tipisnya kaku, seolah ucapan Zoya baru saja mengenai titik yangpaling ia sembunyikan.
Zoya menyilangkan tangan di dada, wajahnya serius tapi nada bicaranya setengah bercanda.
“Gue bilang ya, Val… kalo udah nggak cocok mending tinggalin aja. Jangan malah berpaling, itu mah kerjaannya pecundang.”
Valeria langsung terdiam, jantungnya mencelos. Pulpen di tangannya hampir jatuh.
“Lo… ngomong gitu maksudnya apa, Zoy?” tanyanya dengan suara lebih pelan.
Zoya mengangkat bahu santai. “Ya nggak maksud apa-apa lah, gue cuma ngomong aja. Emang bener kan? Orang yang nggak bisa tegas terus malah main belakang, itu sih udah kelewatan.”
Valeria memaksakan senyum, padahal hatinya berdebar tak karuan.
Ketukan di pintu memecah ketegangan.
Seorang staf masuk, wajahnya panik.
“Maaf mengganggu, Bu Direktur. Ada masalah mendesak… klien kita, artis terkenal, baru saja mengunggah keluhan di Instagram. Katanya, hasil kampanye dari perusahaan kita jauh di bawah ekspektasi.”
Valeria langsung tegak di kursinya. “Artis siapa?”
Staf itu menunduk ragu sebelum menyebut nama.
“Rafael Aditya, Bu. Postingan beliau sudah disukai ratusan ribu orang dalam waktu kurang dari satu jam.”
Zoya bersiul pelan. “Waduh, itu sih bisa hancurin reputasi dalam semalam.”
Valeria terdiam, wajahnya menegang.
Valeria menarik napas panjang, lalu menatap tajam ke arah stafnya.
“Siapkan rapat darurat sekarang juga. Semua kepala divisi harus hadir dalam lima belas menit.”
Staf itu mengangguk cepat sebelum bergegas keluar.
Zoya melirik Valeria, separuh kagum. “Gila, gue kira lo bakal panik. Ternyata lo malah makin garang."
Valeria hanya menghela napas. “Nggak ada waktu buat panik, Zoy. Kalau Rafael marah besar, bukan cuma nama perusahaan yang jatuh… nama gue juga taruhannya.”