BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.
Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.
Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.
Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.
Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah film selesai, lampu studio perlahan menyala kembali. Suara kursi yang bergeser mulai terdengar dari berbagai arah, disusul obrolan penonton yang ramai membahas adegan film tadi.
Namun Arkatama dan Kemuning justru sama-sama diam beberapa saat.
Entah kenapa suasana di antara mereka terasa berbeda setelah keluar dari studio. Masih ada rasa hangat yang tertinggal. Masih ada debar aneh yang belum benar-benar hilang sejak tangan mereka saling menggenggam di dalam bioskop tadi.
Kemuning berdiri sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sementara Arkatama pura-pura sibuk membawa cup popcorn yang tinggal sedikit karena tidak habis dimakan berdua.
Mereka berjalan keluar berdampingan melewati lorong bioskop yang ramai. Sesekali bahu mereka bersenggolan kecil, membuat Kemuning langsung salah tingkah sendiri.
Di luar gedung bioskop, suasana kota malam itu masih hidup. Lampu kendaraan memenuhi jalanan, suara orang-orang bercampur dengan musik dari kafe sekitar.
Arkatama melirik jam tangannya sebentar sebelum akhirnya menoleh ke arah Kemuning. “Mau langsung pulang?” tanyanya pelan.
Kemuning berpikir sebentar. Sejujurnya ia belum ingin malam itu cepat selesai. Sudah lama sekali ia tidak merasa senyaman ini bersama seseorang.
“Kalau enggak terlalu malam ...,” jawabnya pelan sambil tersenyum kecil.
Senyum Arkatama langsung melebar tipis. “Satu putaran taman kota?”
Kemuning mengangguk pelan. “Boleh.”
Mereka kembali naik motor menuju taman kota yang cukup terkenal di pusat kota. Sepanjang perjalanan, suasana di antara mereka terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya.
Kemuning kini tidak lagi hanya memegang ujung jaket Arkatama. Tangannya perlahan melingkar pelan di pinggang pria itu. Sementara Arkatama, tidak bisa menahan senyum sendiri sepanjang jalan.
Lampu-lampu kota memantul indah di jalanan malam. Udara dingin terasa nyaman menerpa wajah mereka selama perjalanan.
Begitu sampai di taman kota, suasananya ternyata masih ramai. Lampu hias kecil menggantung di sepanjang jalan setapak, membuat taman itu terlihat cantik dan hangat. Musik dari pengamen terdengar samar dari kejauhan.
Di dekat area air mancur, beberapa anak muda duduk melingkar sambil tertawa bersama. Ada pasangan yang berjalan sambil bergandengan tangan, ada juga yang duduk diam menikmati suasana malam. Minggu malam memang selalu terasa lebih hidup di tempat itu.
Arkatama dan Kemuning mulai berjalan pelan melewati jalur pejalan kaki yang dipenuhi cahaya lampu kekuningan. Awalnya mereka hanya berjalan berdampingan sambil mengobrol ringan tentang film tadi. Lalu, merembet kepada Aryasatya yang ternyata sengaja memilih film romantis.
Sampai Kemuning beberapa kali tertawa malu mengingat adegan-adegan tertentu di dalam bioskop.
“Kayaknya Arya sengaja deh,” gumam Kemuning sambil menahan senyum.
“Memang bocah itu enggak pernah bener.”
Kemuning tertawa kecil dan Arkatama diam-diam ikut tersenyum melihatnya. Pria itu menyukai suasana seperti ini, sederhana dan tenang, tetapi membuat hatinya terasa penuh kebahagiaan.
Saat mereka terus berjalan, tangan mereka beberapa kali tidak sengaja bersentuhan. Kadang hanya punggung jari. Kadang ujung tangan.
Hal kecil yang sebenarnya biasa, tetapi justru membuat jantung mereka sama-sama berdebar. Sampai akhirnya Arkatama menarik napas pelan. Lalu, memberanikan diri menggenggam tangan Kemuning. Pelan sekali, seolah takut membuat wanita itu terkejut.
Dan memang benar, Kemuning langsung sedikit menahan napas saat jemari hangat itu membungkus tangannya. Ia menoleh cepat ke arah Arkatama.
Pria itu tampak berusaha santai meski sebenarnya gugup. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Dan perlahan jemari Kemuning balas menggenggam tangan Arkatama. Senyum di wajah pria itu langsung muncul begitu saja. Bukan senyum besar, tetapi senyum kecil yang terlihat sangat tulus.
“Dingin?” tanya Arkatama pelan sambil tetap berjalan.
Kemuning menggeleng kecil. “Enggak.”
Arkatama melirik tangan wanita itu sebentar. “Terus kenapa tanganmu dingin?”
Kemuning langsung salah tingkah sendiri. Pipinya mulai memanas.
“Mas Arka suka godain aku.”
Arkatama tertawa kecil. “Karena kamu lucu.”
“Apanya yang lucu?!”
“Kamu kalau malu gampang ketahuan.”
Kemuning langsung menunduk sambil menggigit ujung bibir kecil menahan senyum. Sementara Arkatama, diam-diam semakin gemas melihat reaksinya.
Mereka terus berjalan pelan menikmati suasana malam. Sesekali Arkatama memperlambat langkah hanya supaya waktu mereka terasa lebih panjang.
Di atas sana, langit terlihat sangat indah. Bintang-bintang kecil tersebar samar menemani bulan sabit tipis yang menggantung tenang. Lampu taman memantul lembut di wajah Kemuning saat wanita itu mendongak melihat langit.
“Bagus banget malam ini,” gumam Kemuning pelan.
Arkatama justru sedang memandang wajah Kemuning. Di dalam hati, pria itu merasa malam ini memang indah, tetapi wanita di sampingnya jauh lebih indah dari semuanya.
Entah karena suasana taman yang terasa begitu hangat malam itu. Entah karena film romantis yang sejak tadi masih membekas di hati mereka. Atau mungkin karena perasaan yang selama ini dipendam akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh dengan bebas.
Arkatama dan Kemuning sama-sama larut dalam momen tersebut. Mereka berjalan semakin pelan, seolah tidak ingin malam cepat berlalu. Tangan mereka masih saling menggenggam hangat. Sesekali jari Arkatama mengusap pelan punggung tangan Kemuning tanpa sadar, membuat wanita itu beberapa kali menahan senyum malu.
Langkah mereka akhirnya berhenti di dekat taman bunga kecil yang dihiasi lampu-lampu mungil berwarna kekuningan. Cahaya lampu itu membuat suasana terlihat lembut dan romantis. Bunga-bunga kecil di bawahnya tampak bergerak pelan tertiup angin malam.
Kemuning mendongakkan wajahnya ke langit. Mata wanita itu memandang bintang-bintang kecil yang tersebar samar di atas sana, ditemani bulan sabit tipis yang terlihat cantik.
“Cantik banget langitnya,” gumam wanita itu lirih.
Sejak tadi Arkatama sama sekali tidak melihat langit. Tatapannya justru terpaku pada wajah Kemuning yang terkena pantulan cahaya lampu taman. Rambut panjang wanita itu bergerak pelan di sisi wajahnya. Matanya terlihat berbinar lembut saat menatap langit. Bibirnya yang melengkung kecil membuat dada Arkatama terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan akan kecantikannya.
“Iya,” jawab Arkatama pelan.
Kemuning tersenyum kecil sebelum akhirnya menoleh. Begitu mata mereka bertemu suasana di sekitar seolah mendadak menghilang. Suara tawa orang-orang di taman terasa jauh. Musik pengamen yang sejak tadi terdengar samar perlahan seperti lenyap.
Yang tersisa hanya tatapan mereka. Dan detak jantung yang sama-sama mulai tidak tenang.
Arkatama menatap Kemuning cukup lama. Tatapannya begitu lembut sampai membuat napas wanita itu perlahan tertahan. Pria itu lalu mengangkat tangannya pelan. Jemarinya menyentuh sisi wajah Kemuning dengan hati-hati, seolah wanita itu sesuatu yang sangat berharga dan mudah pecah jika disentuh terlalu keras.
Kemuning langsung menahan napas kecil. Sentuhan itu terasa hangat dan lembut. Namun, anehnya membuat seluruh tubuhnya ikut berdesir.
“Kemuning ...,” panggil Arkatama lirih.
Suara pria itu terdengar rendah dan penuh perasaan.
Tatapan Kemuning langsung melembut. Setelah sekian lama hidup dalam luka dan kecewa, wanita itu merasa benar-benar dipandang dengan penuh sayang oleh seseorang. Bukan sekadar diinginkan, tetapi dihargai, disayang, dan dijaga.
Arkatama perlahan mendekatkan wajahnya. Gerakannya sangat hati-hati, tidak terburu-buru. Seolah memberi kesempatan jika Kemuning ingin mundur atau menolak.
yg diliat arkatama siapa nih
Terimakasih thorrr 😍😍