NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Bukan Pahlawanmu Part 2

​Elleta beranjak turun dari pangkuan Steve dengan gerakan yang sengaja dibuat seangkuh mungkin. Ia mengabaikan detak jantungnya yang masih tertinggal ritme akibat jarak mereka yang terlalu intim tadi. Dengan dagu terangkat, ia merapikan blazer dan kemeja sutranya yang sedikit kusut, lalu menatap Steve dengan binar mata yang tajam.

Tantangan pria itu benar-benar memicu harga dirinya. Steve ingin melihat apakah ia hanya sekadar nama besar yang bisa dibentuk sesuka hati, atau memang memiliki taring untuk mencabik balik. Elleta siap memberikan pembuktiannya sekarang juga.

​"Aku bisa menyelesaikannya sendiri tanpa sedikit pun bantuanmu, Steve," bisik Elleta rendah, sarat akan penekanan yang mutlak.

​Steve tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulitnya yang besar, menopang dagu dengan jemari yang bertautan, sembari melemparkan tatapan tenang yang seolah memberi izin untuk bermain.

Sebuah tatapan yang bagi Elleta terasa sangat meremehkan sekaligus memicu adrenalin. Tanpa membuang waktu lebih lama, Elleta berbalik. Langkah kakinya yang ditopang heels mahal berdenting tegas di atas lantai marmer, meninggalkan ruangan itu tanpa berniat menoleh lagi.

​Tujuannya hanya satu yaitu kembali ke pantry.

​Ia tidak memedulikan rasa perih yang mulai berdenyut di lengannya akibat siraman air panas tadi. Elleta juga memilih buta dan tuli terhadap hiruk-pikuk karyawan di koridor yang mulai berbisik-bisik saat melihatnya melintas dengan aura yang jauh berbeda dari saat ia datang.

Begitu melangkah masuk ke dalam pantry modern yang kini sepi karena para karyawan memilih menyingkir, Elleta mendekati mesin kopi otomatis di sudut ruangan.

Ia mengambil sebuah cangkir keramik berukuran sedang, meletakkannya tepat di bawah corong mesin, lalu menekan tombol double espresso dengan pengaturan suhu tertinggi yang tersedia pada panel digital.

​Uap panas segera mengepul hebat, membawa aroma pahit kopi yang pekat dan pekat ke udara, memenuhi rongga dadanya. Elleta menunggu dengan sabar hingga tetes terakhir cairan hitam itu memenuhi cangkir. Ia menggenggam gagang keramik itu erat-erat, membiarkan hawa panasnya meresap ke kulit telapak tangannya yang dingin karena amarah.

​Begitu kembali ke area kerja luar, ia mendapati kursi di meja sekretaris Liana kosong. Namun, Elleta tidak berniat menurunkan niatnya sedikit pun. Dengan cangkir yang masih mengepulkan uap panas di tangan kanannya, ia terus melangkah menyusuri lorong kantor dengan ekspresi sedingin es.

Langkahnya baru berhenti tepat di ambang pintu divisi periklanan yang menggunakan konsep open space, sebuah ruangan besar tanpa sekat di mana puluhan pasang mata langsung beralih menatap ke arah kedatangannya.

​Di tengah ruangan itu, Liana sedang berdiri di dekat meja salah satu staf, tertawa lepas bersama dua rekan kerjanya tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintai.

​"Kalian harus lihat wajahnya tadi di depan meja kasir. Benar-benar seperti boneka pajangan yang kehilangan baterai, tidak bisa berbuat apa-apa," ejek Liana dengan nada sombong, disambut tawa kecil dan bisik-bisik setuju dari teman-temannya.

"Hanya karena menyandang nama besar Crassia, dia pikir dia bisa dengan mudah masuk ke sini dan mengendalikan Pak Steve. Murahan sekali."

​"Oh, ya? Narasi yang cukup menarik untuk ukuran seorang bawahan," suara Elleta memotong tawa mereka, terdengar begitu tajam dan dingin hingga sanggup membelah keriuhan ruangan.

​Liana tersentak, tawa di wajahnya langsung lenyap saat ia berbalik dan mendapati Elleta sudah berdiri kurang dari dua langkah di hadapannya. Namun, sebelum sekretaris itu sempat membuka mulut untuk melontarkan pembelaan atau hinaan baru, Elleta sudah menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang tak terduga.

​Byur!

​Cairan kopi hitam yang masih mendidih itu tersiram telak ke arah Liana. Gelombang cairan panas itu membasahi sebagian kemeja putih formalnya yang semula rapi, hingga kini berubah menjadi kecokelatan dan melekat pada kulitnya. Pekikan histeris dan melengking seketika memecah kesunyian divisi periklanan.

Liana terhuyung mundur beberapa langkah, menabrak tepi meja kerja sambil memegangi lengannya yang mulai memerah hebat akibat efek lepuh. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal kini berubah pucat pasi, menahan perih sekaligus rasa malu yang luar biasa di hadapan rekan-rekan kerjanya.

​"Aduh! Kamu gila, ya?! Sakit!" teriak Liana histeris dengan suara yang melengking, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena rasa panas yang membakar kulit kemejanya.

​Seluruh karyawan yang berada di ruangan itu mendadak kaku, seolah waktu berhenti berputar. Beberapa orang secara refleks meraih ponsel mereka di bawah meja, mencoba merekam kejadian yang terasa seperti adegan drama televisi itu secara sembunyi-sembunyi. Suasana kantor yang biasanya dipenuhi suara ketikan kibor mendadak berubah mencekam dan penuh tekanan.

​Elleta tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ia membuka jemarinya, membiarkan cangkir keramik kosong di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai, dan hancur berkeping-keping dengan suara dentang yang memekakkan telinga. Ia maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka, membuat dua rekan kerja Liana spontan mundur teratur karena ketakutan melihat kilat kemarahan di mata Elleta.

​Dengan gerakan yang cepat dan tidak terduga, Elleta mencengkeram dagu Liana dengan kuat, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap tepat ke dalam manik matanya yang sedingin badai.

​"Dengar baik-baik, Liana," desis Elleta, suaranya pelan namun bergaung penuh intimidasi di tengah ruangan yang sunyi. "Aku menyandang marga Crassia karena itu adalah hak lahirku. Aku adalah darah dari keluarga yang membangun dinasti bisnis yang bahkan tidak akan pernah bisa kamu beli seumur hidupmu. Sementara kamu? Kamu hanya seorang pekerja upahan yang mendadak tinggi hati karena duduk di depan ruangan CEO. Jangan pernah sekali-kali merasa setara atau lancang menilai hidupku."

​Elleta melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Liana kembali terhuyung. "Sekarang kita impas. Kamu memberiku luka di lengan karena kecerobohanmu yang disengaja, dan aku memberimu pengingat moral yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan sepanjang kariermu di gedung ini."

​Tanpa disadari oleh Elleta maupun orang-orang di ruangan itu, di balik dinding kaca lantai mezanin yang terletak tidak jauh dari sana, Steve sedang berdiri tegap mengamati seluruh kejadian bersama Theo.

Pria itu sama sekali tidak menunjukkan intensi untuk bergerak atau memanggil keamanan demi menolong sekretaris pribadinya. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan yang tenggelam di saku celana kainnya, menyaksikan bagaimana Elleta mengeksekusi balas dendamnya dengan senyum tipis yang sarat akan kepuasan serta rasa bangga.

​Bagi Steve, Elleta yang ganas, defensif, dan penuh harga diri seperti inilah yang jauh lebih menarik daripada sosok wanita penurut yang dipaksa tunduk oleh keadaan. Ini adalah pembuktian bahwa Elleta memiliki mentalitas yang setara untuk berdiri di sisinya sebagai seorang Danendra.

​"Nona Crassia benar-benar... di luar dugaan semua orang, Pak," gumam Theo yang berdiri di belakang Steve, merasa ngeri sekaligus takjub melihat Liana yang kini terduduk di lantai sambil menangis sesenggukan memegangi lengannya.

​Steve tidak repot-repot membalas ucapan asistennya. Merasa pertunjukan visual itu sudah selesai dan mencapai klimaks yang memuaskan, ia berbalik dengan tenang sebelum Elleta sempat mengedarkan pandangan ke arah dinding kaca.

Karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Steve di koridor luar langsung menundukkan kepala dalam-dalam, pura-pura sibuk dengan dokumen mereka. Mereka semua paham betul bahwa sikap diam sang bos besar adalah sebuah bentuk restu absolut atas apa yang baru saja terjadi.

​Langkah sepatu Steve terhenti sejenak tepat di depan pintu lift pribadinya, ia menoleh sedikit ke arah Theo yang setia mengekor di belakang.

​"Theo," panggilnya singkat dengan nada suara yang kembali dingin dan profesional.

​"Ya, Pak Steve?"

​"Urus surat pemecatan Liana sekarang juga. Pastikan hak pesangonnya dipotong sesuai pelanggaran kode etik karena memicu keributan, dan masukan namanya ke dalam daftar hitam. Aku tidak ingin melihat dia diterima bekerja di perusahaan mana pun yang berafiliasi atau berada di bawah payung Danendra Group."

​Theo sempat tertegun sejenak, mencoba menimbang keputusan itu. "Tetapi, Pak, jika boleh saya mengingatkan, selama ini Liana adalah sekretaris yang paling cakap dalam mengurus jadwal kerja dan negosiasi internal Anda..."

​"Aku tidak butuh seorang sekretaris yang tidak tahu bagaimana cara menempatkan diri dan menjaga sikap di hadapan calon nyonyanya," potong Steve dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan lebih lanjut.

​Pintu lift pribadi berdenting terbuka. Steve melangkah masuk ke dalam kabin yang dilapisi cermin, meninggalkan kekacauan di lantai tersebut dengan perasaan menang yang tak tersamarkan.

Sementara itu, di divisi periklanan, Elleta masih berdiri tegak di tengah ruangan. Ia dikelilingi oleh puing keramik dan tatapan yang merupakan perpaduan antara rasa ngeri sekaligus kekaguman mendalam dari para karyawan kantor yang menyaksikannya secara langsung.

​Hari itu, di jantung kekuasaan Danendra Group, Elleta Clarissa Crassia telah membuktikan satu hal kepada dunia, ia bukan sekadar nama besar yang indah di atas kertas ornamen keluarga. Ia adalah badai yang nyata, dan di dalam gedung ini, pusaran badai itu baru saja dimulai.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!