Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Meskipun merupakan kawasan rumah lama, lingkungan di sana masih bagus.
Selain itu, harga rumah di ibu kota juga paling mahal di negara ini. Harga rumah yang ini pasti tidak kurang dari enam ratus miliar rupiah.
Dia tidak punya uang sebanyak itu saat ini.
Edward baru saja pulang. Dia pun melonggarkan dasi di lehernya, tapi mendadak dia merasa tertarik dengan ucapan Clara barusan. Alisnya agak terangkat dan dia berkata dengan tenang, "Kamu mau memberiku uang?
"Iya, aku... "
"Nggak perlu." Dia menyingkirkan dasinya yang terlepas dan berkata, "
Aku masih sanggup bayar."
Setelah berkata demikian, dia meletakkan jam tangannya dan pergi ke kamar mandi.
Clara menatap punggungnya, tertegun sejenak, dan tidak memaksanya lagi.
Setelah menikah, agar tidak menyusahkan, dia hampir tidak pernah meminta apa pun padanya.
Kalau dipikir-pikir, rumah ini bisa dikatakan adalah barang pertama yang diberikan kepadanya atas inisiatifnya sendiri selama bertahun-tahun ini.
Anggap saja itu sebagai kenang-kenangan untuk pernikahan mereka yang akan segera berakhir.
Memikirkan hal itu, Clara akhirnya memasukkan sertifikat rumah itu ke dalam laci.
Setelah sibuk selama tiga hari berturut -turut, pada hari keempat, Clara akhirnya bisa sedikit santai.
Dia dan Edward akhir-akhir ini sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk menemani Elsa. Pada siang harinya, Elsa meneleponnya dan menanyakan apakah dia ada waktu luang, sambil berkata bahwa dia sudah luang, sambil berkata bahwa dia sudah lama tidak menjemputnya pulang sekolah.
Setelah mendengar hal itu, Clara menyadari bahwa tidak banyak lagi yang harus dilakukan, jadi dia meninggalkan kantor lebih awal di sore hari dan pergi menjemput Elsa dari sekolah.
Mendengar bahwa Elsa ingin memakan makanan yang dimasaknya, Clara segera mengganti pakaiannya dan pergi ke dapur setelah tiba di rumah.
Nenek Keluarga Anggasta pun tampak senang Clara bisa pulang kerja lebih awal. Dia segera menelepon Edward untuk pulang dan makan malam di rumah begitu melihat Clara akan memasak.
Tapi Edward menolak di ujung telepon, "Nek, aku masih ada urusan di kantor."
Nenek Keluarga Anggara tidak senang, tetapi kemudian dia dapat ide dan tersenyum bahagia kembali. Setelah menutup telepon, dia berkata pada Clara, "Clara, pergi dan antar makanan untuk Edward nanti!"
Clara berhenti sejenak dan menolak, " Nek, dia pasti sibuk, mending jangan ganggu dia... "
"Meski sibuk dia tetap harus makan, ' kan?"
"Nenek..."
Sebelum dia selesai berbicara, nenek langsung mengambil keputusan, "Itu saja."
Kemudian, nenek Keluarga Anggasta memerintahkan pelayan untuk bantu siapkan dua hidangan lagi.
Melihat sikap nenek, Clara tidak bisa berkata banyak.
Tetapi jika dia benar-benar mau bawakan makanan untuk Edward, dia bahkan tidak tahu harus ke kantor yang mana, jadi gimana bawakan?
Lagi pula, Edward mungkin sudah punya rencana lain setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, jadi sia-sia saja dia bawakan makanan itu padanya.
Memikirkan hal itu, dia mencari kesempatan untuk naik ke kamarnya dan menelepon Edward.
Edward menjawab telepon setelah beberapa saat, "Ada apa?"
"Nenek minta aku bawakan makan malam untukmu." Clara tidak menunggunya berbicara dan melanjutkan, "Apa kamu punya rencana lain? Kalau ada, aku akan beri tahu nenek."
Dia merasa Edward tidak akan pernah izinkan dia bawakan makanan ke kantor.
Maksudnya dengan mengatakan hal ini sebenarnya adalah memintanya untuk bekerja sama dengannya.
"Oke, katakan pada nenek... "
Begitu Edward membuka mulutnya, Clara mendengar suara Vanessa.
"Edward, makanannya sudah datang."
Clara terdiam.
Edward menjawab Vanessa, "Oke."
Kemudian, dia lanjut bicara kepada Clara di telepon, "Bilang saja pada nenek kalau aku sudah ada acara makan malam."
Clara tidak terkejut.
Dia berkata, "Oke. Nanti aku bilang ke nenek."
"En," jawab Edward singkat.
Setelah itu, dia langsung menutup telpon.