NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokter Baru Dan Kisah Masa Lalu

"Sepertinya sekolahmu tempat yang menyenangkan, Judika!" ujar Yohan sambil tetap menunduk sedikit, matanya sesekali melirik ke sekeliling.

"Lumayan saja, Dok! Tapi belakangan ini tawuran terjadi hampir setiap minggu. Sepertinya kau bakal sibuk di hari pertama kerja nanti," jawab Judika santai.

"Begitukah? Aku kira sekolah ini adalah lingkungan yang aman dan nyaman."

"Nanti kau akan tahu sendiri," balas Judika singkat dengan nada cuek.

***

Mereka terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu ruangan kepala sekolah. Judika mengetuk pelan, dan tak lama kemudian pintu terbuka menampakkan sosok kepala sekolah.

"Ohh, Yohan! Akhirnya kau datang juga," seru kepala sekolah sambil langsung menepuk pundak dokter muda itu dengan ramah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, sesuatu yang jarang bahkan hampir tidak pernah Judika lihat sebelumnya. Baru kali ini dia melihat orang itu bersikap sehangat ini pada orang lain selain dirinya.

"Apakah kau tersesat di jalan?" tanya kepala sekolah lagi.

"Iya, Pak. Sejak pagi aku sudah berkeliling mencari lokasi ini, tapi tata letak kota ini benar-benar membingungkan. Untung saja aku bertemu dengan Judika. Foto yang Bapak kirimkan sangat membantu. Begitu melihat seragamnya aku langsung mengenalinya sebagai murid di sini," jawab Yohan sopan.

Kepala sekolah mengangguk puas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Judika.

"Kau tahu, Yohan ini yang bakal bertugas sebagai dokter di UKS mulai hari ini. Lulusan S2 Kedokteran dari Universitas ternama di Amerika lho. Kalian semua beruntung sekali bisa dirawat dan diawasi oleh orang sehebat dia. Jadi jagalah sikap dan perilakumu terhadapnya, mengerti?"

Judika mengernyitkan dahi dalam hati. Orang secerdas dan seberhasil ini, tapi saat bertemu tadi sikapnya sangat sopan, rendah hati, dan sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun kesombongan. Berbanding terbalik dengan ekspektasinya. Kesan pertama yang diberikan Yohan benar-benar bagus.

"Pak, Bapak ini terlalu memuji saya sampai malu jadinya," kilah Yohan sambil tersenyum lembut.

"Hahaha, kau memang tak pernah berubah. Selalu saja rendah hati seperti ini," puji kepala sekolah lagi. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ayahmu? Masih sehat dan kuat?"

"Ayah baik-baik saja, Pak. Cuma seperti biasa, dia masih terobsesi membantu masyarakat di daerah terpencil yang kekurangan tenaga medis. Seolah tak pernah lelah," jawab Yohan sambil menghela napas tipis, tapi nada bicaranya penuh rasa hormat.

"Ya, itulah Xohan Areksa. Keras kepala, dan selalu mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri. Tak ada yang bisa mengubahnya," ujar kepala sekolah sambil menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya dipenuhi kekaguman.

Xohan Areksa...

Begitu nama itu disebutkan. Ingatan Judika seketika terbuka lebar. Tidak heran sejak tadi dia merasa wajah dokter muda ini sangat familier. Ternyata benar, wajah dan sorot matanya persis meniru sosok dokter legendaris yang dulu pernah bertugas di sekolah dasarnya.

Tanpa sadar, Judika memotong pembicaraan mereka.

"Maaf mengganggu. Apakah Dokter Yohan adalah putra dari Dokter Xohan Areksa yang dulu pernah bertugas di SD Mekar?"

Yohan menoleh, mengangguk perlahan dengan ekspresi heran.

"Benar. Tapi bagaimana kau bisa tahu nama ayahku dan tempat dia bertugas dulu?"

Mendengar itu, senyum lebar langsung mekar di bibir Judika.

***

Kamis, pukul 10.00

Ruangan UKS sekolah itu terlihat sangat luas dan nyaman. Terdapat tiga tempat tidur pasien yang bersih rapi, lemari besar berisi berbagai jenis obat dan peralatan medis yang lengkap membuat ruangan ini tak kalah mewah dan lengkap dengan ruang rawat di rumah sakit swasta ternama. Semua barang tersusun rapi dan tertata sedemikian rupa, menandakan bahwa pemilik ruangan ini adalah orang yang sangat teliti dan teratur.

Saat ini Yohan sedang sibuk memeriksa dan mencatat daftar obat-obatan yang ada, memastikan semuanya masih layak pakai dan tersedia cukup.

Tok..

Tok..

Tok..

Suara ketukan keras terdengar dari arah pintu. Yohan berjalan mendekat dan membukanya, tertegun melihat sosok yang berdiri di baliknya dengan senyum cerah yang tak pernah hilang.

"Judika?" tanyanya heran.

"Boleh aku masuk, Dokter?" tanya Judika sambil mengintip ke dalam ruangan dari balik bahu Yifan.

"Tentu saja. Tapi lihat dirimu, kau terlihat sehat dan kuat sekali. Sepertinya tidak ada bagian tubuh yang sakit atau terluka," jawab Yohan sambil menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, tatapannya penuh kecurigaan.

Yohan seketika mengangkat satu alis saat melihat Judika masuk begitu saja tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, lalu dengan santai duduk di atas salah satu tempat tidur pasien.

"Aku memang tidak sakit, Dokter Areksa," gumam Judika sambil memandangi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

"Kalau begitu, untuk apa kau datang ke sini?" tanya Yohan sambil kembali duduk di kursi kerjanya.

"Memang hanya orang sakit saja yang boleh berkunjung ke UKS?" tanya Judika balik dengan wajah polos, matanya masih berkeliling mengamati sekeliling.

Yohan tertawa kecil mendengarnya.

"Bukan begitu maksudku. Kita baru saja bertemu dan kenalan kemarin. Jadi aku pikir kecuali soal kesehatan, apa lagi yang membuatmu datang menemuiku?"

"Kita memang baru kenalan, tapi aku datang bukan untuk urusanku sendiri. Aku ingin berterima kasih pada ayahmu, Dokter," ucap Judika.

Seketika sorot matanya berubah menjadi serius dan penuh kekaguman.

"Dokter Xohan Areksa itu orang yang luar biasa. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi sekarang."

Yohan mengangkat alisnya lebih tinggi lagi, penasaran.

"Separah itukah kondisi kesehatanmu dulu?"

"Bukan soal penyakit atau cedera, Dok. Ini soal ayahku. Dulu ayahku adalah orang terburuk yang pernah aku kenal. Pemabuk, penjudi, sering main tangan, dan tak pernah peduli sedikit pun pada keluargaku. Sampai suatu hari, dia bertemu ayahmu. Hanya dengan satu kalimat yang menusuk hati, ditambah satu pukulan keras yang ayahmu berikan seketika semuanya berubah total."

"Sejak hari itu, ayahku berhenti melakukan semua kebiasaan buruknya, dan perlahan berubah menjadi sosok ayah terbaik yang aku miliki sekarang."

"Benarkah? Bagaimana bisa satu kejadian saja mengubah seseorang sedrastis itu?" tanya Yohan.

Yohan sudah sepenuhnya tertarik dengan cerita Judika. Dia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut anak Judika. Sesekali tersenyum bangga mendengar kebaikan ayahnya. Tak jarang pula menampakkan ekspresi prihatin saat mendengar bagian sulit yang pernah dilalui Judika.

Setelah bercerita panjang lebar sampai ke bagian terakhir, Judika tampak lega dan puas.

"Karena itu aku ingin sekali mengucapkan terima kasih langsung padanya. Bisa tolong sampaikan pesan terima kasih ini pada ayahmu, Dok?"

"Tentu saja aku akan menyampaikannya. Sayangnya, saat ini ayahku sedang bertugas sebagai relawan kesehatan di desa yang sangat terpencil, jangkauan komunikasi di sana sangat sulit. Pesanmu mungkin butuh waktu lama baru bisa sampai padanya. Bahkan aku sendiri belum bertemu atau berbicara dengannya hampir sebulan ini," jawab Yohan dengan nada menyesal.

Judika hanya menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa. Selama pesan itu sampai, itu sudah cukup bagiku. Oh ya, aku juga berharap kita bisa menjadi teman baik juga ya, Dokter," katanya sambil melambaikan tangan, lalu berbalik berjalan keluar ruangan.

Yohan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu menutup kembali pintu UKS.

"Anak yang menarik sekali," gumam Yohan pelan. Matanya masih menatap ke arah pintu yang tertutup. Senyum penuh arti masih terukir jelas di wajahnya.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!