NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Kecil yang Menggemaskan

"Waktu bagaikan aliran sungai yang tak pernah berhenti, namun selalu membawa endapan-endapan kebaikan di sepanjang perjalanannya. Ketika sebuah keluarga telah menemukan kembali keutuhannya, setiap hari yang berlalu menjadi lukisan indah yang dipenuhi warna kasih sayang, tawa, dan doa-doa yang terkabul. Di sini, cinta tidak hanya diwariskan lewat darah, melainkan lewat perhatian, pengorbanan, dan kehadiran yang menjadi pelita bagi generasi yang akan datang."

...****************...

Waktu berlalu begitu cepat, bagaikan pasir yang lolos dari sela jari. Kini, Arhan Faiz Abraham sudah menginjak usia dua tahun.

Tubuhnya tumbuh pesat menjadi anak laki-laki yang sangat aktif, sehat, dan penuh energi. Wajahnya merupakan perpaduan sempurna antara ketampanan Hariz dan kelembutan Rosella. Matanya yang bulat dan hitam legam selalu terlihat cerah.

Sejak Arhan Faiz Abraham menginjak usia dua tahun, hari-hari di kediaman keluarga Abraham berubah menjadi penuh warna dan keriuhan yang menyenangkan. Bocah kecil itu kini menjadi sosok yang lincah, penuh rasa ingin tahu, dan memiliki senyum yang mampu mencairkan hati siapa saja yang melihatnya.

Setiap pagi, saat cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menyinari kamar tidur dengan cahaya keemasan yang lembut, biasanya Arhan sudah terbangun lebih dulu. Ia tidak akan menangis atau berteriak, melainkan dengan langkah kaki kecilnya yang masih goyah, ia akan berjalan mendekati tempat tidur orang tuanya.

pagi itu, udara yang sejuk membawa aroma bunga melati yang mekar di halaman rumah. Arhan berdiri di sisi tempat tidur, memandangi wajah ayahnya yang masih terpejam, lalu dengan suara lirih namun jelas, ia memanggil.

"Ayah... Ayah bangun... Matahari sudah terlihat"

Hariz yang mendengar suara lembut itu segera membuka matanya. Begitu melihat wajah putranya yang sudah tersenyum lebar, matanya pun langsung berbinar penuh cinta. Ia mengangkat tubuhnya, lalu menggendong bocah itu masuk ke dalam selimut hangat.

"Selamat pagi, pangeran kecilku..." bisik Hariz sambil mengecup kening, pipi, dan ujung hidung Arhan bergantian, membuat bocah itu tertawa terbahak-bahak. "Kenapa bangun pagi sekali?"

Arhan sedang bersemangat, matanya berkilau-kilau. "Ayah janji mau ajak Arhan ke kebun! Mau lihat bunga dan kupu-kupu!"

"Benar sekali, Ayah tidak akan lupa, tapi bukan hari ini" jawab Hariz sambil mengacak-acak rambut hitam lembut putranya. "Tapi sebelum beraktivitas, kita harus mandi dulu, lalu sarapan sampai kenyang. Anak yang kuat harus makan yang banyak, ya?"

Setelah mandi dan berpakaian rapi, mereka turun ke ruang makan. Di meja sudah tersedia sarapan yang lezat buatan Rosella.

Pagi itu, suasana di ruang makan biasanya tenang, kini berubah menjadi arena permainan yang riuh dan penuh tawa.

"Makan yang banyak ya, Nak. Nanti biar cepat besar, bisa main bola sama Ayah," kata Hariz sambil menyuapi sendok nasi ke arah mulut putranya.

Arhan menoleh, menatap wajah ayahnya dengan wajah polos, lalu menepis pelan tangan Hariz.

"Enggak mau... Arhan mau makan sendiri!" jawab bocah itu dengan suara lantang dan sedikit cadel yang sangat menggemaskan.

Hariz dan Rosella tertawa lebar melihat tingkahnya.

"Wah, pinter ya anak Ayah. Sudah bisa makan sendiri rupanya," puji Hariz sambil mengusap kepala mungil itu.

Namun, kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Begitu Arhan memegang sendoknya sendiri, alih-alih masuk ke mulut, nasi dan sayur malah berhamburan ke mana-mana. Wajahnya, meja, sampai baju bajunya belepotan.

"Hahaha! Lihat tuh, anak kita! Jadi bebek sawah nih anak!" tertawa Hariz puas.

"Ih, Mas ketawa terus! Aduh, Arhan sayang... jangan dimainin dong nasinya," rengek Rosella sambil mengambil tisu untuk membersihkan wajah anaknya yang belepotan.

Arhan malah tertawa lebar, "Hahaha Arhan hebat!"

"Ya ampun, ini anak... nanti kalau kotor begini siapa yang mandiin? Ayah ya?" goda Rosella.

"Ayah mandiin Arhan! Ayah yang mandiin!" teriak Arhan antusias sambil bertepuk tangan kecil. Ia sangat suka dimandikan ayahnya karena pasti diakhiri dengan main air dan percikan-percikan seru.

 

Sebagai satu-satunya cucu dan pewaris tunggal, wajar jika Arhan menjadi pusat dunia bagi seluruh keluarga.

Pak Abraham benar-benar dimanja oleh cucunya itu. Setiap kali Arhan berlari kecil memeluk kakinya dan memanggil "Kakek... main sama Arhan dong...", hati lelaki tua itu langsung meleleh. Segala pekerjaan dan rasa lelah langsung hilang.

"Ayo dong, Kek... ayo kita main mobil-mobilan. Arhan mau jadi supir, Kakek jadi penumpang!" seru Arhan sambil menarik tangan kakeknya menuju ruang bermain yang isinya penuh dengan mainan mahal.

"Iya, iya... Kakek mau jadi penumpang. Tapi hati-hati ya, Nak, jangan ngebut-ngebut. Nanti kecelakaan," jawab Pak Abraham sambil tertawa lebar menuruti kemauan cucu kesayangannya.

Melihat pemandangan itu dari jauh, Rosella tersenyum bahagia.

"Lihat deh, Mas... Ayah jadi beda banget kalau sama Arhan. Dulu kan kaku dan tegas banget, sekarang jadi lucu dan sabar banget," komentar Rosella sambil menyandar di bahu suaminya.

Hariz mengangguk setuju, matanya tak lepas menatap kebahagiaan itu.

"Karena Arhan itu obat ajaib, Sayang. Dia yang menyembuhkan luka hati Ayah, dia yang bikin rumah ini hidup lagi. Kita semua berhutang banyak sama pangeran kecil itu."

 

Namun, menjadi anak yang sangat disayang tidak membuat Arhan menjadi manja atau nakal. Justru, ia tumbuh menjadi anak yang sangat pintar, pemberani, dan sangat penyayang.

Suatu sore, saat Hariz pulang kerja dengan wajah yang terlihat lelah dan sedikit murung karena ada masalah di kantor, Arhan langsung menyadarinya.

Bocah itu tidak langsung meminta mainan atau minta dibelikan jajan seperti biasanya. Ia malah berlari kecil menyambut ayahnya di pintu, lalu memeluk kaki Hariz erat-erat.

"Ayah... capek ya?" tanya Arhan pelan, wajahnya menunduk khawatir.

Hariz terkejut, lalu berjongkok agar sejajar dengan putranya. "Iya, Sayang. Ayah sedikit capek hari ini."

Tiba-tiba, Arhan mengangkat kedua tangannya yang mungil, memegang pipi ayahnya, lalu mencium kening Hariz dengan sangat lembut dan lama.

"Nah... kalau dicium Arhan, sembuh kan?" kata bocah itu dengan polosnya. "Ibu kan kalau sakit dicium langsung sembuh. Sekarang Arhan cium Ayah, ya."

Hati Hariz seketika hangat bak disiram air suci. Rasa lelah, stres, dan masalah di kantor seketika menguap hilang tak bersisa. Ia memeluk tubuh mungil itu erat-erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher anaknya yang berbau wangi susu.

"Terima kasih, Nak... Ayah sembuh kok. Ayah kuat lagi sekarang," bisik Hariz haru. "Memang, kamu malaikat kecil Ayah, ya."

Rosella yang melihat pemandangan itu dari belakang pintu dapur pun ikut tersenyum sambil mengusap air mata haru. Betapa beruntungnya dirinya memiliki keluarga yang begitu hangat dan penuh kasih sayang.

Malam harinya, sebelum tidur, seperti kebiasaan mereka, Arhan akan berdoa dan mengucapkan selamat tidur.

"Ayah..." panggil Arhan sambil mengucek matanya yang sudah berat.

"Ya, Kenapa pahlawan kecil?"

"Arhan sayang Ayah... sayang Ibu... sayang Kakek..." ucap Arhan pelan mengantuk. "Dan... Arhan sayang Paman Arkan juga Paman Kevin di atas sana..."

Hariz dan Rosella saling berpandangan terharu. Mereka sering bercerita tentang Paman Arkan pada Arhan, sedangkan kakek dan neneknya menceritakan tentang Paman Kevin kepadanya, agar anak itu tahu ia punya keluarga yang menjaganya dari jauh.

"Iya, Sayang. Paman Arkan dan Paman kevin juga pasti sayang banget sama Arhan," jawab Hariz lembut, lalu mengecup kening putranya. "Sekarang tidur ya. Mimpi indah."

Kehidupan mereka benar-benar sempurna. Tidak ada lagi bayang-bayang kelam, tidak ada lagi rasa takut. Hanya ada cinta, tawa, dan kehangatan yang abadi di dalam rumah yang penuh berkah ini.

Bagi Hariz, menjadi ayah bukan lagi sekadar tanggung jawab, melainkan anugerah terindah yang membuatnya memahami makna kehidupan yang sesungguhnya. Dan bagi Arhan, ayahnya bukan hanya orang yang melahirkannya, melainkan sahabat bermain, guru pertama, dan pelindung yang paling hebat di dunia.

1
Pich
wah musuh baru
Seai
🤔🤔
Rosella
nama ku rosella juga.
Rocean: Hai Rosella😍
total 1 replies
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!