Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hadiah yang Salah Alamat
Lantai kayu oak di ruang kerja apartemen ini seolah menjadi saksi bisu dari runtuhnya semesta seorang pria yang tak pernah mengenal kata takluk. Ghazali Mahendra, sang dominus litis yang ditakuti di setiap ruang sidang, kini berlutut meringkuk layaknya seorang tawanan perang yang baru saja dijatuhi vonis eksekusi mati.
Raungan kepedihannya yang tertahan menggema, mengiris-iris katup jantungku. Tangan kanannya yang terbalut perban tebal akibat luka bakar Asam Hidrofluorik ia pukulkan ke lantai berulang kali. Darah segar kembali merembes, menciptakan bercak-bercak merah gelap di atas kayu yang mengilap.
"Mas, hentikan! Kau menghancurkan jaringan ototmu sendiri!" aku menjerit tertahan, menubruk tubuhnya dan memeluk lengan kanannya secara paksa dengan kedua tanganku.
Ghazali meronta pelan, napasnya tersengal memburu, mencengkeram kemejaku dengan tangan kirinya. "Tengkorak itu... gigi yang kau cabut tadi... itu anakku, Keana! Itu darah dagingku! Aku berdiri di sana dan memerintahkan makamnya digali! Aku membiarkannya dibedah!"
"Ghazali, tatap aku!" aku menangkup wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat dingin. Jemariku bisa merasakan ritme denyut nadinya di arteri karotis lehernya yang berpacu liar. "Dengarkan aku secara medis! Ini bukan penodaan! Ekshumasi semalam adalah caramu menyelamatkannya dari kegelapan! Pisau bedahku tidak melukainya, Mas. Pisau bedahku sedang memberinya keadilan yang dirampas oleh Maia!"
"Keadilan?" Ghazali tertawa sumbang, sebuah suara yang sangat menyayat hati dan terdengar kosong. Ia menatap nanar ke arah foto polaroid usang yang berserakan di atas meja—foto dirinya memeluk perut buncit Maia tujuh tahun lalu. "Keadilan macam apa yang bisa kuberikan jika aku bahkan tidak tahu bahwa anakku pernah bernapas di bumi ini selama enam tahun? Anak itu disuntik mati sebagai tikus percobaan oleh ibunya sendiri, dan aku... aku sibuk membangun reputasi kotor keluargaku!"
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kondisi fisiologisnya sedang berada di ujung tanduk. Denyut nadinya melebihi 130 kali per menit. Aku tahu persis bahaya dari Takotsubo Cardiomyopathy—Sindrom Patah Hati. Stres emosional ekstrem yang mendadak bisa memicu lonjakan hormon katekolamin yang mematikan otot jantung, terutama pada pasien yang baru saja lolos dari henti jantung kurang dari empat puluh delapan jam yang lalu.
Aku harus mengubah rasa sedihnya menjadi amarah. Amarah adalah mekanisme pertahanan biologis yang akan meningkatkan tekanan darahnya secara stabil, bukan menghancurkannya.
"Kau ingin menebus dosamu padanya?" suaraku berubah dingin, memotong udara apartemen yang menyesakkan. Aku melepaskan wajahnya dan berdiri tegak, menatapnya dengan otoritas absolut seorang ahli patologi. "Maka berhentilah menangis seperti pecundang di lantai ini. Air matamu tidak akan membuat ekstrak Digoxin di dalam gigi geraham putramu terhapus! Air matamu tidak akan membatalkan status Justice Collaborator Maia di LPSK pagi ini!"
Ghazali mendongak, tertegun oleh perubahan nada bicaraku yang drastis.
"Kau bukan monster, Ghazali. Maia dan ibumulah monsternya!" aku menunjuk ke arah pintu apartemen dengan tangan yang gemetar. "Wanita itu sedang duduk di kursi empuk Bareskrim, dilindungi oleh negara, sementara kau menghukum dirimu sendiri di sini! Jika kau benar-benar ayahnya, bangkit dan bertarunglah untuknya!"
Perlahan, deru napas Ghazali yang tadinya tak beraturan mulai menemukan ritmenya. Pupil matanya yang melebar perlahan menyempit, memancarkan seberkas cahaya gelap yang mematikan. Kata-kata kasarku sukses menyentuh insting predatornya.
Ia menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuhnya di tepi meja, bangkit berdiri dengan gerakan kaku namun penuh dominasi. Tinggi badannya yang menjulang kembali menaungiku.
BZZZZT. BZZZZT.
Belum sempat Ghazali membalas ucapanku, suara dengungan panjang dari interkom keamanan apartemen memecah keheningan.
Ghazali refleks menarikku ke belakang punggungnya. Ia melangkah menuju panel monitor di dekat pintu masuk dan menekan tombol aktivasi kamera luar.
Layar monokrom itu tidak menampilkan siapa pun. Koridor depan apartemen kami tampak kosong. Namun, tepat di depan pintu kayu ek kami, tergeletak sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam beludru yang diikat dengan pita sutra merah darah.
"Paket?" keningku berkerut tajam. "Bagaimana mungkin ada kurir yang bisa naik ke lantai empat puluh dua tanpa melewati meja resepsionis di lobi bawah? Pengamanan gedung ini setara dengan kedutaan besar."
"Tidak ada yang bisa," desis Ghazali, rahangnya kembali mengeras. "Kecuali jika paket itu dibawa oleh seseorang yang memiliki akses VIP atau menyogok kepala keamanan gedung."
Ghazali melangkah menuju laci meja di dekat pintu, mengeluarkan sebuah pistol Glock 19 berlapis logam gelap—senjata api berizin resmi miliknya sebagai perangkat pertahanan diri seorang jaksa—dan mengecek magazinnya dengan satu tangan.
"Mas, kau tidak bisa keluar menembak orang begitu saja!" aku memperingatkan, merasa ngeri melihat kemudahan pria ini dalam memegang senjata.
"Tetap di belakangku," perintahnya tanpa kompromi.
Ghazali membuka pintu apartemen perlahan. Ia menyisir lorong koridor dengan ujung laras pistolnya. Kosong. Udara dingin dari AC sentral koridor berembus masuk. Setelah memastikan tidak ada penembak jitu atau algojo bayaran yang bersembunyi di sudut lorong, ia membungkuk dan mengambil kotak hitam tersebut dengan tangan kirinya, lalu menendang pintu hingga tertutup kembali.
Ghazali meletakkan kotak beludru itu di atas meja ruang tengah. Ia tidak langsung membukanya. Ia mengambil sebuah alat pemindai logam portabel dari lacinya dan mengusapkannya di atas kotak tersebut untuk memastikan tidak ada bahan peledak bertegangan rendah (IED) di dalamnya.
"Aman," ucapnya.
Dengan ujung pistolnya, ia mencongkel pita sutra merah itu dan membuka tutup kotaknya.
Aku menahan napas, bersiap untuk melihat potongan tubuh hewan, atau mungkin ancaman teror fisik lainnya.
Namun, isi kotak itu jauh lebih elegan, dan justru karena itulah ia terasa seribu kali lebih menjijikkan.
Di dalam kotak hitam berukuran sedang itu, terlipat rapi sebuah gaun wanita berwarna hitam pekat. Gaun duka cita berbahan sutra kualitas premium. Di atas gaun tersebut, tergeletak sebotol parfum kaca kristal kecil berisi cairan berwarna rose-gold. Mawar hibrida Perancis. Parfum pesanan khusus (bespoke) milik Maia Anindita.
Dan di samping parfum memuakkan itu, terselip sepucuk surat dengan tulisan tangan kaligrafi yang sangat rapi.
Ghazali tidak menyentuhnya. Aku yang melangkah maju. Dengan menggunakan pinset dari tas medisku, aku mengambil surat itu dan membacanya keras-keras.
"Hadiah duka cita teruntuk Janda Dokter Forensik yang malang.
Kudengar dari bisik-bisik Bareskrim, Pahlawan Hukummu baru saja meregang nyawa akibat infeksi jantung dan luka bakarnya di suatu tempat di luar sana. Sayang sekali dia tidak bisa bertahan melihat kemenanganku di sidang LPSK pagi ini.
Keadilan selalu tahu ke mana ia harus berpihak. Pakailah gaun ini ke pemakamannya nanti, dan semprotkan parfum ini agar kau setidaknya pernah merasakan wangi wanita yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Salam hangat dari pemenang utama, M.A."
Aku tertegun. Ujung jariku yang memegang pinset bergetar oleh amarah murni.
"Wanita iblis ini," desisku, kebencianku mendidih hingga ke ubun-ubun. "Dia berpikir kau mati setelah kabur dari ruang ICU semalam, Ghazali. Dia mengirimkan ini ke alamat Kakek karena dia berasumsi aku bersembunyi di sini sendirian, meratapi kematianmu."
Sebuah tawa pelan, serak, dan luar biasa gelap meluncur dari tenggorokan Ghazali. Pria itu menyarungkan pistolnya kembali. Matanya menatap gaun hitam dan parfum mawar itu dengan ekspresi predator yang baru saja menemukan titik buta mangsanya.
"Hadiah yang salah alamat," gumam Ghazali, menyunggingkan seringai mematikan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya. "Dia mengirimkan perayaan kemenangannya ke alamat yang salah, pada istri yang salah, dan pada pria yang sangat jauh dari kata mati."
Ghazali menoleh padaku. Tidak ada lagi duka yang melumpuhkannya. Kepingan masa lalunya yang hancur baru saja dibakar habis oleh provokasi murahan Maia. Wanita itu baru saja membangunkan monster yang sebenarnya tertidur di dalam diri suamiku.
"Maia terlalu percaya diri dengan status Justice Collaborator-nya. Dia merasa tak tersentuh karena dia melempar kesalahan pada ibuku," Ghazali melangkah ke arah jendela kaca, menatap pemandangan pagi Jakarta yang mulai terang di bawah sana. "Dalam hukum, seorang saksi mahkota atau Justice Collaborator akan mendapatkan imunitas absolut DARI kasus yang dilaporkannya."
Ghazali berbalik menatapku. "Tapi imunitas itu gugur seratus persen, jika saksi tersebut terbukti menjadi pelaku utama dalam kasus pidana independen yang BERBEDA."
Aku mengerti arah pembicaraannya seketika. "Kasus Gala."
"Tepat," Ghazali mengangguk tegas. Matanya memancarkan ketajaman seorang algojo hukum. "Pembunuhan anak itu di panti asuhan adalah inisiatif murni Maia. Ibuku bahkan tidak tahu menahu bahwa Maia menguji racun itu pada anak tersebut. Dalam kasus Gala, Maia bukanlah pion yang diancam. Dia adalah Aktor Intelektual (Intelectuele Dader) sekaligus Eksekutor."
Tiba-tiba, ponsel burner di saku kemejaku berdering. Aku segera mengangkatnya dan mengatur ke mode pengeras suara.
"Dokter Keana!" suara Adrian terdengar sangat histeris dari seberang sana, diiringi suara dentingan mesin printer laser di latar belakang. "Kami berhasil! Mesin GC-MS di laboratorium intelijen BIN baru saja selesai memproses ekstrak pulpa gigi balita itu!"
"Berapa konsentrasinya, Adrian?!" tanyaku dengan napas memburu.
"Kromatogramnya menunjukkan lonjakan puncak yang ekstrem pada retensi Digoxin, Dok! Kadar glikosida jantung di dalam akar giginya mencapai tiga kali lipat dari dosis letal untuk orang dewasa! Balita itu dibunuh secara sistematis. Dan profil residu bahan pelarutnya... seratus persen identik dengan sisa sampel cairan di gudang farmasi Koh Bong yang dibeli oleh Maia!"
Aku menatap Ghazali dengan mata berbinar penuh kemenangan. Kami berhasil membedah kapsul waktu itu.
"Cetak dokumen itu dalam lima rangkap, Adrian! Jangan kirimkan secara digital, Maia bisa meretasnya," perintah Ghazali, mengambil alih percakapan dengan nada komando militernya. "Suruh Komisaris Herman membawa dokumen fisiknya dan menemuiku di parkiran bawah gedung LPSK jam delapan pagi ini juga."
"Baik, Pak Jaksa!"
Sambungan terputus. Ghazali menatap jam dinding. Pukul 07.15 WIB. Sidang paripurna perlindungan saksi LPSK untuk meresmikan kebebasan Maia akan dimulai dalam waktu empat puluh lima menit.
"Mas, tanganmu," aku menunjuk ke arah perban di tangan kanannya yang masih memerah. "Kau tidak mungkin datang ke sana dengan kondisi seperti ini. Media dan kepolisian akan langsung menangkapmu atas perintah DPO (Daftar Pencarian Orang)."
Ghazali melangkah mendekatiku. Ia mengambil gaun sutra hitam dari dalam kotak beludru itu menggunakan tangan kirinya, lalu menyodorkannya padaku.
"Kau ingat apa yang kau katakan di makam tadi pagi?" tanya Ghazali, senyumnya kini memancarkan pesona dominan yang membuat jantungku kembali berdetak liar. "Kau berjanji akan menyiapkan scalpel paling tajam untukku menguliti mereka di depan publik."
Ia mengambil botol parfum mawar itu dan melemparnya ke tempat sampah di sudut ruangan hingga pecah berkeping-keping, menyingkirkan aroma palsu itu dari teritorial kami selamanya.
"Pakai gaun duka cita ini, Istriku," bisik Ghazali, menatap lurus ke dalam retinaku. "Bukan untuk meratapi kematianku. Tapi kenakan ini sebagai malaikat maut yang datang untuk menghadiri pemakaman karier dan kebebasan Maia Anindita."
Aku menerima gaun sutra itu dengan kedua tanganku. Darahku mendidih oleh adrenalin dan antusiasme yang luar biasa pekat. Rasa tidak amanku, rasa cemburu yang kotor itu, kini telah menguap tanpa sisa. Pria ini tidak sedang berpura-pura. Ia benar-benar telah menyerahkan seluruh otoritas dan hatinya ke tanganku.
Dua puluh menit kemudian, kami berdua berdiri di depan pintu apartemen.
Aku mengenakan gaun sutra hitam elegan yang menonjolkan postur tegakku. Bahuku yang terluka tertutup sempurna oleh potongan asimetris gaun tersebut. Aku memulas lipstik merah gelap, mengunci rapat-rapat segala kerentanan di balik wajah pualam seorang dokter forensik yang tak tertembus.
Di sampingku, Ghazali berdiri gagah. Ia telah mengenakan setelan jas hitam bespoke terbaiknya yang ia ambil dari lemari cadangan. Meskipun tangan kanannya masih ditopang oleh arm-sling hitam yang disembunyikan di balik jahitan jasnya, posturnya memancarkan wibawa raksasa yang bisa meruntuhkan ruang sidang mana pun hanya dengan dehamannya.
Ghazali menatapku. Tangan kirinya bergerak mengusap pipiku pelan.
"Siap untuk membatalkan sebuah kebebasan palsu, Dokter?"
Aku mengangguk, menyunggingkan senyum mematikan. "Tunjukkan jalannya, Bapak Jaksa Penuntut Umum."
Kami melangkah keluar dari apartemen, masuk ke dalam lift, dan meluncur turun menuju medan perang terakhir di ARC ini. Maia mungkin merasa pintar dengan mengirimkan hadiah provokasi ke alamat yang salah. Namun ia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: ia mengingatkan seorang ahli bedah mayat dan seorang ahli hukum bahwa mereka masih bernapas, dan memiliki satu musuh yang sama untuk dihancurkan bersama-sama.
Hari ini, ranjang kami tidak lagi mengeluarkan darah. Hari ini, kami yang akan mengalirkan darah mereka yang telah berkhianat.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍